Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Imlek, Nyepi, dan Idulfitri

Hanif PP • Rabu, 18 Maret 2026 | 11:12 WIB

Oleh : M. Nashir Syam, M.Pd.I
Oleh : M. Nashir Syam, M.Pd.I

Oleh : M. Nashir Syam, S.Ag, M.Pd.I*

TIGA hari besar keagamaan, Imlek, Nyepi, dan Idulfitri, sudah lama dirayakan di Indonesia, sebuah negeri yang dikenal sangat toleran dan memiliki akar religiositas yang kuat. Namun, menjadi hal yang “tidak biasa” karena pada tahun 2026 ini ketiga perayaan tersebut berlangsung dalam waktu yang hampir bersamaan. Ramadan tahun ini seolah-olah “dibuka” dengan perayaan Imlek, kemudian di akhir Ramadan nanti seolah-olah “ditutup” dengan Hari Nyepi. Sebuah sinergi harmoni lintas iman: Khonghucu, Islam, dan Hindu.

Akankah ada “gesekan”? Idulfitri, yang secara kultural disebut “Lebaran”, identik dengan keramaian sebagai ekspresi suka cita umat Muslim setelah menunaikan kewajiban spiritual berupa puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Sementara itu, Hari Raya Nyepi justru dirayakan dengan keheningan total selama 24 jam. Semua aktivitas dihentikan, berpergian, penerangan, hingga perniagaan, sebagaimana dikenal dalam konsep Catur Brata Penyepian. Jika dilihat dari perspektif diferensiasi, kedua momentum ini tampak “bertabrakan”. Namun, jika dipandang dari nalar hati, Nyepi dan Idulfitri sejatinya bertemu pada satu titik yang sama: kembali kepada jati diri, menjadi bersih dan suci.

Nyepi dirayakan oleh umat Hindu sebagai awal Tahun Baru Saka. Sebuah “perayaan tanpa pesta” yang justru menghindarkan diri dari segala aktivitas duniawi, karena menjadi momentum pembersihan jiwa, introspeksi, dan penyatuan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Filosofi Nyepi mengajarkan bahwa manusia memerlukan “jeda” agar tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk kehidupan. Dalam keheningan, manusia memiliki kesempatan untuk menata kembali relasi dirinya: dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Dari sisi spiritual, Nyepi menjadi ruang penyucian diri agar manusia memulai tahun baru dengan hati yang bening. Dari sisi sosial, keheningan kolektif membangun kesadaran kebersamaan; setiap orang, dari lapisan mana pun, sama-sama menjalani kesunyian tanpa sekat status sosial. Dari sisi ekologis, Nyepi menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, dengan berhentinya aktivitas manusia, polusi udara berkurang, energi dihemat, dan bumi diberi kesempatan untuk beristirahat.

Menariknya, nilai-nilai ini memiliki resonansi dengan ajaran agama lain. Dalam Islam, puasa Ramadan menuntun manusia untuk menahan hawa nafsu dan menumbuhkan empati kepada sesama. Dalam tradisi Kristiani, masa Prapaskah menjadi waktu untuk pertobatan, doa, dan kesederhanaan. Bahkan dalam tradisi Buddhis, meditasi dalam keheningan merupakan jalan untuk mencapai pencerahan. Semua tradisi tersebut menekankan hal yang sama: keheningan adalah sarana untuk menemukan kedalaman spiritual dan harmoni dengan kehidupan.

Umat Hindu dilatih dan dididik untuk menjadi manusia yang bijaksana, mengetahui proporsi yang tepat dalam berpikir, merasa, bersikap, dan bertingkah laku. Mereka diajarkan agar tidak membiarkan pikiran menjadi dominan hingga menguasai seluruh kesadaran dan merusak keseimbangan psikologis yang dapat menimbulkan disharmoni.

Prinsip universal lain yang menjadi pijakan bagi umat Hindu dalam menjalankan kehidupan kemanusiaan bersama sesama adalah konsep Tat Twam Asi (aku adalah kamu) dan Vasudhaiva Kutumbakam (kita adalah satu keluarga dunia). Dalam kehidupan sehari-hari, mewujudkan spirit dan nilai-nilai tersebut memang tidak selalu mudah, terlebih di zaman sekarang ketika tantangannya semakin berat. Namun demikian, sebagaimana dikatakan dalam Mundaka Upanishad, sekecil apa pun langkah yang dilakukan dengan penuh cinta kasih dan bakti akan mendapat pertolongan dari Tuhan.

Kembali pada makna Nyepi, hari suci ini menyampaikan pesan lintas iman bahwa keheningan bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan juga kebutuhan kemanusiaan. Di tengah dunia modern yang penuh kebisingan, Nyepi mengingatkan manusia akan pentingnya “pause”, berhenti sejenak untuk merenung dan menyadari keterhubungan kita dengan sesama makhluk. Dari sinilah lahir nilai universal: keheningan melahirkan kedamaian, dan kedamaian menjadi fondasi bagi kerukunan.

Di tengah dunia yang sedang “tidak baik-baik saja”, perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat, konflik Rusia–Ukraina, konflik Pakistan–Afghanistan, serta penderitaan warga Gaza yang belum juga mereda, Imlek, Idulfitri, dan Nyepi menjadi ruang reflektif bagi kita, manusia yang masih memiliki nurani dan hati yang suci. Ketiganya menyimpan pesan-pesan rohani tentang nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Imlek, Idulfitri, dan Nyepi menghadirkan pesan spiritual global yang akan selalu relevan, kapan pun dan bagi siapa pun yang merindukan harmoni semesta.**

 

*Penulis adalah anggota FKUB Ketapang.

Editor : Hanif
#Nyepi #Idulfitri #indonesia #simbol #imlek #lintas iman #harmoni