alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Sawit Sentuh Harga Tertinggi Sepanjang Sejarah

PONTIANAK – Harga komoditas kelapa sawit terus membukukan rekor harga baru. Harga Tanda Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani di Kalbar untuk periode II Maret 2022 misalnya.

Berdasarkan hasil penetapan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar mencatatkan harga tertinggi sepanjang sejarah yakni untuk umur 10 – 20 tahun sudah mencapai Rp4.041,45 per kilogram. Angka ini hampir empat hingga lima kali lipat lebih tinggi dari beberapa tahun lalu.

“Harga sawit terus mengalami tren kenaikan dan untuk periode II Maret 2022 ini merupakan rekor tertinggi untuk TBS sawit dan produk lainnya. Sejak tahun lalu dan awal 2022 ini harga TBS sawit paling tinggi di angka Rp3.000 per kilogram dan kini sudah tembus Rp4.000 per kilogram,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Muhammad Munsif, kemarin.

Sementara harga CPO (crude palm oil) atau minyak mentah sawit sendiri periode II Maret 2022 juga tembus di angka Rp17.049,44 per kilogram. Periode I Maret 2022 sebelumnya hanya Rp15.534,25 per kilogram. Sementara untuk inti sawit juga naik. Pada periode sebelumnya Rp12,727,14 naik menjadi Rp13.590,95 per kilogram pada periode Maret II. Kenaikan harga sawit dipengaruhi beberapa faktor di antara permintaan dalam dan luar negeri meningkat dan jumlah produksi.

Baca Juga :  Jangan Takut Suntik Vaksin, Cegah Penularan Covid-19

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Kalbar, YS Marjintan mengatakan bahwa dengan harga sawit naik maka petani semakin bergairah dan pendapatan meningkat. Hal itu mendorong kesejahteraan petani.

“Harga yang naik dan terus bertahan dengan harga sesuai harapan petani. Harga naik petani jadi semangat dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani tentunya,” kata dia.

Menurutnya, dengan harga semakin baik minat untuk budidaya semakin meningkat pula baik yang ikut dalam program PSR yang dicanangkan pemerintah maupun secara swadaya. Hal itu terbukti meningkatnya permintaan bibit siap edar.

“Namun satu hal yang perlu perhatian pemerintah yaitu pada satu sisi harga sawit tinggi namun di sisi lainnya harga pupuk dan serta herbisida naik juga. Hal itu menjadi biaya produksi meningkat,” sebut dia.

Kesenjangan Sektor Pertanian

Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Satatistik, kesejahteraan pertanian yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi ini mengalami peningkatan sepanjang Maret 2022, yaitu 152,67 poin, Angka ini naik 2,80 persen dibandingkan NTP bulan Februari 2022 sebesar 148,51 poin. Kesejahteraan petani Kalbar juga jauh melampaui rata-rata nasional. Sebagai informasi, NTP nasional Maret 2022 sebesar 109,29.

Baca Juga :  Apkasindo Kerja Sama Bank Sinarmas

Kendati demikian terdapat kesenjangan kesejahteran antar-sektor pertanian di Kalbar. Pengaruh melonjaknya harga kelapa sawit membuat kesejahteraan petani perkebunan melesat. Tanaman Perkebunan Rakyat sendiri tembus 184,93. Angka ini dua kali lipat dibanding sektor lainnya. NPT pertanian tanaman pangan misalnya hanya 93,39. Sedangkan NTP Hortikultura 106,37 dan Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan Perikanan 154,27.

Sementara itu, secara keseluruhan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan 12 kabupaten di Kalimantan Barat pada Maret 2022, NTP Kalimantan Barat sebesar 152,67 poin.

“Kenaikan NTP pada Maret 2022 disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal. Indeks Harga yang Diterima Petani naik 3,21 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik 0,39 persen,” ujar Kepala BPS Kalbar Moh Wahyu Yulianto saat konferensi pers, Jumat (1/4).

Secara keseluruhan, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. (ars)

PONTIANAK – Harga komoditas kelapa sawit terus membukukan rekor harga baru. Harga Tanda Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani di Kalbar untuk periode II Maret 2022 misalnya.

Berdasarkan hasil penetapan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar mencatatkan harga tertinggi sepanjang sejarah yakni untuk umur 10 – 20 tahun sudah mencapai Rp4.041,45 per kilogram. Angka ini hampir empat hingga lima kali lipat lebih tinggi dari beberapa tahun lalu.

“Harga sawit terus mengalami tren kenaikan dan untuk periode II Maret 2022 ini merupakan rekor tertinggi untuk TBS sawit dan produk lainnya. Sejak tahun lalu dan awal 2022 ini harga TBS sawit paling tinggi di angka Rp3.000 per kilogram dan kini sudah tembus Rp4.000 per kilogram,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Muhammad Munsif, kemarin.

Sementara harga CPO (crude palm oil) atau minyak mentah sawit sendiri periode II Maret 2022 juga tembus di angka Rp17.049,44 per kilogram. Periode I Maret 2022 sebelumnya hanya Rp15.534,25 per kilogram. Sementara untuk inti sawit juga naik. Pada periode sebelumnya Rp12,727,14 naik menjadi Rp13.590,95 per kilogram pada periode Maret II. Kenaikan harga sawit dipengaruhi beberapa faktor di antara permintaan dalam dan luar negeri meningkat dan jumlah produksi.

Baca Juga :  Apkasindo Kalbar Sebut Produksi TBS Sawit Turun

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Kalbar, YS Marjintan mengatakan bahwa dengan harga sawit naik maka petani semakin bergairah dan pendapatan meningkat. Hal itu mendorong kesejahteraan petani.

“Harga yang naik dan terus bertahan dengan harga sesuai harapan petani. Harga naik petani jadi semangat dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani tentunya,” kata dia.

Menurutnya, dengan harga semakin baik minat untuk budidaya semakin meningkat pula baik yang ikut dalam program PSR yang dicanangkan pemerintah maupun secara swadaya. Hal itu terbukti meningkatnya permintaan bibit siap edar.

“Namun satu hal yang perlu perhatian pemerintah yaitu pada satu sisi harga sawit tinggi namun di sisi lainnya harga pupuk dan serta herbisida naik juga. Hal itu menjadi biaya produksi meningkat,” sebut dia.

Kesenjangan Sektor Pertanian

Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Satatistik, kesejahteraan pertanian yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi ini mengalami peningkatan sepanjang Maret 2022, yaitu 152,67 poin, Angka ini naik 2,80 persen dibandingkan NTP bulan Februari 2022 sebesar 148,51 poin. Kesejahteraan petani Kalbar juga jauh melampaui rata-rata nasional. Sebagai informasi, NTP nasional Maret 2022 sebesar 109,29.

Baca Juga :  Suhu di Arab Saudi Diprediksi Panas

Kendati demikian terdapat kesenjangan kesejahteran antar-sektor pertanian di Kalbar. Pengaruh melonjaknya harga kelapa sawit membuat kesejahteraan petani perkebunan melesat. Tanaman Perkebunan Rakyat sendiri tembus 184,93. Angka ini dua kali lipat dibanding sektor lainnya. NPT pertanian tanaman pangan misalnya hanya 93,39. Sedangkan NTP Hortikultura 106,37 dan Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan Perikanan 154,27.

Sementara itu, secara keseluruhan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan 12 kabupaten di Kalimantan Barat pada Maret 2022, NTP Kalimantan Barat sebesar 152,67 poin.

“Kenaikan NTP pada Maret 2022 disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal. Indeks Harga yang Diterima Petani naik 3,21 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik 0,39 persen,” ujar Kepala BPS Kalbar Moh Wahyu Yulianto saat konferensi pers, Jumat (1/4).

Secara keseluruhan, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/