alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Kenang Sosok Rizki yang Pintar dan Humble

KETAPANG – Sindarti Liani tak mampu menahan sedih. Tangisnya pecah seketika saat mengingat sosok Rizki Wahyudi, salah satu pegawai Balai Taman Nasional Gunung Palung yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada 9 Januari lalu. Baginya, Rizki tak hanya sebatas rekan kerja, melainkan seorang abang yang menjadi panutannya.

Senin (11/1), Sindiarti memulai aktivitas masuk kantor seperti biasa. Suasana Kantor Taman Nasional Gunung Palung yang berada di Jalan Gajah Mada, Desa Kalinilam, Kecamatan Delta Pawan tampak berbeda. Beberapa karangan bunga tersusun rapi di sudut-sudut kantor.

Sindiarti tampak kuat. Dia mencoba melempar senyum ketika beberapa awak media datang ke kantornya untuk menanyakan Rizki yang menjadi salah satu penumpang pesawat nahas yang jatuh di perairan kepulauan seribu.

Wajahnya yang semula merekar perlahan murung. Tangisnya pecah ketika menceritakan sosok Rizki. Dia tak kuasa menahan air matanya yang perlahan tumpah di pipinya. Sesekali dia menyeka mata berusaha tegar seolah tak ada yang terjadi. “Saya benar-benar terkejut mendengar berita itu. Bang Rizki itu sosok yang humble. Saya merasa sangat kehilangan,” ujarnya.

Sesekali dia menahan nafas, menyeka air mata yang perlahan mulai berhenti. Dia mengingat memori tentang Rizki yang dikenal sebagai sosok yang supel dan pintar. “Baru satu tahun kenal sama bang Rizki, saya baru disini tapi beliau merupakan sosok panutan dan saya kagum. Tentu saya dan yang lain berharap ada keajaiban,” harapnya.

Baca Juga :  Keluarga Ikhlaskan Kepergian Mulyadi

Kesedihan tak hanya dialami Sindiarti, hal yang sama dirasakan Probo Susanto. Teman seangkatan dalam bekerja Rizki juga merasa kehilangan. Bagaimana tidak, Rizki merupakan temannya saat sama-sama bekerja di Ketapang, bahkan mereka mengambil rumah yang berdekatan di komplek Palm Vista di Desa Kalinilam. “Dia satu angkatan sama saya. Dulu kita datang ke Ketapang sama-sama, bahkan tinggal berdekatan karena ambil rumahnya sama-sama,” ujarnya.

Dia mengaku, awalnya tidak percaya kalau Rizki menjadi penumpang pesawat jatuh tersebut, lantaran sehari sebelum kejadian dirinya ada berkomunikasi dengan Rizki menanyakan kapan dia pulang ke Ketapang. “Jumat saya tanya, katanya kemungkinan Minggu ke Ketapang, karena masih menunggu hasil swab. Ketika mendengar kabar pesawat dari Jakarta-Pontianak jatuh saya tak percaya ada dia sebab itu Sabtu. Jadi saya hubungi adik Rizki dan ternyata benar Rizki salah satu penumpang pesawat itu,” tuturnya.

Dia menambahkan, Rizki sendiri hendak ke Ketapang bersama dengan Istri, anaknya, ibu dan ponakannya yang  hendak bersekolah di Ketapang. “Saya ingat harapan dia bahwa dia ingin mengangkat derajat orang tuanya, dan ingin berkumpul sama keluarganya,” kenangnya.

Baca Juga :  Kisah Pengantin Baru Penumpang Sriwijaya SJ-182, Pulang Untuk Siapkan Resepsi

Dia mengingat sosok Rizki sebagai seseorang yang pintar, lantaran Rizki pernah menjadi juara satu salam lomba Bujang Dayang atau Kontes Abang None di Bangka Belitung dan menjadi mahasiswa lulusan terbaik jurusan Mipa Universitas Sriwijaya. “Kalau di kantor kerjanya cepat dan multi talenta dan menjadi andalan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi TNGP Sukadana, Bambang Hari Trimaesito, mengaku sangat kehilangan sosok Rizki. Rizki dinilai merupakan sosok staf yang pintar dan memiliki loyalitas serta dedikasi yang tinggi atas pekerjaan. “Beliau pulang cuti hendak membawa keluarganya ke Ketapang karena ingin tinggal sama-sama di Ketapang,” katanya.

Dia mengaku dari pertama kali Rizki bekerja di Ketapang sudah mengenal Rizki, karena dia ditugaskan membimbing Rizki saat menjadi calon pegawai hingga ditugaskan menjadi Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan. “Istrinya habis melahirkan. Selepas cuti dia membawa keluarganya yang juga ikut di dalam pesawat untuk tinggal di Ketapang,” pungkasnya. (afi)

KETAPANG – Sindarti Liani tak mampu menahan sedih. Tangisnya pecah seketika saat mengingat sosok Rizki Wahyudi, salah satu pegawai Balai Taman Nasional Gunung Palung yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada 9 Januari lalu. Baginya, Rizki tak hanya sebatas rekan kerja, melainkan seorang abang yang menjadi panutannya.

Senin (11/1), Sindiarti memulai aktivitas masuk kantor seperti biasa. Suasana Kantor Taman Nasional Gunung Palung yang berada di Jalan Gajah Mada, Desa Kalinilam, Kecamatan Delta Pawan tampak berbeda. Beberapa karangan bunga tersusun rapi di sudut-sudut kantor.

Sindiarti tampak kuat. Dia mencoba melempar senyum ketika beberapa awak media datang ke kantornya untuk menanyakan Rizki yang menjadi salah satu penumpang pesawat nahas yang jatuh di perairan kepulauan seribu.

Wajahnya yang semula merekar perlahan murung. Tangisnya pecah ketika menceritakan sosok Rizki. Dia tak kuasa menahan air matanya yang perlahan tumpah di pipinya. Sesekali dia menyeka mata berusaha tegar seolah tak ada yang terjadi. “Saya benar-benar terkejut mendengar berita itu. Bang Rizki itu sosok yang humble. Saya merasa sangat kehilangan,” ujarnya.

Sesekali dia menahan nafas, menyeka air mata yang perlahan mulai berhenti. Dia mengingat memori tentang Rizki yang dikenal sebagai sosok yang supel dan pintar. “Baru satu tahun kenal sama bang Rizki, saya baru disini tapi beliau merupakan sosok panutan dan saya kagum. Tentu saya dan yang lain berharap ada keajaiban,” harapnya.

Baca Juga :  Keluarga Ikhlaskan Kepergian Mulyadi

Kesedihan tak hanya dialami Sindiarti, hal yang sama dirasakan Probo Susanto. Teman seangkatan dalam bekerja Rizki juga merasa kehilangan. Bagaimana tidak, Rizki merupakan temannya saat sama-sama bekerja di Ketapang, bahkan mereka mengambil rumah yang berdekatan di komplek Palm Vista di Desa Kalinilam. “Dia satu angkatan sama saya. Dulu kita datang ke Ketapang sama-sama, bahkan tinggal berdekatan karena ambil rumahnya sama-sama,” ujarnya.

Dia mengaku, awalnya tidak percaya kalau Rizki menjadi penumpang pesawat jatuh tersebut, lantaran sehari sebelum kejadian dirinya ada berkomunikasi dengan Rizki menanyakan kapan dia pulang ke Ketapang. “Jumat saya tanya, katanya kemungkinan Minggu ke Ketapang, karena masih menunggu hasil swab. Ketika mendengar kabar pesawat dari Jakarta-Pontianak jatuh saya tak percaya ada dia sebab itu Sabtu. Jadi saya hubungi adik Rizki dan ternyata benar Rizki salah satu penumpang pesawat itu,” tuturnya.

Dia menambahkan, Rizki sendiri hendak ke Ketapang bersama dengan Istri, anaknya, ibu dan ponakannya yang  hendak bersekolah di Ketapang. “Saya ingat harapan dia bahwa dia ingin mengangkat derajat orang tuanya, dan ingin berkumpul sama keluarganya,” kenangnya.

Baca Juga :  Winnebago Trickster Tales - the Very GOAT Computer Keyboards

Dia mengingat sosok Rizki sebagai seseorang yang pintar, lantaran Rizki pernah menjadi juara satu salam lomba Bujang Dayang atau Kontes Abang None di Bangka Belitung dan menjadi mahasiswa lulusan terbaik jurusan Mipa Universitas Sriwijaya. “Kalau di kantor kerjanya cepat dan multi talenta dan menjadi andalan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi TNGP Sukadana, Bambang Hari Trimaesito, mengaku sangat kehilangan sosok Rizki. Rizki dinilai merupakan sosok staf yang pintar dan memiliki loyalitas serta dedikasi yang tinggi atas pekerjaan. “Beliau pulang cuti hendak membawa keluarganya ke Ketapang karena ingin tinggal sama-sama di Ketapang,” katanya.

Dia mengaku dari pertama kali Rizki bekerja di Ketapang sudah mengenal Rizki, karena dia ditugaskan membimbing Rizki saat menjadi calon pegawai hingga ditugaskan menjadi Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan. “Istrinya habis melahirkan. Selepas cuti dia membawa keluarganya yang juga ikut di dalam pesawat untuk tinggal di Ketapang,” pungkasnya. (afi)

Most Read

Artikel Terbaru

/