alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

Opera Deforestasi Ine Aya’-Suara Samar Rimba Akan Digelar di Pontianak

PONTIANAK – Ine Aya’-Suara Samar Rimba adalah opera baru yang menceritakan tentang deforestasi di Kalimantan. Ini adalah kreasi baru, mengenai pohon kehidupan dan penjaganya, Ine Aya’.

Ine Aya’ terinspirasi oleh warisan kebudayaan dari Masyarakat Kayan, terutama dari epos Takna’ Lawe dan opera Eropa, Ring des Nibelungen. Ine Aya’ menceritakan hal-hal yang melewati batasan kebudayaan, dan menginspirasi perubahan sikap kita terhadap alam.

Opera ini dipentaskan pertama kali di acara bergengsi, Holland Festival, pada tahun 2021. Tahun ini, pada tanggal 19 Agustus, opera ini akan dipentaskan pertama kali di Indonesia di pedalaman Kalimantan, di desa Datah Diaan tempat Masyarakat Adat Kayan Mendalam, dilanjutkan oleh pertunjukan di Pontianak yang akan diselenggarakan di Pontianak Convention Centre  (22/8)  dan Jakarta (27/8)  di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki.

Ine Aya’ akan dipertontonkan di periode turbulensi. Dari awal Agustus, Mendalam mengalami banjir besar, terburuk dalam beberapa dekade, kemungkinan besar terkait dengan peningkatan erosi tanah di area tersebut.

Baca Juga :  Komunitas CBR di Kalimantan Barat Bersatu Dukung Race WSBK dan ATC

Gubernur Kalimantan Barat berencana untuk menandatangani pakta reforestasi; yang juga disebut dengan FOLU Net Sink 2030. LSM lokal maupun internasional semakin giat menyuarakan hak pertanahan bagi para penduduk asli.

Opera baru ini adalah kolaborasi antara sutradara Miranda Lakerveld dari World Opera Lab dan komposer Nursalim Yadi Anugerah dari Balaan Tumaan ensemble. Yadi adalah musisi yang sedang berkembang di Indonesia, dan paham sekali mengenai kultur kebudayaan musik Kayan.

“Deforestasi di Kalimantan adalah masalah yang sangat kompleks yang terkait dengan kita semua, klaster global. Saya pikir kita akan lebih memahami masalah ini jika ada dialog antara semua pihak yang terlibat. Tidak ada solusi sederhana. Kita tidak bisa begitu saja turun ke sana dan menanam beberapa pohon. Kita perlu menghadapi kompleksitas, berkolaborasi lintas batas dan mengubah pandangan kita tentang menyesuaikan alam. Seni dapat memainkan peran penting dalam hal ini,” ujar Miranda Lakerveld, selaku Sutradara dan Penulis Naskah Ine Aya’.

Baca Juga :  Mau Kuliah Di Luar?, Ini Daftar 15 Asrama Mahasiswa Kalbar di Indonesia

Komponis Nursalim Yadi Anugerah menambahkan, “Saya pikir harus ada lebih dari sekadar motivasi artistik. Musik dapat melakukan lebih banyak lagi. Itu bisa menghubungkan masyarakat. Ini bisa memperbesar masalah budaya dan sosial, seperti dalam kasus kami, masalah lingkungan di Kalimantan: deforestasi perkebunan kelapa sawit,” jelasnya.

Sebagai aktivis dan direktur Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalbar, Dominikus Uyub saat ini mengadvokasi hak atas tanah untuk kelompok adat di Kalimantan Barat, yang merupakan langkah penting dalam pelestarian hutan dan warisan budaya yang unik.

“Kerusakan hutan dan alam adalah akibat dari perilaku manusia yang serakah yang tak terpuaskan, dan mengabaikan dampak negatifnya terhadap seluruh penghuni bumi. Dampak terhadap alam juga berdampak negatif terhadap tradisi dan budaya. (sya/r)

PONTIANAK – Ine Aya’-Suara Samar Rimba adalah opera baru yang menceritakan tentang deforestasi di Kalimantan. Ini adalah kreasi baru, mengenai pohon kehidupan dan penjaganya, Ine Aya’.

Ine Aya’ terinspirasi oleh warisan kebudayaan dari Masyarakat Kayan, terutama dari epos Takna’ Lawe dan opera Eropa, Ring des Nibelungen. Ine Aya’ menceritakan hal-hal yang melewati batasan kebudayaan, dan menginspirasi perubahan sikap kita terhadap alam.

Opera ini dipentaskan pertama kali di acara bergengsi, Holland Festival, pada tahun 2021. Tahun ini, pada tanggal 19 Agustus, opera ini akan dipentaskan pertama kali di Indonesia di pedalaman Kalimantan, di desa Datah Diaan tempat Masyarakat Adat Kayan Mendalam, dilanjutkan oleh pertunjukan di Pontianak yang akan diselenggarakan di Pontianak Convention Centre  (22/8)  dan Jakarta (27/8)  di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki.

Ine Aya’ akan dipertontonkan di periode turbulensi. Dari awal Agustus, Mendalam mengalami banjir besar, terburuk dalam beberapa dekade, kemungkinan besar terkait dengan peningkatan erosi tanah di area tersebut.

Baca Juga :  Menteri Perhubungan Positif Korona

Gubernur Kalimantan Barat berencana untuk menandatangani pakta reforestasi; yang juga disebut dengan FOLU Net Sink 2030. LSM lokal maupun internasional semakin giat menyuarakan hak pertanahan bagi para penduduk asli.

Opera baru ini adalah kolaborasi antara sutradara Miranda Lakerveld dari World Opera Lab dan komposer Nursalim Yadi Anugerah dari Balaan Tumaan ensemble. Yadi adalah musisi yang sedang berkembang di Indonesia, dan paham sekali mengenai kultur kebudayaan musik Kayan.

“Deforestasi di Kalimantan adalah masalah yang sangat kompleks yang terkait dengan kita semua, klaster global. Saya pikir kita akan lebih memahami masalah ini jika ada dialog antara semua pihak yang terlibat. Tidak ada solusi sederhana. Kita tidak bisa begitu saja turun ke sana dan menanam beberapa pohon. Kita perlu menghadapi kompleksitas, berkolaborasi lintas batas dan mengubah pandangan kita tentang menyesuaikan alam. Seni dapat memainkan peran penting dalam hal ini,” ujar Miranda Lakerveld, selaku Sutradara dan Penulis Naskah Ine Aya’.

Baca Juga :  Ulat Serang Ribuan Hektare Kratom

Komponis Nursalim Yadi Anugerah menambahkan, “Saya pikir harus ada lebih dari sekadar motivasi artistik. Musik dapat melakukan lebih banyak lagi. Itu bisa menghubungkan masyarakat. Ini bisa memperbesar masalah budaya dan sosial, seperti dalam kasus kami, masalah lingkungan di Kalimantan: deforestasi perkebunan kelapa sawit,” jelasnya.

Sebagai aktivis dan direktur Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalbar, Dominikus Uyub saat ini mengadvokasi hak atas tanah untuk kelompok adat di Kalimantan Barat, yang merupakan langkah penting dalam pelestarian hutan dan warisan budaya yang unik.

“Kerusakan hutan dan alam adalah akibat dari perilaku manusia yang serakah yang tak terpuaskan, dan mengabaikan dampak negatifnya terhadap seluruh penghuni bumi. Dampak terhadap alam juga berdampak negatif terhadap tradisi dan budaya. (sya/r)

Most Read

Artikel Terbaru

/