alexametrics
34 C
Pontianak
Friday, September 30, 2022

77 Tahun Indonesia Merdeka, Sungkung Masih Terkungkung

SUNGKUNG – Pada 17 Agustus tahun ini Indonesia memperingati hari kemerdekaan ke-77. Dengan usia yang lebih dari setengah abad, tentu sudah banyak yang diberikan negara kepada warganya. Pembangunan gedung bertingkat, jalan aspal, jaringan listrik dan telekomunikasi. Namun tidak demikian bagi warga Sungkung, Masyarakat di sana masih terus berjuang dan dipaksa bersabar dengan keterbatasan infrastuktur.

Desa Sungkung adalah sebuah desa terpencil yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Desa ini berada di sekitar 250 km dari Kota Pontianak, ibu kota provinsi.

Secara geografis, Desa Sungkung terbagi menjadi tiga desa, atau biasa yang disebut dengan Sungkung Kompleks. Yakni Sungkung I, Sungkung II dan Sungkung III. Desa ini berada di dataran tinggi, tepatnya di kaki Gunung Sinjakng. Secara keseluruhan, Desa Sungkung dihuni lebih dari 5.000 jiwa. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani atau ladang berpindah.

Untuk ke desa ini, sebenarnya ada tiga rute atau akses yang bisa dilalui. Yaitu melalui Kecamatan Jagoibabang di Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak, dan melalui Kecamatan Entikong di Kabupaten Sanggau.

Meski ada beberapa jalur yang bisa dilalui, namun tidak mudah untuk melalui jalur itu. Masyarakat desa harus melewati jalan rusak, sempit dan beralur menyerupai parit.  Juni 2022 lalu, Pontianak Post berkesempatan mengunjungi Desa Sungkung.

Kami melalui jalur Kecamatan Entikong dengan jalur Desa Suruh Tembawang. Dusun Pool dan Senutul. Warga Sungkung memang banyak menggunakan jalan itu untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka.

Matahari berada tepat di atas kepala saat kami tiba di Desa Suruh Tembawang. Di situ kami bertemu dengan Pak Gak, warga lokal yang kemudian bersedia mengantar kami ke Sungkung.

Beberapa menit meninggalkan tempat itu, kami harus dihadapkan dengan jalan menanjak dengan kemiringan 45 drajat. Parahnya, jalan itu beralur menyerupai parit.

Kondisi ini tentu di luar perkiraan kami. Jalur menuju Sungkung memang rusak. Tapi nyatanya lebih dari yang kami bayangkan. Untuk bisa melewati jalan itu, diperlukan skill atau keahlian berkendara dan tentunya juga dibarengi dengan nyali besar. Selain beralur, jalan itu juga banyak tanjakan dan turunan.

Setelah bersusah payah melewati jalan itu, kami pun tiba di Dusun Pool. Di dusun itu kami menyempatkan singgah, sembari melepas lelah.

Beberapa menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Senutul. Akses jalan antar kampung Pool dan Senutul sedikit lebih baik. Walaupun ada beberapa titik dalam kondisi rusak berlumpur, namun sebagian sudah dibangun rabat beton.

Meski demikian, kami tidak boleh lengah dan tetap berhati-hati. Karena jalan cukup licin. Apalagi ban motor kami dipenuhi lumpur.

Tiba di Dusun Senutul, kami putuskan melanjutkan perjalanan menuju Sungkung. Hari semakin gelap. Langit yang sebelumnya cerah berwana biru tampak diselimuti awan tebal menghitam.

Baca Juga :  Azyumardi Azra Wafat, Indonesia Kehilangan Tokoh Kebangsaan

Jalan Senutul menuju Desa Sungkung jauh lebih berat dibandingkan kondisi jalan sebelumnya. Alur jalan yang dalam dan bertebing membuat kami kesulitan melewatinya. Apalagi motor yang saya kendarai masih standar. Hanya ban saja yang sudah diganti menjadi ban cangkul atau ban trail.

Setiap kali melewati jalan itu, kami harus menaikkan kaki. Menapaki dinding atau tebing jalan. Bisa dibayangkan, betapa repotnya.

Selain alur yang dalam, jalan itu terdapat tanjakan yang tinggi dan panjang. Orang-orang menyebutnya dengan tanjakan Pluntan. Butuh bantuan orang lain untuk bisa melewati tanjakan itu.

Salah satu motor yang kami kendarai mengalami kendala. Mesin motor tiba-tiba mati.  Hari semakin gelap. Kami harus berkejaran dengan waktu. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan motor itu di sana. Jujur, kami sempat putus asa. Ingin rasanya pulang dan tidak melanjutkan perjalanan.

Namun, nasi sudah mejadi bubur. Perjalanan pulang, sama jauhnya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan dua motor yang tersisa. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, kami pun tiba di Dusun Batu Ampar, Desa Sungkung III. Hari sudah hampir gelap saat kami tiba di sana.

Kesulitan Menjual Hasil Bumi

Secara umum, Desa Sungkung tidak jauh berbeda dengan desa-desa di pedalaman Kalimantan Barat lainnya.  Di desa ini, jalan aspal, jaringan telekomunikasi adalah barang mahal yang jadi impian.

Keterbatasan infrastruktur menyulitkan masyarakat desa untuk menjual hasil buminya.  Alis adalah satu di antaranya. Alis merupakan petani lada di warga Dusun Batu Ampar, Desa Sungkung III.

Memang, salah satu komoditas unggulan mereka adalah sahang atau lada. Alis miliki sekitar 500 pohon lada yang ditanam di ladang miliknya. Menurut Alis, selain lada, komoditas lain adalah karet. Hanya saja harga karet anjlok sehingga warga memilih untuk menebang pohon karetnya dan digunakan untuk kayu bakar.

“Di sini karet harganya murah. Satu kilogram dihargai Rp5.000. Sementara ongkos ojek untuk mengangkut karet mencapai Rp4.000 per kilonya,” kata Alis. Sedangkan untuk lada putih, harganya berada di kisaran Rp.60.000 hingga Rp.80.000 per kilogram.

Kendati demikian, warga Dusun Batu Ampar masih kesulitan menjual hasil buminya. Keterbatasan infrastruktur jalan dan akses yang memadai menjadi salah satu faktornya.

“Kalau mau jual sahang ya harus menyewa ojek motor, atau membawa sendiri ke kota. Yang paling dekat ya Entikong atau ke Malaysia lewat jalan tikus,” katanya.

Menurut Alis, itu pun tidak bisa membawa banyak barang. Rata-rata hanya mampu membawa 20-50 kg saja.

Sedangkan untuk menuju kota lain, seperti Jagoibabang, aksesnya masih cukup sulit dan jalannya rusak. Padahal jika melewati jalur Jagoibabang, waktu dan jarak  tempuh bisa dipersingkat. Selain tidak adanya akses jalan, Desa Sungkung III juga masih belum ada jaringan telekomunikasi.

Baca Juga :  MMKSI Perkenalkan Konsep Branding Terbaru untuk Masyarakat Indonesia

Kepala Desa Sungkung III, Sujianto mengatakan, Desa Sungkung belum pernah merasakan pembangunan jalan. Mereka terkungkung dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Menurutnya, akses jalan menuju kota terdekat yakni Jagoibabang, Kabupaten Bengkayang. Hanya saja, sejak dibuka pada tahun 2000an, jalan itu tidak pernah dilewati atau digunakan.

“Dulu pernah dibuka. Tahun 2000-an. Tapi setelah dibuka tidak pernah dilewati karena memang jalannya rusak. Jalan itu baru dibuka kembali tahun 2019 dengan menggunakan bantuan dana desa,” sambungnya.

Meskipun demikian, warga Sungkung, khususnya Sungkung III lebih memilih menggunakan jalan menuju Entikong, Kabupaten Sanggau walaupun jarak tempuhnya lebih jauh.

“Selama ini kami masih lewat Entikong. Saya kalau ada urusan dinas, juga lewat sana meskipun memutar dan jauh,” katanya.

Sujianto mengatakan, keterisoliran Desa Sungkung disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena terbentur status kawasan. Desa Sungkung berada di dalam kawasan Hutan Lindung (HL), sehingga tidak tersentuh pembangunan.

“Jangankan jalan, kami yang berpuluh-puluh tahun tinggal di sini saja tidak memiliki sertifikat hak milik atas tanah pekarangan rumah kami. Padahal kami sudah mengurus TORA (Tanah Obyek Reforma Agraria) sejak tahun 2018. Tapi sampai sekarang belum keluar,” kesalnya.

“Jadi bagaimana kami bisa tersentuh pembangunan, kalau kami tidak dikeluarkan dari kawasan hutan lindung,” sambungnya.

 Selaku kepala desa, Sujianto mengaku sudah bekerja keras untuk membangun desanya. Untuk itu ia meminta pihak pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat untuk mengentaskan Sungkung dari keterisoliran. Hal serupa juga dialami Desa Sungkung lainnya. Desa Sungkung II misalnya.

Agus Heri Kustanto, salah seorang warga Sungkung II mengatakan, selain sulitnya menjual hasil bumi, keterbatasan infrastruktur juga menghambat masyarakat mendapatkan fasilitas kesehatan.

Dikatakan Agus, masalah yang paling krusial adalah saat membawa pasien dari kampung menuju puskesmas di kecamatan atau rumah sakit rujukan di kota.

“Jika ada orang sakit, harus digotong atau dipikul pakai tandu batang bambu dan karung goni. Dengan jarak tempuh sekitar 5-8 jam,” kata dia.

Maka, kata Agus, beberapa di antara warga yang sakit, tidak tertolong dan meninggal dunia dalam perjalanan.

Agus mengakui, sebenarnya Sungkung telah memiliki fasilitas kesehatan seperti Polindes dan Puskesmas Pembantu (Pustu), dengan tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat.

“Namun, jika ada warga yang sakit keras, tetap harus dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit di kota,” bebernya.

Agus mengatakan, jarak antara Desa Sungkung ke kecamatan sebetulnya hanya sekitar 18 Km. Namun, karena tidak adanya jalan yang memadai, masyarakat kesulitan mendapat akses kesehatan.  “Jadi, kami belum sepenuhnya merdeka,” bebernya.

Di momen hari kemerdekaan ke-77 ini, dirinya dan masyarakat Desa Sungkung berharap agar pemerintah provinsi dan pusat menindaklanjuti pembangunan jalan yang sudah dibuka beberapa tahun lalu. Yang saat sekarang belum layak dilewati. (arf)

SUNGKUNG – Pada 17 Agustus tahun ini Indonesia memperingati hari kemerdekaan ke-77. Dengan usia yang lebih dari setengah abad, tentu sudah banyak yang diberikan negara kepada warganya. Pembangunan gedung bertingkat, jalan aspal, jaringan listrik dan telekomunikasi. Namun tidak demikian bagi warga Sungkung, Masyarakat di sana masih terus berjuang dan dipaksa bersabar dengan keterbatasan infrastuktur.

Desa Sungkung adalah sebuah desa terpencil yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Desa ini berada di sekitar 250 km dari Kota Pontianak, ibu kota provinsi.

Secara geografis, Desa Sungkung terbagi menjadi tiga desa, atau biasa yang disebut dengan Sungkung Kompleks. Yakni Sungkung I, Sungkung II dan Sungkung III. Desa ini berada di dataran tinggi, tepatnya di kaki Gunung Sinjakng. Secara keseluruhan, Desa Sungkung dihuni lebih dari 5.000 jiwa. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani atau ladang berpindah.

Untuk ke desa ini, sebenarnya ada tiga rute atau akses yang bisa dilalui. Yaitu melalui Kecamatan Jagoibabang di Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak, dan melalui Kecamatan Entikong di Kabupaten Sanggau.

Meski ada beberapa jalur yang bisa dilalui, namun tidak mudah untuk melalui jalur itu. Masyarakat desa harus melewati jalan rusak, sempit dan beralur menyerupai parit.  Juni 2022 lalu, Pontianak Post berkesempatan mengunjungi Desa Sungkung.

Kami melalui jalur Kecamatan Entikong dengan jalur Desa Suruh Tembawang. Dusun Pool dan Senutul. Warga Sungkung memang banyak menggunakan jalan itu untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka.

Matahari berada tepat di atas kepala saat kami tiba di Desa Suruh Tembawang. Di situ kami bertemu dengan Pak Gak, warga lokal yang kemudian bersedia mengantar kami ke Sungkung.

Beberapa menit meninggalkan tempat itu, kami harus dihadapkan dengan jalan menanjak dengan kemiringan 45 drajat. Parahnya, jalan itu beralur menyerupai parit.

Kondisi ini tentu di luar perkiraan kami. Jalur menuju Sungkung memang rusak. Tapi nyatanya lebih dari yang kami bayangkan. Untuk bisa melewati jalan itu, diperlukan skill atau keahlian berkendara dan tentunya juga dibarengi dengan nyali besar. Selain beralur, jalan itu juga banyak tanjakan dan turunan.

Setelah bersusah payah melewati jalan itu, kami pun tiba di Dusun Pool. Di dusun itu kami menyempatkan singgah, sembari melepas lelah.

Beberapa menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Senutul. Akses jalan antar kampung Pool dan Senutul sedikit lebih baik. Walaupun ada beberapa titik dalam kondisi rusak berlumpur, namun sebagian sudah dibangun rabat beton.

Meski demikian, kami tidak boleh lengah dan tetap berhati-hati. Karena jalan cukup licin. Apalagi ban motor kami dipenuhi lumpur.

Tiba di Dusun Senutul, kami putuskan melanjutkan perjalanan menuju Sungkung. Hari semakin gelap. Langit yang sebelumnya cerah berwana biru tampak diselimuti awan tebal menghitam.

Baca Juga :  Indonesia dan Korea Selatan Saling Dukung Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi

Jalan Senutul menuju Desa Sungkung jauh lebih berat dibandingkan kondisi jalan sebelumnya. Alur jalan yang dalam dan bertebing membuat kami kesulitan melewatinya. Apalagi motor yang saya kendarai masih standar. Hanya ban saja yang sudah diganti menjadi ban cangkul atau ban trail.

Setiap kali melewati jalan itu, kami harus menaikkan kaki. Menapaki dinding atau tebing jalan. Bisa dibayangkan, betapa repotnya.

Selain alur yang dalam, jalan itu terdapat tanjakan yang tinggi dan panjang. Orang-orang menyebutnya dengan tanjakan Pluntan. Butuh bantuan orang lain untuk bisa melewati tanjakan itu.

Salah satu motor yang kami kendarai mengalami kendala. Mesin motor tiba-tiba mati.  Hari semakin gelap. Kami harus berkejaran dengan waktu. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan motor itu di sana. Jujur, kami sempat putus asa. Ingin rasanya pulang dan tidak melanjutkan perjalanan.

Namun, nasi sudah mejadi bubur. Perjalanan pulang, sama jauhnya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan dua motor yang tersisa. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, kami pun tiba di Dusun Batu Ampar, Desa Sungkung III. Hari sudah hampir gelap saat kami tiba di sana.

Kesulitan Menjual Hasil Bumi

Secara umum, Desa Sungkung tidak jauh berbeda dengan desa-desa di pedalaman Kalimantan Barat lainnya.  Di desa ini, jalan aspal, jaringan telekomunikasi adalah barang mahal yang jadi impian.

Keterbatasan infrastruktur menyulitkan masyarakat desa untuk menjual hasil buminya.  Alis adalah satu di antaranya. Alis merupakan petani lada di warga Dusun Batu Ampar, Desa Sungkung III.

Memang, salah satu komoditas unggulan mereka adalah sahang atau lada. Alis miliki sekitar 500 pohon lada yang ditanam di ladang miliknya. Menurut Alis, selain lada, komoditas lain adalah karet. Hanya saja harga karet anjlok sehingga warga memilih untuk menebang pohon karetnya dan digunakan untuk kayu bakar.

“Di sini karet harganya murah. Satu kilogram dihargai Rp5.000. Sementara ongkos ojek untuk mengangkut karet mencapai Rp4.000 per kilonya,” kata Alis. Sedangkan untuk lada putih, harganya berada di kisaran Rp.60.000 hingga Rp.80.000 per kilogram.

Kendati demikian, warga Dusun Batu Ampar masih kesulitan menjual hasil buminya. Keterbatasan infrastruktur jalan dan akses yang memadai menjadi salah satu faktornya.

“Kalau mau jual sahang ya harus menyewa ojek motor, atau membawa sendiri ke kota. Yang paling dekat ya Entikong atau ke Malaysia lewat jalan tikus,” katanya.

Menurut Alis, itu pun tidak bisa membawa banyak barang. Rata-rata hanya mampu membawa 20-50 kg saja.

Sedangkan untuk menuju kota lain, seperti Jagoibabang, aksesnya masih cukup sulit dan jalannya rusak. Padahal jika melewati jalur Jagoibabang, waktu dan jarak  tempuh bisa dipersingkat. Selain tidak adanya akses jalan, Desa Sungkung III juga masih belum ada jaringan telekomunikasi.

Baca Juga :  ODGJ Butuh Perhatian Keluarga, Bukan Diskriminasi

Kepala Desa Sungkung III, Sujianto mengatakan, Desa Sungkung belum pernah merasakan pembangunan jalan. Mereka terkungkung dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Menurutnya, akses jalan menuju kota terdekat yakni Jagoibabang, Kabupaten Bengkayang. Hanya saja, sejak dibuka pada tahun 2000an, jalan itu tidak pernah dilewati atau digunakan.

“Dulu pernah dibuka. Tahun 2000-an. Tapi setelah dibuka tidak pernah dilewati karena memang jalannya rusak. Jalan itu baru dibuka kembali tahun 2019 dengan menggunakan bantuan dana desa,” sambungnya.

Meskipun demikian, warga Sungkung, khususnya Sungkung III lebih memilih menggunakan jalan menuju Entikong, Kabupaten Sanggau walaupun jarak tempuhnya lebih jauh.

“Selama ini kami masih lewat Entikong. Saya kalau ada urusan dinas, juga lewat sana meskipun memutar dan jauh,” katanya.

Sujianto mengatakan, keterisoliran Desa Sungkung disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena terbentur status kawasan. Desa Sungkung berada di dalam kawasan Hutan Lindung (HL), sehingga tidak tersentuh pembangunan.

“Jangankan jalan, kami yang berpuluh-puluh tahun tinggal di sini saja tidak memiliki sertifikat hak milik atas tanah pekarangan rumah kami. Padahal kami sudah mengurus TORA (Tanah Obyek Reforma Agraria) sejak tahun 2018. Tapi sampai sekarang belum keluar,” kesalnya.

“Jadi bagaimana kami bisa tersentuh pembangunan, kalau kami tidak dikeluarkan dari kawasan hutan lindung,” sambungnya.

 Selaku kepala desa, Sujianto mengaku sudah bekerja keras untuk membangun desanya. Untuk itu ia meminta pihak pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat untuk mengentaskan Sungkung dari keterisoliran. Hal serupa juga dialami Desa Sungkung lainnya. Desa Sungkung II misalnya.

Agus Heri Kustanto, salah seorang warga Sungkung II mengatakan, selain sulitnya menjual hasil bumi, keterbatasan infrastruktur juga menghambat masyarakat mendapatkan fasilitas kesehatan.

Dikatakan Agus, masalah yang paling krusial adalah saat membawa pasien dari kampung menuju puskesmas di kecamatan atau rumah sakit rujukan di kota.

“Jika ada orang sakit, harus digotong atau dipikul pakai tandu batang bambu dan karung goni. Dengan jarak tempuh sekitar 5-8 jam,” kata dia.

Maka, kata Agus, beberapa di antara warga yang sakit, tidak tertolong dan meninggal dunia dalam perjalanan.

Agus mengakui, sebenarnya Sungkung telah memiliki fasilitas kesehatan seperti Polindes dan Puskesmas Pembantu (Pustu), dengan tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat.

“Namun, jika ada warga yang sakit keras, tetap harus dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit di kota,” bebernya.

Agus mengatakan, jarak antara Desa Sungkung ke kecamatan sebetulnya hanya sekitar 18 Km. Namun, karena tidak adanya jalan yang memadai, masyarakat kesulitan mendapat akses kesehatan.  “Jadi, kami belum sepenuhnya merdeka,” bebernya.

Di momen hari kemerdekaan ke-77 ini, dirinya dan masyarakat Desa Sungkung berharap agar pemerintah provinsi dan pusat menindaklanjuti pembangunan jalan yang sudah dibuka beberapa tahun lalu. Yang saat sekarang belum layak dilewati. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/