alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Vaksin Kunci Ekonomi Bangkit

PANDEMI Covid-19 telah meluluhlantakkan hampir seluruh sektor ekonomi pada tahun 2020. Lantas bagaimana dengan tahun 2021 ini. Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman mengatakan ekonomi Indonesia, termasuk Kalbar tahun bisa kembali normal. Syarat utamanya adalah lancarnya proses vaksinasi Corona. “Yang membatasi ekonomi dan ruang gerak masyarakat  adalah Covid-19. Jadi vaksin menjadi kunci ekonomi untuk bangkit,” sebut dia kepada Pontianak Post.

Menurutnya vaksinasi di Indonesia menjadi tantangan berat bagi pemerintah. Memiliki jumlah penduduk 265 juta, dimana setiap orang dijatah dua dosis vaksin, maka penyediaan vaksin dalam jumlah besar dan distribusinya secara merata adalah pekerjaan yang berat. “Walaupun vaksin hanya perlu menyentuh angka 70 persen jumlah penduduk, tetapi untuk mencapai angka sebanyak itu perlu waktu. Apakah itu bisa tercapai pada triwulan I ini karena kebutuhan dunia juga sangat tinggi,” ungkap dia.

Lanjut dia, sektor-sektor seperti transportasi udara, perhotelan, pariwisata, kuliner, dan lainnya baru bisa bangkit setelah vaksinasi selesai. Namun kata dia, sektor-sektor yang menjadi andalan masyarakat Kalbar justru tampak tidak terlalu tedampak pandemi tahun lalu. Kemungkinan porspeknya tahun ini akan sama seperti tahun lalu. “Sektor pertambangan, perkebunan dan pertanian kita cukup bagus pada tahun lalu, kalau melihat pada kinerja ekspornya. Prospek cerah sektor primer Kalbar ini bisa berlanjut tahun ini. Apalagi melihat progress pembangunan Pelabuhan Kijing,” sebut dia.

Selain itu peluang bisnis juga akan meningkat pada produk-produk ekspor. Baik barang mentah maupun produk jadi. Pasalnya kemungkinan negara-negara maju yang menjadi pasar besar akan lebih dulu selesai dengan urusan vaksin. “Amerika misalnya sudah mendistribusikan belasan juta vaksin dan menyiapkan ratusan juta vaksin. Eropa juga sudah mulai. Tiongkok sudah lebih dahulu. Artinya ekonomi mereka kemungkinan akan bangkit lebih awal,” papar dia.

Bangkitnya ekonomi negara-negara maju tersebut, kata dia, sama dengan meningkatnya konsumsi. Hal tersebut akan mendorong permintaan barang-barang dari Indonesia. “Oleh sebab itu, untuk para pebisnis yang selama ini mengandalkan pasar domestik ada baiknya untuk melihat pasar ekspor. Karena kemungkinan konsumsi negara-negara tersebut akan melonjak setelah vaksinasi,” jelas dia.

Baca Juga :  SJ-182 Jatuh dan Meledak di Air

Bagi UMKM, kata dia, peralihan ke pemasaran digital menjadi sesuatu yang wajib. Pada tahun lalu, terbukti mereka mampu memanfaatkan dunia digital, justru mampu bertahan. Bahkan meningkatkan omzetnya. “Kuliner dan fashion bisa menjadi sektor yang menjanjikan tahun ini. Terutama kalau bisa switching ke ekosistem digital. Karena pasar di digital luas sekali,” ungkap dia.

Serupa, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak Andreas Acui Simanjaya menyebut vaksinasi menjadi penentu bangkit atau tidaknya ekonomi tahun ini. Namun menurutnya, walaupun vaksinasi berjalan lambat, ekonomi tetap akan lebih baik dari tahun lalu. Pasalnya banyak orang sudah mulai bisa beradaptasi dengan pandemi. Terutama dengan peralihan ke ekosistem digital. Selain itu, psikologis masyarakat juga tidak secemas dulu, sehingga aktivitas ekonomi bisa berjalan. Kendati tetap menerapkan protokol kesehatan.

Menurut dia, sektor yang menjanjikan di 2021, selain yang berkaitan dengan digital adalah sektor pangan. Dia memprediksi permintaan terhadap produk pangan akan meningkat tajam, seiring meningkatnya perekonomian. Selain itu sektor jasa juga mulai menggeliat. “Termasuk sektor pariwisata juga harus bersiap-siap, karena bila pandemi berakhir, destinasi wisata adalah tempat yang orang ingin kunjungi,” kata dia.

Sementara itu Ekonom UOB, Enrico Tanuwidjaja menilai vaksinasi di Indonesia akan lebih lama dibanding dengan negara lain. Pasalnya jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar memerlukan waktu lebih.  Sampai menunggu proses yang cukup panjang ini maka diperlukan untuk setiap melakukan penerapan protokol kesehan 3 M yaitu memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan.

Namun, kata dia, stimulus ekonomi, suku bunga rendah, dan pemassifan traksaksi digital yang dilancarkan pemerintah saat ini sudah sangat tepat. “Penyaluran dana pemulihan ekonomi nasional walaupun belum maksimal penyerapannya sudah berjalan baik. Tetapi perlu juga untuk memberikan stimulus kepada sektor menengah dan besar. Agar mampu bertahan, karena penyerapan tenaga kerjanya juga banyak,” kata dia.

Baca Juga :  Kajati Kalbar Siap Bantu Promosikan Tanaman Hias

Sementara dalam outlook Bank Indonesia untuk tahun 2021, Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini optimis pertumbuhan ekonomi provinsi ini akan kembali positif di kisaran 2,1-2,5 persen. Sementara inflasi juga stabil di kisaran tiga plus satu persen. Hal tersebut didukung oleh berbagai faktor. Terutama hadirnya vaksin Covid-19.  “Tahun 2021 Pelabuhan Tanjungpura (Kijing) akan beroperasi, dan tentu akan mendongkrak ekspor. Selain itu program pemulihan ekonomi nasional juga dilanjutkan, termasuk stimulus fiskal. BI juga mengeluarkan kebijakan menjaga likuiditas. Sementara Otoritas Jasa Keuangan telah memperpanjang relaksasi kredit. Adapun perkembangan ekonomi digital juga semakin luas tersebar,” papar Agus.

Sementara itu, Gubernur Kalbar Sutarmidji juga percaya ekonomi daerah yang dipimpinnya akan tumbuh signifikan. Bahkan menurutnya angka pertumbuhan Kalbar yang minus 4,46 persen pada triwulan III bukan potret sesungguhnya. Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir, beberapa indikator ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang baik. “Misalnya nilai tukar petani yang meningkat di pertanian padi, perkebunan dan lainnya. Begitu juga konsumsi yang membaik dan kinerja ekspor,” sebut dia.

Soal ekspor, lanjut dia, potretnya lebih samar lagi. Pasalnya  selama bertahun-tahun provinsi ini tak mendapatkan pajak ekspor dari produksi CPO-nya. Lantaran ekspor tersebut tercatat di provinsi lain. Padahal Kalbar adalah provinsi produsen CPO nomor dua di Indonesia. Begitu juga komoditas bauksit dan turunannya. Bahkan dia optimis ekonomi Kalbar tahun 2021 bisa tumbuh sekitar 5 persen bila ekspor komoditas andalan Kalbar seluruhnya bisa dicatat di provinsi ini. (ars)

PANDEMI Covid-19 telah meluluhlantakkan hampir seluruh sektor ekonomi pada tahun 2020. Lantas bagaimana dengan tahun 2021 ini. Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman mengatakan ekonomi Indonesia, termasuk Kalbar tahun bisa kembali normal. Syarat utamanya adalah lancarnya proses vaksinasi Corona. “Yang membatasi ekonomi dan ruang gerak masyarakat  adalah Covid-19. Jadi vaksin menjadi kunci ekonomi untuk bangkit,” sebut dia kepada Pontianak Post.

Menurutnya vaksinasi di Indonesia menjadi tantangan berat bagi pemerintah. Memiliki jumlah penduduk 265 juta, dimana setiap orang dijatah dua dosis vaksin, maka penyediaan vaksin dalam jumlah besar dan distribusinya secara merata adalah pekerjaan yang berat. “Walaupun vaksin hanya perlu menyentuh angka 70 persen jumlah penduduk, tetapi untuk mencapai angka sebanyak itu perlu waktu. Apakah itu bisa tercapai pada triwulan I ini karena kebutuhan dunia juga sangat tinggi,” ungkap dia.

Lanjut dia, sektor-sektor seperti transportasi udara, perhotelan, pariwisata, kuliner, dan lainnya baru bisa bangkit setelah vaksinasi selesai. Namun kata dia, sektor-sektor yang menjadi andalan masyarakat Kalbar justru tampak tidak terlalu tedampak pandemi tahun lalu. Kemungkinan porspeknya tahun ini akan sama seperti tahun lalu. “Sektor pertambangan, perkebunan dan pertanian kita cukup bagus pada tahun lalu, kalau melihat pada kinerja ekspornya. Prospek cerah sektor primer Kalbar ini bisa berlanjut tahun ini. Apalagi melihat progress pembangunan Pelabuhan Kijing,” sebut dia.

Selain itu peluang bisnis juga akan meningkat pada produk-produk ekspor. Baik barang mentah maupun produk jadi. Pasalnya kemungkinan negara-negara maju yang menjadi pasar besar akan lebih dulu selesai dengan urusan vaksin. “Amerika misalnya sudah mendistribusikan belasan juta vaksin dan menyiapkan ratusan juta vaksin. Eropa juga sudah mulai. Tiongkok sudah lebih dahulu. Artinya ekonomi mereka kemungkinan akan bangkit lebih awal,” papar dia.

Bangkitnya ekonomi negara-negara maju tersebut, kata dia, sama dengan meningkatnya konsumsi. Hal tersebut akan mendorong permintaan barang-barang dari Indonesia. “Oleh sebab itu, untuk para pebisnis yang selama ini mengandalkan pasar domestik ada baiknya untuk melihat pasar ekspor. Karena kemungkinan konsumsi negara-negara tersebut akan melonjak setelah vaksinasi,” jelas dia.

Baca Juga :  Sembako dari KAHMI Singkawang, Peduli Warga Terdampak Covid-19

Bagi UMKM, kata dia, peralihan ke pemasaran digital menjadi sesuatu yang wajib. Pada tahun lalu, terbukti mereka mampu memanfaatkan dunia digital, justru mampu bertahan. Bahkan meningkatkan omzetnya. “Kuliner dan fashion bisa menjadi sektor yang menjanjikan tahun ini. Terutama kalau bisa switching ke ekosistem digital. Karena pasar di digital luas sekali,” ungkap dia.

Serupa, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak Andreas Acui Simanjaya menyebut vaksinasi menjadi penentu bangkit atau tidaknya ekonomi tahun ini. Namun menurutnya, walaupun vaksinasi berjalan lambat, ekonomi tetap akan lebih baik dari tahun lalu. Pasalnya banyak orang sudah mulai bisa beradaptasi dengan pandemi. Terutama dengan peralihan ke ekosistem digital. Selain itu, psikologis masyarakat juga tidak secemas dulu, sehingga aktivitas ekonomi bisa berjalan. Kendati tetap menerapkan protokol kesehatan.

Menurut dia, sektor yang menjanjikan di 2021, selain yang berkaitan dengan digital adalah sektor pangan. Dia memprediksi permintaan terhadap produk pangan akan meningkat tajam, seiring meningkatnya perekonomian. Selain itu sektor jasa juga mulai menggeliat. “Termasuk sektor pariwisata juga harus bersiap-siap, karena bila pandemi berakhir, destinasi wisata adalah tempat yang orang ingin kunjungi,” kata dia.

Sementara itu Ekonom UOB, Enrico Tanuwidjaja menilai vaksinasi di Indonesia akan lebih lama dibanding dengan negara lain. Pasalnya jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar memerlukan waktu lebih.  Sampai menunggu proses yang cukup panjang ini maka diperlukan untuk setiap melakukan penerapan protokol kesehan 3 M yaitu memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan.

Namun, kata dia, stimulus ekonomi, suku bunga rendah, dan pemassifan traksaksi digital yang dilancarkan pemerintah saat ini sudah sangat tepat. “Penyaluran dana pemulihan ekonomi nasional walaupun belum maksimal penyerapannya sudah berjalan baik. Tetapi perlu juga untuk memberikan stimulus kepada sektor menengah dan besar. Agar mampu bertahan, karena penyerapan tenaga kerjanya juga banyak,” kata dia.

Baca Juga :  Yacobus, Pedagang Pasar yang Selalu Gunakan Masker Medis Layani Pembeli

Sementara dalam outlook Bank Indonesia untuk tahun 2021, Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini optimis pertumbuhan ekonomi provinsi ini akan kembali positif di kisaran 2,1-2,5 persen. Sementara inflasi juga stabil di kisaran tiga plus satu persen. Hal tersebut didukung oleh berbagai faktor. Terutama hadirnya vaksin Covid-19.  “Tahun 2021 Pelabuhan Tanjungpura (Kijing) akan beroperasi, dan tentu akan mendongkrak ekspor. Selain itu program pemulihan ekonomi nasional juga dilanjutkan, termasuk stimulus fiskal. BI juga mengeluarkan kebijakan menjaga likuiditas. Sementara Otoritas Jasa Keuangan telah memperpanjang relaksasi kredit. Adapun perkembangan ekonomi digital juga semakin luas tersebar,” papar Agus.

Sementara itu, Gubernur Kalbar Sutarmidji juga percaya ekonomi daerah yang dipimpinnya akan tumbuh signifikan. Bahkan menurutnya angka pertumbuhan Kalbar yang minus 4,46 persen pada triwulan III bukan potret sesungguhnya. Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir, beberapa indikator ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang baik. “Misalnya nilai tukar petani yang meningkat di pertanian padi, perkebunan dan lainnya. Begitu juga konsumsi yang membaik dan kinerja ekspor,” sebut dia.

Soal ekspor, lanjut dia, potretnya lebih samar lagi. Pasalnya  selama bertahun-tahun provinsi ini tak mendapatkan pajak ekspor dari produksi CPO-nya. Lantaran ekspor tersebut tercatat di provinsi lain. Padahal Kalbar adalah provinsi produsen CPO nomor dua di Indonesia. Begitu juga komoditas bauksit dan turunannya. Bahkan dia optimis ekonomi Kalbar tahun 2021 bisa tumbuh sekitar 5 persen bila ekspor komoditas andalan Kalbar seluruhnya bisa dicatat di provinsi ini. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/