alexametrics
33 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Pembangunan GI dan SUTT Ketapang; Berhenti Kerja saat Hujan, Khawatir Tersambar Petir

Pembangunan transisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Ketapang – Kendawangan terus dikebut. Ada 190 tower yang berdiri yang nantinya menghubungkan listrik dua daerah itu. Ditargetkan rampung triwulan I 2020.

RAMSES TOBING, Ketapang

AKTIVITAS pekerja yang menyelesaikan pembangunan tapak tower terus berlangsung. Rutinitas pengerjaannya pun beragam. Ada yang baru mulai menggali tapak tower. Ada juga yang berlanjut mendirikan rangka tower hingga menarik konduktor sebagai tempat mengalirnya listrik.

Tower yang dibangun itu sebanyak 190 buah. Pembangunan dilakukan dalam tiga bagian. Bagian pertama dari tower satu hingga ke 77. Bagian kedua, dari tower 77 hingga ke 151. Sedangkan bagian ketiga dari tower 151 hingga 190. Pengerjaannya dilakukan sejak Desember 2017. Hingga saat ini sudah terhitung 2 tahun. Dari setiap bagian itu sudah ada pengerjaan masuk tahap akhir dan ada juga yang masih belum selesai pondasi tapak tower.

Seperti pengerjaan pertama, dari 77 tower yang dibangun, masih ada tujuh pondasi tapak tower yang belum selesai. Sedangkan pengerjaan bagian kedua seluruh tower sudah berdiri. Pengerjaan selanjutnya hanya menarik konduktor.

“Untuk bagian kedua ini, akhir Desember 2019 selesai,” kata Manajer PLN UPP Pembangkit dan Jaringan KBB 4 Ketapang, Kalimantan Barat Doni Emmeri saat media visit di Ketapang, Rabu (18/12) siang.

Baca Juga :  Beri Kemudahan Pengguna Kendaraan Listrik, PLN Luncurkan Aplikasi Charge.IN

Sedangkan bagian ketiga, sebut dia, masih ada empat tower lagi yang harus diselesaikan. Total jarak pembangunan itu, Ketapang – Kendawangan, sekitar 64 kilometer.

Doni menjelaskan untuk mendirikan satu tower membutuhkan paling tidak 30 pekerja, dengan masing-masing pengerjaan yang dilakukan. Untuk mendirikan pondasi, digambarkan dia, setidaknya membutuhkan 10 – 15 orang. Setelah itu selesai, lalu mereka akan melanjutkannya ke pendirian tower. Untuk pengerjaan ini mereka membutuhkan tenaga sebanyak 20 orang.

Ia mengingatkan untuk pengerjaan pada pendirian tower membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan atau skill yang sesuai dengan apa yang dikerjakan. Sehingga, sebagai pekerjanya, sebagian besar mereka mendatangkannya dari luar. “Kami datangkan dari Jawa,” kata Doni.

Meski demikian pihaknya ada juga menyerap tenaga kerja lokal dalam proses pembangunan tower SUTT ini. Untuk lama pengerjaannya, diperkirakan dia, bisa mencapai sebulan.

Doni mengakui kondisi cuaca seperti sekarang juga menjadi kendala selain persoalan sosial. Kekhawatirannya, para pekerja terkena sambaran petir saat menyelesaikan pengerjaan tower di ketinggian 32 meter.

“Kalau hujan pekerja harus turun, setelah reda baru dilanjutkan kembali,” ujar Doni.

Kondisi itu diakuinya juga berdampak pada waktu pengerjaan. Meski demikian ia optimistis selesainya pembangunan tower memenuhi batas waktu yang ditargetkan.

Baca Juga :  PLN Kalbar Gelar Apel Siaga Petugas dan Peralatan

Begitu semuanya rampung, tahap selanjutnya mereka melakukan inspeksi untuk melihat kelayakan transmisi yang dibangun. Hasil nanti akan dikeluarkan mereka Rekomendasi Layak Bertegangan.

Pembangunan SUTT sendiri bagian dari Gardu Induk Ketapang yang saat ini proses pengerjaannya sudah rampung. Selanjutnya, mereka hanya tinggal menunggu dioperasikan.

Rencana besarnya Gardu Induk Ketapang, Kendawangan, dan Sukadana masuk dalam Sistem Kelistrikan Khatulistiwa yang mendapat pasokan daya dari pembangkit dalam negeri dan Sesco Malaysia.

Koneksi terbangun dari GI Sandai ke Sukadana kemudian Ketapang dan Kendawang. Rencana itu baru ditargetkan terealisasi pada 2022 – 2023. Sebelum itu pasokan listrik ke GI Ketapang datang dari PLTU dan PLTD yang di Bumi Ale-ale.

Saat ini trafo yang ada di GI sebesar 60 Mega Volt Ampere (MVA). Jika diasumsikan, pelanggan berdaya 1.300, maka bisa melayani 36 ribu. Sementara itu daya mampu Kabupaten Ketapang saat ini diungkapkan dia sebesar 30 Megawatt (MW). Artinya sistem yang ada masih kategori isolated, sehingga dengan masuk dalam sistem khatulistiwa dianggap mampu mengurangi defisit daya di Kabupaten Ketapang. (*)

Pembangunan transisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Ketapang – Kendawangan terus dikebut. Ada 190 tower yang berdiri yang nantinya menghubungkan listrik dua daerah itu. Ditargetkan rampung triwulan I 2020.

RAMSES TOBING, Ketapang

AKTIVITAS pekerja yang menyelesaikan pembangunan tapak tower terus berlangsung. Rutinitas pengerjaannya pun beragam. Ada yang baru mulai menggali tapak tower. Ada juga yang berlanjut mendirikan rangka tower hingga menarik konduktor sebagai tempat mengalirnya listrik.

Tower yang dibangun itu sebanyak 190 buah. Pembangunan dilakukan dalam tiga bagian. Bagian pertama dari tower satu hingga ke 77. Bagian kedua, dari tower 77 hingga ke 151. Sedangkan bagian ketiga dari tower 151 hingga 190. Pengerjaannya dilakukan sejak Desember 2017. Hingga saat ini sudah terhitung 2 tahun. Dari setiap bagian itu sudah ada pengerjaan masuk tahap akhir dan ada juga yang masih belum selesai pondasi tapak tower.

Seperti pengerjaan pertama, dari 77 tower yang dibangun, masih ada tujuh pondasi tapak tower yang belum selesai. Sedangkan pengerjaan bagian kedua seluruh tower sudah berdiri. Pengerjaan selanjutnya hanya menarik konduktor.

“Untuk bagian kedua ini, akhir Desember 2019 selesai,” kata Manajer PLN UPP Pembangkit dan Jaringan KBB 4 Ketapang, Kalimantan Barat Doni Emmeri saat media visit di Ketapang, Rabu (18/12) siang.

Baca Juga :  CSR PLN Kalbar Serahkan Bantuan Senilai Rp210 Juta untuk Rumah Ibadah

Sedangkan bagian ketiga, sebut dia, masih ada empat tower lagi yang harus diselesaikan. Total jarak pembangunan itu, Ketapang – Kendawangan, sekitar 64 kilometer.

Doni menjelaskan untuk mendirikan satu tower membutuhkan paling tidak 30 pekerja, dengan masing-masing pengerjaan yang dilakukan. Untuk mendirikan pondasi, digambarkan dia, setidaknya membutuhkan 10 – 15 orang. Setelah itu selesai, lalu mereka akan melanjutkannya ke pendirian tower. Untuk pengerjaan ini mereka membutuhkan tenaga sebanyak 20 orang.

Ia mengingatkan untuk pengerjaan pada pendirian tower membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan atau skill yang sesuai dengan apa yang dikerjakan. Sehingga, sebagai pekerjanya, sebagian besar mereka mendatangkannya dari luar. “Kami datangkan dari Jawa,” kata Doni.

Meski demikian pihaknya ada juga menyerap tenaga kerja lokal dalam proses pembangunan tower SUTT ini. Untuk lama pengerjaannya, diperkirakan dia, bisa mencapai sebulan.

Doni mengakui kondisi cuaca seperti sekarang juga menjadi kendala selain persoalan sosial. Kekhawatirannya, para pekerja terkena sambaran petir saat menyelesaikan pengerjaan tower di ketinggian 32 meter.

“Kalau hujan pekerja harus turun, setelah reda baru dilanjutkan kembali,” ujar Doni.

Kondisi itu diakuinya juga berdampak pada waktu pengerjaan. Meski demikian ia optimistis selesainya pembangunan tower memenuhi batas waktu yang ditargetkan.

Baca Juga :  PLN Kalbar Kembali Salurkan Bantuan Paket Sembako untuk Korban Banjir

Begitu semuanya rampung, tahap selanjutnya mereka melakukan inspeksi untuk melihat kelayakan transmisi yang dibangun. Hasil nanti akan dikeluarkan mereka Rekomendasi Layak Bertegangan.

Pembangunan SUTT sendiri bagian dari Gardu Induk Ketapang yang saat ini proses pengerjaannya sudah rampung. Selanjutnya, mereka hanya tinggal menunggu dioperasikan.

Rencana besarnya Gardu Induk Ketapang, Kendawangan, dan Sukadana masuk dalam Sistem Kelistrikan Khatulistiwa yang mendapat pasokan daya dari pembangkit dalam negeri dan Sesco Malaysia.

Koneksi terbangun dari GI Sandai ke Sukadana kemudian Ketapang dan Kendawang. Rencana itu baru ditargetkan terealisasi pada 2022 – 2023. Sebelum itu pasokan listrik ke GI Ketapang datang dari PLTU dan PLTD yang di Bumi Ale-ale.

Saat ini trafo yang ada di GI sebesar 60 Mega Volt Ampere (MVA). Jika diasumsikan, pelanggan berdaya 1.300, maka bisa melayani 36 ribu. Sementara itu daya mampu Kabupaten Ketapang saat ini diungkapkan dia sebesar 30 Megawatt (MW). Artinya sistem yang ada masih kategori isolated, sehingga dengan masuk dalam sistem khatulistiwa dianggap mampu mengurangi defisit daya di Kabupaten Ketapang. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/