alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Kisah Pengantin Baru Penumpang Sriwijaya SJ-182, Pulang Untuk Siapkan Resepsi

Televisi di rumah itu terus menyala. Sejak pagi keluarga dan handai tolan meriung di ruang tengah menonton berita tentang hilangnya pesawat Sriwijaya SJ-182. Sampai kemarin belum ada kabar pasti soal Ihsan Adhlan Hakim (33) beserta istrinya Putri Wahyuni (25).

Idil Aqsa Akbary, Pontianak

Pasangan suami istri yang baru menikah pada Maret 2020 lalu itu merupakan penumpang pesawat Sriwijaya SJ-182 rute Jakarta-Pontianak. Sejak keduanya dikabarkan hilang dan putus kontak pada Sabtu (9/1), keluarga hanya menunggu kabar dari televisi.

Dari Sabtu (9/1) malam, para kerabat dan teman-teman Een sapaan Ihsan, silih berganti bedatangan ke rumahnya di Gang Ikrar, Jalan Tabrani Ahmad, Kota Pontianak. Mereka datang untuk memastikan kabar Een beserta istri sekaligus mendoakan agar keduanya baik-baik saja.

Ayah Een, Nasir menceritakan rencana kedatangan anak ketiganya tersebut dalam rangka melaksanakan resepsi pernikahan. Kebetulan Een dan istrinya sudah menikah pada 7 Maret 2020 lalu di Pekanbaru, Riau, kampung halaman sang istri. Kemudian di tanggal 16 Januari 2021 nanti, rencananya kembali digelar respsi atau dikenal dengan istilah ngunduh mantu di Kota Pontianak.

Sambil menahan haru Nasir mengatakan segala persiapan untuk resepsi di tanggal 16 nanti sudah cukup siap. Gedung resepsi di Pontianak Convention Center (PCC) juga sudah dipesan dan sudah mendapat izin. Bisa dikatakan 90 persen sudah siap. Termasuk sebagian undangan juga sudah disebar. “Jadi mau resepsi pernikahan, kalau orang Pontianak bilang ‘morola’,” ungkap sang ayah saat ditemui di kediamannya.

Rencana resepsi pernikahan Een dan istri di Pontianak memang sempat beberapa kali berubah karena pandemi Covid-19. Awalnya dijadwalkan pada 18 April 2020, karena saat itu masih awal pandemi acara diundur ke bulan Juli 2020. Rencana di bulan Juli juga akhirnya mundur ke tanggal 16 Januari 2021. “Jadi Sabtu depan, Ihsan dan istri ini ke Pontianak dalam rangka itu,” ceritanya.

Mengenai keberangkatan anak laki-laki dan istrinya itu ke Pontianak juga sebenarnya sempat berubah. Awalnya direncanakan datang pada Minggu (10/1), itu karena, baru istri Ihsan yang mendapat surat keterangan negatif tes usap (swab) PCR. Sementara Een sendiri belum dapat. Namun tak sampai di situ, Een mencari tempat tes PCR lain hingga akhirnya dapat dan ia bisa pulang ke Pontianak lebih awal di hari Sabtu (9/1).

“Setelah PCR dapat dia langsung berangkat Sabtu, pesan (tiket pesawat) Nam Air pesawat pagi jam 07.00 WIB, Sabtu tanggal sembilan,” ungkap Nasir.

Lebih lanjut menurut Nasir, sesampainya di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, anak dan menantunya itu mendapat informasi bahwa pesawat tersebut delay atau ditunda keberangkatannya hingga pukul 13.20 WIB.

“Jadi dia dari pagi sudah nunggu di bandara, sambil nunggu itu ternyata masih delay lagi sampai dengan pukul 14.00 WIB baru naik pesawat. Pas dia naik pesawat itu, sudah dalam pesawat dia telpon adiknya minta jemput,” terangnya.

Baca Juga :  Persempit Area Pencarian Kotak Hitam

Tidak ada yang menyangka bahwa ternyata itulah komunikasi terakhir Een dengan keluarga. Sampai pada pukul 15.00 WIB kurang, sang adik berangkat ke bandara Internasional Supadio untuk menjemput. “Sampai di bandara dia nunggu, ditelpon lost (tidak nyambung), karena di pesawat kan tidak boleh dibuka HP kan, mungkin masih di atas (terbang) pikir hati begitu,” katanya.

Setelah itu sekitar pukul 16.00 WIB, setelah salat ashar Nasir pergi ke pintu kedatangan domestik Bandara Supadio. Ia bertanya kepada petugas yang berjaga mengenai kabar kedatangan pesawat Nam Air dari Jakarta. “Petugas bilang, Nam Air tidak ada yang dari Jakarta Pak, yang ada Sriwijaya, saya cek oh benar Sriwijaya SJ182, tiketnya kan diposting ke saya, saya lihat di situ benar,” paparnya.

Dari keterangan di sana, jadwal keberangkatan untuk pesawat tersebut ditunda. Setelah itu berkali-kali Nasir kembali bertanya ke petugas namun belum ada jawaban pasti. Sampai di bandara mulai berdatangan kerabat-kerabat dari penumpang yang lain juga menanyakan hal yang sama.

“Lalu dia (kerabat penumpang yang lain) buka google maps (aplikasi radar), sekitar lima menitan dari pesawat take off, sampai ke titik tertentu pesawat berhenti, itu yang dikatakan lost kontak di situ,” ujarnya.

Mendapat informasi demikian Nasir pun bingung. Ia akhirnya memutuskan menunggu di mobil, namun anak bungsunya masih menunggu informasi di bandara. Sampai kemudian di waktu magrib, besannya yang di Pekanbaru menanyakan soal anaknya dan Ihsan. Karena tidak berani berspekulasi Nasir hanya menjawab belum sampai dan siap memberikan kabar ketika Ihsan dan istri sampai.

Bakda magrib ia pun mendapat informasi dari petugas di bandara bahwa keluarga penumpang pesawat Sriwijaya SJ182 diminta berkumpul di Polsek Bandara. Sampai malam ditunggu, pihak terkait di Bandara Supadio menurutnya belum berani memberikan keterangan pasti mengenai nasib para penumpang pesawat tersebut. “Katanya belum karena masih menunggu informasi dari Jakarta, saya pun pulang hanya meninggalkan nomor HP, anak saya masih nunggu di sana,” ucapnya.

Sampai Minggu (10/1), pihak maskapai menurutnya sudah memberikan kepastian bahwa pesawat tersebut memang jatuh. Hanya saja soal korban belum bisa dipastikan karena masih dilaksanakan pencarian. “Tadi (kemarin) siang saya sudah tes DNA, sudah memberikan informasi lengkap,” katanya.

Dengan adanya musibah ini, Nasir yakin kematian merupakan kehendak Allah SWT. Ia berdoa semoga ada keajaiban dan anaknya masih hidup. Jika pun tidak atau dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan ini ia menyatakan sudah ikhlas.

“Kami hanya bisa mendoakan semua korban, khususnya anak saya diampunkan dosanya, mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Saya juga minta tolong doanya supaya saya diberi kekuatan lahir batin,” pungkasnya.

Baca Juga :  Tekan Peningkatan Covid, Pemkot Tutup Taman Bertahap

Salah satu tetangga korban, Manisa, turut sedih mendengar kabar yang menimpa Een. Meski jarang berbicara langsung dengan Een karena memang kebanyakan tinggal di Jakarta, Manisa menilai anak ketiga dari empat bersaudara itu sangat ramah. Ia selalu sopan dan menegur ketika lewat di depan rumah tetangganya.

Selain itu Een juga dikenal sebagai sosok yang baik hati. Di awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, Een banyak membantu tetangga yang kesusahan. Termasuk dirinya yang mendapat bantuan berupa uang tunai, beras, mie instan dan lain sebagainya.

“Kasihan, saya tidak menyangka Een ternyata ada di pesawat (yang jatuh) itu. Tahunya tadi pagi, setelah lihat ramai (di rumah korban),” ucapnya.

Pemprov Bantu Pemulangan Jenazah

Terpisah, Gubernur Kalbar Sutarmidji usai meninjau pusat krisis atau tempat keluarga korban melapor di Bandara Internasional Supadio mengatakan, belum ada informasi pasti mengenai nasib para penumpang pesawat tersebut. Pihak terkait menurutnya baru menemukan serpihan-serpihan yang diduga merupakan bagian dari pesawat Sriwijaya SJ182. “Serpihan pesawat itu juga harus diklarifikasi lagi, tapi kami akan memberikan pelayanan yang maksimal bagi keluarga korban yang di sini,” katanya kepada awak media, Minggu (10/1).

Pihak maskapai menurutnya juga telah menempatkan keluarga korban dari luar kota di hotel terdekat. Di kawasan bandara juga diminta disiapkan ruang khusus untuk keluarga korban beristirahat. “Karena biasanya kan mereka mau dekat dengan posko,” ucapnya.

Jika memang sudah ada kepastian soal korban dan ada jenazah yang berhasil diidentifikasi untuk kemudian dipulangkan, pemerintah daerah dikatakan siap mengantar hingga ke rumah masing-masing. “Insyallah nanti dibantu oleh Polisi, kami terus ikuti perkembangan dan nanti dalam waktu tertentu nanti ada rilis berita dari Basarnas yang lebih kompeten memberikan penjelasan,” ujarnya.

Midji sapaan akrabnya menyebut hampir semua penumpang pesawat tersebut merupakan warga Kalbar. Jumlahnya lebih dari 90 persen dari total seluruh penumpang. Selain itu pengambilan data ante mortem dari keluarga korban untuk identifikasi juga dikatakan hampir tuntas. “Saya rasa hari ini (kemarin) bisa tuntas (pengambilan ante mortem), sepanjang keluarganya sudah datang semua,” paparnya.

Semua SOP penanganan dinilai sudah dijalankan dengan baik. Pemprov Kalbar dalam hal ini siap membantu semaksimal mungkin terkait hal-hal yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Salah satunya dengan terus berkoordinasi bersama pihak kepolisian agar memperlancar akomidasi jika memang nantinya jenazah korban sudah ditemukan. “Kami antar ke rumah yang bersangkutan,” katanya lagi.

Dirinya juga sempat berbincang-bincang dengan keluarga penumpang, untuk memberikan dukungan sekaligus mendoakan yang terbaik. Intinya ia meminta harus diberikan pelayanan yang nyaman untuk keluarga korban agar beban psikilogis mereka berkurang. “Di sini juga ada disediakan lima orang psikolog untuk mendampingi keluarga korban,” pungkasnya.(bar)

Televisi di rumah itu terus menyala. Sejak pagi keluarga dan handai tolan meriung di ruang tengah menonton berita tentang hilangnya pesawat Sriwijaya SJ-182. Sampai kemarin belum ada kabar pasti soal Ihsan Adhlan Hakim (33) beserta istrinya Putri Wahyuni (25).

Idil Aqsa Akbary, Pontianak

Pasangan suami istri yang baru menikah pada Maret 2020 lalu itu merupakan penumpang pesawat Sriwijaya SJ-182 rute Jakarta-Pontianak. Sejak keduanya dikabarkan hilang dan putus kontak pada Sabtu (9/1), keluarga hanya menunggu kabar dari televisi.

Dari Sabtu (9/1) malam, para kerabat dan teman-teman Een sapaan Ihsan, silih berganti bedatangan ke rumahnya di Gang Ikrar, Jalan Tabrani Ahmad, Kota Pontianak. Mereka datang untuk memastikan kabar Een beserta istri sekaligus mendoakan agar keduanya baik-baik saja.

Ayah Een, Nasir menceritakan rencana kedatangan anak ketiganya tersebut dalam rangka melaksanakan resepsi pernikahan. Kebetulan Een dan istrinya sudah menikah pada 7 Maret 2020 lalu di Pekanbaru, Riau, kampung halaman sang istri. Kemudian di tanggal 16 Januari 2021 nanti, rencananya kembali digelar respsi atau dikenal dengan istilah ngunduh mantu di Kota Pontianak.

Sambil menahan haru Nasir mengatakan segala persiapan untuk resepsi di tanggal 16 nanti sudah cukup siap. Gedung resepsi di Pontianak Convention Center (PCC) juga sudah dipesan dan sudah mendapat izin. Bisa dikatakan 90 persen sudah siap. Termasuk sebagian undangan juga sudah disebar. “Jadi mau resepsi pernikahan, kalau orang Pontianak bilang ‘morola’,” ungkap sang ayah saat ditemui di kediamannya.

Rencana resepsi pernikahan Een dan istri di Pontianak memang sempat beberapa kali berubah karena pandemi Covid-19. Awalnya dijadwalkan pada 18 April 2020, karena saat itu masih awal pandemi acara diundur ke bulan Juli 2020. Rencana di bulan Juli juga akhirnya mundur ke tanggal 16 Januari 2021. “Jadi Sabtu depan, Ihsan dan istri ini ke Pontianak dalam rangka itu,” ceritanya.

Mengenai keberangkatan anak laki-laki dan istrinya itu ke Pontianak juga sebenarnya sempat berubah. Awalnya direncanakan datang pada Minggu (10/1), itu karena, baru istri Ihsan yang mendapat surat keterangan negatif tes usap (swab) PCR. Sementara Een sendiri belum dapat. Namun tak sampai di situ, Een mencari tempat tes PCR lain hingga akhirnya dapat dan ia bisa pulang ke Pontianak lebih awal di hari Sabtu (9/1).

“Setelah PCR dapat dia langsung berangkat Sabtu, pesan (tiket pesawat) Nam Air pesawat pagi jam 07.00 WIB, Sabtu tanggal sembilan,” ungkap Nasir.

Lebih lanjut menurut Nasir, sesampainya di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, anak dan menantunya itu mendapat informasi bahwa pesawat tersebut delay atau ditunda keberangkatannya hingga pukul 13.20 WIB.

“Jadi dia dari pagi sudah nunggu di bandara, sambil nunggu itu ternyata masih delay lagi sampai dengan pukul 14.00 WIB baru naik pesawat. Pas dia naik pesawat itu, sudah dalam pesawat dia telpon adiknya minta jemput,” terangnya.

Baca Juga :  Sebanyak 202 Burung Berkicau Diperdagangkan Secara Online

Tidak ada yang menyangka bahwa ternyata itulah komunikasi terakhir Een dengan keluarga. Sampai pada pukul 15.00 WIB kurang, sang adik berangkat ke bandara Internasional Supadio untuk menjemput. “Sampai di bandara dia nunggu, ditelpon lost (tidak nyambung), karena di pesawat kan tidak boleh dibuka HP kan, mungkin masih di atas (terbang) pikir hati begitu,” katanya.

Setelah itu sekitar pukul 16.00 WIB, setelah salat ashar Nasir pergi ke pintu kedatangan domestik Bandara Supadio. Ia bertanya kepada petugas yang berjaga mengenai kabar kedatangan pesawat Nam Air dari Jakarta. “Petugas bilang, Nam Air tidak ada yang dari Jakarta Pak, yang ada Sriwijaya, saya cek oh benar Sriwijaya SJ182, tiketnya kan diposting ke saya, saya lihat di situ benar,” paparnya.

Dari keterangan di sana, jadwal keberangkatan untuk pesawat tersebut ditunda. Setelah itu berkali-kali Nasir kembali bertanya ke petugas namun belum ada jawaban pasti. Sampai di bandara mulai berdatangan kerabat-kerabat dari penumpang yang lain juga menanyakan hal yang sama.

“Lalu dia (kerabat penumpang yang lain) buka google maps (aplikasi radar), sekitar lima menitan dari pesawat take off, sampai ke titik tertentu pesawat berhenti, itu yang dikatakan lost kontak di situ,” ujarnya.

Mendapat informasi demikian Nasir pun bingung. Ia akhirnya memutuskan menunggu di mobil, namun anak bungsunya masih menunggu informasi di bandara. Sampai kemudian di waktu magrib, besannya yang di Pekanbaru menanyakan soal anaknya dan Ihsan. Karena tidak berani berspekulasi Nasir hanya menjawab belum sampai dan siap memberikan kabar ketika Ihsan dan istri sampai.

Bakda magrib ia pun mendapat informasi dari petugas di bandara bahwa keluarga penumpang pesawat Sriwijaya SJ182 diminta berkumpul di Polsek Bandara. Sampai malam ditunggu, pihak terkait di Bandara Supadio menurutnya belum berani memberikan keterangan pasti mengenai nasib para penumpang pesawat tersebut. “Katanya belum karena masih menunggu informasi dari Jakarta, saya pun pulang hanya meninggalkan nomor HP, anak saya masih nunggu di sana,” ucapnya.

Sampai Minggu (10/1), pihak maskapai menurutnya sudah memberikan kepastian bahwa pesawat tersebut memang jatuh. Hanya saja soal korban belum bisa dipastikan karena masih dilaksanakan pencarian. “Tadi (kemarin) siang saya sudah tes DNA, sudah memberikan informasi lengkap,” katanya.

Dengan adanya musibah ini, Nasir yakin kematian merupakan kehendak Allah SWT. Ia berdoa semoga ada keajaiban dan anaknya masih hidup. Jika pun tidak atau dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan ini ia menyatakan sudah ikhlas.

“Kami hanya bisa mendoakan semua korban, khususnya anak saya diampunkan dosanya, mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Saya juga minta tolong doanya supaya saya diberi kekuatan lahir batin,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kenang Sosok Rizki yang Pintar dan Humble

Salah satu tetangga korban, Manisa, turut sedih mendengar kabar yang menimpa Een. Meski jarang berbicara langsung dengan Een karena memang kebanyakan tinggal di Jakarta, Manisa menilai anak ketiga dari empat bersaudara itu sangat ramah. Ia selalu sopan dan menegur ketika lewat di depan rumah tetangganya.

Selain itu Een juga dikenal sebagai sosok yang baik hati. Di awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, Een banyak membantu tetangga yang kesusahan. Termasuk dirinya yang mendapat bantuan berupa uang tunai, beras, mie instan dan lain sebagainya.

“Kasihan, saya tidak menyangka Een ternyata ada di pesawat (yang jatuh) itu. Tahunya tadi pagi, setelah lihat ramai (di rumah korban),” ucapnya.

Pemprov Bantu Pemulangan Jenazah

Terpisah, Gubernur Kalbar Sutarmidji usai meninjau pusat krisis atau tempat keluarga korban melapor di Bandara Internasional Supadio mengatakan, belum ada informasi pasti mengenai nasib para penumpang pesawat tersebut. Pihak terkait menurutnya baru menemukan serpihan-serpihan yang diduga merupakan bagian dari pesawat Sriwijaya SJ182. “Serpihan pesawat itu juga harus diklarifikasi lagi, tapi kami akan memberikan pelayanan yang maksimal bagi keluarga korban yang di sini,” katanya kepada awak media, Minggu (10/1).

Pihak maskapai menurutnya juga telah menempatkan keluarga korban dari luar kota di hotel terdekat. Di kawasan bandara juga diminta disiapkan ruang khusus untuk keluarga korban beristirahat. “Karena biasanya kan mereka mau dekat dengan posko,” ucapnya.

Jika memang sudah ada kepastian soal korban dan ada jenazah yang berhasil diidentifikasi untuk kemudian dipulangkan, pemerintah daerah dikatakan siap mengantar hingga ke rumah masing-masing. “Insyallah nanti dibantu oleh Polisi, kami terus ikuti perkembangan dan nanti dalam waktu tertentu nanti ada rilis berita dari Basarnas yang lebih kompeten memberikan penjelasan,” ujarnya.

Midji sapaan akrabnya menyebut hampir semua penumpang pesawat tersebut merupakan warga Kalbar. Jumlahnya lebih dari 90 persen dari total seluruh penumpang. Selain itu pengambilan data ante mortem dari keluarga korban untuk identifikasi juga dikatakan hampir tuntas. “Saya rasa hari ini (kemarin) bisa tuntas (pengambilan ante mortem), sepanjang keluarganya sudah datang semua,” paparnya.

Semua SOP penanganan dinilai sudah dijalankan dengan baik. Pemprov Kalbar dalam hal ini siap membantu semaksimal mungkin terkait hal-hal yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Salah satunya dengan terus berkoordinasi bersama pihak kepolisian agar memperlancar akomidasi jika memang nantinya jenazah korban sudah ditemukan. “Kami antar ke rumah yang bersangkutan,” katanya lagi.

Dirinya juga sempat berbincang-bincang dengan keluarga penumpang, untuk memberikan dukungan sekaligus mendoakan yang terbaik. Intinya ia meminta harus diberikan pelayanan yang nyaman untuk keluarga korban agar beban psikilogis mereka berkurang. “Di sini juga ada disediakan lima orang psikolog untuk mendampingi keluarga korban,” pungkasnya.(bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/