alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Direktur BKKBN Apresiasi Pemkot Pontianak Tekan Stunting Secara Maksimal

PONTIANAK- Direktur Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) BKKBN Pusat, Eka Sulistia Ediningsih memberikan apresiasi atas program pendampingan calon pengantin di Kota Pontianak sebagai upaya menekan stunting.

Program tersebut sudah dijalankan di Kota Pontianak jauh sebelum adanya Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

“Di Kota Pontianak itu sudah dilakukan sejak sebelum adanya Perpres 72. Kader bekerjasama dengan KUA untuk melakukan pendampingan bagi calon pengantin,” kata Eka Sulistia Ediningsih saat dijumpai wartawan.

Eka mengungkapkan intervensi pada calon pengantin sangat penting dalam upaya menekan kasus stunting. Dengan memberi perhatian bagi calon pengantin dan ibu hamil agar upaya untuk menekan kasus stunting akan semakin maksimal.

“Intervensi calon pengantin sangat penting dan Kota Pontianak sudah melakukan itu, kita memberikan apresiasi yang besar,” katanya. Dan sebagai tindak lanjut amanah Perpres 72 Tahun 2021 Pontianak sudah membentuk Tim Pendamping Keluarga, semoga program intervensi kepqda calon pengantin di Kota Pontianak semakin menguat dengan pemberdayaan para TPK ini.

Baca Juga :  Kepala BKKBN: Capaian Pendataan Keluarga Lampaui Target

Eka juga mengapresiasi upaya penurunan stunting yang dicapai di Kelurahan Pal V, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak.

Kasus stunting di Kel urahan Pal V turun 50 persen dalam satu tahun. Dari sebelumnya 14 persen pada 2020 menjadi 7 persen pada 2021.

Salah satu upaya yang dilakukan di Kelurahan Pal V dalam menurunkan stunting dengan  inovasi pengolahan daun kelor untuk pemenuhan gizi para baduta di kelurahan tersebut. Daun kelor diubah menjadi variasi makanan yang menarik minat baduta misalnya agar-agar, cilok dan lainnya.

“Ini luar biasa,  mudah-mudahan upaya  ini bisa direplikasi pada tempat lainnya,” kata Eka.

Dirinya menyebutkan di Kota Pontianak menurutnya untuk memenuhi protein hewani tidak terlalu sulit. Karena berbagai makanan seperti telur atau ikan mudah untuk didapatkan. Terlebih dengan harganya murah dan terjangkau.

Baca Juga :  Tiga Penonton Bioskop Positif Covid-19

Selan itu menurutnya untuk keluarga beresiko stunting yang tidak mampu memenuhi kebutuhan protein hewani. Dapat dilakukan upaya gotong royong dari berbagai pihak dengan antara lain program Bapak Asuh.

Program seperti ini sudah dilaksanakan didaerah lain.

“Tokoh masyarakat juga bisa bergotong royong untuk menjadi bapak asuh untuk para  keluarga yang beresiko stunting,” tutupnya. (azk)

PONTIANAK- Direktur Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) BKKBN Pusat, Eka Sulistia Ediningsih memberikan apresiasi atas program pendampingan calon pengantin di Kota Pontianak sebagai upaya menekan stunting.

Program tersebut sudah dijalankan di Kota Pontianak jauh sebelum adanya Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

“Di Kota Pontianak itu sudah dilakukan sejak sebelum adanya Perpres 72. Kader bekerjasama dengan KUA untuk melakukan pendampingan bagi calon pengantin,” kata Eka Sulistia Ediningsih saat dijumpai wartawan.

Eka mengungkapkan intervensi pada calon pengantin sangat penting dalam upaya menekan kasus stunting. Dengan memberi perhatian bagi calon pengantin dan ibu hamil agar upaya untuk menekan kasus stunting akan semakin maksimal.

“Intervensi calon pengantin sangat penting dan Kota Pontianak sudah melakukan itu, kita memberikan apresiasi yang besar,” katanya. Dan sebagai tindak lanjut amanah Perpres 72 Tahun 2021 Pontianak sudah membentuk Tim Pendamping Keluarga, semoga program intervensi kepqda calon pengantin di Kota Pontianak semakin menguat dengan pemberdayaan para TPK ini.

Baca Juga :  Komisi IX Siap Dorong Penambahan Anggaran Kegiatan Remaja di Kalbar

Eka juga mengapresiasi upaya penurunan stunting yang dicapai di Kelurahan Pal V, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak.

Kasus stunting di Kel urahan Pal V turun 50 persen dalam satu tahun. Dari sebelumnya 14 persen pada 2020 menjadi 7 persen pada 2021.

Salah satu upaya yang dilakukan di Kelurahan Pal V dalam menurunkan stunting dengan  inovasi pengolahan daun kelor untuk pemenuhan gizi para baduta di kelurahan tersebut. Daun kelor diubah menjadi variasi makanan yang menarik minat baduta misalnya agar-agar, cilok dan lainnya.

“Ini luar biasa,  mudah-mudahan upaya  ini bisa direplikasi pada tempat lainnya,” kata Eka.

Dirinya menyebutkan di Kota Pontianak menurutnya untuk memenuhi protein hewani tidak terlalu sulit. Karena berbagai makanan seperti telur atau ikan mudah untuk didapatkan. Terlebih dengan harganya murah dan terjangkau.

Baca Juga :  Bantah Isu ‘KPK Taliban’

Selan itu menurutnya untuk keluarga beresiko stunting yang tidak mampu memenuhi kebutuhan protein hewani. Dapat dilakukan upaya gotong royong dari berbagai pihak dengan antara lain program Bapak Asuh.

Program seperti ini sudah dilaksanakan didaerah lain.

“Tokoh masyarakat juga bisa bergotong royong untuk menjadi bapak asuh untuk para  keluarga yang beresiko stunting,” tutupnya. (azk)

Most Read

Fitriani Mulai dari Awal Lagi

Usulkan Penghapusan Melalui Lelang Barang

Vaksin Harus Dapatkan Sertifikasi Halal

Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Sehat

Artikel Terbaru

/