alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Rumah Sakit Untan Tutup Selama Dua Minggu

Beberapa Petugas Lab Positif Covid-19, Kapasitas Pemeriksaan Berkurang

PONTIANAK – Manajemen Rumah Sakit (RS) Universitas Tanjungpura (Untan) menghentikan sementara pelayanan di RS tersebut setelah adanya tenaga medis di rumah sakit tersebut yang terpapar Covid-19. Penutupan berlangusung mulai Minggu (18/10) kemarin hingga 1 November 2020 mendatang.

Rektor Untan Garuda Wiko mengungkapkan, penutupan sementara RS tersebut dalam rangka pengamanan. Seperti diketahui pada Sabtu (17/10), seorang perawat yang bertugas di ruang ICU RS tersebut meninggal dunia setelah sebelumnya dinyatakan kasus konfirmasi (positif) Covid-19. “Kami atas nama Untan menyampaikan duka cita mendalam atas tenaga kesehatan yang meninggal dunia,” ungkapnya kepada media, Minggu (18/10).

Selama penutupan sementara ini, akan dilakukan beberapa hal dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di kawasan RS tersebut. Pertama, bakal dilakukan sterilisasi terhadap seluruh ruangan di RS. Meski demikian, pasien yang sebelumnya sudah diopname tetap akan dirawat dengan protokol yang ketat.

Kedua, pihaknya melakukan penelusuran kontak terhadap siapa saja yang sebelumnya pernah berinteraksi dengan tenaga kesehatan (nakes) yang dinyatakan positif Covid-19. Dan jika sudah ada yang menunjukkan gejala maka segera akan ditangani sesuai prosedur yang berlaku.

Garuda Wiko mengatakan, tindakan ini diambil juga untuk melindungi mayarakat yang biasanya menggunakan pelayanan dari RS Untan. “Jadi harus cepat kami ambil tindakan. Karena yang kemarin terkonfirmasi (Covid-19) itukan tenaga kesehatan, jadi kami harus sangat berhati-hati. Untuk melindungi semua,” katanya.

Baca Juga :  Cegah Lonjakan Kasus Covid-19, Pemerintah Berlakukan PPKM Jelang Akhir Tahun

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson menambahkan, penutupan layanan RS Untan selama hampir dua minggu memang dikarenakan ada nakes yang positif Covid-19. Meski demikian ia berharap penutupan ini tidak terlalu lama karena memang masih banyak masyarakat yang membutuhkan pelayanan di RS tersebut.

“Dan saya juga meminta agar pelaksanaan disinfeksi terhadap ruangan di RS itu dapat dilakukan sesegera mungkin dan secepat mungkin. Bila perlu meminta bantuan Dinas Kesehatan agar RS itu dapat segera berfungsi kembali,” ungkapnya.

Selain itu, pihak RS Untan juga diharapkan bisa melakukan evaluasi atau audit terhadap program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di lingkungan RS tersebut. Baik kepada seluruh petugas RS maupun kepada pasien atau pengunjung. Pelaksanaan evaluasi ini diminta dilaksanakan secermat dan sesegera mungkin sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama.

“Sementara untuk nakes yang berkurang karena ada beberapa petugas kesehatan yang terpapar Covd-19, agar RS Untan melakukan perekrutan atau memanfaatkan tenaga relawan sementara menunggu selesainya isolasi petugas kesehatan yang sedang terpapar Covid-19,” ujarnya.

Kondisi saat ini pelayanan RS memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi kasus Covid-19 sedang meningkat dan banyak pasien yang harus dirawat di RS. Oleh sebab itu jika ada RS yang menutup pelayanannya otomatis dapat mengurangi akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  Nama Pelabuhan Internasional Tanjungpura Dirasa Sudah Tepat

“Jadi saya berharap RS Untan dapat sesegera mungkin aktif kembali, tidak usah terlalu lama dalam melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terpaparnya kembali petugas RS Untan terhadap Covid-19 ini,” paparnya.

Mengenai aktivitas laboratorium RT-PCR untuk pemeriksaan Covid-19 yang memang ada di RS Untan, Harisson memastikan tetap ada aktivitas pemeriksaan. Hanya saja kapasitas pemeriksaannya diperkirakan akan sedikit berkurang. Itu karena ada beberapa petugas laboratorium yang juga dinyatakan positif Covid-19.

“Tapi ini tidak akan berlangsung lama karena segera akan diaktifkan kembali petugas pendukung yang lain,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut Harisson juga mengumumkan perkembangan kasus Covid-19 di provinsi ini. Di mana ada 15 kasus konfirmasi (positif) Covid-19 baru, tiga pasien sembuh dan satu orang meninggal dunia.

Adapun tambahan 15 kasus positif Covid-19 terdiri dari 13 orang warga Kota Pontianak dan dua orang warga Kabupaten Kubu Raya. Sementara tiga pasien positif Covid-19 yang sembuh, semuanya merupakan warga Kota Pontianak. Dan satu pasien meninggal dunia juga merupakan warga Kota Pontianak.

“Dengan demikian sampai 18 Oktober 2020, terdapat 1.428 kasus positif Covid-19 di Kalbar, dimana 1.227 di antaranya atau 85,92 persen telah dinyatakan sembuh dan 10 orang meninggal dunia,” pungkasnya. (*)

Editor: Heriyanto

Reporter: Idil Aqsa Akbary

Beberapa Petugas Lab Positif Covid-19, Kapasitas Pemeriksaan Berkurang

PONTIANAK – Manajemen Rumah Sakit (RS) Universitas Tanjungpura (Untan) menghentikan sementara pelayanan di RS tersebut setelah adanya tenaga medis di rumah sakit tersebut yang terpapar Covid-19. Penutupan berlangusung mulai Minggu (18/10) kemarin hingga 1 November 2020 mendatang.

Rektor Untan Garuda Wiko mengungkapkan, penutupan sementara RS tersebut dalam rangka pengamanan. Seperti diketahui pada Sabtu (17/10), seorang perawat yang bertugas di ruang ICU RS tersebut meninggal dunia setelah sebelumnya dinyatakan kasus konfirmasi (positif) Covid-19. “Kami atas nama Untan menyampaikan duka cita mendalam atas tenaga kesehatan yang meninggal dunia,” ungkapnya kepada media, Minggu (18/10).

Selama penutupan sementara ini, akan dilakukan beberapa hal dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di kawasan RS tersebut. Pertama, bakal dilakukan sterilisasi terhadap seluruh ruangan di RS. Meski demikian, pasien yang sebelumnya sudah diopname tetap akan dirawat dengan protokol yang ketat.

Kedua, pihaknya melakukan penelusuran kontak terhadap siapa saja yang sebelumnya pernah berinteraksi dengan tenaga kesehatan (nakes) yang dinyatakan positif Covid-19. Dan jika sudah ada yang menunjukkan gejala maka segera akan ditangani sesuai prosedur yang berlaku.

Garuda Wiko mengatakan, tindakan ini diambil juga untuk melindungi mayarakat yang biasanya menggunakan pelayanan dari RS Untan. “Jadi harus cepat kami ambil tindakan. Karena yang kemarin terkonfirmasi (Covid-19) itukan tenaga kesehatan, jadi kami harus sangat berhati-hati. Untuk melindungi semua,” katanya.

Baca Juga :  Korban Pembunuhan di Bogor adalah Bendahara KONI Kayong Utara

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson menambahkan, penutupan layanan RS Untan selama hampir dua minggu memang dikarenakan ada nakes yang positif Covid-19. Meski demikian ia berharap penutupan ini tidak terlalu lama karena memang masih banyak masyarakat yang membutuhkan pelayanan di RS tersebut.

“Dan saya juga meminta agar pelaksanaan disinfeksi terhadap ruangan di RS itu dapat dilakukan sesegera mungkin dan secepat mungkin. Bila perlu meminta bantuan Dinas Kesehatan agar RS itu dapat segera berfungsi kembali,” ungkapnya.

Selain itu, pihak RS Untan juga diharapkan bisa melakukan evaluasi atau audit terhadap program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di lingkungan RS tersebut. Baik kepada seluruh petugas RS maupun kepada pasien atau pengunjung. Pelaksanaan evaluasi ini diminta dilaksanakan secermat dan sesegera mungkin sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama.

“Sementara untuk nakes yang berkurang karena ada beberapa petugas kesehatan yang terpapar Covd-19, agar RS Untan melakukan perekrutan atau memanfaatkan tenaga relawan sementara menunggu selesainya isolasi petugas kesehatan yang sedang terpapar Covid-19,” ujarnya.

Kondisi saat ini pelayanan RS memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi kasus Covid-19 sedang meningkat dan banyak pasien yang harus dirawat di RS. Oleh sebab itu jika ada RS yang menutup pelayanannya otomatis dapat mengurangi akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  Tak Terindikasi Akibatkan Pembekuan Darah

“Jadi saya berharap RS Untan dapat sesegera mungkin aktif kembali, tidak usah terlalu lama dalam melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terpaparnya kembali petugas RS Untan terhadap Covid-19 ini,” paparnya.

Mengenai aktivitas laboratorium RT-PCR untuk pemeriksaan Covid-19 yang memang ada di RS Untan, Harisson memastikan tetap ada aktivitas pemeriksaan. Hanya saja kapasitas pemeriksaannya diperkirakan akan sedikit berkurang. Itu karena ada beberapa petugas laboratorium yang juga dinyatakan positif Covid-19.

“Tapi ini tidak akan berlangsung lama karena segera akan diaktifkan kembali petugas pendukung yang lain,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut Harisson juga mengumumkan perkembangan kasus Covid-19 di provinsi ini. Di mana ada 15 kasus konfirmasi (positif) Covid-19 baru, tiga pasien sembuh dan satu orang meninggal dunia.

Adapun tambahan 15 kasus positif Covid-19 terdiri dari 13 orang warga Kota Pontianak dan dua orang warga Kabupaten Kubu Raya. Sementara tiga pasien positif Covid-19 yang sembuh, semuanya merupakan warga Kota Pontianak. Dan satu pasien meninggal dunia juga merupakan warga Kota Pontianak.

“Dengan demikian sampai 18 Oktober 2020, terdapat 1.428 kasus positif Covid-19 di Kalbar, dimana 1.227 di antaranya atau 85,92 persen telah dinyatakan sembuh dan 10 orang meninggal dunia,” pungkasnya. (*)

Editor: Heriyanto

Reporter: Idil Aqsa Akbary

Most Read

Artikel Terbaru

/