alexametrics
27 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Sebanyak 16 Anak di Kalbar Terkonfirmasi Covid-19 Meninggal Dunia

PONTIANAK – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat mencatat 16 anak di provinsi ini yang terkonfirmasi positif Covid-19 meninggal dunia.

Ketua IDAI Kalimantan Barat James L. Alvin Sinaga menilai angka meninggal dunia anak itu terbilang tinggi. Meski demikian ia mengingatkan agar tidak hanya melihat secara jumlah. “Memandangnya begini. Memang ada 16 anak yang meninggal dunia dan terkonfirmasi positif Covid-19 tapi memiliki penyakit penyerta,” kata Alvin di Pontianak, kemarin.

Alvin menyebutkan ada sekitar 644 anak terkonfirmasi positif Covid-19 selama pandemi. Kemudian jumlah anak yang sembuh sekitar 638 kasus.

Menurutnya yang perlu menjadi perhatian adalah jumlah anak yang terpapar Covid-19. Anak-anak terpapar Covid-19 karena tertular dari orang dewasa. “Sehingga ketika ada orang dewasa yang terpapar Covid-19 maka harus dilacak dan dites pada siapa saja kontak eratnya,” ujar Alvin.

Di samping itu dikatakannya, para orangtua harus lebih meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga anak-anaknya agar terhindar dari Covid-19. Selain itu, paling utama penerapan protokol kesehatan. Penerapannya pun tidak hanya di luar tapi juga di dalam rumah.

“Mereka yang bekerja di luar, harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga anaknya agar tidak terpapar Covid-19,” jelas dia.

Baca Juga :  Untuk SDM yang Sehat, Cabup Junaidi: Kita Akan Bangun RS Daerah Tipe B

Alvin menambahkan upaya lain yang harus dilakukan dengan meningkatkan capaian vaksinasi pada anak. Ia yakin kasus Covid-19 pada anak bisa ditekan jika capaian vaksinasi sesuai target.

“Kemungkinan untuk terkena semakin kecil daripada yang belum. Jika angka konfirmasi bisa ditekan maka kasus meninggal dunia juga bisa turun,” jelas dia.

Namun ia juga mengingatkan. Meski capaian vaksinasi pada anak semakin tinggi, bukan berarti protokol kesehatan semakin kendor. “Bukan berarti buka masker, tetap patuh pada protokol kesehatan,” jelas dia.

Terkait dengan vaksinasi pada anak juga disampaikan IDAI dalam bentuk rekomendasi seiring digelarnya pembelajaran tatap muka. Rekomendasi itu merujuk dari yang dikeluarkan Pengurus Pusat IDAI.

Syarat agar anak boleh mengikuti sekolah tatap muka untuk anak dengan usia yang sudah diwajibkan mendapat vaksin Covid-19 adalah harus sudah divaksinasi. Guru dan perangkat sekolah lainnya juga harus sudah divaksinasi. Keputusan pembukaan sekolah ditetapkan tiap daerah masing-masing dengan merujuk pada cakupan imunisasi Covid-19 pada anak lebih dari 80 persen.

Di lain tempat Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat angka yang berbeda untuk jumlah anak yang terpapar Covid-19. Jumlahnya mencapai 1.281 anak yang terkonfirmasi Covid-19 atau sekitar 3,19 persen.

“Angka itu tercatat sejak awal pandemi Covid-19 hingga 3 Oktober 2021,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harrison di Pontianak, kemarin.

Baca Juga :  200 Personel Polres Kubu Raya Ikut Tes GeNose C19

Sementara secara keseluruhan jumlah kasus di Kalbar hingga 3 Oktober 2021 sebanyak 40.138 kasus konfirmasi Covid-19. Kemudian 38.880 orang atau sekitar 96,87 persen dinyatakan sembuh. Lalu 1.046 orang, atau 2,61 persen meninggal dunia. Sementara kasus aktif terdata sebanyak 212 kasus dan tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Harrison mengatakan anak termasuk kelompok rentan selain ibu hamil, dan lansia. Berdasarkan standar WHO, anak adalah mereka yang berusia dari nol hingga delapan belas tahun. Dari kelompok umur itu, paling rentan adalah anak yang berusia di bawah lima tahun.

Ia menjelaskan imbauan ketaatan dalam menjalankan protokol kesehatan sudah sering disampaikan. Khususnya para orangtua. Bila keluar rumah atau berinteraksi dengan orang maka harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Termasuk menjaga imunitas tubuh.

“Jika kemudian orangtua atau saudaranya yang lebih dewasa umurnya, terkena Covid-19, ketika pulang akan menyerang anak-anak di rumah,” jelas Harrison.

Ia melanjutkan catatan kasus itu menjadi fakta untuk mendorong orangtua agar melindungi anak-anak mereka di rumah. “Caranya, jika berinteraksi di luar upayakan tidak tertular,” kata Harrison. (mse)

PONTIANAK – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat mencatat 16 anak di provinsi ini yang terkonfirmasi positif Covid-19 meninggal dunia.

Ketua IDAI Kalimantan Barat James L. Alvin Sinaga menilai angka meninggal dunia anak itu terbilang tinggi. Meski demikian ia mengingatkan agar tidak hanya melihat secara jumlah. “Memandangnya begini. Memang ada 16 anak yang meninggal dunia dan terkonfirmasi positif Covid-19 tapi memiliki penyakit penyerta,” kata Alvin di Pontianak, kemarin.

Alvin menyebutkan ada sekitar 644 anak terkonfirmasi positif Covid-19 selama pandemi. Kemudian jumlah anak yang sembuh sekitar 638 kasus.

Menurutnya yang perlu menjadi perhatian adalah jumlah anak yang terpapar Covid-19. Anak-anak terpapar Covid-19 karena tertular dari orang dewasa. “Sehingga ketika ada orang dewasa yang terpapar Covid-19 maka harus dilacak dan dites pada siapa saja kontak eratnya,” ujar Alvin.

Di samping itu dikatakannya, para orangtua harus lebih meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga anak-anaknya agar terhindar dari Covid-19. Selain itu, paling utama penerapan protokol kesehatan. Penerapannya pun tidak hanya di luar tapi juga di dalam rumah.

“Mereka yang bekerja di luar, harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga anaknya agar tidak terpapar Covid-19,” jelas dia.

Baca Juga :  13 Pejabat Struktural BKKBN Kalbar Kini Pegang Jabatan Fungsional

Alvin menambahkan upaya lain yang harus dilakukan dengan meningkatkan capaian vaksinasi pada anak. Ia yakin kasus Covid-19 pada anak bisa ditekan jika capaian vaksinasi sesuai target.

“Kemungkinan untuk terkena semakin kecil daripada yang belum. Jika angka konfirmasi bisa ditekan maka kasus meninggal dunia juga bisa turun,” jelas dia.

Namun ia juga mengingatkan. Meski capaian vaksinasi pada anak semakin tinggi, bukan berarti protokol kesehatan semakin kendor. “Bukan berarti buka masker, tetap patuh pada protokol kesehatan,” jelas dia.

Terkait dengan vaksinasi pada anak juga disampaikan IDAI dalam bentuk rekomendasi seiring digelarnya pembelajaran tatap muka. Rekomendasi itu merujuk dari yang dikeluarkan Pengurus Pusat IDAI.

Syarat agar anak boleh mengikuti sekolah tatap muka untuk anak dengan usia yang sudah diwajibkan mendapat vaksin Covid-19 adalah harus sudah divaksinasi. Guru dan perangkat sekolah lainnya juga harus sudah divaksinasi. Keputusan pembukaan sekolah ditetapkan tiap daerah masing-masing dengan merujuk pada cakupan imunisasi Covid-19 pada anak lebih dari 80 persen.

Di lain tempat Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat angka yang berbeda untuk jumlah anak yang terpapar Covid-19. Jumlahnya mencapai 1.281 anak yang terkonfirmasi Covid-19 atau sekitar 3,19 persen.

“Angka itu tercatat sejak awal pandemi Covid-19 hingga 3 Oktober 2021,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harrison di Pontianak, kemarin.

Baca Juga :  Siap Terima Sanksi Bila Langgar Protokol New Normal

Sementara secara keseluruhan jumlah kasus di Kalbar hingga 3 Oktober 2021 sebanyak 40.138 kasus konfirmasi Covid-19. Kemudian 38.880 orang atau sekitar 96,87 persen dinyatakan sembuh. Lalu 1.046 orang, atau 2,61 persen meninggal dunia. Sementara kasus aktif terdata sebanyak 212 kasus dan tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Harrison mengatakan anak termasuk kelompok rentan selain ibu hamil, dan lansia. Berdasarkan standar WHO, anak adalah mereka yang berusia dari nol hingga delapan belas tahun. Dari kelompok umur itu, paling rentan adalah anak yang berusia di bawah lima tahun.

Ia menjelaskan imbauan ketaatan dalam menjalankan protokol kesehatan sudah sering disampaikan. Khususnya para orangtua. Bila keluar rumah atau berinteraksi dengan orang maka harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Termasuk menjaga imunitas tubuh.

“Jika kemudian orangtua atau saudaranya yang lebih dewasa umurnya, terkena Covid-19, ketika pulang akan menyerang anak-anak di rumah,” jelas Harrison.

Ia melanjutkan catatan kasus itu menjadi fakta untuk mendorong orangtua agar melindungi anak-anak mereka di rumah. “Caranya, jika berinteraksi di luar upayakan tidak tertular,” kata Harrison. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/