alexametrics
24 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Dana Nasabah Raib Rp200 Juta, Komisi 3 Bakal Panggil Perbankan

PONTIANAK – Komisi 3 DPRD Provinsi Kalimantan Barat bereaksi, terkait kasus Mat Hur, seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang mengaku kehilangan uang Rp200 juta di rekeningnya pada 12 Januari 2022, hingga berakhir pengaduan ke Direktorat Reskrimsus Polda Kalbar.

“Kami (Komisi 3 DPRD Kalbar) membaca fenomena sistem pengamanan perbankan. Kasusnya sudah sering terjadi, khususnya di bank pemerintah. Rasanya perlu sekali kami panggil,” ucap Ustad Miftah, anggota Komisi 3 DPRD Kalbar, Kamis (3/2) di Pontianak.

Menurut dia pemanggilan sendiri lebih kepada kepentingan rasa aman dana nasabah, warga Kalbar di Bank Pemerintah. Bukan hanya BRI, tetapi juga OJK dalam segi pengawasan termasuk Bank Indonesia wilayah Kalbar.

“Ini mungkin lebih kepada rapat koordinasi saja. Artinya, sama-sama menjaga agar fundamental ekonomi masyarakat Kalbar di perbankan tetap safety dan terjaga,” katanya.

Politisi PPP Kalbar ini cukup serius menanggapi, raibnya uang nasabah di BRI sampai berakhir ke pelaporan Polda Kalbar. Ini wajib menjadi catatan penting bagi dunia perbankan di Kalbar. Jangan sampai suatu waktu, nasabah Kalbar cenderung kurang percaya untuk menitipkan dananya di bank pemerintah.

“Sebagai bagian pemerintah, kami (Komisi 3) perlu juga meluruskan ini. Sebab, bukan kali pertama saja kejadian bank pemerintah di Kalbar diberitakan seperti begini. Beberapa waktu lalu, ada juga kejadian begini, meskipun sudah terselesaikan,” ujarnya.

Miftah mengaku prihatin dengan Mat Hur, yang terus-terusan berjuang untuk memperoleh haknya kembali. Ini seperti berkaca bahwa, ada sistem perbankan, yang masih perlu dilakukan perbaikan. Sepertinya terkesan ada dugaan sistemnya error. Makanya dugaan raibnya dana nasabah sebesar Rp200 juta karena ada masalah.

Baca Juga :  IPC Group Pontianak dan Mitra Usaha Tanda Tangani  Deklarasi Bersama Pelabuhan Bersih

“Saya pribadi menduga ada oknum nakal di perbankan. Seandainya ada, segera copot dan pidanakan. Namun, kalau pun tidak ada. Berarti sistemnya mudah dijebol. Bagaimana tidak. Selang sehari usai ditransfer, dananya di rekening sudah tidak ada,” kata dia.

Dia meminta OJK Kalbar segera melakukan tindakan, selain Polda Kalbar ikut membantu melakukan penyelidikan. DPRD Kalbar juga bakalan berbuat dengan melakukan pemanggilan. Kalau perlu pihak korban melalui lawyernya juga bakalan diundang.

“Insha Allah, segera kami panggil. Pastinya kami hanya mau memastikan Bank tetap safety. Trust nasabah juga harus tetap terjadi. Jangan istilahnya, karena nila setitik, rusak kepercayaan nasabah sebelangak,” pungkas Miftah.

Sebelumnya, penasehat hukum Mat Hur, Denie Amiruddin menyebutkan peristiwa tersebut berawal saat kliennya menerima transferan uang sebesar Rp 200 juta dari mitra bisnisnya PT. Niaga Lestari yang berkedudukan di Surabaya, Jawa Timur, pada 11 Januari 2022, atas pembelian sarang burung walet.

Menurut Denie, bukti berupa foto slip pengiriman telah dikirimkan dari pihak pembeli. Demikian juga catatan transaksi yang masuk melalui internet banking, sesuai dengan nomor kode transaksi.

Baca Juga :  Dulu Gugat Ayah Rp 3 M, Kini Siap Bersujud Minta Maaf

“Jadi pada tanggal 11 Januari 2022, klien saya menerima transferan sebesar Rp200 juta dari PT. Niaga Lestari di Surabaya. Rencananya tanggal 13 Januari, uang tersebut mau digunakan untuk melanjutkan usahanya termasuk upah karyawan. Namun setelah dicek di ATM, uang tersebut tidak ada,” kata Denie di temui di Polda Kalbar, Rabu (2/2).

Anehnya, kata Denie, di tanggal 12 Januari 2022, terdapat catatan di internet Banking didebet sebesar Rp 200 juta dengan kode ESB INDS: 0004R00w.3a520da8e24b. Merasa tidak melakukan transaksi itu, kliennya segera melapor perihal hilangnya uang tersebut ke layanan pengaduan BRI melalui telepon. Oleh pihak BRI, kata Denie, kliennya diminta untuk datang dan mengurusnya di kantor tempat pertama kali membuka rekening yaitu di Kantor cabang BRI jalan Barito.

“Karena klien saya waktu itu sedang berada di Malaysia, jadi baru beberapa hari setelahnya mendatangi kantor BRI, tapi yang terjadi, klien saya tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Pihak BRI mengatakan sudah menindaklajuti pengaduan, dan minta klien saya untuk menunggu,” kata dia.

Namun, setelah menunggu selama tujuh hari, lanjut Denie, kliennya juga tidak mendapatkan titik terang soal hilangnya uang sebesar Rp 200 juta tersebut. “Untuk itu, kami berinisiatif untuk membuat aduan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar atas dugaan kejahatan Perbankan,” kata dia. (den)

PONTIANAK – Komisi 3 DPRD Provinsi Kalimantan Barat bereaksi, terkait kasus Mat Hur, seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang mengaku kehilangan uang Rp200 juta di rekeningnya pada 12 Januari 2022, hingga berakhir pengaduan ke Direktorat Reskrimsus Polda Kalbar.

“Kami (Komisi 3 DPRD Kalbar) membaca fenomena sistem pengamanan perbankan. Kasusnya sudah sering terjadi, khususnya di bank pemerintah. Rasanya perlu sekali kami panggil,” ucap Ustad Miftah, anggota Komisi 3 DPRD Kalbar, Kamis (3/2) di Pontianak.

Menurut dia pemanggilan sendiri lebih kepada kepentingan rasa aman dana nasabah, warga Kalbar di Bank Pemerintah. Bukan hanya BRI, tetapi juga OJK dalam segi pengawasan termasuk Bank Indonesia wilayah Kalbar.

“Ini mungkin lebih kepada rapat koordinasi saja. Artinya, sama-sama menjaga agar fundamental ekonomi masyarakat Kalbar di perbankan tetap safety dan terjaga,” katanya.

Politisi PPP Kalbar ini cukup serius menanggapi, raibnya uang nasabah di BRI sampai berakhir ke pelaporan Polda Kalbar. Ini wajib menjadi catatan penting bagi dunia perbankan di Kalbar. Jangan sampai suatu waktu, nasabah Kalbar cenderung kurang percaya untuk menitipkan dananya di bank pemerintah.

“Sebagai bagian pemerintah, kami (Komisi 3) perlu juga meluruskan ini. Sebab, bukan kali pertama saja kejadian bank pemerintah di Kalbar diberitakan seperti begini. Beberapa waktu lalu, ada juga kejadian begini, meskipun sudah terselesaikan,” ujarnya.

Miftah mengaku prihatin dengan Mat Hur, yang terus-terusan berjuang untuk memperoleh haknya kembali. Ini seperti berkaca bahwa, ada sistem perbankan, yang masih perlu dilakukan perbaikan. Sepertinya terkesan ada dugaan sistemnya error. Makanya dugaan raibnya dana nasabah sebesar Rp200 juta karena ada masalah.

Baca Juga :  Sukses Dukung UMKM, BRI Dinobatkan sebagai Penyalur KUR Terbaik 2021

“Saya pribadi menduga ada oknum nakal di perbankan. Seandainya ada, segera copot dan pidanakan. Namun, kalau pun tidak ada. Berarti sistemnya mudah dijebol. Bagaimana tidak. Selang sehari usai ditransfer, dananya di rekening sudah tidak ada,” kata dia.

Dia meminta OJK Kalbar segera melakukan tindakan, selain Polda Kalbar ikut membantu melakukan penyelidikan. DPRD Kalbar juga bakalan berbuat dengan melakukan pemanggilan. Kalau perlu pihak korban melalui lawyernya juga bakalan diundang.

“Insha Allah, segera kami panggil. Pastinya kami hanya mau memastikan Bank tetap safety. Trust nasabah juga harus tetap terjadi. Jangan istilahnya, karena nila setitik, rusak kepercayaan nasabah sebelangak,” pungkas Miftah.

Sebelumnya, penasehat hukum Mat Hur, Denie Amiruddin menyebutkan peristiwa tersebut berawal saat kliennya menerima transferan uang sebesar Rp 200 juta dari mitra bisnisnya PT. Niaga Lestari yang berkedudukan di Surabaya, Jawa Timur, pada 11 Januari 2022, atas pembelian sarang burung walet.

Menurut Denie, bukti berupa foto slip pengiriman telah dikirimkan dari pihak pembeli. Demikian juga catatan transaksi yang masuk melalui internet banking, sesuai dengan nomor kode transaksi.

Baca Juga :  Sehari Jadi ‘Dirut’ BRI, Ini Pandangan Sisilia Tentang Pemimpin Perempuan

“Jadi pada tanggal 11 Januari 2022, klien saya menerima transferan sebesar Rp200 juta dari PT. Niaga Lestari di Surabaya. Rencananya tanggal 13 Januari, uang tersebut mau digunakan untuk melanjutkan usahanya termasuk upah karyawan. Namun setelah dicek di ATM, uang tersebut tidak ada,” kata Denie di temui di Polda Kalbar, Rabu (2/2).

Anehnya, kata Denie, di tanggal 12 Januari 2022, terdapat catatan di internet Banking didebet sebesar Rp 200 juta dengan kode ESB INDS: 0004R00w.3a520da8e24b. Merasa tidak melakukan transaksi itu, kliennya segera melapor perihal hilangnya uang tersebut ke layanan pengaduan BRI melalui telepon. Oleh pihak BRI, kata Denie, kliennya diminta untuk datang dan mengurusnya di kantor tempat pertama kali membuka rekening yaitu di Kantor cabang BRI jalan Barito.

“Karena klien saya waktu itu sedang berada di Malaysia, jadi baru beberapa hari setelahnya mendatangi kantor BRI, tapi yang terjadi, klien saya tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Pihak BRI mengatakan sudah menindaklajuti pengaduan, dan minta klien saya untuk menunggu,” kata dia.

Namun, setelah menunggu selama tujuh hari, lanjut Denie, kliennya juga tidak mendapatkan titik terang soal hilangnya uang sebesar Rp 200 juta tersebut. “Untuk itu, kami berinisiatif untuk membuat aduan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar atas dugaan kejahatan Perbankan,” kata dia. (den)

Most Read

Artikel Terbaru

/