alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Fira, Model Disabilitas yang Mendirikan Sekolah Model untuk Difabel

Sejak sekolah, Fira Ayu Putri meniti karir di dunia modeling. Lantas, gadis penyandang tunarungu itu memiliki keinginan untuk mengajar rekan-rekan sesama penyandang disabilitas. Cita-cita tersebut terwujud awal Februari lalu. Dia mampu mendirikan sekolah modeling khusus penyandang disabilitas.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

FIRA terlihat berjalan dengan irama tertentu di selasar Grand City, Senin (8/11). Dia sedang memberikan contoh gerakan kaki dan tangan saat berjalan di catwalk kepada murid-muridnya. Enam belas murid di sampingnya tampak memperhatikan dengan saksama. Sesekali, dia membenahi langsung gerakan muridnya saat berjalan.

Begitulah suasana saat Fira mengajar modeling para penyandang disabilitas. ’’Memang harus sabar. Kalau ada yang sedang merajuk, ya berhenti dulu sambil dirayu pelan-pelan,” ujar Fira dengan sesekali menggunakan bahasa isyarat.

Saat diwawancarai, Fira berbicara dengan didampingi sang ibu. Sesekali dia juga menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan maksudnya. Sebab, dia merupakan seorang tunarungu yang memiliki kemampuan berbicara terbatas walau telah ditanam implan koklea di telinganya. Namun, terlihat semangat yang tinggi saat Fira menjelaskan sekolah modeling yang didirikannya.

Saat ditemui, Fira sedang menyiapkan fashion show pertama untuk sekolah modeling miliknya. Pementasan berlangsung di atrium timur Grand City sore itu. Wajahnya tampak antusias melihat murid-muridnya akan berjalan di catwalk untuk kali pertama. Menurut dia, proses pengajaran baru berlangsung dua kali. Namun, gadis 19 tahun itu melihat kemajuan pada gerakan berjalan para murid-muridnya.

Baca Juga :  Curhat Kenapa Tak Punya Payudara

Hal itu terbukti saat show yang berlangsung hingga menjelang malam tersebut. Enam belas muridnya terlihat memperhatikan seluruh instruksi dan berjalan dengan gerakan yang dianggap baik. Begitu pula gerakan tangannya. Sontak seluruh penonton bertepuk tangan meriah.

Sebagian di antaranya menangis haru saat melihat aksi modeling penyandang disabilitas itu.

’’Lega akhirnya bisa show pertama sekaligus syukuran untuk pendirian sekolah ini,” tutur pemilik nama asli Desi Ramadhani Maghfira Ayu Putri itu. Ya, dia baru saja mendirikan sekolah modeling khusus penyandang disabilitas. Fira ingin mereka memiliki kesempatan yang sama dengan orang normal. Bisa belajar berjalan di catwalk dengan percaya diri serta memiliki bakat dan kepribadian yang unggul.

Keinginan mendirikan sekolah itu terlintas di pikirannya sejak SMA. Sebab, selain berprofesi model, dia kerap melatih juniornya saat persiapan fashion show. Lalu, Fira merasa terpanggil untuk berkesempatan mengajar penyandang disabilitas. Sebab, dia merasa masih banyak kaum difabel yang belum bisa mengikuti sekolah modeling. Mereka harus disatukan dengan orang normal ataupun sekolah tersebut tidak menerima penyandang disabilitas.

Baca Juga :  Kantor DPR Terbakar, Asap Putih Selimuti Gedung Nusantara III

’’Padahal, mendidik penyandang disabilitas perlu perlakuan khusus agar mereka memahami instruksi,” kata mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Cita-cita itu dia sampaikan kepada sang ibunda Esti Yuniarti. Esti langsung mendukung keinginan anaknya. Namun, dia menunggu waktu yang tepat untuk merealisasikannya. Mengingat, Fira masih melakoni sejumlah kesibukan sampai kuliah di semester I.

Awal Januari, Fira dan Esti bertekad untuk segera mewujudkan impian itu karena merasa siap. Mereka mulai membuat pamflet pendaftaran sekolah modeling. Lantas, disebar melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook masing-masing. Berkat info tersebut, enam belas penyandang disabilitas menjadi murid sekolah modelingnya untuk gelombang pertama.

”Tidak hanya dari Surabaya. Ada juga yang dari Sidoarjo, Malang, sampai Bangkalan,” kata Esti. Murid-muridnya terdiri atas berbagai penyandang disabilitas. Mulai down syndrome, tunarungu, hingga tunagrahita.

Saat ini Fira dan Esti yang mengajar murid-murid di sekolah yang dinamai Fira Modelling Disabilitas itu. Mereka mengajar seminggu sekali dengan protokol kesehatan. Menurut Esti, tak jarang murid-muridnya hanya mau diajar oleh Fira. ”Kapan lalu ada yang saya ajar tiba-tiba tantrum. Tapi pas dirayu Fira, malah mau,” kata perempuan yang dulu juga berprofesi model itu. (jp)

Sejak sekolah, Fira Ayu Putri meniti karir di dunia modeling. Lantas, gadis penyandang tunarungu itu memiliki keinginan untuk mengajar rekan-rekan sesama penyandang disabilitas. Cita-cita tersebut terwujud awal Februari lalu. Dia mampu mendirikan sekolah modeling khusus penyandang disabilitas.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

FIRA terlihat berjalan dengan irama tertentu di selasar Grand City, Senin (8/11). Dia sedang memberikan contoh gerakan kaki dan tangan saat berjalan di catwalk kepada murid-muridnya. Enam belas murid di sampingnya tampak memperhatikan dengan saksama. Sesekali, dia membenahi langsung gerakan muridnya saat berjalan.

Begitulah suasana saat Fira mengajar modeling para penyandang disabilitas. ’’Memang harus sabar. Kalau ada yang sedang merajuk, ya berhenti dulu sambil dirayu pelan-pelan,” ujar Fira dengan sesekali menggunakan bahasa isyarat.

Saat diwawancarai, Fira berbicara dengan didampingi sang ibu. Sesekali dia juga menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan maksudnya. Sebab, dia merupakan seorang tunarungu yang memiliki kemampuan berbicara terbatas walau telah ditanam implan koklea di telinganya. Namun, terlihat semangat yang tinggi saat Fira menjelaskan sekolah modeling yang didirikannya.

Saat ditemui, Fira sedang menyiapkan fashion show pertama untuk sekolah modeling miliknya. Pementasan berlangsung di atrium timur Grand City sore itu. Wajahnya tampak antusias melihat murid-muridnya akan berjalan di catwalk untuk kali pertama. Menurut dia, proses pengajaran baru berlangsung dua kali. Namun, gadis 19 tahun itu melihat kemajuan pada gerakan berjalan para murid-muridnya.

Baca Juga :  Gadis Remaja Diduga Dijual Teman Sendiri, Korban Empat Kali Disetubuhi Hidung Belang

Hal itu terbukti saat show yang berlangsung hingga menjelang malam tersebut. Enam belas muridnya terlihat memperhatikan seluruh instruksi dan berjalan dengan gerakan yang dianggap baik. Begitu pula gerakan tangannya. Sontak seluruh penonton bertepuk tangan meriah.

Sebagian di antaranya menangis haru saat melihat aksi modeling penyandang disabilitas itu.

’’Lega akhirnya bisa show pertama sekaligus syukuran untuk pendirian sekolah ini,” tutur pemilik nama asli Desi Ramadhani Maghfira Ayu Putri itu. Ya, dia baru saja mendirikan sekolah modeling khusus penyandang disabilitas. Fira ingin mereka memiliki kesempatan yang sama dengan orang normal. Bisa belajar berjalan di catwalk dengan percaya diri serta memiliki bakat dan kepribadian yang unggul.

Keinginan mendirikan sekolah itu terlintas di pikirannya sejak SMA. Sebab, selain berprofesi model, dia kerap melatih juniornya saat persiapan fashion show. Lalu, Fira merasa terpanggil untuk berkesempatan mengajar penyandang disabilitas. Sebab, dia merasa masih banyak kaum difabel yang belum bisa mengikuti sekolah modeling. Mereka harus disatukan dengan orang normal ataupun sekolah tersebut tidak menerima penyandang disabilitas.

Baca Juga :  Meski Haji Dibatalkan, Kemenag Siapkan Suvenir

’’Padahal, mendidik penyandang disabilitas perlu perlakuan khusus agar mereka memahami instruksi,” kata mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Cita-cita itu dia sampaikan kepada sang ibunda Esti Yuniarti. Esti langsung mendukung keinginan anaknya. Namun, dia menunggu waktu yang tepat untuk merealisasikannya. Mengingat, Fira masih melakoni sejumlah kesibukan sampai kuliah di semester I.

Awal Januari, Fira dan Esti bertekad untuk segera mewujudkan impian itu karena merasa siap. Mereka mulai membuat pamflet pendaftaran sekolah modeling. Lantas, disebar melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook masing-masing. Berkat info tersebut, enam belas penyandang disabilitas menjadi murid sekolah modelingnya untuk gelombang pertama.

”Tidak hanya dari Surabaya. Ada juga yang dari Sidoarjo, Malang, sampai Bangkalan,” kata Esti. Murid-muridnya terdiri atas berbagai penyandang disabilitas. Mulai down syndrome, tunarungu, hingga tunagrahita.

Saat ini Fira dan Esti yang mengajar murid-murid di sekolah yang dinamai Fira Modelling Disabilitas itu. Mereka mengajar seminggu sekali dengan protokol kesehatan. Menurut Esti, tak jarang murid-muridnya hanya mau diajar oleh Fira. ”Kapan lalu ada yang saya ajar tiba-tiba tantrum. Tapi pas dirayu Fira, malah mau,” kata perempuan yang dulu juga berprofesi model itu. (jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/