alexametrics
28 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Keamanan Moderna Dapat Ditoleransi

BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat alias emergency use of authorization (EUA) vaksin Covid-19 asal Amerika Serikat, Moderna, pada 2 Juli. Hal itu melengkapi EUA yang telah diberikan pada empat jenis vaksin lain yang digunakan di Indonesia. Yakni, CoronaVac dari Sinovac Life Science China, vaksin Covid-19 produksi Bio Farma dengan menggunakan bulk dari Sinovac, vaksin Astra-Zeneca dari Covax Facility, dan vaksin Sinopharm dari Beijing Bio-Institute Biological Product.

Vaksin Moderna diproduksi Moderna TX Inc USA dan diperoleh melalui Covax Facility yang merupakan jalur multilateral. Vaksin itu digunakan dengan indikasi pencegahan Covid-19 yang disebabkan SARS-CoV-2 untuk usia 18 tahun ke atas. Diberikan secara injeksi intramuskuler, dosisnya 0,5 ml dengan dua kali penyuntikan dalam interval sebulan.

Baca Juga :  Cerdas, Cabup Junaidi Jawab Ragam Permasalahan di Nanga Tayap

Moderna merupakan vaksin pertama dari pengembangan platform mRNA yang memperoleh EUA dari BPOM,” ungkap Kepala BPOM Penny K. Lukito dikutip dari laman resmi BPOM.

Keamanan Moderna secara umum dapat ditoleransi, baik reaksi lokal maupun sistemik dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2. Reaksi yang paling sering timbul, antara lain, nyeri di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan menggigil. Hasil itu merupakan kajian BPOM bersama Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19 dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Penny mengatakan bahwa hasil uji klinis fase III yang menunjukkan efikasi vaksin Moderna untuk mencegah Covid-19 yang parah adalah 94,1 persen pada usia 18 tahun hingga di bawah 65 tahun. Lalu 86,4 persen pada usia 65 tahun ke atas. Hasil itu diperoleh melalui pengamatan mulai hari ke-14 setelah penyuntikan kedua.

Baca Juga :  Kunjungan Sosial untuk Berkat Bagi Sesama

Penny menambahkan, vaksin Moderna merupakan vaksin mRNA yang memerlukan teknologi penyimpanan berbeda dengan jenis vaksin dari platform inactivated virus.

“Vaksin ini perlu sarana penyimpanan suhu -200 derajat Celsius. Karena kebutuhan khusus tersebut, vaksin ini diserahkan ke Indonesia bersamaan dengan teknologi penyimpanan dan distribusinya,” tuturnya.

Sementara itu, Indonesia kembali mengamankan 1,5 juta pasokan vaksin Moderna yang tiba melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta Kamis (15/7). Sebelumnya, Indonesia menerima 3 juta dosis pada 11 Juli. Menlu Retno L.P. Marsudi menyebutkan, vaksin jadi Moderna yang kembali diterima Indonesia sebanyak 1.500.100 dosis. Itu merupakan dukungan kerja sama Amerika Serikat melalui jalur multilateral Covax Facility. (sya/jp)

BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat alias emergency use of authorization (EUA) vaksin Covid-19 asal Amerika Serikat, Moderna, pada 2 Juli. Hal itu melengkapi EUA yang telah diberikan pada empat jenis vaksin lain yang digunakan di Indonesia. Yakni, CoronaVac dari Sinovac Life Science China, vaksin Covid-19 produksi Bio Farma dengan menggunakan bulk dari Sinovac, vaksin Astra-Zeneca dari Covax Facility, dan vaksin Sinopharm dari Beijing Bio-Institute Biological Product.

Vaksin Moderna diproduksi Moderna TX Inc USA dan diperoleh melalui Covax Facility yang merupakan jalur multilateral. Vaksin itu digunakan dengan indikasi pencegahan Covid-19 yang disebabkan SARS-CoV-2 untuk usia 18 tahun ke atas. Diberikan secara injeksi intramuskuler, dosisnya 0,5 ml dengan dua kali penyuntikan dalam interval sebulan.

Baca Juga :  Dr Masyhudi, Kajati Kalbar Terima Kunjungan Kerja Sekretaris Jaksa Agung Muda Pembinaan

Moderna merupakan vaksin pertama dari pengembangan platform mRNA yang memperoleh EUA dari BPOM,” ungkap Kepala BPOM Penny K. Lukito dikutip dari laman resmi BPOM.

Keamanan Moderna secara umum dapat ditoleransi, baik reaksi lokal maupun sistemik dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2. Reaksi yang paling sering timbul, antara lain, nyeri di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan menggigil. Hasil itu merupakan kajian BPOM bersama Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19 dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Penny mengatakan bahwa hasil uji klinis fase III yang menunjukkan efikasi vaksin Moderna untuk mencegah Covid-19 yang parah adalah 94,1 persen pada usia 18 tahun hingga di bawah 65 tahun. Lalu 86,4 persen pada usia 65 tahun ke atas. Hasil itu diperoleh melalui pengamatan mulai hari ke-14 setelah penyuntikan kedua.

Baca Juga :  Kunjungan Sosial untuk Berkat Bagi Sesama

Penny menambahkan, vaksin Moderna merupakan vaksin mRNA yang memerlukan teknologi penyimpanan berbeda dengan jenis vaksin dari platform inactivated virus.

“Vaksin ini perlu sarana penyimpanan suhu -200 derajat Celsius. Karena kebutuhan khusus tersebut, vaksin ini diserahkan ke Indonesia bersamaan dengan teknologi penyimpanan dan distribusinya,” tuturnya.

Sementara itu, Indonesia kembali mengamankan 1,5 juta pasokan vaksin Moderna yang tiba melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta Kamis (15/7). Sebelumnya, Indonesia menerima 3 juta dosis pada 11 Juli. Menlu Retno L.P. Marsudi menyebutkan, vaksin jadi Moderna yang kembali diterima Indonesia sebanyak 1.500.100 dosis. Itu merupakan dukungan kerja sama Amerika Serikat melalui jalur multilateral Covax Facility. (sya/jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/