alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Cegah B117 Masuk Kalbar, Satgas Siapkan Langkah Antisipasi

PONTIANAK – Pemerintah Indonesia telah mengonfirmasi ada empat warga Indonesia yang terinfeksi varian baru virus corona B117 dari Inggris. Keempat orang tersebut ditemukan di Sumatera Selatan pada 11 Januari 2021, satu pasien di Kalimantan Selatan pada 6 Januari 2021, satu pasien di Kalimantan Timur pada 12 Februari dan pasien terakhir ditemukan di Sumatera Utara pada 28 Januari 2021.

Merespon hal ini, Satuan Tugas Covid-19 Kalimantan Barat membuat langkah-langkah antisipasi agar varian baru virus corona B117 tidak masuk ke daerah ini. Caranya dengan memperketat pemeriksaan di pintu-pintu masuk orang dari luar daerah ke Kalbar.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, langkah-langkah tersebut antara lain, mengimbau maskapai penerbangan untuk tidak main-main dalam pemberlakuan persyaratan negatif PCR yang divalidasi melalui aplikasi eHAC (electronic Healt Alert Card) sebagai syarat penumpang masuk ke Kalbar. Jika ada yang melanggar, maka bakal diberikan sanksi.

Harisson mengungkapkan, persyaratan negatif PCR yang divalidasi melalui eHAC ini bertujuan untuk menangkal virus Covid-19 dari luar wilayah Kalbar. Seperti dari Pulau Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Termasuk juga menangkal varian baru atau mutasi virus Covid-19. Seperti virus B117 serta jenis lainnya yang dinilai lebih berbahaya atau cepat menyebar. “Nah kan seperti dalam pemberitaan B117 ini sudah ada di beberapa daerah di Indonesia,” katanya.

Virus B117 ini sendiri lanjut Harisson mempunyai daya penularan yang lebih tinggi dari virus corona sebelumnya. Keberadaan virus tersebut dapat membahayakan wilayah Kalbar bila sudah masuk ke Kalbar. “Untuk itu perlu diantisipasi,” tambah Harisson.

Penggunaan aplikasi eHAC, kata Harisson, juga untuk mencegah pemalsuan surat negatif tes usap (swab) PCR. Seperti diketahui jika surat tersebut sudah divalidasi melalui eHAC, artinya laboratorium atau rumah sakit (RS) tempat pemeriksaan PCR yang digunakan benar-benar mumpuni. Karena sudah dilakukan pemeriksaan dan sudah direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota tempat laboratorium itu berada.

Baca Juga :  Akses Lemot Warnai PPDB SMA/SMK di Kalimantan Barat

“Jadi laboratorium yang ada di eHAC ini adalah laboratorium-laboratorium yang benar-benar valid, handal, bukan laboratorium abal-abal,” tegasnya.

Langkah lain yang dilakukan adalah memeriksa secara intensif Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang masuk ke Kalbar dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Seperti diketahui aktivitas pemulangan PMI non prosedural dari Malaysia terus dilakukan pihak terkait.

“Itu biasanya diangkut oleh Dinas Sosial ke shelter, di sana Dinas Kesehatan melakukan swab (tes usap) terhadap semua yang di shelter yang dari Malaysia itu,” ungkap Harisson.

Untuk memastikan para PMI ini tidak terpapar virus atau terjangkit penyakit, maka mereka belum diperbolehkan pulang ke kampung halaman hingga hasil tes usapnya keluar. Langkah yang lain dilakukan di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya. Dimana sampai saat ini masih diberlakukan bagi penumpang yang datang ke Kalbar wajib negatif tes usap PCR.

“Kemudian kalau yang (penumpang) kapal laut kan pakai swab antigen, kemudian begitu dia sampai ke Pontianak (penumpang kapal) kita lakukan tes PCR secara acak ya,” paparnya.

Di samping upaya-upaya pencegahan tersebut, Dinas Kesehatan Kalbar juga bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura (Untan) dalam mendeteksi varian baru virus corona. Pihak lab PCR Untan rutin mengirimkan sampel ke Jakarta, untuk dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS). Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan virus yang ada di Kalbar, apakah masih sama dengan sebelumnya atau terjadi mutasi.

Baca Juga :  Antisipasi Penyebaran Covid-19, Koramil Mandor Bagikan Masker Gratis

Terpisah Ahli Biologi Molukuler Kalbar dr. Andriani mengatakan, hasil pengiriman sampel yang terakhir untuk WGS belum ditemukan varian baru virus corona B117. “Alhamdulillah belum terdeteksi varian B117, dari terakhir yang kami kirimkan untuk WGS. Belum terdeteksi di Kalbar,” tegasnya.

Meski demikian piha lab Untan menurutnya masih secara rutin mengirimkan sampel ke lab di Jakarta untuk dilakukan WGS. Andriani menjelaskan B117 merupakan salah satu varian dari SARS-CoV-2. Setelah sebelumnya juga sempat ditemukan yang cukup signifikan berpengaruh terhadap penularan adalah varian virus D614G. “Kalau B117 ini pertama terdeteksi di Inggris, makanya sering disebut sebagai varian Inggris,” katanya.

Dari kasus yang ditemukan terkait penyebaran B117 ini menurut Andriani belum ada bukti yang menyatakan virus ini lebih parah. Hanya saja di Inggris tempat virus tersebut ditemukan dan di beberapa negara eropa, sudah terbukti bahwa keberadaan B117 meningkatkan jumlah kasus yang signifikan. Termasuk membuat pasien yang harus dirawat di Rumah Sakit meningkat.

“B117 ini lah yang bertanggung jawab terhadap gelombang kedua yang ada di Inggris pada bulan September (2020). Analisisnya adalah untuk keparahan belum terbukti, tapi dari segi transmisi ditengarai 30 persen lebih menular,” jelasnya.

Sementara untuk pengaruh terhadpa vaksin, virus B117 masih sensitif dengan vaksin yang sudah diedarkan. Namun demikian penting juga untuk diantisipasi adalah varian mutasi virus yang tidak sensitif terhadap vaksin yang sudah ada. Yakni varian baru di Afrika Selatan dan Brazil. “Dua itu, tapi kalau B117 sampai saat ini masih terbukti efektif terhadap vaksin,” pungkasnya. (bar)

PONTIANAK – Pemerintah Indonesia telah mengonfirmasi ada empat warga Indonesia yang terinfeksi varian baru virus corona B117 dari Inggris. Keempat orang tersebut ditemukan di Sumatera Selatan pada 11 Januari 2021, satu pasien di Kalimantan Selatan pada 6 Januari 2021, satu pasien di Kalimantan Timur pada 12 Februari dan pasien terakhir ditemukan di Sumatera Utara pada 28 Januari 2021.

Merespon hal ini, Satuan Tugas Covid-19 Kalimantan Barat membuat langkah-langkah antisipasi agar varian baru virus corona B117 tidak masuk ke daerah ini. Caranya dengan memperketat pemeriksaan di pintu-pintu masuk orang dari luar daerah ke Kalbar.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, langkah-langkah tersebut antara lain, mengimbau maskapai penerbangan untuk tidak main-main dalam pemberlakuan persyaratan negatif PCR yang divalidasi melalui aplikasi eHAC (electronic Healt Alert Card) sebagai syarat penumpang masuk ke Kalbar. Jika ada yang melanggar, maka bakal diberikan sanksi.

Harisson mengungkapkan, persyaratan negatif PCR yang divalidasi melalui eHAC ini bertujuan untuk menangkal virus Covid-19 dari luar wilayah Kalbar. Seperti dari Pulau Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Termasuk juga menangkal varian baru atau mutasi virus Covid-19. Seperti virus B117 serta jenis lainnya yang dinilai lebih berbahaya atau cepat menyebar. “Nah kan seperti dalam pemberitaan B117 ini sudah ada di beberapa daerah di Indonesia,” katanya.

Virus B117 ini sendiri lanjut Harisson mempunyai daya penularan yang lebih tinggi dari virus corona sebelumnya. Keberadaan virus tersebut dapat membahayakan wilayah Kalbar bila sudah masuk ke Kalbar. “Untuk itu perlu diantisipasi,” tambah Harisson.

Penggunaan aplikasi eHAC, kata Harisson, juga untuk mencegah pemalsuan surat negatif tes usap (swab) PCR. Seperti diketahui jika surat tersebut sudah divalidasi melalui eHAC, artinya laboratorium atau rumah sakit (RS) tempat pemeriksaan PCR yang digunakan benar-benar mumpuni. Karena sudah dilakukan pemeriksaan dan sudah direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota tempat laboratorium itu berada.

Baca Juga :  HUT Ke-250 Kota Pontianak, Bank Kalbar Serahkan Mobil Donor Darah

“Jadi laboratorium yang ada di eHAC ini adalah laboratorium-laboratorium yang benar-benar valid, handal, bukan laboratorium abal-abal,” tegasnya.

Langkah lain yang dilakukan adalah memeriksa secara intensif Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang masuk ke Kalbar dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Seperti diketahui aktivitas pemulangan PMI non prosedural dari Malaysia terus dilakukan pihak terkait.

“Itu biasanya diangkut oleh Dinas Sosial ke shelter, di sana Dinas Kesehatan melakukan swab (tes usap) terhadap semua yang di shelter yang dari Malaysia itu,” ungkap Harisson.

Untuk memastikan para PMI ini tidak terpapar virus atau terjangkit penyakit, maka mereka belum diperbolehkan pulang ke kampung halaman hingga hasil tes usapnya keluar. Langkah yang lain dilakukan di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya. Dimana sampai saat ini masih diberlakukan bagi penumpang yang datang ke Kalbar wajib negatif tes usap PCR.

“Kemudian kalau yang (penumpang) kapal laut kan pakai swab antigen, kemudian begitu dia sampai ke Pontianak (penumpang kapal) kita lakukan tes PCR secara acak ya,” paparnya.

Di samping upaya-upaya pencegahan tersebut, Dinas Kesehatan Kalbar juga bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura (Untan) dalam mendeteksi varian baru virus corona. Pihak lab PCR Untan rutin mengirimkan sampel ke Jakarta, untuk dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS). Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan virus yang ada di Kalbar, apakah masih sama dengan sebelumnya atau terjadi mutasi.

Baca Juga :  Alumnus KPI IAIN Pontianak Berjaya di Pagelaran Film Pendek Eropa

Terpisah Ahli Biologi Molukuler Kalbar dr. Andriani mengatakan, hasil pengiriman sampel yang terakhir untuk WGS belum ditemukan varian baru virus corona B117. “Alhamdulillah belum terdeteksi varian B117, dari terakhir yang kami kirimkan untuk WGS. Belum terdeteksi di Kalbar,” tegasnya.

Meski demikian piha lab Untan menurutnya masih secara rutin mengirimkan sampel ke lab di Jakarta untuk dilakukan WGS. Andriani menjelaskan B117 merupakan salah satu varian dari SARS-CoV-2. Setelah sebelumnya juga sempat ditemukan yang cukup signifikan berpengaruh terhadap penularan adalah varian virus D614G. “Kalau B117 ini pertama terdeteksi di Inggris, makanya sering disebut sebagai varian Inggris,” katanya.

Dari kasus yang ditemukan terkait penyebaran B117 ini menurut Andriani belum ada bukti yang menyatakan virus ini lebih parah. Hanya saja di Inggris tempat virus tersebut ditemukan dan di beberapa negara eropa, sudah terbukti bahwa keberadaan B117 meningkatkan jumlah kasus yang signifikan. Termasuk membuat pasien yang harus dirawat di Rumah Sakit meningkat.

“B117 ini lah yang bertanggung jawab terhadap gelombang kedua yang ada di Inggris pada bulan September (2020). Analisisnya adalah untuk keparahan belum terbukti, tapi dari segi transmisi ditengarai 30 persen lebih menular,” jelasnya.

Sementara untuk pengaruh terhadpa vaksin, virus B117 masih sensitif dengan vaksin yang sudah diedarkan. Namun demikian penting juga untuk diantisipasi adalah varian mutasi virus yang tidak sensitif terhadap vaksin yang sudah ada. Yakni varian baru di Afrika Selatan dan Brazil. “Dua itu, tapi kalau B117 sampai saat ini masih terbukti efektif terhadap vaksin,” pungkasnya. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/