alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Batal ke London Meski Sudah Pesan Tiket Kereta dan Museum

Cerita Sejumlah WNI di Inggris setelah Merebaknya Varian Baru Virus Corona

Varian baru virus corona tak cuma membuat Inggris ”dikucilkan” banyak negara, tapi juga menjadikan negeri tersebut lengang. Berikut penuturan beberapa warga negara Indonesia (WNI) di sejumlah kota di Inggris kepada wartawan Jawa Pos TAUFIQURRAHMAN yang mengontak mereka dari Jakarta.

TIKET kereta ke London sudah dia pesan. Begitu juga tiket masuk museum dan berbagai tempat wisata di ibu kota Inggris tersebut. Dari Sheffield, kota tempatnya tinggal dan menempuh pendidikan S-3, Idham Effendi sudah merencanakan liburan empat hari. Bersama istri dan anaknya.

Tapi, keadaan berkata lain. Menjelang Natal, pemerintah Inggris mengumumkan kunci sementara alias lockdown nasional akibat kenaikan kasus positif Covid-19. ”Ya sudah, batal kami ke London,” katanya dalam wawancara dengan Jawa Pos melalui WhatsApp.

Natal dan Tahun Baru tahun ini sunyi bagi warga Inggris Raya. Pasca ditemukannya varian baru virus corona, VUI 202012/01, kasus positif pun menanjak naik. Terutama di kota-kota bagian selatan negeri monarki konstitusional tersebut.

VUI 202012/01 itu juga membuat Inggris ”dikucilkan”. Banyak negara melarang penerbangan dari negeri yang dipimpin Ratu Elizabeth II tersebut masuk ke wilayah mereka.

Saat ini rata-rata kota besar di Inggris telah memasuki tingkat pembatasan (restriction tiers) level 4. Padahal, sebelumnya warga di sana hanya mengenal tingkat pembatasan sampai tier 3. Bahkan, perkembangan kasus Covid-19 di Inggris pun sempat melandai pada sekitar Agustus lalu.

Munawir Aziz yang berdomisili di Southampton bercerita bahwa kota tempatnya tinggal sudah memasuki tier 4. Padahal, sebelum Natal, kota di pantai selatan Inggris tersebut hanya berada di tier 3. Artinya, semua toko masih buka. Begitu pula restoran, masih buka normal. Perjalanan ke luar kota dan aktivitas di luar ruangan juga masih diizinkan.

Baca Juga :  Menteri BUMN dan Dirut BRI Dorong Percepatan Vaksinasi Hingga Pemberdayaan UMKM

Pemerintah Inggris menentukan bahwa tier 1 adalah kewaspadaan sedang, sedangkan tier 2 kewaspadaan tinggi. Tier 3 sangat tinggi. Adapun tier 4 mengharuskan semua warga tinggal di rumah dan dilarang keluar kecuali untuk kepentingan yang sangat mendesak.

Dalam tier 4, kata Aziz, pergerakan orang sudah sangat dibatasi. Restoran masih boleh buka, tapi hanya melayani delivery. ”Nggak boleh makan di dalam. Bar tutup, toko-toko yang tidak urgen juga ditutup. Beberapa saja yang penting seperti grocery yang menjual makanan pokok itu tetap buka, ” ungkap Aziz yang juga dikontak Jawa Pos melalui WhatsApp.

Penulis buku Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara tersebut menjelaskan, saat ini hanya beberapa kota kecil yang relatif sepi penduduknya yang masih bertahan di tier 3. Memang pada masa Natal ini normalnya pemerintah setempat memberikan libur panjang. Lebih dari sepuluh hari sampai nanti tanggal 4 Januari.

Semua kampus dan sekolah tutup. Namun, para orang tua di Inggris kini harap-harap cemas apakah anak-anak mereka bisa kembali bersekolah. Saat ini orang tua sedang menunggu pengumuman menjelang hari masuk sekolah. Tapi, walaupun masuk, tentu protokolnya akan ketat sekali. ”Opsi yang ditawarkan adalah sekolah masuknya bergantian,” ucapnya.

Aziz mengatakan, sejak pekan lalu KBRI London telah memberikan imbauan agar menjaga kesehatan dengan berolahraga di dalam rumah ataupun di pekarangan. Hindari bepergian dengan kendaraan umum serta selalu meng-update info dari kota setempat. ”Karena setiap kota punya kebijakan masing-masing. Kota-kota di Wales beda, Irlandia beda, Skotlandia beda,” jelas peneliti yang juga sekretaris PC NU United Kingdom itu.

Kota London yang kini juga telah berstatus tier 4 pun tidak kalah lengang. Hanya terlihat mobil yang terparkir di pinggir jalan-jalan utama.

Baca Juga :  Patuhi Aturan Bersepeda, Pakai Masker, Jangan Bergerombol

Dari jendela apartemennya di High Street, Stratford, London, Maretika Pujilestari mengatakan, tidak lagi terlihat aktivitas manusia di luar ruangan. ”Tapi, sebenarnya kalau tier 4 untuk toko grocery masih buka. Hanya toko barang nonesensial seperti toko baju, sepatu, itu tutup. Restoran pun hanya take away, tidak bisa makan di tempat,” terang mahasiswi Queen Mary University of London tersebut.

Yang paling merepotkan adalah penutupan beberapa line transportasi yang menjadi tumpuan warga London. Tika (sapaan Maretika Pujilestari) sendiri mengaku tidak banyak keluar rumah. Namun, beberapa kawannya mengeluhkan penutupan jalur kereta sampai 3 Januari nanti.

”Biasanya (kereta, Red) underground ramai, apalagi di office hours jam berangkat atau pulang kantor. Kita masih tetap boleh naik public transport, tapi pakai masker dan berjarak duduknya,” jelas Tika.

Meski demikian, masih ada beberapa aktivitas outdoor yang diizinkan, misalnya olahraga ringan dan membawa anjing peliharaan jalan-jalan. ”Kan ada taman di outdoor. Tapi, ada ketentuannya, tidak boleh mixing household, artinya beda household di satu indoor,” paparnya.

Sebelum lockdown nasional, London sebenarnya masih masuk kategori tier 2. Bahkan, pada Agustus lalu kasus Covid-19 sempat melandai dan longgar. ”Itu sebabnya saya putuskan, liburan Natal nanti ke London sekitar empat hari,” kata Idham, mahasiswa S-3 di University of Sheffield tersebut.

Karena kasus positif menanjak begitu cepatnya, London akhirnya masuk ke tier 3, status tertinggi saat itu. ”Akhirnya malah naik ke tier 4. Kalau tier 4 itu sudah lockdown,” ujarnya.

Jadilah satu per satu datang surel (surat elektronik) dari museum-museum dan tempat-tempat wisata yang sudah dia pesan sebelumnya. Termasuk tiket kereta yang menuju ke London. ”Di-cancel semua. Tidak ada lagi kereta menuju ke London,” ucapnya.(*)

Cerita Sejumlah WNI di Inggris setelah Merebaknya Varian Baru Virus Corona

Varian baru virus corona tak cuma membuat Inggris ”dikucilkan” banyak negara, tapi juga menjadikan negeri tersebut lengang. Berikut penuturan beberapa warga negara Indonesia (WNI) di sejumlah kota di Inggris kepada wartawan Jawa Pos TAUFIQURRAHMAN yang mengontak mereka dari Jakarta.

TIKET kereta ke London sudah dia pesan. Begitu juga tiket masuk museum dan berbagai tempat wisata di ibu kota Inggris tersebut. Dari Sheffield, kota tempatnya tinggal dan menempuh pendidikan S-3, Idham Effendi sudah merencanakan liburan empat hari. Bersama istri dan anaknya.

Tapi, keadaan berkata lain. Menjelang Natal, pemerintah Inggris mengumumkan kunci sementara alias lockdown nasional akibat kenaikan kasus positif Covid-19. ”Ya sudah, batal kami ke London,” katanya dalam wawancara dengan Jawa Pos melalui WhatsApp.

Natal dan Tahun Baru tahun ini sunyi bagi warga Inggris Raya. Pasca ditemukannya varian baru virus corona, VUI 202012/01, kasus positif pun menanjak naik. Terutama di kota-kota bagian selatan negeri monarki konstitusional tersebut.

VUI 202012/01 itu juga membuat Inggris ”dikucilkan”. Banyak negara melarang penerbangan dari negeri yang dipimpin Ratu Elizabeth II tersebut masuk ke wilayah mereka.

Saat ini rata-rata kota besar di Inggris telah memasuki tingkat pembatasan (restriction tiers) level 4. Padahal, sebelumnya warga di sana hanya mengenal tingkat pembatasan sampai tier 3. Bahkan, perkembangan kasus Covid-19 di Inggris pun sempat melandai pada sekitar Agustus lalu.

Munawir Aziz yang berdomisili di Southampton bercerita bahwa kota tempatnya tinggal sudah memasuki tier 4. Padahal, sebelum Natal, kota di pantai selatan Inggris tersebut hanya berada di tier 3. Artinya, semua toko masih buka. Begitu pula restoran, masih buka normal. Perjalanan ke luar kota dan aktivitas di luar ruangan juga masih diizinkan.

Baca Juga :  Setiap Jumat Butuh 300 Masker untuk Jamaah

Pemerintah Inggris menentukan bahwa tier 1 adalah kewaspadaan sedang, sedangkan tier 2 kewaspadaan tinggi. Tier 3 sangat tinggi. Adapun tier 4 mengharuskan semua warga tinggal di rumah dan dilarang keluar kecuali untuk kepentingan yang sangat mendesak.

Dalam tier 4, kata Aziz, pergerakan orang sudah sangat dibatasi. Restoran masih boleh buka, tapi hanya melayani delivery. ”Nggak boleh makan di dalam. Bar tutup, toko-toko yang tidak urgen juga ditutup. Beberapa saja yang penting seperti grocery yang menjual makanan pokok itu tetap buka, ” ungkap Aziz yang juga dikontak Jawa Pos melalui WhatsApp.

Penulis buku Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara tersebut menjelaskan, saat ini hanya beberapa kota kecil yang relatif sepi penduduknya yang masih bertahan di tier 3. Memang pada masa Natal ini normalnya pemerintah setempat memberikan libur panjang. Lebih dari sepuluh hari sampai nanti tanggal 4 Januari.

Semua kampus dan sekolah tutup. Namun, para orang tua di Inggris kini harap-harap cemas apakah anak-anak mereka bisa kembali bersekolah. Saat ini orang tua sedang menunggu pengumuman menjelang hari masuk sekolah. Tapi, walaupun masuk, tentu protokolnya akan ketat sekali. ”Opsi yang ditawarkan adalah sekolah masuknya bergantian,” ucapnya.

Aziz mengatakan, sejak pekan lalu KBRI London telah memberikan imbauan agar menjaga kesehatan dengan berolahraga di dalam rumah ataupun di pekarangan. Hindari bepergian dengan kendaraan umum serta selalu meng-update info dari kota setempat. ”Karena setiap kota punya kebijakan masing-masing. Kota-kota di Wales beda, Irlandia beda, Skotlandia beda,” jelas peneliti yang juga sekretaris PC NU United Kingdom itu.

Kota London yang kini juga telah berstatus tier 4 pun tidak kalah lengang. Hanya terlihat mobil yang terparkir di pinggir jalan-jalan utama.

Baca Juga :  Pandemi Kian Membaik Sepekan Jelang Lebaran, Masyarakat Tenang

Dari jendela apartemennya di High Street, Stratford, London, Maretika Pujilestari mengatakan, tidak lagi terlihat aktivitas manusia di luar ruangan. ”Tapi, sebenarnya kalau tier 4 untuk toko grocery masih buka. Hanya toko barang nonesensial seperti toko baju, sepatu, itu tutup. Restoran pun hanya take away, tidak bisa makan di tempat,” terang mahasiswi Queen Mary University of London tersebut.

Yang paling merepotkan adalah penutupan beberapa line transportasi yang menjadi tumpuan warga London. Tika (sapaan Maretika Pujilestari) sendiri mengaku tidak banyak keluar rumah. Namun, beberapa kawannya mengeluhkan penutupan jalur kereta sampai 3 Januari nanti.

”Biasanya (kereta, Red) underground ramai, apalagi di office hours jam berangkat atau pulang kantor. Kita masih tetap boleh naik public transport, tapi pakai masker dan berjarak duduknya,” jelas Tika.

Meski demikian, masih ada beberapa aktivitas outdoor yang diizinkan, misalnya olahraga ringan dan membawa anjing peliharaan jalan-jalan. ”Kan ada taman di outdoor. Tapi, ada ketentuannya, tidak boleh mixing household, artinya beda household di satu indoor,” paparnya.

Sebelum lockdown nasional, London sebenarnya masih masuk kategori tier 2. Bahkan, pada Agustus lalu kasus Covid-19 sempat melandai dan longgar. ”Itu sebabnya saya putuskan, liburan Natal nanti ke London sekitar empat hari,” kata Idham, mahasiswa S-3 di University of Sheffield tersebut.

Karena kasus positif menanjak begitu cepatnya, London akhirnya masuk ke tier 3, status tertinggi saat itu. ”Akhirnya malah naik ke tier 4. Kalau tier 4 itu sudah lockdown,” ujarnya.

Jadilah satu per satu datang surel (surat elektronik) dari museum-museum dan tempat-tempat wisata yang sudah dia pesan sebelumnya. Termasuk tiket kereta yang menuju ke London. ”Di-cancel semua. Tidak ada lagi kereta menuju ke London,” ucapnya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/