Oleh: Khairul Fuad*
Akhir ayat, “Agar kamu sekalian bertakwa (al-Baqarah, 183)” merupakan sinergitas antara proses dan hasil yang menguatkan karena sejatinya memang demikian. Bukan mudah membalikkan tangan, melainkan upaya meraih harapan. Berproses demi berharap hasil dan berhasil harus berproses, ibarat no free lunch, tidak ada makan siang gratis, dipastikan ada hal yang harus dikorbankan demi berkurban (mendekat) pada hasil yang diharapkan.
Upaya proses sejatinya juga terindikasi kuat dalam cuplikan lain, masih ayat di atas, “Seperti puasa yang telah diwajibka orang-orang sebelum kamu sekalian.” Puasa sesuai syariat Islam terindikasi oleh puasa yang sudah dilaksanakan sebelum kaum muslim. Beberapa kitab tafsir menyebutkan bahwa Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang sebelum yang telah menunaikan puasa, misalnya Muhammad Ali al-Sabuni menyebut demikian dalam tafsirnya, kitab Sofwat al-Tafasir.
Puasa nyatanya relasi dengan ruang historisitas panjang sebagai sebuah ajaran agama yang dijalankan sampai sekarang ini. Dengan demikian, realitas puasa memiliki inherenitas antara normativitas dan historisitas, sebagaimana gagasan pemikiran Amin Abdullah tentang upaya arus-utama historisitas, selain sisi normativitas agama. Dua sisi ini tidak hanya penghambaan sebagai ajaran, tetapi pemikiran sebagai dinamika sosial keagamaan sehingga agama merupakan entitas yang holistik.
Sisi historisitas, puasa jelas berdampak dinamika keagamaan dan pada gilirannya masing-masing agama berbeda dalam menerapkan ajaran puasa secara ritual. Menghindari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari, merupakan ritual normativitas, yang sama sekali berbeda antaragama. Sebaliknya, historisitas mencatat bahwa puasa Ramadan tidak berdiri sendiri, terdapat sebuah irisan.
Ruang historis tampaknya memberi peluang kapitalisasi pengetahuan bersumber puasa melalui upaya dialektika terhadap pihak terkait. Dengan kata lain, ruang membumi sebagai relasi sosial membangun sinergitas untuk saling pengertian, sedangkan ruang langitan mengarah kepada common platfrom bahwa puasa merupakan intimasi vertikal ketuhanan. Kesamaan mampu dibangun tanpa mengorbankan akidah yang takdapat ditawar-tawar sebagai upaya zero sekaligus mitigasi konflik berbasis agama.
Dipastikan semakin meluas, bahkan radiks jika relasi puasa bertemu dengan tradisi keindonesiaan yang memang akrab ritual puasa sebagai karakteristik budaya ketimuran. Puasa sendiri merupakan irisan melalui Sanskerta, upavasa sebagai mula bahasa untuk terjemahan siyam atau saum. Dengan demikian, relasi puasa, siyam, atau saum dipastikan bersilang kontekstualisasi secara kultural, bermula pertemuan dalam ruang bahasa.
Semakin mendalam, ruang tradisi menyediakan gerak lebih luas dan lentur melalui esensi puasa, tidak hanya kulit semata, tetapi inti upaya membangun budi-pekerti dan akhlak. Secara kultural, puasa merupakan ikhtiar laku untuk olah raga, terutama olah pikir sebagai sebuah harapan, bahkan tujuan tertentu. Beragam istilah puasa, seperti ngrowot, ngebleng, dan mutih dalam tradisi Jawa sebagai kontrol diri dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Jika berkaca pada fadilah puasa dapat dipastikan beririsan dengan puasa bebasis kultur keindonesiaan, tidak hanya terpaku pada sisi lahiriah, tapi terpatri pada sisi batiniah. Meskipun, lahiriahnya berbeda dengan syariat dalam menerapkan puasa, terutama durasi yang dijangkarkan. Puasa berdasar kultur biasanya lebih panjang daripada puasa Ramadan, misalnya ngebleng hampir seharian penuh durasi puasa.
Menariknya, sisi batiniah merupakan upaya damai, poros tengah antarkedua puasa tersebut dalam menjalankan laku prihatin, pembersihan jiwa, dan kesabaran. Upaya proses diri dalam meredam segala nafsu yang lebih sering mengarah kepada penyimpangan. Sisi batiniah tampaknya faktor universal dari sisi lahiriah yang mewujud dalam aneka bentuk. Ibarat sinyal yang mengantarkan gelombang sehingga gawai, baik pasaran maupun nonpasaran, dapat terhubung dengan stabil.
Siyam berujung takwa dan upavasa berarti dekat dengan yang Mahakuasa, berdampak kepada perilaku individu untuk baik secara holistik, mengingat sisi ketuhanan (divinitas) meliputi keseluruhan jagad alam semsta. Keberlanjutan (sustainabiltas) puasa berdampak merupakan bagian terpenting menepis sebuah kritik, “Betapa banyak orang puasa tiada puasa berdampak kecuali lapar dan dahaga.”
Pada gilirannya, puasa berdampak bertemu momentum Idulfitri sebagai titik-tolak merayakan kesucian yang dicapai ibarat kosong yang sebenarnya tidak kosong. Berdasar konsep tawaran Imam al-Ghazali, takhalli, tahalli, dan tajalli, bertemu momentum tersebut. Bersih-kosong dari segala perbuatan tidak semestinya dan menghiasi dengan perbuatan yang semestinya. Akhirnya, mengalami manifestasi perubahan diri, terutama hati (qalbu) berbalik lembut bercahaya sebagai sisi batiniah yang universal dari puasa berdampak.
Puasa berdampak bertemu sisi historisitas dan normativitas yang memang eksistensi ajaran agama. Secara horizontal, puasa terkait sisi historis dalam ruang kemanusiaan meski secara vertikal, terhubung erat dalam ruang ketuhanan. Dampak tersebut semakin terasa melalui praksis puasa Ramadan dengan memperhatikan syarat dan ketetuan berlaku.Tidak kalah penting, puasa berdampak upaya keberlanjutan dalam ruang kesadaran diri pasca-Idul Fitri. Meskipun, potensi itu dapat terjebak bahwa istikamah (konsisitensi) itu sulit dilaksanakan ketimbang saat diraihnya untuk pertama kalinya. Selamat Idulfitri 1447 Hijriah mohon maaf lahir dan batin.**
*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).
Editor : Hanif