alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

Sukidi Sampaikan Impian Tegaknya Kebinekaan

JAKARTA  – Cendikiawan Muhammadiyah Sukidi Mulyadi menyampaikan impian pertamanya dari 10 impian tentang Indonesia, yakni tegaknya kebinekaan.

Sukidi dalam rilis pers diterima di Jakarta Rabu, menyampaikan a dream of diversity adalah impian pertama dari 10 impian tentang Indonesia, yakni impian akan sebuah bangsa yang bersatu dan berdiri kokoh di atas fondasi kebinekaan.

Ia menilai kebinekaan yang menjadi warisan berharga dari para bapak dan ibu pendiri bangsa ini sedang menghadapi tantangan serius.

Hal itu ditandai dengan terkikisnya penghormatan terhadap kemajemukan, prasangka negatif terhadap warga negara yang berlatar belakang etnis dan agama yang berbeda, meluasnya ujaran kebencian di media sosial, dan bahkan kondisi masyarakat yang terbelah.

Kondisi itu pula menimbulkan rasa kekhawatiran bersama tentang fondasi kebhinnekaan yang retak dan pecah.

“Mari memperkuat kesadaran kebinekaan yang diikat oleh spirit persatuan dan kesatuan antar kita sebagai bangsa, karena spirit inilah yang dapat mempersatukan kita di tengah kemajemukan Indonesia,” kata Sukidi mengajak anak bangsa dalam acara bertema “Sukidi Meet & Dialogue SMTV” yang dipandu oleh Wahyu C Muna.

Kesadaran kebinekaanan itu berakar kuat pada sejarah bangsa. Moto bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika menurutnya jelas terinspirasi pada tradisi kebinekaan dalam kerajaan Majapahit.

Sukidi merujuk kesadaran kebinekaan itu pada “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa” karya Empu Tantular dalam Kitab Kakawin Sutasoma sebagai suatu rujukan historis tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di tengah kebinekaan.

Baca Juga :  Harisson Soroti Pembatasan Pelayanan di Puskesmas Mulia Baru

Spirit ini pula yang menjadi dasar para pendiri bangsa saat membangun Indonesia. Semangat untuk percaya satu dengan yang lain yang diwujudkan untuk saling menghargai di antara yang berbeda.

“Kesadaran kebinekaankaan itu terobjektivikasi dengan munculnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika di pita yang dicengkeram burung garuda yang jadi lambang negara kita. Ini berarti kesadaran tentang kebinekaan telah dan harus selalu menjadi kesadaran bangsa Indonesia secara keseluruhan,” katanya.

Visi brilian bapak dan ibu pendiri bangsa tentang Bhinneka Tunggal Ika yang berakar pada budaya bangsa ini sejalan dengan semboyan negara Amerika, E Pluribus Unum, out of many, one! yang diusulkan oleh Benjamin Franklin, John Adams, dan Thomas Jefferson.

Meskipun makna kedua moto itu berbeda dari segi konteks dan perjuangan, kata Sukidi, para pendiri bangsa dari kedua negara itu sama-sama menyadari betul bahwa spirit persatuan dan kesatuan bangsa harus tegak berdiri di tengah masyarakat yang majemuk.

Amerika dan Indonesia adalah dua negara dengan tingkat kemajemukan yang luar biasa.

Kesadaran tentang kebinekaankaan pernah disampaikan oleh Soekarno di sidang PBB tahun 1960. Sebagai kepala negara yang mayoritas penduduknya Muslim, Soekarno mengutip Al Quran surat Al Hujurat ayat 13.

Baca Juga :  Perkuat Listrik Kalbar, PLN Rampungkan Pembangunan Transmisi Sekadau-Sintang

Kutipan ayat tersebut yakni, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal”.

Lebih lanjut bunyi kutipannya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Menurut Sukidi, Soekarno merujuk Al Quran dengan suatu kesadaran kebinekaan yang mendalam tentang pentingnya ikhtiar untuk saling memahami antarbangsa yang berbeda-beda di dunia ini sehingga terjalin kerja sama yang setara dan adil.

Dalam konteks itulah, Sukidi mengajak semua anak bangsa, terutama generasi muda, untuk tak kenal lelah mencintai dan memperkuat fondasi kebinekaan. Hal itu dapat diwujudkan dengan komitmen untuk merawat kebinekaan melalui sikap saling mengenal dan memahami antarsatu dengan yang lain.

Kebinekaanaan pasti terkoyak jika sesama warga negara tak saling mengenal, bersikap acuh tak acuh, dan pasif.

“Kebinekaan menuntut kita, semua warga negara, untuk melibatkan diri secara aktif dan produktif (active and productive engagement) dalam kerja-kerja kemanusiaan, keagamaan dan keindonesiaan. Dengan keterlibatan aktif dan produktif inilah, impian kebinekaan akan terwujud di Indonesia,” ujarnya. (ant/BLW)

JAKARTA  – Cendikiawan Muhammadiyah Sukidi Mulyadi menyampaikan impian pertamanya dari 10 impian tentang Indonesia, yakni tegaknya kebinekaan.

Sukidi dalam rilis pers diterima di Jakarta Rabu, menyampaikan a dream of diversity adalah impian pertama dari 10 impian tentang Indonesia, yakni impian akan sebuah bangsa yang bersatu dan berdiri kokoh di atas fondasi kebinekaan.

Ia menilai kebinekaan yang menjadi warisan berharga dari para bapak dan ibu pendiri bangsa ini sedang menghadapi tantangan serius.

Hal itu ditandai dengan terkikisnya penghormatan terhadap kemajemukan, prasangka negatif terhadap warga negara yang berlatar belakang etnis dan agama yang berbeda, meluasnya ujaran kebencian di media sosial, dan bahkan kondisi masyarakat yang terbelah.

Kondisi itu pula menimbulkan rasa kekhawatiran bersama tentang fondasi kebhinnekaan yang retak dan pecah.

“Mari memperkuat kesadaran kebinekaan yang diikat oleh spirit persatuan dan kesatuan antar kita sebagai bangsa, karena spirit inilah yang dapat mempersatukan kita di tengah kemajemukan Indonesia,” kata Sukidi mengajak anak bangsa dalam acara bertema “Sukidi Meet & Dialogue SMTV” yang dipandu oleh Wahyu C Muna.

Kesadaran kebinekaanan itu berakar kuat pada sejarah bangsa. Moto bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika menurutnya jelas terinspirasi pada tradisi kebinekaan dalam kerajaan Majapahit.

Sukidi merujuk kesadaran kebinekaan itu pada “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa” karya Empu Tantular dalam Kitab Kakawin Sutasoma sebagai suatu rujukan historis tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di tengah kebinekaan.

Baca Juga :  Partai Berkarya Kalbar Segera Lantik Pengurus Wilayah

Spirit ini pula yang menjadi dasar para pendiri bangsa saat membangun Indonesia. Semangat untuk percaya satu dengan yang lain yang diwujudkan untuk saling menghargai di antara yang berbeda.

“Kesadaran kebinekaankaan itu terobjektivikasi dengan munculnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika di pita yang dicengkeram burung garuda yang jadi lambang negara kita. Ini berarti kesadaran tentang kebinekaan telah dan harus selalu menjadi kesadaran bangsa Indonesia secara keseluruhan,” katanya.

Visi brilian bapak dan ibu pendiri bangsa tentang Bhinneka Tunggal Ika yang berakar pada budaya bangsa ini sejalan dengan semboyan negara Amerika, E Pluribus Unum, out of many, one! yang diusulkan oleh Benjamin Franklin, John Adams, dan Thomas Jefferson.

Meskipun makna kedua moto itu berbeda dari segi konteks dan perjuangan, kata Sukidi, para pendiri bangsa dari kedua negara itu sama-sama menyadari betul bahwa spirit persatuan dan kesatuan bangsa harus tegak berdiri di tengah masyarakat yang majemuk.

Amerika dan Indonesia adalah dua negara dengan tingkat kemajemukan yang luar biasa.

Kesadaran tentang kebinekaankaan pernah disampaikan oleh Soekarno di sidang PBB tahun 1960. Sebagai kepala negara yang mayoritas penduduknya Muslim, Soekarno mengutip Al Quran surat Al Hujurat ayat 13.

Baca Juga :  Buruh PT Simba Protes Perusahaan karena Mengalihkan Pekerjaan Kepada Oknum TNI

Kutipan ayat tersebut yakni, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal”.

Lebih lanjut bunyi kutipannya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Menurut Sukidi, Soekarno merujuk Al Quran dengan suatu kesadaran kebinekaan yang mendalam tentang pentingnya ikhtiar untuk saling memahami antarbangsa yang berbeda-beda di dunia ini sehingga terjalin kerja sama yang setara dan adil.

Dalam konteks itulah, Sukidi mengajak semua anak bangsa, terutama generasi muda, untuk tak kenal lelah mencintai dan memperkuat fondasi kebinekaan. Hal itu dapat diwujudkan dengan komitmen untuk merawat kebinekaan melalui sikap saling mengenal dan memahami antarsatu dengan yang lain.

Kebinekaanaan pasti terkoyak jika sesama warga negara tak saling mengenal, bersikap acuh tak acuh, dan pasif.

“Kebinekaan menuntut kita, semua warga negara, untuk melibatkan diri secara aktif dan produktif (active and productive engagement) dalam kerja-kerja kemanusiaan, keagamaan dan keindonesiaan. Dengan keterlibatan aktif dan produktif inilah, impian kebinekaan akan terwujud di Indonesia,” ujarnya. (ant/BLW)

Most Read

Artikel Terbaru

/