alexametrics
27 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Memitigasi Maraknya Prostitusi Anak

Oleh: Y Priyono Pasti

PADA Kamis (3/12/20),  Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar bersama Polsek Pontianak Selatan menemukan aktivitas prostitusi online yang melibatkan anak remaja. Dalam temuan itu terdapat empat anak perempuan berinisial D (16), E (17), S (16), dan N (17) serta dua anak laki-laki berinisial A (16) dan S (16) diamankan lantaran menggunakan narkoba.

Pada Selasa (8/12/20), KPPAD Kalbar kembali mengamankan 28 anak remaja yang diduga terlibat prostitusi online. Ke-28 anak remaja itu (17 laki-laki dan 11 perempuan) diamankan dari salah satu hotel di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Pontianak Tenggara. Saat penggeledahan, ditemukan alat kontrasepsi dan obat di dalam kamar.

Penangkapan 4 dan 28 anak remaja di bawah umur di sebuah hotel di Pontianak, pada Kamis (3/12/20) dan Selasa (8/12/20) tersebut menegaskan bahwa prostitusi tidak pernah mati. Sebaliknya, kasus prostitusi kian marak terjadi belakangan ini.

Bagaimana kita menyikapi dan memitigasi fenomena sosial yang jauh dari keadaban publik ini? Dalam konteks remaja, sebagai generasi peradaban yang akan memegang dan meneruskan tongkat estafet negeri ini, upaya apa yang mesti kita lakukan agar mereka tidak terpapar prostitusi online?

Industri prostitusi dan pornografi di negeri ini kian marak. Keberadaannya tidak saja semakin meresahkan, tapi juga sudah sampai pada taraf yang sangat memprihatinkan. Kini, prostitusi sudah berubah trennya. Prostitusi bukan lagi merujuk pada masalah ekonomi semata, tapi menjadi gaya hidup yang memaksa seseorang untuk memenuhi keinginan bukan kebutuhan hidupnya (lih. Khofifah Indar Parawangsa, 2015).

Kini, industri prostitusi dan pornografi semakin canggih. Medianya pun taklagi konvensional, melainkan media online. Parahnya lagi, praktik bisnis seks online ini telah merambah anak remaja. Praktik prostitusi online  (menyebut salah satu contoh) yang dijalankan di kompleks apartemen Kalibata City, Kalibata, Jakarta Selatan yang diungkap Tim Reserse Anak dan Wanita Kepolisian Metro Jakarta Raya beberapa waktu yang lalu membuktikan bahwa prostitusi online melibatkan anak di bawah umur (Koran Tempo, 26/4/2015).

Kejahatan Mengerikan

Prostitusi online  yang semakin marak dan beragam modusnya ini, diyakini berpotensi menjadi salah satu kejahatan baru yang sangat mengerikan. Apalagi bagi kaum remaja yang belum menyadari bahaya situs-situs terlarang tersebut. Di Indonesia, pengguna internet aktif pada 2019 terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun.

Sebagaimana rilis resmi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) hingga <ei 2019 pengguna internet terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun. Sementara itu, pengguna terbanyak kedua berada pada umur 20 hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga 9 tahun pun menggunakan internet bahkan mencapai 25,2 persen dari keseluruhan sampel yang berada pada kelompok umur tersebut.

Baca Juga :  Mendongkrak Realisasi Belanja Penanganan Covid-19 di Kalimantan Barat

Menyikapi hal itu, seluruh komponen bangsa yang peduli pada nasib generasi peradaban ini harus bisa saling bersinergi untuk menangani masalah yang sangat krusial ini. Kini, saatnya, kita menabuh gendering perang terhadap kejahatan prostitusi online ini.

Untuk itu, semua pihak (lebih-lebih orang tua/keluarga) harus menaruh perhatian serius terhadap berbagai aspek kehidupan anak-anaknya agar mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan yang berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan negaranya.Tugas mulia keluarga ini mesti senantiasa dilakukan dan diinternalisasikan melalui edukasi-komunikasi yang sehat dan intensif. Komunikasi cultural keluarga mutlak dilakukan.

Keluarga yang memiliki budaya komunikasi yang baik, akan mampu menciptakan kondisi yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya kecerdasan anak-anak, mekarnya sikap afektif, dan lahirnya pribadi-pribadi tangguh yang dapat bertahan terhadap pengaruh-pengaruh negative yang kuat, baik dari teman sebaya maupun dari peradaban dan masyarakat sendiri.

Keluarga harus berinteraksi-berkomunikasi secara positif dengan cara merespon perilaku anak-anak sejak kecil secara kultural. Dengan cara ini, anak merasa apa yang diucapkan, dipikirkan, dan diangan-angankan dalam proses komunikasi verbal dengan keluarga/orangtua akan merupakan pengalaman yang positif baginya (lih. Suyanto, 2000). Pengalaman-pengalaman positif ini nantinya akan bermanfaat bagi proses berpikir, bertindak, dan pembentukan persepsi anak sewaktu mereka menghadapi situasi lain dalam kehidupannya.

Proses komunikasi yang interaktif-edukatif secara kultural akan menentukan keberhasilan proses sosialisasi anak. Proses sosialisasi ini sangat penting karena dalam proses itu akan terjadi transfer sistem nilai positif kepada anak.

Di jagat pendidikan, salah satu hal yang mesti dilakukan adalah penguatan Pendidikan Nilai untuk membentuk watak atau karakter siswa. Di tengah arus besar dan konstelasi global yang sudah demikian kompetitif saat ini, para siswa kita harus berpikir dan memiliki tata nilai yang kuat/tangguh. Agar para siswa kita tidak ternistakan dalam gelombang mondial globalisasi yang telah menjadi keniscayaan itu, diantaranya makin maraknya bisnis prostitusi online belakangan ini, pendidikan nilai untuk membangun watak atau karakter siswa menjadi kuncinya.

Pendidikan nilai yang bisa melahirkan insan-insan (Indonesia) berkarakter adalah pilihan mutlak. Untuk mendidik siswa/anak menjadi manusia berkarakter-berpribadi, keprihatinan dan komitmen sekolah (dengan segala unsurnya) dan orang tua terhadap kemanusiaan mesti menjadi perhatian utama.

Nilai-nilai luhur macam: kebenaran, keadilan, kepekaan, kedamaian, pengorbanan, kesabaran, kebebasan, kejujuran dan hati nurani, disiplin, harapan dan kasih, tanggung jawab, serta norma-norma dan prinsip-prinsip hidup yang baik harus dikedepankan. Harapannya, melalui pendidikan nilai yang utuh akan lahir siswa-siswa/anak-anak bangsa yang berkarakter-berwatak-berohani-berintegritas-berpribadi tangguh.

Agar penanaman (internalisasi) pendidikan nilai itu berjalan sangkil dan mangkus, pendidikan nilai seyogyanya diberikan dalam suasana yang demokratis, tidak dalam bentuk indoktrinasi. Kirschenbaum (1995 dalam Zuchdi, 1999) menyarankan penerapan pendidikan nilai secara komprehensif, yaitu meliputi inkulkasi (inculcation), pemodelan (modeling), fasilitasi (facilitation), dan pengembangan ketrampilan (skill building). Internalisasi pendidikan nilai tidak hanya mensyaratkan pemahaman (yang memadai), lebih dari itu, ia menuntut kemampuan dan ketetapan hati untuk memilih dan mengamalkannya secara konsisten.

Baca Juga :  Zakat Maal (Harta)

Hal lain yang sangat mendesak dilakukan untuk mengantisipasi dan meredusir cengkraman gurita bisnis prostitusi ini adalah pemberitaan melalui media massa (baik cetak maupun elektronik) yang mengupas tuntas bahwa prostitusi online yang mengumbar kegilaan akan libiditas manusia modern yang cenderung mengejar sifat-sifat hewani semata merupakan obyek yang amat sangat penting untuk ditinggalkan oleh pencari kesenangan semu tersebut.

Seks sesungguhnya merupakan sebuah kekuatan hidup serta impulse yang kohesif dari setiap orang yang akan memengaruhi karakternya. Jika seks itu direndahkan dan dirusak lewat bisnis prostitusi online seperti halnya yang sedang terjadi belakangan ini, maka kualitas hidup kita sebagai manusia akan menjadi berkurang dan struktur masyarakat kita akan mengalami deteriorasi mental (bdg. Dharmo Budi Suseno, 2006).

Dari aspek yuridis formal, Undang-Undang (UU) Pornografi dan Pornoaksi yang dapat diyakini sebagai upaya antisipatif terhadap segala bentuk pelanggaran susila dan membendung arus global yang cenderung tak kenal kompromi, mutlak diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen serta dikuatkan keberadaannya.

Pembangunan budaya perlawanan dengan memunculkan budaya lokal yang mengakar pada nilai-nilai religi, kesadaran kolektif masyarakat untuk “melakukan sensor sendiri” baik secara individu maupun kolektif sungguh sangat mendesak dan mutlak untuk direalisasikan. Diantaranya dengan cara mengatakan “NO” pada prostitusi online dengan segala macam bentuknya itu.

Catatan Penutup

Menyelamatkan anak-anak dan para remaja, generasi peradaban negeri ini dari bahaya prostitusi (online) adalah tanggung jawab kita bersama. Mari semua komponen bangsa negeri ini saling bersinergi membebaskan generasi muda Indonesia dari bahaya prostitusi yang kian marak belakangan ini. Mari kita bangun komitmen yang kuat untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, unggul, disiplin, bertanggung jawab, bermoral, dan bermartabat.

Mudah-mudahan melalui komunikasi cultural keluarga yang sehat dan intensif, pendidikan nilai yang komprehensif, sistematik, berkesinambungan, dan holistik, pemberitaan media massa  yang komprehensif akan pentingnya meninggalkan prostitusi online, penerapan dan penguatan UU Pornografi dan Pornoaksi serta adanya perlawanan budaya dan kesadaran kolektif masyarakat untuk menolak secara tegas prostitusi online, penyakit sosial yang mengerikan itu dapat dicegah, diatasi, diminimalisir, dan bahkan dimitigasi. Semoga!**

*Penulis,  Alumnus USD Yogya Kepala  SMP /Guru SMA Asisi Pontianak.

Oleh: Y Priyono Pasti

PADA Kamis (3/12/20),  Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar bersama Polsek Pontianak Selatan menemukan aktivitas prostitusi online yang melibatkan anak remaja. Dalam temuan itu terdapat empat anak perempuan berinisial D (16), E (17), S (16), dan N (17) serta dua anak laki-laki berinisial A (16) dan S (16) diamankan lantaran menggunakan narkoba.

Pada Selasa (8/12/20), KPPAD Kalbar kembali mengamankan 28 anak remaja yang diduga terlibat prostitusi online. Ke-28 anak remaja itu (17 laki-laki dan 11 perempuan) diamankan dari salah satu hotel di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Pontianak Tenggara. Saat penggeledahan, ditemukan alat kontrasepsi dan obat di dalam kamar.

Penangkapan 4 dan 28 anak remaja di bawah umur di sebuah hotel di Pontianak, pada Kamis (3/12/20) dan Selasa (8/12/20) tersebut menegaskan bahwa prostitusi tidak pernah mati. Sebaliknya, kasus prostitusi kian marak terjadi belakangan ini.

Bagaimana kita menyikapi dan memitigasi fenomena sosial yang jauh dari keadaban publik ini? Dalam konteks remaja, sebagai generasi peradaban yang akan memegang dan meneruskan tongkat estafet negeri ini, upaya apa yang mesti kita lakukan agar mereka tidak terpapar prostitusi online?

Industri prostitusi dan pornografi di negeri ini kian marak. Keberadaannya tidak saja semakin meresahkan, tapi juga sudah sampai pada taraf yang sangat memprihatinkan. Kini, prostitusi sudah berubah trennya. Prostitusi bukan lagi merujuk pada masalah ekonomi semata, tapi menjadi gaya hidup yang memaksa seseorang untuk memenuhi keinginan bukan kebutuhan hidupnya (lih. Khofifah Indar Parawangsa, 2015).

Kini, industri prostitusi dan pornografi semakin canggih. Medianya pun taklagi konvensional, melainkan media online. Parahnya lagi, praktik bisnis seks online ini telah merambah anak remaja. Praktik prostitusi online  (menyebut salah satu contoh) yang dijalankan di kompleks apartemen Kalibata City, Kalibata, Jakarta Selatan yang diungkap Tim Reserse Anak dan Wanita Kepolisian Metro Jakarta Raya beberapa waktu yang lalu membuktikan bahwa prostitusi online melibatkan anak di bawah umur (Koran Tempo, 26/4/2015).

Kejahatan Mengerikan

Prostitusi online  yang semakin marak dan beragam modusnya ini, diyakini berpotensi menjadi salah satu kejahatan baru yang sangat mengerikan. Apalagi bagi kaum remaja yang belum menyadari bahaya situs-situs terlarang tersebut. Di Indonesia, pengguna internet aktif pada 2019 terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun.

Sebagaimana rilis resmi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) hingga <ei 2019 pengguna internet terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun. Sementara itu, pengguna terbanyak kedua berada pada umur 20 hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga 9 tahun pun menggunakan internet bahkan mencapai 25,2 persen dari keseluruhan sampel yang berada pada kelompok umur tersebut.

Baca Juga :  Saktinya Uang Bendahara Pemerintah

Menyikapi hal itu, seluruh komponen bangsa yang peduli pada nasib generasi peradaban ini harus bisa saling bersinergi untuk menangani masalah yang sangat krusial ini. Kini, saatnya, kita menabuh gendering perang terhadap kejahatan prostitusi online ini.

Untuk itu, semua pihak (lebih-lebih orang tua/keluarga) harus menaruh perhatian serius terhadap berbagai aspek kehidupan anak-anaknya agar mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan yang berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan negaranya.Tugas mulia keluarga ini mesti senantiasa dilakukan dan diinternalisasikan melalui edukasi-komunikasi yang sehat dan intensif. Komunikasi cultural keluarga mutlak dilakukan.

Keluarga yang memiliki budaya komunikasi yang baik, akan mampu menciptakan kondisi yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya kecerdasan anak-anak, mekarnya sikap afektif, dan lahirnya pribadi-pribadi tangguh yang dapat bertahan terhadap pengaruh-pengaruh negative yang kuat, baik dari teman sebaya maupun dari peradaban dan masyarakat sendiri.

Keluarga harus berinteraksi-berkomunikasi secara positif dengan cara merespon perilaku anak-anak sejak kecil secara kultural. Dengan cara ini, anak merasa apa yang diucapkan, dipikirkan, dan diangan-angankan dalam proses komunikasi verbal dengan keluarga/orangtua akan merupakan pengalaman yang positif baginya (lih. Suyanto, 2000). Pengalaman-pengalaman positif ini nantinya akan bermanfaat bagi proses berpikir, bertindak, dan pembentukan persepsi anak sewaktu mereka menghadapi situasi lain dalam kehidupannya.

Proses komunikasi yang interaktif-edukatif secara kultural akan menentukan keberhasilan proses sosialisasi anak. Proses sosialisasi ini sangat penting karena dalam proses itu akan terjadi transfer sistem nilai positif kepada anak.

Di jagat pendidikan, salah satu hal yang mesti dilakukan adalah penguatan Pendidikan Nilai untuk membentuk watak atau karakter siswa. Di tengah arus besar dan konstelasi global yang sudah demikian kompetitif saat ini, para siswa kita harus berpikir dan memiliki tata nilai yang kuat/tangguh. Agar para siswa kita tidak ternistakan dalam gelombang mondial globalisasi yang telah menjadi keniscayaan itu, diantaranya makin maraknya bisnis prostitusi online belakangan ini, pendidikan nilai untuk membangun watak atau karakter siswa menjadi kuncinya.

Pendidikan nilai yang bisa melahirkan insan-insan (Indonesia) berkarakter adalah pilihan mutlak. Untuk mendidik siswa/anak menjadi manusia berkarakter-berpribadi, keprihatinan dan komitmen sekolah (dengan segala unsurnya) dan orang tua terhadap kemanusiaan mesti menjadi perhatian utama.

Nilai-nilai luhur macam: kebenaran, keadilan, kepekaan, kedamaian, pengorbanan, kesabaran, kebebasan, kejujuran dan hati nurani, disiplin, harapan dan kasih, tanggung jawab, serta norma-norma dan prinsip-prinsip hidup yang baik harus dikedepankan. Harapannya, melalui pendidikan nilai yang utuh akan lahir siswa-siswa/anak-anak bangsa yang berkarakter-berwatak-berohani-berintegritas-berpribadi tangguh.

Agar penanaman (internalisasi) pendidikan nilai itu berjalan sangkil dan mangkus, pendidikan nilai seyogyanya diberikan dalam suasana yang demokratis, tidak dalam bentuk indoktrinasi. Kirschenbaum (1995 dalam Zuchdi, 1999) menyarankan penerapan pendidikan nilai secara komprehensif, yaitu meliputi inkulkasi (inculcation), pemodelan (modeling), fasilitasi (facilitation), dan pengembangan ketrampilan (skill building). Internalisasi pendidikan nilai tidak hanya mensyaratkan pemahaman (yang memadai), lebih dari itu, ia menuntut kemampuan dan ketetapan hati untuk memilih dan mengamalkannya secara konsisten.

Baca Juga :  Hati Wadah Kebenaran

Hal lain yang sangat mendesak dilakukan untuk mengantisipasi dan meredusir cengkraman gurita bisnis prostitusi ini adalah pemberitaan melalui media massa (baik cetak maupun elektronik) yang mengupas tuntas bahwa prostitusi online yang mengumbar kegilaan akan libiditas manusia modern yang cenderung mengejar sifat-sifat hewani semata merupakan obyek yang amat sangat penting untuk ditinggalkan oleh pencari kesenangan semu tersebut.

Seks sesungguhnya merupakan sebuah kekuatan hidup serta impulse yang kohesif dari setiap orang yang akan memengaruhi karakternya. Jika seks itu direndahkan dan dirusak lewat bisnis prostitusi online seperti halnya yang sedang terjadi belakangan ini, maka kualitas hidup kita sebagai manusia akan menjadi berkurang dan struktur masyarakat kita akan mengalami deteriorasi mental (bdg. Dharmo Budi Suseno, 2006).

Dari aspek yuridis formal, Undang-Undang (UU) Pornografi dan Pornoaksi yang dapat diyakini sebagai upaya antisipatif terhadap segala bentuk pelanggaran susila dan membendung arus global yang cenderung tak kenal kompromi, mutlak diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen serta dikuatkan keberadaannya.

Pembangunan budaya perlawanan dengan memunculkan budaya lokal yang mengakar pada nilai-nilai religi, kesadaran kolektif masyarakat untuk “melakukan sensor sendiri” baik secara individu maupun kolektif sungguh sangat mendesak dan mutlak untuk direalisasikan. Diantaranya dengan cara mengatakan “NO” pada prostitusi online dengan segala macam bentuknya itu.

Catatan Penutup

Menyelamatkan anak-anak dan para remaja, generasi peradaban negeri ini dari bahaya prostitusi (online) adalah tanggung jawab kita bersama. Mari semua komponen bangsa negeri ini saling bersinergi membebaskan generasi muda Indonesia dari bahaya prostitusi yang kian marak belakangan ini. Mari kita bangun komitmen yang kuat untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, unggul, disiplin, bertanggung jawab, bermoral, dan bermartabat.

Mudah-mudahan melalui komunikasi cultural keluarga yang sehat dan intensif, pendidikan nilai yang komprehensif, sistematik, berkesinambungan, dan holistik, pemberitaan media massa  yang komprehensif akan pentingnya meninggalkan prostitusi online, penerapan dan penguatan UU Pornografi dan Pornoaksi serta adanya perlawanan budaya dan kesadaran kolektif masyarakat untuk menolak secara tegas prostitusi online, penyakit sosial yang mengerikan itu dapat dicegah, diatasi, diminimalisir, dan bahkan dimitigasi. Semoga!**

*Penulis,  Alumnus USD Yogya Kepala  SMP /Guru SMA Asisi Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/