alexametrics
27.8 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Pentingnya Evaluasi Mingguan Dilakukan Selama Pembelajaran Tatap Muka

PONTIANAK – Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat James L. Alvin Sinaga mengatakan evaluasi minggu perlu dilakukan selama digelarnya Pembelajaran Tatap Muka di masa pandemi Covid-19.

Alvin menambahkan evaluasi mingguan itu sudah disampaikan dalam rekomendasi Pengurus Pusat IDAI terkait dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Sekolah dikatakan Alvin, mesti berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas Kesehatan dan dinas pendidikan memutuskan membuka atau menutup sekolah dengan memperhatikan kasus harian.

Alvin mencontohkan jika ada satu kasus di sekolah, maka sekolah dengan bantuan dinas kesehatan harus segera melakukan tracing. Kelas atau sekolah yang terpapar mesti ditutup sementara. Kemudian memberitahu pihak-pihak terkait dan melakukan mitigasi kasus.

Sementara pertimbangan untuk menghentikan kegiatan tatap muka dan mengganti dengan kegiatan yang sesuai, berdasarkan hasil keputusan oleh berbagai pihak termasuk orangtua, guru, sekolah, pemerintah daerah, dinas kesehatan dan dinas pendidikan.

“Kelas atau sekolah dapat dibuka kembali jika sudah dinyatakan aman,” kata Alvin di Pontianak, kemarin.

Alvin menyampaikan ada sepuluh poin yang sebelumnya sudah disampaikan dalam edaran dari  Pengurus Pusat IDAI. Antara lain pembelajaran tatap muka dapat dimulai secara bertahap namun harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan.

Baca Juga :  Reses Sekaligus Sosialisasi PPKM Berskala Mikro

Syarat agar anak boleh mengikuti sekolah tatap muka untuk anak dengan usia yang sudah diwajibkan mendapat vaksin Covid-19 adalah harus sudah divaksinasi. Guru dan perangkat sekolah lainnya juga harus sudah divaksinasi.

Lalu keputusan pembukaan sekolah ditetapkan tiap daerah masing-masing dengan merujuk pada, kasus aktif (angka positivitas Covid-19 < 8 persen). Lalu angka kematian, cakupan imunisasi Covid-19 pada anak > 80 persen, ketersediaan tes PCR SARS-COV-2, ketersediaan tempat tidur RS baik pelayanan rawat inap maupun rawat intensif anak, dan penilaian kemampuan murid, sekolah dan keluarga untuk mencegah penularan.

Alvin menyebutkan orangtua diberikan kebebasan mengambil keputusan masuk sekolah (tatap muka atau daring) untuk setiap anaknya. Sekolah memfasilitasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka maupun daring kepada semua anak sesuai dengan pilihan orangtua.

Selanjutnya, orangtua dapat mempertimbangkan dalam mengambil keputusan anak masuk sekolah. Antara lain, anak usia lebih 12 tahun yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19, anak tidak ada komorbiditas (termasuk obesitas). Jika terdapat, harap mengkonsultasikan kepada dokter terlebih dahulu.

Lalu anak sudah dapat memahami protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengetahui apa yang boleh dilakukan untuk mencegah transmisi Covid-19. “Termasuk hal yang tidak boleh dilakukan karena berisiko tertular atau menularkan Covid-19,” sebut Alvin.

Baca Juga :  Dokter Nasronudin: Antisipasi dengan Kekebalan Tubuh

Lalu guru dan petugas di sekolah telah mendapatkan vaksinasi Covid-19, anggota keluarga di rumah sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Alvin menambahkan dalam edaran IDAI itu juga disebutkan bahwa sekolah melakukan persiapan pembukaan sesuai panduan yang telah dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam rekomendasi pembukaan sekolah.

Antara lain kapasitas kelas, sirkulasi udara, durasi belajar, ketersediaan fasilitas (contoh: alat pemeriksaan suhu tubuh, ruang untuk menempatkan/memisahkan kasus suspek dan lainnya), kelengkapan vaksinasi Covid-19 pada guru dan petugas sekolah, mempertimbangkan untuk mendahulukan bersekolah tatap muka pada murid yang telah mendapat vaksinasi Covid-19 dan kepatuhan mengikuti protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Ia juga mengingatkan bahwa diperlukan kejujuran bagi guru, perangkat sekolah, orang tua siswa mengenai kondisi kesehatan masing-masing, dan tidak menutupi apabila terinfeksi Covid-19. Pemerintah setempat maupun sekolah harus transparan untuk menampilkan data khusus kasus Covid-19 pada anak.

“Data ini hendaknya difasilitasi melalui dashboard di data nasional Covid-19, masing-masing daerah dan tingkat terkecil di sekolah,” pinta Alvin. (mse)

PONTIANAK – Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat James L. Alvin Sinaga mengatakan evaluasi minggu perlu dilakukan selama digelarnya Pembelajaran Tatap Muka di masa pandemi Covid-19.

Alvin menambahkan evaluasi mingguan itu sudah disampaikan dalam rekomendasi Pengurus Pusat IDAI terkait dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Sekolah dikatakan Alvin, mesti berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas Kesehatan dan dinas pendidikan memutuskan membuka atau menutup sekolah dengan memperhatikan kasus harian.

Alvin mencontohkan jika ada satu kasus di sekolah, maka sekolah dengan bantuan dinas kesehatan harus segera melakukan tracing. Kelas atau sekolah yang terpapar mesti ditutup sementara. Kemudian memberitahu pihak-pihak terkait dan melakukan mitigasi kasus.

Sementara pertimbangan untuk menghentikan kegiatan tatap muka dan mengganti dengan kegiatan yang sesuai, berdasarkan hasil keputusan oleh berbagai pihak termasuk orangtua, guru, sekolah, pemerintah daerah, dinas kesehatan dan dinas pendidikan.

“Kelas atau sekolah dapat dibuka kembali jika sudah dinyatakan aman,” kata Alvin di Pontianak, kemarin.

Alvin menyampaikan ada sepuluh poin yang sebelumnya sudah disampaikan dalam edaran dari  Pengurus Pusat IDAI. Antara lain pembelajaran tatap muka dapat dimulai secara bertahap namun harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan.

Baca Juga :  Hari Pertama Bersekolah di SD Islam Terpadu

Syarat agar anak boleh mengikuti sekolah tatap muka untuk anak dengan usia yang sudah diwajibkan mendapat vaksin Covid-19 adalah harus sudah divaksinasi. Guru dan perangkat sekolah lainnya juga harus sudah divaksinasi.

Lalu keputusan pembukaan sekolah ditetapkan tiap daerah masing-masing dengan merujuk pada, kasus aktif (angka positivitas Covid-19 < 8 persen). Lalu angka kematian, cakupan imunisasi Covid-19 pada anak > 80 persen, ketersediaan tes PCR SARS-COV-2, ketersediaan tempat tidur RS baik pelayanan rawat inap maupun rawat intensif anak, dan penilaian kemampuan murid, sekolah dan keluarga untuk mencegah penularan.

Alvin menyebutkan orangtua diberikan kebebasan mengambil keputusan masuk sekolah (tatap muka atau daring) untuk setiap anaknya. Sekolah memfasilitasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka maupun daring kepada semua anak sesuai dengan pilihan orangtua.

Selanjutnya, orangtua dapat mempertimbangkan dalam mengambil keputusan anak masuk sekolah. Antara lain, anak usia lebih 12 tahun yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19, anak tidak ada komorbiditas (termasuk obesitas). Jika terdapat, harap mengkonsultasikan kepada dokter terlebih dahulu.

Lalu anak sudah dapat memahami protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengetahui apa yang boleh dilakukan untuk mencegah transmisi Covid-19. “Termasuk hal yang tidak boleh dilakukan karena berisiko tertular atau menularkan Covid-19,” sebut Alvin.

Baca Juga :  Pontianak Post Terima Penghargaan Kapolda

Lalu guru dan petugas di sekolah telah mendapatkan vaksinasi Covid-19, anggota keluarga di rumah sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Alvin menambahkan dalam edaran IDAI itu juga disebutkan bahwa sekolah melakukan persiapan pembukaan sesuai panduan yang telah dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam rekomendasi pembukaan sekolah.

Antara lain kapasitas kelas, sirkulasi udara, durasi belajar, ketersediaan fasilitas (contoh: alat pemeriksaan suhu tubuh, ruang untuk menempatkan/memisahkan kasus suspek dan lainnya), kelengkapan vaksinasi Covid-19 pada guru dan petugas sekolah, mempertimbangkan untuk mendahulukan bersekolah tatap muka pada murid yang telah mendapat vaksinasi Covid-19 dan kepatuhan mengikuti protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Ia juga mengingatkan bahwa diperlukan kejujuran bagi guru, perangkat sekolah, orang tua siswa mengenai kondisi kesehatan masing-masing, dan tidak menutupi apabila terinfeksi Covid-19. Pemerintah setempat maupun sekolah harus transparan untuk menampilkan data khusus kasus Covid-19 pada anak.

“Data ini hendaknya difasilitasi melalui dashboard di data nasional Covid-19, masing-masing daerah dan tingkat terkecil di sekolah,” pinta Alvin. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/