alexametrics
25.6 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Kendalikan Pandemi, Percepat Pemulihan Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia tahun ini masih di bawah bayang-bayang dampak pandemi Covid-19. Angkanya di kuartal I 2021 masih melambat sekitar -0,74 persen. Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu secara year-on-year, tahun ini sudah menunjukkan banyak sekali optimisme dan peningkatan dari -2,19 persen menjadi -0,74 persen.

“BPS (Badan Pusat Statistik, Red) sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2021 minus sekitar 0,7 persen,” kata Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Kunta Wibawa Dasa Nugraha dalam
Dialog Produktif Kabar Kamis, Kabar Penyerapan Dana PEN 2021 di saluran YouTube Kemenkominfo, Kamis (6/5).

Kunta menegaskan bahwa seluruh indikator sudah menunjukkan pemulihan. “Kita lihat memang rata-rata negara lain sudah relatif meningkat. Indonesia termasuk yang lebih baik dibanding negara lain,” ujarnya.

Baca Juga :  Tempo Cepat di Awal Laga, Samuel Eko Jadi Bintang Kemenangan Futsal Kalbar

Tercatat, konsumsi rumah tangga sudah pulih meski masih terkontraksi -2,23 persen pada kuartal I 2021. Investasi maupun PMTB terus membaik menjadi -0,23 persen dari yang sebelumnya -6,15 persen.

Menurut dia, pemulihan ekonomi di dalam negeri tak lepas dari pemulihan negara- negara di dunia. Beberapa lembaga internasional juga merevisi proyeksi ekonomi ke arah yang lebih baik karena ada optimisme pertumbuhan. IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global sekitar 6 persen; OECD 5,6 persen; dan World Bank sekitar 4 persen.

Dia menyampaikan bahwa perkembangan positif ekonomi global dilihat dari PMI sudah mencapai 55, pasar keuangan stabil, volatilitas mulai menurun, harga komoditas meningkat, dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sekarang sudah mencapai 18,3 persen di Q1.

Baca Juga :  Sebelas Pasien Covid-19 di Sintang Meninggal

“Dampaknya terhadap ekspor Indonesia sangat bagus dan vaksinasi global sangat progresif,” imbuhnya. Namun, masih ada risiko yang membayangi. Misalnya, meningkatnya kasus harian Covid-19 secara global dan akses vaksinasi yang belum merata. Begitu juga adanya kemungkinan normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat yang lebih cepat serta pemulihan ekonomi global yang tidak merata.

“Dengan kondisi ini, kami tetap optimistis bahwa perkembangan ekonomi Indonesia sudah konsisten dan menunjukkan pemulihan yang sangat solid. Tapi, perlu menghadapi risiko yang masih ada, mengendalikan pandemi, mempercepat recovery, serta memperkuat reform,” paparnya. (sya/jp)

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia tahun ini masih di bawah bayang-bayang dampak pandemi Covid-19. Angkanya di kuartal I 2021 masih melambat sekitar -0,74 persen. Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu secara year-on-year, tahun ini sudah menunjukkan banyak sekali optimisme dan peningkatan dari -2,19 persen menjadi -0,74 persen.

“BPS (Badan Pusat Statistik, Red) sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2021 minus sekitar 0,7 persen,” kata Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Kunta Wibawa Dasa Nugraha dalam
Dialog Produktif Kabar Kamis, Kabar Penyerapan Dana PEN 2021 di saluran YouTube Kemenkominfo, Kamis (6/5).

Kunta menegaskan bahwa seluruh indikator sudah menunjukkan pemulihan. “Kita lihat memang rata-rata negara lain sudah relatif meningkat. Indonesia termasuk yang lebih baik dibanding negara lain,” ujarnya.

Baca Juga :  Loper dan Pengasong Koran Terima Bantuan Xing Fu

Tercatat, konsumsi rumah tangga sudah pulih meski masih terkontraksi -2,23 persen pada kuartal I 2021. Investasi maupun PMTB terus membaik menjadi -0,23 persen dari yang sebelumnya -6,15 persen.

Menurut dia, pemulihan ekonomi di dalam negeri tak lepas dari pemulihan negara- negara di dunia. Beberapa lembaga internasional juga merevisi proyeksi ekonomi ke arah yang lebih baik karena ada optimisme pertumbuhan. IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global sekitar 6 persen; OECD 5,6 persen; dan World Bank sekitar 4 persen.

Dia menyampaikan bahwa perkembangan positif ekonomi global dilihat dari PMI sudah mencapai 55, pasar keuangan stabil, volatilitas mulai menurun, harga komoditas meningkat, dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sekarang sudah mencapai 18,3 persen di Q1.

Baca Juga :  Peduli Kemanusiaan, BTN Salurkan Tiga Unit Ambulan di Kalbar

“Dampaknya terhadap ekspor Indonesia sangat bagus dan vaksinasi global sangat progresif,” imbuhnya. Namun, masih ada risiko yang membayangi. Misalnya, meningkatnya kasus harian Covid-19 secara global dan akses vaksinasi yang belum merata. Begitu juga adanya kemungkinan normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat yang lebih cepat serta pemulihan ekonomi global yang tidak merata.

“Dengan kondisi ini, kami tetap optimistis bahwa perkembangan ekonomi Indonesia sudah konsisten dan menunjukkan pemulihan yang sangat solid. Tapi, perlu menghadapi risiko yang masih ada, mengendalikan pandemi, mempercepat recovery, serta memperkuat reform,” paparnya. (sya/jp)

Most Read

Optimal Berdayakan Potensi Desa

Kemenhub Tembus Target PNBP

Pelatnas Libur, Gabung Pelatda NTB

Artikel Terbaru

/