Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mendadak Dagang: Lapak Ramadan di Tengah Ujian Inflasi Daerah

Hanif PP • Kamis, 5 Maret 2026 | 14:48 WIB

Aji Prakoso, S.Tr.Stat.
Aji Prakoso, S.Tr.Stat.

Oleh: Aji Prakoso, S.Tr.Stat.*

Ramadan di Kalimantan Barat selalu menghadirkan perubahan, bukan hanya pada ritme ibadah atau jam makan, tetapi juga pada perputaran uang di tingkat rumah tangga. Perputaran itu tampak nyata di banyak sudut kota, dari tepian masjid di Ketapang, riuhnya pasar juadah di Sintang, hingga hiruk-pikuk jalanan di Pontianak, ruang publik mendadak hidup oleh lapak-lapak musiman yang tumbuh menjamur di pinggiran.

Trotoar yang biasanya sepi, halaman rumah yang tadinya kosong, hingga bahu jalan yang sempit, kini berubah menjadi etalase dadakan. Pemandangannya seragam namun menggoda: kolak pisang berjajar, kurma yang tersusun rapi, hingga primadona lokal seperti bingke berendam dan aneka kue basah yang seolah hadir penuh percaya diri di atas meja. Jajanan berbuka ini hadir bukan sekadar sebagai pengganjal lapar, melainkan simbol bahwa roda ekonomi rakyat sedang berputar.

Fenomena “mendadak dagang” ini bukan sekadar cerita tahunan yang berulang tanpa makna. Ia mencerminkan respons cepat dan kecerdasan rumah tangga terhadap peluang musiman. Bagi sebagian orang, Ramadan menjadi momentum emas untuk menambah penghasilan menjelang kebutuhan hari raya yang kian mencekik. Dengan modal yang relatif kecil dan waktu yang singkat, siapa pun bisa menjadi aktor ekonomi. Tidak sedikit warga yang di bulan biasa berprofesi sebagai karyawan atau ibu rumah tangga, tiba-tiba menjelma menjadi pelaku usaha mikro yang tangguh selama sebulan penuh.

Namun, di balik semarak takjil, ada realitas lain yang harus dihadapi konsumen. Ramadan sering kali menghadirkan paradoks: di saat kita diminta untuk menahan diri, pengeluaran justru cenderung "membengkak" seiring dengan membengkaknya perut di kala berbuka. Pilihan menu berbuka yang beragam, dorongan sosial untuk berbagi takjil, hingga fenomena impulsive buying jelang berbuka membuat kantong cepat kering. Tantangan ini diperberat dengan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan yang rutin terjadi setiap tahun menjelang hari raya.

Berita Resmi Statistik yang dirilis awal Maret 2026 menunjukkan inflasi tahunan (year-on-year) Kalimantan Barat pada Februari 2026 telah mencapai 3,90 persen. Tekanan harga bahkan lebih tajam dirasakan di wilayah luar ibu kota provinsi. Kabupaten Sintang mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,12 persen, disusul Ketapang sebesar 4,53 persen, sementara Kota Pontianak berada di angka 3,44 persen. Angka-angka ini menggambarkan bahwa masyarakat yang semakin jauh dari pusat kota harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, bawang merah, dan bawang putih menjadi penyumbang utama tekanan tersebut. Dinamika Februari juga dipengaruhi oleh rangkaian perayaan Imlek yang khas di Bumi Khatulistiwa. Pergerakan permintaan emas dan transportasi turut memberi warna pada inflasi daerah.

Ketika momentum Imlek bertemu dengan Ramadan, beban rumah tangga terasa berlapis seperti kue khas Pontianak yang manis di lidah tapi tak ramah kantong. Dalam konteks inilah fenomena “mendadak dagang” tidak lagi sekadar peluang musiman, melainkan juga bentuk adaptasi ekonomi rumah tangga agar dapur tetap bisa mengepul di tengah tekanan biaya hidup.

Kondisi ini menjadi refleksi penting menjelang Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan pada Mei sampai Juli mendatang. Secara metodologi, sensus ini memotret usaha yang aktif pada periode pendataan. Di sinilah letak tantangannya: banyak pedagang takjil hanya berjualan selama Ramadan lalu berhenti tanpa kelanjutan. Jika lapak-lapak ini menghilang begitu saja setelah Lebaran, maka kontribusi ekonomi mereka yang nyata selama sebulan penuh, kembali menjadi bayangan dalam statistik: ada uangnya, tetapi tak terekam jejaknya.

Inilah pesan penting bagi kita semua. Keberlanjutan usaha adalah kunci agar denyut ekonomi rakyat tidak hanya menjadi euforia sesaat yang hilang setelah mudik usai. Sensus Ekonomi 2026 adalah momentum bagi pelaku usaha mikro dan kecil untuk menunjukkan eksistensinya. Bagi pemerintah dan perencana pembangunan, fenomena ini mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi ke depan harus mampu merangkul para "pedagang dadakan" ini agar mereka memiliki daya saing dan tidak terus-menerus terjebak dalam siklus usaha yang bersifat sementara.

Lapak kolak, kurma, dan bingke di pinggir jalan adalah bukti adaptasi, kreativitas, dan ketahanan ekonomi rakyat Kalimantan Barat. Memahaminya secara utuh melalui instrumen statistik yang akurat adalah langkah awal untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil. Kejujuran responden dalam Sensus Ekonomi 2026 akan menentukan seberapa lengkap denyut ekonomi rakyat dapat tercatat dan diperhitungkan dalam pembangunan daerah ke depan.**

 

*Penulis adalah Statistisi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili pandangan instansi.

Editor : Hanif
#pusat jajanan #Trotoar #kalbar #ramadan #pedagang musiman #berbuka