alexametrics
26 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Gojek dan Jalan Tengah Pandemi: Peduli Kesehatan Hingga Bantu UMKM Bertahan

KEHILANGAN pekerjaan, pengurangan jam kerja dan pemotongan upah menjadi hal lumrah pada masa pandemi Covid-19. Namun tak sedikit yang bangkit lewat berjualan makanan secara online dengan memanfaatkan fitur GoFood di aplikasi Gojek.

Salah satunya, Yoshua yang berhenti sebagai karyawan bagian dapur sebuah hotel bintang empat di Pontianak pada Agustus tahun lalu. Berbekal pengalaman membuat roti mantau di hotel dan uang seadanya, dia pun berjualan camilan ini secara daring.

Dengan merek Mantau Bang Jo, usahanya dimulai dari rumah. Dia menyediakan dua pilihan mantau, yaitu goreng dan kukus. Sementara untuk isinya dia memberikan pilihan daging ayam kungpao dan daging sapi kungpao. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Dengan membayar Rp70 ribu, pembeli akan mendapatkan paket berisi lima mantau lengkap dengan isinya.

Lewat penawaran di Gojek, dibantu promosi di Instagram, Facebook dan WhatsApp usahanya membuahkan hasil. Omzetnya terus meningkat. “Bisa lebih dari satu juta rupiah per hari bila akhir pekan. Sementara pada hari normal berkisaran minimal Rp300-400 ribuan,” kata pria 23 tahun ini.

Dalam tempo sebulan dia mampu menyewa lapak di tepian Jalan Gajah Mada. “Sekarang yang beli di stand dan pesan online sama banyaknya. Satu hari minimal bisa belasan paket yang terjual. Kalau PPKM Darurat dan Level 4 kemarin bahkan hampir seluruhnya terjual lewat GoFood,” sebutnya.

Sama halnya dengan Muslim Minhard. Dia memang tidak kehilangan pekerjaan. Namun kantor tempatnya bekerja memberlakukan pengurangan jam kerja. Waktu kosong dimanfaatkannya untuk mengembangkan warung ayam bakar Akar Raka miliknya di Jalan Danau Sentarum, Pontianak. Salah satunya dengan menggencarkan penjualan lewat GoFood. Produksi dan pengiriman dipindah ke rumahnya.

DIVERSIFIKASI: Mendapat pengurangan jam kerja dari kantornya akibat krisis Covid-19, Muslim Minhard jadi punya banyak waktu luang mengembangkan usaha kuliner-nya. Berbagai produk baru telah dia luncurkan. (Aristono/Pontianak Post)

Dia juga menerapkan saran dari berbagai pelatihan Gojek untuk mengembangkan usahanya. Misalnya dengan aktif berpromosi di media sosial. Selain itu Muslim juga mendiversifikasi produknya, dengan nama-nama kekinian. “Saya sekarang punya tiga lapak di GoFood. Selain Akar Raka ada MiLopYu  yaitu bakmi dengan berbagai toping. Lalu ada Nasi Kuboy, semacam rice bowl tetapi harganya Rp10.000 per porsi dengan lauk telur ceplok,” sebut dia.

Baca Juga :  Penyakit IMS Sifilis Hantui Kaum Pria, Kenali Gejalanya

“Ketika diumumkan PPKM Darurat kami memilih tutup. Satu-satunya cara untuk menjaga pemasukan adalah dengan berjualan online, terutama lewat GoFood. Bahkan omzet saya sekarang sedikit lebih besar dibanding sebelum pandemi. Ini karena saya punya banyak jenis menu,” jelas dia.

Tak terkecuali brand kopi ternama di Kalimantan Barat, Aming Coffee. Di tengah wabah Covid-19 yang melanda harus rela menutup beberapa cabangnya untuk tempat nongkrong, terutama saat pembatasan sosial ketat pada Juli-Agustus lalu. Namun untungnya warung kopi yang berdiri sejak 1970 dan kini punya 11 cabang ini punya pilihan berjualan take away dan berjualan secara online melalui GoFood.

SOLUSI: GoFood menjadi andalan brand kopi ternama asal Pontianak Aming Coffee saat kebijakan PSBB hingga PPKM pada masa pandemi ini diterapkan. (Istimewa)

Kendati hanya melayani pembelian online, di tengah masa sulit ini manajemen Aming Coffee tetap memperhatikan protokol kesehatan. Di setiap kafe atau kedai, mitra driver Gojek disediakan hands sanitizer tempat cuci tangan. “Kami juga mengimbau karyawannya untuk jaga jarak dan memperhatikan kebersihan makanan serta layanan,” imbuhnya.

Konsumen Merasa Aman dan Nyaman

Cara masyarakat mengkonsumsi makanan berubah secara dramatis sejak pandemi Covid-19 melanda. Hadirnya aplikasi Gojek dengan berbagai fitur, begitu banyaknya mitra GoFood, jaringan pengemudi yang luas dan ramah memang telah ada sebelum pandemi. Namun pembatasan sosial dari pemerintah serta motivasi menjaga kesehatan keluarga, membuat kebiasaan memesan makanan dan belanja lain lewat Gojek kian ramai.

Betty Sihombing misalnya. Karyawati asal Pontianak ini memilih untuk bekuliner ria lewat GoFood saat PPKM Darurat dan level 4. Selain lebih memang tempat-tempat kuliner favoritnya tutup atau tak menerima makan di tempat, faktor menjaga kesehatan jadi pertimbangan utama. “Sebenarnya saya sudah biasa memesan makanan, bayar tagihan atau belanja kebutuhan lewat GoMart. Tetapi Juli-Agustus GoFood benar-benar jadi penyelamat, karena kasus Covid tinggi sekali,” sebut ibu satu anak ini.

Baca Juga :  Dari Ngaji on the Bus sampai Agrowisata Buah

Apalagi, kata dia driver Gojek selalu mengutamakan protokol kesehatan. Jangankan menjaga jarak, bahkan tatap muka sebisa mungkin dihindari. “Driver Gojek selalu chat atau telepon, apakah pesanan saya mau ditaruh di pagar atau depan pintu saja. Ini yang membuat merasa saya aman dan nyaman bertransaksi di Gojek,” ucap perempuan 31 tahun ini.

Bantu Adaptasi Digital

Sejak pandemi melanda, Gojek memang telah menelurkan serangkaian solusi digital yang memudahkan UMKM bermigrasi ke bisnis online. Hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebut sebanyak 92% UMKM merasa lebih cepat beradaptasi di masa pandemi dengan bergabung di platform ini. Gojek sendiri merancang berbagai tools untuk menjawab kebutuhan UMKM dari hulu ke hilir.

KERJASAMA: GoJek bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk menyediakan layanan PeduliLindungi di aplikasi tersebut. (Istimewa)

Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo dalam siaran pers, Senin (18/10/2021) menyebut sebanyak 42% UMKM telah beralih ke platform digital selama pandemi. Di masa ini, GoFood berhasil merangkul sebanyak lebih dari 250 ribu pebisnis kuliner. Sebanyak 43% UMKM mitra yang masuk sendiri dalam kategori pengusaha pemula. Pihaknya juga terus meningkat keterampilan para mitra GoFood.

Sementara pada sisi kesehatan, untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengendalikan Covid-19, Gojek dan Tokopedia (GoTo) berkolaborasi dengan Kemenkes menghadirkan fitur PeduliLindungi di kedua aplikasi ini. Kini masyarakat dapat lebih mudah menerapkan protokol kesehatan ketika berkunjung ke lebih dari 10.000 fasilitas umum di berbagai kota di Indonesia dengan mengakses layanan ini melalui Gojek dan Tokopedia. (ARISTONO)

KEHILANGAN pekerjaan, pengurangan jam kerja dan pemotongan upah menjadi hal lumrah pada masa pandemi Covid-19. Namun tak sedikit yang bangkit lewat berjualan makanan secara online dengan memanfaatkan fitur GoFood di aplikasi Gojek.

Salah satunya, Yoshua yang berhenti sebagai karyawan bagian dapur sebuah hotel bintang empat di Pontianak pada Agustus tahun lalu. Berbekal pengalaman membuat roti mantau di hotel dan uang seadanya, dia pun berjualan camilan ini secara daring.

Dengan merek Mantau Bang Jo, usahanya dimulai dari rumah. Dia menyediakan dua pilihan mantau, yaitu goreng dan kukus. Sementara untuk isinya dia memberikan pilihan daging ayam kungpao dan daging sapi kungpao. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Dengan membayar Rp70 ribu, pembeli akan mendapatkan paket berisi lima mantau lengkap dengan isinya.

Lewat penawaran di Gojek, dibantu promosi di Instagram, Facebook dan WhatsApp usahanya membuahkan hasil. Omzetnya terus meningkat. “Bisa lebih dari satu juta rupiah per hari bila akhir pekan. Sementara pada hari normal berkisaran minimal Rp300-400 ribuan,” kata pria 23 tahun ini.

Dalam tempo sebulan dia mampu menyewa lapak di tepian Jalan Gajah Mada. “Sekarang yang beli di stand dan pesan online sama banyaknya. Satu hari minimal bisa belasan paket yang terjual. Kalau PPKM Darurat dan Level 4 kemarin bahkan hampir seluruhnya terjual lewat GoFood,” sebutnya.

Sama halnya dengan Muslim Minhard. Dia memang tidak kehilangan pekerjaan. Namun kantor tempatnya bekerja memberlakukan pengurangan jam kerja. Waktu kosong dimanfaatkannya untuk mengembangkan warung ayam bakar Akar Raka miliknya di Jalan Danau Sentarum, Pontianak. Salah satunya dengan menggencarkan penjualan lewat GoFood. Produksi dan pengiriman dipindah ke rumahnya.

DIVERSIFIKASI: Mendapat pengurangan jam kerja dari kantornya akibat krisis Covid-19, Muslim Minhard jadi punya banyak waktu luang mengembangkan usaha kuliner-nya. Berbagai produk baru telah dia luncurkan. (Aristono/Pontianak Post)

Dia juga menerapkan saran dari berbagai pelatihan Gojek untuk mengembangkan usahanya. Misalnya dengan aktif berpromosi di media sosial. Selain itu Muslim juga mendiversifikasi produknya, dengan nama-nama kekinian. “Saya sekarang punya tiga lapak di GoFood. Selain Akar Raka ada MiLopYu  yaitu bakmi dengan berbagai toping. Lalu ada Nasi Kuboy, semacam rice bowl tetapi harganya Rp10.000 per porsi dengan lauk telur ceplok,” sebut dia.

Baca Juga :  Hubungkan Nelayan dan UMKM dengan Konsumen Akhir

“Ketika diumumkan PPKM Darurat kami memilih tutup. Satu-satunya cara untuk menjaga pemasukan adalah dengan berjualan online, terutama lewat GoFood. Bahkan omzet saya sekarang sedikit lebih besar dibanding sebelum pandemi. Ini karena saya punya banyak jenis menu,” jelas dia.

Tak terkecuali brand kopi ternama di Kalimantan Barat, Aming Coffee. Di tengah wabah Covid-19 yang melanda harus rela menutup beberapa cabangnya untuk tempat nongkrong, terutama saat pembatasan sosial ketat pada Juli-Agustus lalu. Namun untungnya warung kopi yang berdiri sejak 1970 dan kini punya 11 cabang ini punya pilihan berjualan take away dan berjualan secara online melalui GoFood.

SOLUSI: GoFood menjadi andalan brand kopi ternama asal Pontianak Aming Coffee saat kebijakan PSBB hingga PPKM pada masa pandemi ini diterapkan. (Istimewa)

Kendati hanya melayani pembelian online, di tengah masa sulit ini manajemen Aming Coffee tetap memperhatikan protokol kesehatan. Di setiap kafe atau kedai, mitra driver Gojek disediakan hands sanitizer tempat cuci tangan. “Kami juga mengimbau karyawannya untuk jaga jarak dan memperhatikan kebersihan makanan serta layanan,” imbuhnya.

Konsumen Merasa Aman dan Nyaman

Cara masyarakat mengkonsumsi makanan berubah secara dramatis sejak pandemi Covid-19 melanda. Hadirnya aplikasi Gojek dengan berbagai fitur, begitu banyaknya mitra GoFood, jaringan pengemudi yang luas dan ramah memang telah ada sebelum pandemi. Namun pembatasan sosial dari pemerintah serta motivasi menjaga kesehatan keluarga, membuat kebiasaan memesan makanan dan belanja lain lewat Gojek kian ramai.

Betty Sihombing misalnya. Karyawati asal Pontianak ini memilih untuk bekuliner ria lewat GoFood saat PPKM Darurat dan level 4. Selain lebih memang tempat-tempat kuliner favoritnya tutup atau tak menerima makan di tempat, faktor menjaga kesehatan jadi pertimbangan utama. “Sebenarnya saya sudah biasa memesan makanan, bayar tagihan atau belanja kebutuhan lewat GoMart. Tetapi Juli-Agustus GoFood benar-benar jadi penyelamat, karena kasus Covid tinggi sekali,” sebut ibu satu anak ini.

Baca Juga :  Penyakit IMS Sifilis Hantui Kaum Pria, Kenali Gejalanya

Apalagi, kata dia driver Gojek selalu mengutamakan protokol kesehatan. Jangankan menjaga jarak, bahkan tatap muka sebisa mungkin dihindari. “Driver Gojek selalu chat atau telepon, apakah pesanan saya mau ditaruh di pagar atau depan pintu saja. Ini yang membuat merasa saya aman dan nyaman bertransaksi di Gojek,” ucap perempuan 31 tahun ini.

Bantu Adaptasi Digital

Sejak pandemi melanda, Gojek memang telah menelurkan serangkaian solusi digital yang memudahkan UMKM bermigrasi ke bisnis online. Hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebut sebanyak 92% UMKM merasa lebih cepat beradaptasi di masa pandemi dengan bergabung di platform ini. Gojek sendiri merancang berbagai tools untuk menjawab kebutuhan UMKM dari hulu ke hilir.

KERJASAMA: GoJek bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk menyediakan layanan PeduliLindungi di aplikasi tersebut. (Istimewa)

Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo dalam siaran pers, Senin (18/10/2021) menyebut sebanyak 42% UMKM telah beralih ke platform digital selama pandemi. Di masa ini, GoFood berhasil merangkul sebanyak lebih dari 250 ribu pebisnis kuliner. Sebanyak 43% UMKM mitra yang masuk sendiri dalam kategori pengusaha pemula. Pihaknya juga terus meningkat keterampilan para mitra GoFood.

Sementara pada sisi kesehatan, untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengendalikan Covid-19, Gojek dan Tokopedia (GoTo) berkolaborasi dengan Kemenkes menghadirkan fitur PeduliLindungi di kedua aplikasi ini. Kini masyarakat dapat lebih mudah menerapkan protokol kesehatan ketika berkunjung ke lebih dari 10.000 fasilitas umum di berbagai kota di Indonesia dengan mengakses layanan ini melalui Gojek dan Tokopedia. (ARISTONO)

Most Read

Artikel Terbaru

/