alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Imbau Warga Tak Bepergian

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengimbau kepada masyarakat agar tidak dulu bepergian ke luar daerah atau ke Pulau Jawa. Hal tersebut penting untuk mencegah penularan Covid-19 dan memperkecil risiko ketika seorang terjangkit Covid-19.

Ia menyebut dari data kematian akibat Covid-19 di Kalbar, dari total 31 orang, sebanyak 21 orang di antaranya merupakan orang yang terjangkit dari luar Kalbar. Virus Covid-19 dari luar Kalbar terbilang lebih ganas. Sementara untuk kasus transmisi lokal atau keterjangkitan antar sesama penduduk di dalam daerah, menurutnya selalu orang tanpa gejala (OTG) dan mudah ditangani.

“Kecuali dia yang memiliki komorbid, karena yang positif di sana (Jawa), ketika diketahui positif dan baru pulang dari sana (Jawa), rata-rata viral load-nya (kandungan virus) sudah ratusan ribu copies virus,” katanya.

Maka dari itu data mengenai nilai kandungan virus dan cycle threshold (CT) sangat penting untuk diketahui. Midji sapaan akrabnya memastikan orang yang terjangkit Covid-19 dari luar Kalbar tidak ada yang kandungan virusnya di bawah 100 ribu copies virus.

Bahkan ia mengatakan pernah ditemukan kasus keterjangkitan dari luar Kalbar kandungan virusnya mencapai 18 juta copies virus. Dengan kandungan virus sebesar itu, jika bergejala tidak akan selesai hanya ketika orang tersebut dinyatakan negatif Covid-19.

“Karena paru-parunya sudah tidak berfungsi baik, itu tinggal 80-85 persen saja dan berkelanjutan pengobatannya. Ada yang sampai tiga bulan, salah satu pimpinan bank di Kalbar, sudah tiga bulan dan dia masih ngos-ngosan,” paparnya.

Baca Juga :  Kejati Kalbar Peringatkan Distributor Oksigen, Ancam Tuntut Maksimal Pelaku Penimbunan

Beberapa kasus, orang yang sudah negatif tetap tidak bisa menjalankan aktivitas seperti sebelum terjangkit Covid-19. Jika biasanya mampu bermain tenis sudah tidak mampu lagi. Kemudian olahraga bersepeda, jika biasanya mampu sejauh 10 kilometer, setelah pernah terjangkit Covid-19, untuk satu kilometer saja sudah kelelahan. “Jadi ada efek berikutnya itu yang lebih parah,” ingatnya.

Belum lagi dari sisi biaya untuk perawatan pasien Covid-19 nilainya cukup besar. Midji membeberkan sempat ada dua orang pasien yang ditangani di RSUD Soedarso, satu orang dirawat selama 50 hari dan satu orang lagi 53 hari. Setelah dihitung dan diverifikasi oleh BPKP, tagihan BPJS untuk pasien yang dirawat 50 hari sebesar Rp478 juta dan yang 53 hari sebesar Rp490 juta. Hanya untuk masing-masing satu orang.

“Lalu kita tidak percaya, masa sih, masa sih. Kalau dia gunakan (obat) remdesivir, itu satu vial Rp1,6 juta dan harus 11 vial. Belum lagi kalau menggunakan plasma darah, waktu itu belum bisa di sini, harus dibawa secara khusus dari Jakarta,” ceritanya.

Meski demikian, Midji bersyukur semakin hari jumlah pasien yang dirawat di RS semakin menurun. Kini angkanya di bawah 100 orang se-Kalbar. Dari sekitar seribu tempat tidur yang disiapkan se-Kalbar yang digunakan tidak sampai 100. “Ini bicara pada keuangan negara,” pungkasnya.

Baca Juga :  Lima Persen Santri Positif Covid-19

Sementara itu, menjelang Hari Raya Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili pada 12 Februari mendatang, pemerintah mengimbau kepada masyarakat, khususnya umat Konghuchu agar merayakan Tahun Baru Imlek secara lebih sederhana. Hal itu guna mencegah laju penyebaran Covid-19.

“Karena Hari Raya Imlek juga merupakan hari libur nasional, saya mohon semuanya bisa memanfaatkan hari libur ini dengan bijak dan tetap mematuhi apa yang sudah dipesankan oleh Bapak Menteri Agama maupun Bapak Menteri Kesehatan,” ujar Menko PMK Muhadjir Effendy.

Pemerintah pun mengimbau kepada seluruh Umat Konghuchu yang akan merayakan ibadah Imlek agar berdoa supaya Bangsa Indonesia dan umat manusia di seluruh dunia terbebas dari pandemi Covid-19.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyatakan hal sama. Menurut Menkes makna dari perayaan Tahun Baru Imlek juga sebagai harapan baru dan keberuntungan baru. Oleh karena itu, tanpa mengurangi makna tersebut, ia mengimbau kepada Umat Koghuchu agar merayakan Imlek dengan cara-cara yang baru.

“Caranya kita bisa melakukannya dengan keluarga kita di rumah atau dengan cara-cara digital. Kita bisa mengirimkan angpao dengan cara digital, bagus juga kalau kita kirimkannya melalui transfer atau kalau tetap mau mengirimkan amplop merahnya bisa dikirim melalui aplikasi ojek online sekaligus untuk menyejahterakan saudara-saudara kita,” pungkasnya. (bar)

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengimbau kepada masyarakat agar tidak dulu bepergian ke luar daerah atau ke Pulau Jawa. Hal tersebut penting untuk mencegah penularan Covid-19 dan memperkecil risiko ketika seorang terjangkit Covid-19.

Ia menyebut dari data kematian akibat Covid-19 di Kalbar, dari total 31 orang, sebanyak 21 orang di antaranya merupakan orang yang terjangkit dari luar Kalbar. Virus Covid-19 dari luar Kalbar terbilang lebih ganas. Sementara untuk kasus transmisi lokal atau keterjangkitan antar sesama penduduk di dalam daerah, menurutnya selalu orang tanpa gejala (OTG) dan mudah ditangani.

“Kecuali dia yang memiliki komorbid, karena yang positif di sana (Jawa), ketika diketahui positif dan baru pulang dari sana (Jawa), rata-rata viral load-nya (kandungan virus) sudah ratusan ribu copies virus,” katanya.

Maka dari itu data mengenai nilai kandungan virus dan cycle threshold (CT) sangat penting untuk diketahui. Midji sapaan akrabnya memastikan orang yang terjangkit Covid-19 dari luar Kalbar tidak ada yang kandungan virusnya di bawah 100 ribu copies virus.

Bahkan ia mengatakan pernah ditemukan kasus keterjangkitan dari luar Kalbar kandungan virusnya mencapai 18 juta copies virus. Dengan kandungan virus sebesar itu, jika bergejala tidak akan selesai hanya ketika orang tersebut dinyatakan negatif Covid-19.

“Karena paru-parunya sudah tidak berfungsi baik, itu tinggal 80-85 persen saja dan berkelanjutan pengobatannya. Ada yang sampai tiga bulan, salah satu pimpinan bank di Kalbar, sudah tiga bulan dan dia masih ngos-ngosan,” paparnya.

Baca Juga :  Kejati Kalbar Peringatkan Distributor Oksigen, Ancam Tuntut Maksimal Pelaku Penimbunan

Beberapa kasus, orang yang sudah negatif tetap tidak bisa menjalankan aktivitas seperti sebelum terjangkit Covid-19. Jika biasanya mampu bermain tenis sudah tidak mampu lagi. Kemudian olahraga bersepeda, jika biasanya mampu sejauh 10 kilometer, setelah pernah terjangkit Covid-19, untuk satu kilometer saja sudah kelelahan. “Jadi ada efek berikutnya itu yang lebih parah,” ingatnya.

Belum lagi dari sisi biaya untuk perawatan pasien Covid-19 nilainya cukup besar. Midji membeberkan sempat ada dua orang pasien yang ditangani di RSUD Soedarso, satu orang dirawat selama 50 hari dan satu orang lagi 53 hari. Setelah dihitung dan diverifikasi oleh BPKP, tagihan BPJS untuk pasien yang dirawat 50 hari sebesar Rp478 juta dan yang 53 hari sebesar Rp490 juta. Hanya untuk masing-masing satu orang.

“Lalu kita tidak percaya, masa sih, masa sih. Kalau dia gunakan (obat) remdesivir, itu satu vial Rp1,6 juta dan harus 11 vial. Belum lagi kalau menggunakan plasma darah, waktu itu belum bisa di sini, harus dibawa secara khusus dari Jakarta,” ceritanya.

Meski demikian, Midji bersyukur semakin hari jumlah pasien yang dirawat di RS semakin menurun. Kini angkanya di bawah 100 orang se-Kalbar. Dari sekitar seribu tempat tidur yang disiapkan se-Kalbar yang digunakan tidak sampai 100. “Ini bicara pada keuangan negara,” pungkasnya.

Baca Juga :  Intensifkan Patroli Obyek Wisata di Masa Libur

Sementara itu, menjelang Hari Raya Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili pada 12 Februari mendatang, pemerintah mengimbau kepada masyarakat, khususnya umat Konghuchu agar merayakan Tahun Baru Imlek secara lebih sederhana. Hal itu guna mencegah laju penyebaran Covid-19.

“Karena Hari Raya Imlek juga merupakan hari libur nasional, saya mohon semuanya bisa memanfaatkan hari libur ini dengan bijak dan tetap mematuhi apa yang sudah dipesankan oleh Bapak Menteri Agama maupun Bapak Menteri Kesehatan,” ujar Menko PMK Muhadjir Effendy.

Pemerintah pun mengimbau kepada seluruh Umat Konghuchu yang akan merayakan ibadah Imlek agar berdoa supaya Bangsa Indonesia dan umat manusia di seluruh dunia terbebas dari pandemi Covid-19.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyatakan hal sama. Menurut Menkes makna dari perayaan Tahun Baru Imlek juga sebagai harapan baru dan keberuntungan baru. Oleh karena itu, tanpa mengurangi makna tersebut, ia mengimbau kepada Umat Koghuchu agar merayakan Imlek dengan cara-cara yang baru.

“Caranya kita bisa melakukannya dengan keluarga kita di rumah atau dengan cara-cara digital. Kita bisa mengirimkan angpao dengan cara digital, bagus juga kalau kita kirimkannya melalui transfer atau kalau tetap mau mengirimkan amplop merahnya bisa dikirim melalui aplikasi ojek online sekaligus untuk menyejahterakan saudara-saudara kita,” pungkasnya. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/