alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Sarana Menuju Penurunan Emisi

Pembangunan Trotoar Humanis

PONTIANAK – Dosen Teknik Tata Kota Universitas Tanjungpura, Mira Lubis mengatakan pembangunan trotoar humanis bukan hanya untuk kepentingan estetika kota. Ada misi besar di balik itu. Utamanya adalah upaya peningkatan transportasi ramah lingkungan dalam rangka menurunkan emisi karbon demi meredam dampak perubahan iklim.

“Pembangunan fasilitas pejalan dan transportasi publik sebenarnya sedang gencar dilakukan oleh berbagai kota di Indonesia dan juga kota-kota di dunia. Termasuk Pontianak. Ini dilakukan sebagai upaya peningkatan transportasi ramah lingkungan dalam rangka menurunkan emisi karbon demi meredam dampak perubahan iklim,” ujar Mira Lubis kepada Pontianak Post, Sabtu (23/4).

Seperti diketahui, baru-baru ini PBB melalui Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) baru saja merilis laporan IPCC ke-6 tentang dampak perubahan iklim pada manusia, yang merinci langkah-langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan suhu global.

Dikatakan dalam laporan tersebut, yang disusun bersama para pakar lingkungan dari seluruh dunia, bahwa situasi dunia saat ini sudah dalam ‘darurat iklim’ sehingga dibutuhkan aksi dan tindakan berani dan radikal untuk mengurangi pemanasan global. Laporan aksi perubahan iklim ini sedang jadi pembicaraan hangat, bahkan pelajar sekolah pun dapat mengakses laporan yang dapat diunduh bebas di internet ini.

Selama beberapa tahun terakhir, kota di berbagai belahan dunia berlomba mengembangkan konsep baru untuk mewujudkan kota ramah emisi karbon. Salah satunya adalah konsep “kota 15 menit” (15 minutes city) yang diinisiasi oleh Kota Paris. Konsep “Kota 15 menit” adalah konsep yang mengandalkan fasilitas jalur pedestrian, sepeda, dan transportasi umum, supaya dalam jangkauan waktu 15 menit dari tempat tinggal seseorang, sudah dapat memenuhi berbagai aktivitas sehari-hari. Dalam waktu singkat, konsep ini juga diadopsi oleh kota-kota lainnya. Bahkan ibu kota negara (IKN) RI lebih ambisius ingin mewujudkan konsep kota “10 menit”.

“Intinya, transformasi dari energi tak terbarukan ke energi terbarukan adalah hal yang tak bisa ditawar lagi,” ujarnya.

Diakui dia, saat ini trend penggunaan kendaraan terus meningkat setiap tahun. Pontianak salah satunya. Sebenarnya ini bukanlah tren yang harus diikuti terus ke depannya, karena tren ini sebenarnya dapat diubah melalui transformasi dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik, yang terintegrasi dengan fasilitas pedestrian.

Baca Juga :  UMKM Sulap Pisang jadi Produk Dodol dengan Omset Jutaan Rupiah

Tapi ini umumnya bukan merupakan kebijakan yang populer dibanding ‘melayani’ keinginan para pengguna kendaraan pribadi (pelebaran jalan, keringanan pajak, dll), sehingga memerlukan political will yang kuat dari pemerintah, perlu dukungan seluruh elemen masyarakat, dan perlu waktu yang tidak singkat.

Melihat pembangunan trotoar humanis yang dibangun saat ini, kata Mira, perlu menjadi catatan bahwa  trotoar tidak akan berfungsi dengan baik jika tidak dibarengi dengan sarana dan prasarana transportasi umum, karena merupakan satu kesatuan yang terintegrasi.

Karena berjalan kaki ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pergerakan jarak pendek (maksimal 300-500 m), tidak untuk jarak jauh, sehingga pembangunan transportasi umum adalah suatu keniscayaan, agar pelan-pelan masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Bila tidak, paling trotoar tersebut hanya akan digunakan untuk kepentingan sekunder saja (rekreasi, olahraga) bukan untuk kepentingan primer yang sesungguhnya, yaitu bermobilitas sehari-hari.

Ia melihat pembangunan trotoar sebagai upaya pemerintah dalam mengurangi emisi karbon. “Itu salah satunya,” ungkapnya.

Apalagi Kota Pontianak jadi salah satu pilot cities dalam Program Climate Action Plan (CAP) juga (hanya empat atau lima kota untuk Indonesia).

Menurutnya harus ada transformasi dilakukan. Utamanya dari pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Trotoar jadi sarana prasarana penunjang. Agar lebih kuat, pemerintah harus lebih kuat berkomitmen membangun sarana dan prasarana transportasi umum yang aman dan nyaman, agar masyarakat mau beralih. “Pasti butuh waktu. Tapi memang harus dimulai daripada tidak sama sekali,” ungkapnya.

Ia tak menutupi semakin banyak kendaraan akan berpengaruh pada pendapatan pajak kendaraan makin tinggi. Namun jika kendaraan dibiarkan terus bertambah juga tak baik bagi lingkungan. Tugas berat bagi pemerintah. “Sekali lagi perlu political will yang kuat,” ujarnya. Ke depan, pemerintah dinilai harus berupaya mencari sumber-sumber pendapatan lain sehingga tidak mengandalkan semata dari pajak kendaraan.

“Intinya memang harus mau keluar dari zona nyaman dan butuh kerja keras, butuh komitmen dan butuh dukungan seluruh elemen masyarakat. Saya kira, kalau sudah terjadi bencana, bukan cuma pemerintah yang kena, tapi kita semua seluruh masyarakat, tak peduli miskin kaya. Jadi perubahan itu harus dimulai oleh siapapun,” ajaknya.

Untuk melakukan itu, diakuinya memang sulit. Tapi ia berharap kita dapat belajar dari kota-kota lain. Jakarta mulai berhasil, meskipun di waktu tertentu masih macet. Tapi dari data, pengguna TransJak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Meski semuanya perlu waktu, kata dia, lebih baik dimulai daripada tidak sama sekali. “Saya sendiri yang tinggal di Jakarta dari 2015 sampai sekarang secara pribadi memang merasakan peningkatan transportasi umum semakin mudah dan nyaman. Dan ini sebetulnya sudah dimulai dari zaman Foke. Bahkan Sutiyoso. Jadi bukan instan,” ujarnya lagi.

Baca Juga :  Lanjutkan Pembangunan Lima Tahun ke Depan

Menurutnya, trotoar itu menjadi pemicu awal dari gerakan positif yang dilakukan Pemkot Pontianak. Salah satunya agar anak cucu nanti masih bisa menghirup oksigen bersih, bukan oksigen campur Co2 beracun.

Warga Diminta Bersabar

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono sebelumnya mengatakan, dalam setiap pembangunan infrastruktur sudah pasti menimbulkan dampak baik dari sisi lingkungan dan kelancaran lalu lintas. Salah satunya pembangunan trotoar yang kini tengah dikerjakan di Jalan Ahmad Yani. Ia memastikan pembangunannya dapat terselesaikan di tahun ini. Ia menjamin, ke depan kawasan tersebut akan semakin indah dengan keberadaan trotoar humanis.

“Setiap pembangunan insfrastruktur, apalagi pemeliharaan dan peningkatan jalan termasuk penataan trotoar, pasti tetap ada dampak. Terutama kelancaran lalu lintas. Dan itu risiko yang terjadi, cuma dalam perencanaannya sudah diantisipasi,” ujarnya.

Menanggapi keluhan tentang kemacetan, Edi mengatakan, hal itu terjadi karena kebetulan saat ini mobilitas masyarakat sedang tinggi sehingga arus lalu lintas pada jam tertentu menjadi padat. Dalam pengerjaan proyek, kata dia, saat ini pemerintah dikejar waktu dan berhadapan dengan cuaca tak menentu. Pengecoran tak bisa dilakukan siang hari sebab panas terik. Jadi lebih baik dikerjakan  sore atau malam hari.

Ia berharap pengerjaan trotoar humanis berjalan lancar dan cepat selesai sehingga trotoar humanis bisa segera dinikmati warga sebagai fasilitas ruang publik. Selama proses pembangunan trotoar, masyarakat diminta dapat bersabar.

Hal senada juga diungkapkan Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin. Ia meminta selama pengerjaan trotoar humanis masyarakat dapat memaklumi jika terjadi kemacetan. Sebab fasilitas publik yang dibangun peruntukannya buat masyarakat.

Jika trotoar humanis sudah selesai dikerjakan. Dipastikan sepanjang Jalan Ahmad Yani akan semakin rapi dan indah. “Yang namanya pembangunan tetap berdampak macet. Tapi saya lihat tidak terlalu parah,” ujarnya.(iza)

 

Pembangunan Trotoar Humanis

PONTIANAK – Dosen Teknik Tata Kota Universitas Tanjungpura, Mira Lubis mengatakan pembangunan trotoar humanis bukan hanya untuk kepentingan estetika kota. Ada misi besar di balik itu. Utamanya adalah upaya peningkatan transportasi ramah lingkungan dalam rangka menurunkan emisi karbon demi meredam dampak perubahan iklim.

“Pembangunan fasilitas pejalan dan transportasi publik sebenarnya sedang gencar dilakukan oleh berbagai kota di Indonesia dan juga kota-kota di dunia. Termasuk Pontianak. Ini dilakukan sebagai upaya peningkatan transportasi ramah lingkungan dalam rangka menurunkan emisi karbon demi meredam dampak perubahan iklim,” ujar Mira Lubis kepada Pontianak Post, Sabtu (23/4).

Seperti diketahui, baru-baru ini PBB melalui Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) baru saja merilis laporan IPCC ke-6 tentang dampak perubahan iklim pada manusia, yang merinci langkah-langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan suhu global.

Dikatakan dalam laporan tersebut, yang disusun bersama para pakar lingkungan dari seluruh dunia, bahwa situasi dunia saat ini sudah dalam ‘darurat iklim’ sehingga dibutuhkan aksi dan tindakan berani dan radikal untuk mengurangi pemanasan global. Laporan aksi perubahan iklim ini sedang jadi pembicaraan hangat, bahkan pelajar sekolah pun dapat mengakses laporan yang dapat diunduh bebas di internet ini.

Selama beberapa tahun terakhir, kota di berbagai belahan dunia berlomba mengembangkan konsep baru untuk mewujudkan kota ramah emisi karbon. Salah satunya adalah konsep “kota 15 menit” (15 minutes city) yang diinisiasi oleh Kota Paris. Konsep “Kota 15 menit” adalah konsep yang mengandalkan fasilitas jalur pedestrian, sepeda, dan transportasi umum, supaya dalam jangkauan waktu 15 menit dari tempat tinggal seseorang, sudah dapat memenuhi berbagai aktivitas sehari-hari. Dalam waktu singkat, konsep ini juga diadopsi oleh kota-kota lainnya. Bahkan ibu kota negara (IKN) RI lebih ambisius ingin mewujudkan konsep kota “10 menit”.

“Intinya, transformasi dari energi tak terbarukan ke energi terbarukan adalah hal yang tak bisa ditawar lagi,” ujarnya.

Diakui dia, saat ini trend penggunaan kendaraan terus meningkat setiap tahun. Pontianak salah satunya. Sebenarnya ini bukanlah tren yang harus diikuti terus ke depannya, karena tren ini sebenarnya dapat diubah melalui transformasi dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik, yang terintegrasi dengan fasilitas pedestrian.

Baca Juga :  Pembangunan Masjid Babul Muminin Dianggarkan Rp9 M

Tapi ini umumnya bukan merupakan kebijakan yang populer dibanding ‘melayani’ keinginan para pengguna kendaraan pribadi (pelebaran jalan, keringanan pajak, dll), sehingga memerlukan political will yang kuat dari pemerintah, perlu dukungan seluruh elemen masyarakat, dan perlu waktu yang tidak singkat.

Melihat pembangunan trotoar humanis yang dibangun saat ini, kata Mira, perlu menjadi catatan bahwa  trotoar tidak akan berfungsi dengan baik jika tidak dibarengi dengan sarana dan prasarana transportasi umum, karena merupakan satu kesatuan yang terintegrasi.

Karena berjalan kaki ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pergerakan jarak pendek (maksimal 300-500 m), tidak untuk jarak jauh, sehingga pembangunan transportasi umum adalah suatu keniscayaan, agar pelan-pelan masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Bila tidak, paling trotoar tersebut hanya akan digunakan untuk kepentingan sekunder saja (rekreasi, olahraga) bukan untuk kepentingan primer yang sesungguhnya, yaitu bermobilitas sehari-hari.

Ia melihat pembangunan trotoar sebagai upaya pemerintah dalam mengurangi emisi karbon. “Itu salah satunya,” ungkapnya.

Apalagi Kota Pontianak jadi salah satu pilot cities dalam Program Climate Action Plan (CAP) juga (hanya empat atau lima kota untuk Indonesia).

Menurutnya harus ada transformasi dilakukan. Utamanya dari pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Trotoar jadi sarana prasarana penunjang. Agar lebih kuat, pemerintah harus lebih kuat berkomitmen membangun sarana dan prasarana transportasi umum yang aman dan nyaman, agar masyarakat mau beralih. “Pasti butuh waktu. Tapi memang harus dimulai daripada tidak sama sekali,” ungkapnya.

Ia tak menutupi semakin banyak kendaraan akan berpengaruh pada pendapatan pajak kendaraan makin tinggi. Namun jika kendaraan dibiarkan terus bertambah juga tak baik bagi lingkungan. Tugas berat bagi pemerintah. “Sekali lagi perlu political will yang kuat,” ujarnya. Ke depan, pemerintah dinilai harus berupaya mencari sumber-sumber pendapatan lain sehingga tidak mengandalkan semata dari pajak kendaraan.

“Intinya memang harus mau keluar dari zona nyaman dan butuh kerja keras, butuh komitmen dan butuh dukungan seluruh elemen masyarakat. Saya kira, kalau sudah terjadi bencana, bukan cuma pemerintah yang kena, tapi kita semua seluruh masyarakat, tak peduli miskin kaya. Jadi perubahan itu harus dimulai oleh siapapun,” ajaknya.

Untuk melakukan itu, diakuinya memang sulit. Tapi ia berharap kita dapat belajar dari kota-kota lain. Jakarta mulai berhasil, meskipun di waktu tertentu masih macet. Tapi dari data, pengguna TransJak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Meski semuanya perlu waktu, kata dia, lebih baik dimulai daripada tidak sama sekali. “Saya sendiri yang tinggal di Jakarta dari 2015 sampai sekarang secara pribadi memang merasakan peningkatan transportasi umum semakin mudah dan nyaman. Dan ini sebetulnya sudah dimulai dari zaman Foke. Bahkan Sutiyoso. Jadi bukan instan,” ujarnya lagi.

Baca Juga :  Pemerintah Izinkan PTM Terbatas di Wilayah PPKM Level 1, 2, dan 3

Menurutnya, trotoar itu menjadi pemicu awal dari gerakan positif yang dilakukan Pemkot Pontianak. Salah satunya agar anak cucu nanti masih bisa menghirup oksigen bersih, bukan oksigen campur Co2 beracun.

Warga Diminta Bersabar

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono sebelumnya mengatakan, dalam setiap pembangunan infrastruktur sudah pasti menimbulkan dampak baik dari sisi lingkungan dan kelancaran lalu lintas. Salah satunya pembangunan trotoar yang kini tengah dikerjakan di Jalan Ahmad Yani. Ia memastikan pembangunannya dapat terselesaikan di tahun ini. Ia menjamin, ke depan kawasan tersebut akan semakin indah dengan keberadaan trotoar humanis.

“Setiap pembangunan insfrastruktur, apalagi pemeliharaan dan peningkatan jalan termasuk penataan trotoar, pasti tetap ada dampak. Terutama kelancaran lalu lintas. Dan itu risiko yang terjadi, cuma dalam perencanaannya sudah diantisipasi,” ujarnya.

Menanggapi keluhan tentang kemacetan, Edi mengatakan, hal itu terjadi karena kebetulan saat ini mobilitas masyarakat sedang tinggi sehingga arus lalu lintas pada jam tertentu menjadi padat. Dalam pengerjaan proyek, kata dia, saat ini pemerintah dikejar waktu dan berhadapan dengan cuaca tak menentu. Pengecoran tak bisa dilakukan siang hari sebab panas terik. Jadi lebih baik dikerjakan  sore atau malam hari.

Ia berharap pengerjaan trotoar humanis berjalan lancar dan cepat selesai sehingga trotoar humanis bisa segera dinikmati warga sebagai fasilitas ruang publik. Selama proses pembangunan trotoar, masyarakat diminta dapat bersabar.

Hal senada juga diungkapkan Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin. Ia meminta selama pengerjaan trotoar humanis masyarakat dapat memaklumi jika terjadi kemacetan. Sebab fasilitas publik yang dibangun peruntukannya buat masyarakat.

Jika trotoar humanis sudah selesai dikerjakan. Dipastikan sepanjang Jalan Ahmad Yani akan semakin rapi dan indah. “Yang namanya pembangunan tetap berdampak macet. Tapi saya lihat tidak terlalu parah,” ujarnya.(iza)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/