alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Banjir Terjang Landak, 25 Desa Terendam, Ribuan Warga Masih Bertahan di Rumah

NGABANG – Curah hujan tinggi dalam sepekan terakhir membuat puluhan desa di Kabupaten Landak diterjang banjir. Sebanyak 25 desa dilaporkan terendam banjir sejak Rabu (13/1) malam.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga Kamis (14/1) terdapat lima kecamatan terdampak banjir, yakni Kecamatan Air Besar, Kuala Behe, Sengah Temila, mandor, dan Ngabang.

Di Kecamatan Air Besar, desa terdampak yakni Desa Serimbu, Desa Merayuh, Desa Sepangah, Desa Sempatung, Desa Nyari, dan Desa Jambu tembawang. Kecamatan Kuala Behe, lima desa terendam banjir, di antaranya Desa Nyayum, Desa kuala behe, Desa permit, Desa Tanjung Balai, Dan Desa Kedama.

Selanjutnya di Kecamatan Sengah Temila, enam desa terdampak. Desa tersebut, yakni Desa Aur Sampuk, Desa Senakin, Desa Pahauman, Desa Paloan, Desa Keranji Mancal, dan Desa sidas. Banjir juga merendam satu desa di Kecamatan Mandor, yakni Desa Sebadu.

Sementara di ibu kota Kabupaten, Kecamatan Ngabang, banjir menerjang delapan desa. Kondisi geografis memang menjadi pusat pertemuan sejumlah sungai dari hulu Landak. Hal itu membuat Ngabang menjadi langganan banjir. Terlebih lagi desa yang berada di bantaran sungai.

Hingga, Kamis (14/1) siang, sejumlah desa yang dilaporkan terendam banjir, yakni Desa Munggu, Desa Hilir Kantor, Desa hilir tengah, Desa Raja, Desa Ambarang, Desa Temiang Sawi, Desa Amboyo Selatan, Desa Sebirang, dan Desa Pak Mayam.

“Hujan deras sejak pukul 14.30 hingga saat ini pkl 22.10 menyebabkan meluapnya beberapa sungai seperti Sungai Landak, Sungai Bahumukng, Sungai Sidas dan Sungai Tumila,” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Landak, Kamis (14/1).

Ia mengatakan, hingga saat warga masih bertahan di rumah masing-masing atau mengungsi ke rumah keluarga dan tetangga yang lebih tinggi. Meski begitu, pihaknya tetap menyiapkan posko pengungsian, bekerja sama dengan pihak kecamatan.

Baca Juga :  Banjir Luapan Sungai Landak Mulai Rendam Jalan Ngabang

“Rencana pengungsian untuk kecamatan Ngabang ada di Aula Kantor Camat. Kita siapkan bagi warga yang akan mengungsi. Ditakutkan air kembali naik pada malam ini,” katanya.

Salah satu desa dengan banjir terparah di Ngabang ialah Dusun Tanjung, Desa Hilir Kantor. Sebuah kampung yang berada di bantaran Sungai Landak yang membelah pusat Kota Ngabang. Total 133 Kepala Keluarga terdampak.

Kepala Dusun Tanjung, Supiadi Ikal menceritakan air mulai naik sejak Rabu (13/1) siang. Sekitar pukul 15.00 air mulai naik ke jalan dusun. Dengan cepat, pada malam harinya, sekitar pukul 19.00 WIB air sudah setinggi paha orang dewasa di jalan dusun. Beruntung, sebelumnya warga telah mengevakuasi kendaraan bermotor ke tempat lebih tinggi. “Banjir di dusun kami memang setiap tahun. Tapi kali ini terbilang cukup parah,” katanya.

Ia mengatakan, air naik dengan cepat. Sejak Kamis (14/1) pagi hingga siang, air sudah bertambah tinggi sekitar 50 cm. Ketinggian air berkisar 80cm hingga 2 meter. “Kita lihat air semakin naik. Sangat cepat. Tadi (Kamis, red) pagi, air di belum sampai ke depan rumah. Sekarang baru pukul 11.00 air sudah setinggi lutut,” ungkapnya.

Ia mengatakan, perangkat dusun sudah berupaya membantu masyarakat, menggunakan perahu kecil untuk warga yang akan mengungsi ke tempat yang telah disediakan oleh pemerintah. Sampai saat ini, masyarakat belum ada yang mengungsi.

“Sebagian warga masih siaga di rumah sambil mengemaskan sebagian harta mereka. Dari laporan, tidak ada warga yang sedang sakit. Kalaupun nanti ada, kami sudah siapkan perahu untuk evakuasi,” katanya.

Ia berharap pemerintah memperhatikan dan memberikan bantuan kepada dusunnya yang terdampak banjir. Sejumlah bantuan yang dirasanya perlu seperti perahu karet untuk evakuasi warga dan barang-barangnya.

Baca Juga :  Sembilan Hari Mengungsi di Kebun Karet, Warga Kekurangan Lauk dan Bumbu Masak

Sementara itu, Camat Ngabang Nomensen mengatakan pihaknya sudah menyiapkan posko pengungsian. Aula kantor camat, Koramil Ngabang dan Rumah Sakit Lama Ngabang menjadi beberapa pilihan.

“Tenaga kesehatan pun sudah kita siapkan. Selain yang berada di posko. Kita juga akan keliling. Kita coba cek yang sakit atau memerlukan bantuan lain. Kita siap bantu,” katanya.

Selain itu, ia sudah berkoordinasi dengan Koramil, Polsek dan Puskesmas Ngabang dalam penanganan banjir kali ini. Terutama terkait data dan informasi wilayah yang menjadi fokus evakuasi warga.

“Kami selalu mengimbau kepada rekan-rekan Kepala Desa untuk proaktif memberikan informasi ke kami. Agar kami bisa cepat melakukan tindakan. Jangan sampai sudah luar biasa parah baru mereka komunikasi. Minimal kita antisipasi dulu,” katanya.

Senada dengan Supiadi Ikal, Nomensen mengatakan banjir kali ini terbilang parah jika dibandingkan dengan banjir di tahun-tahun sebelumnya. Beberapa lokasi bahkan juga terjadi tanah longsor dan pohon tumbang.

“Mudah-mudahan dalam dua hari ini tidak hujan deras. Karena jika hujan, air pasti akan naik lagi. Karena menurut informasi dari warga yang tinggal di pinggir sungai, air naik dengan cepat. Dan, masih naik terus,” katanya.

Apalagi, ia sejumla wilayah hulu yakni Air Besar dan Kuala Behe juga terendam banjir. “Ini yang kita khawatirkan, air akan tumpah ke kita semua. Karena Ngabang menjadi hilir dari banyak sungai,” katanya.

Ditanya mengenai penyaluran bantuan, ia mengatakan akan berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana. Ia berharap kepala desa dapat segera melaporkan jumlah warganya yang terdampak.

“Jangan sampai yang terdampak langsung dan daerahnya terisolir, terlambat mendapatkan penanganan,” katanya. (mif)

NGABANG – Curah hujan tinggi dalam sepekan terakhir membuat puluhan desa di Kabupaten Landak diterjang banjir. Sebanyak 25 desa dilaporkan terendam banjir sejak Rabu (13/1) malam.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga Kamis (14/1) terdapat lima kecamatan terdampak banjir, yakni Kecamatan Air Besar, Kuala Behe, Sengah Temila, mandor, dan Ngabang.

Di Kecamatan Air Besar, desa terdampak yakni Desa Serimbu, Desa Merayuh, Desa Sepangah, Desa Sempatung, Desa Nyari, dan Desa Jambu tembawang. Kecamatan Kuala Behe, lima desa terendam banjir, di antaranya Desa Nyayum, Desa kuala behe, Desa permit, Desa Tanjung Balai, Dan Desa Kedama.

Selanjutnya di Kecamatan Sengah Temila, enam desa terdampak. Desa tersebut, yakni Desa Aur Sampuk, Desa Senakin, Desa Pahauman, Desa Paloan, Desa Keranji Mancal, dan Desa sidas. Banjir juga merendam satu desa di Kecamatan Mandor, yakni Desa Sebadu.

Sementara di ibu kota Kabupaten, Kecamatan Ngabang, banjir menerjang delapan desa. Kondisi geografis memang menjadi pusat pertemuan sejumlah sungai dari hulu Landak. Hal itu membuat Ngabang menjadi langganan banjir. Terlebih lagi desa yang berada di bantaran sungai.

Hingga, Kamis (14/1) siang, sejumlah desa yang dilaporkan terendam banjir, yakni Desa Munggu, Desa Hilir Kantor, Desa hilir tengah, Desa Raja, Desa Ambarang, Desa Temiang Sawi, Desa Amboyo Selatan, Desa Sebirang, dan Desa Pak Mayam.

“Hujan deras sejak pukul 14.30 hingga saat ini pkl 22.10 menyebabkan meluapnya beberapa sungai seperti Sungai Landak, Sungai Bahumukng, Sungai Sidas dan Sungai Tumila,” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Landak, Kamis (14/1).

Ia mengatakan, hingga saat warga masih bertahan di rumah masing-masing atau mengungsi ke rumah keluarga dan tetangga yang lebih tinggi. Meski begitu, pihaknya tetap menyiapkan posko pengungsian, bekerja sama dengan pihak kecamatan.

Baca Juga :  Polisi Amankan Pria Miliki Sabu di Mempawah Hulu

“Rencana pengungsian untuk kecamatan Ngabang ada di Aula Kantor Camat. Kita siapkan bagi warga yang akan mengungsi. Ditakutkan air kembali naik pada malam ini,” katanya.

Salah satu desa dengan banjir terparah di Ngabang ialah Dusun Tanjung, Desa Hilir Kantor. Sebuah kampung yang berada di bantaran Sungai Landak yang membelah pusat Kota Ngabang. Total 133 Kepala Keluarga terdampak.

Kepala Dusun Tanjung, Supiadi Ikal menceritakan air mulai naik sejak Rabu (13/1) siang. Sekitar pukul 15.00 air mulai naik ke jalan dusun. Dengan cepat, pada malam harinya, sekitar pukul 19.00 WIB air sudah setinggi paha orang dewasa di jalan dusun. Beruntung, sebelumnya warga telah mengevakuasi kendaraan bermotor ke tempat lebih tinggi. “Banjir di dusun kami memang setiap tahun. Tapi kali ini terbilang cukup parah,” katanya.

Ia mengatakan, air naik dengan cepat. Sejak Kamis (14/1) pagi hingga siang, air sudah bertambah tinggi sekitar 50 cm. Ketinggian air berkisar 80cm hingga 2 meter. “Kita lihat air semakin naik. Sangat cepat. Tadi (Kamis, red) pagi, air di belum sampai ke depan rumah. Sekarang baru pukul 11.00 air sudah setinggi lutut,” ungkapnya.

Ia mengatakan, perangkat dusun sudah berupaya membantu masyarakat, menggunakan perahu kecil untuk warga yang akan mengungsi ke tempat yang telah disediakan oleh pemerintah. Sampai saat ini, masyarakat belum ada yang mengungsi.

“Sebagian warga masih siaga di rumah sambil mengemaskan sebagian harta mereka. Dari laporan, tidak ada warga yang sedang sakit. Kalaupun nanti ada, kami sudah siapkan perahu untuk evakuasi,” katanya.

Ia berharap pemerintah memperhatikan dan memberikan bantuan kepada dusunnya yang terdampak banjir. Sejumlah bantuan yang dirasanya perlu seperti perahu karet untuk evakuasi warga dan barang-barangnya.

Baca Juga :  Warga Evakuasi Orang Sakit Menggunakan Sampan

Sementara itu, Camat Ngabang Nomensen mengatakan pihaknya sudah menyiapkan posko pengungsian. Aula kantor camat, Koramil Ngabang dan Rumah Sakit Lama Ngabang menjadi beberapa pilihan.

“Tenaga kesehatan pun sudah kita siapkan. Selain yang berada di posko. Kita juga akan keliling. Kita coba cek yang sakit atau memerlukan bantuan lain. Kita siap bantu,” katanya.

Selain itu, ia sudah berkoordinasi dengan Koramil, Polsek dan Puskesmas Ngabang dalam penanganan banjir kali ini. Terutama terkait data dan informasi wilayah yang menjadi fokus evakuasi warga.

“Kami selalu mengimbau kepada rekan-rekan Kepala Desa untuk proaktif memberikan informasi ke kami. Agar kami bisa cepat melakukan tindakan. Jangan sampai sudah luar biasa parah baru mereka komunikasi. Minimal kita antisipasi dulu,” katanya.

Senada dengan Supiadi Ikal, Nomensen mengatakan banjir kali ini terbilang parah jika dibandingkan dengan banjir di tahun-tahun sebelumnya. Beberapa lokasi bahkan juga terjadi tanah longsor dan pohon tumbang.

“Mudah-mudahan dalam dua hari ini tidak hujan deras. Karena jika hujan, air pasti akan naik lagi. Karena menurut informasi dari warga yang tinggal di pinggir sungai, air naik dengan cepat. Dan, masih naik terus,” katanya.

Apalagi, ia sejumla wilayah hulu yakni Air Besar dan Kuala Behe juga terendam banjir. “Ini yang kita khawatirkan, air akan tumpah ke kita semua. Karena Ngabang menjadi hilir dari banyak sungai,” katanya.

Ditanya mengenai penyaluran bantuan, ia mengatakan akan berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana. Ia berharap kepala desa dapat segera melaporkan jumlah warganya yang terdampak.

“Jangan sampai yang terdampak langsung dan daerahnya terisolir, terlambat mendapatkan penanganan,” katanya. (mif)

Most Read

Artikel Terbaru

/