alexametrics
30 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Para Penghobi Memburu Tanaman Karnivora hingga Pegunungan

Siap Merawat, Harus Menyiapkan Habitat

Tanaman karnivora punya keunikan yang menarik bagi penggemarnya. Merawatnya juga penuh tantangan. Apalagi proses pencariannya. Mereka harus menyusuri beberapa daerah yang tak biasa.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

BEBERAPA pot kecil, kantong plastik, serokan, pisau, dan gunting. Itu hanya sebagian bekal yang harus dibawa sebelum hunting tanaman karnivora. Semua peralatan tersebut dimasukkan Anugrah Bimo Prakoso ke dalam tasnya. Dia juga membawa kamera dan TDS meter. Belum lagi, kebutuhan pribadinya. Mulai snack, baju ganti, hingga jaket.

Maklum, medan pencarian tanaman karnivora memang agak unik. Lokasinya bukan lapangan luas atau hutan-hutan biasa. Medannya menantang dan bukan jaminan menemukan apa yang dicari. Misalnya, Bimo dan kawan-kawannya pernah menuju sungai di Bangkalan untuk mencari tanaman karnivora yang hidup di air. ”Kalau sudah gitu, ya berenang nyebur bareng meski akhirnya hanya nemu ikan,” ucapnya, kemudian tertawa.

Pencarian yang gagal sebenarnya tak hanya sekali dua kali dialami. Bimo juga pernah dekat sekali dengan titik impiannya. Yaitu, di balik aliran air terjun Tumpak Sewu. Konon, di balik air terjun itu banyak sekali kantong semar. ”Tapi, kondisi air terjun kan kencang sekali, jadi berhenti dan belum bisa coba ke sana lagi,” kenangnya dengan raut kecewa.

Baca Juga :  Pengawasan ODOL, Jembatan Timbang Kalbar Lima Besar Terbaik Nasional

Kawasan hutan di Lumajang dan Gunung Ijen juga pernah dikunjungi Bimo dan kawan-kawan. Jangan dikira tanaman karnivora tampak mencolok di kawasan seperti itu. Kalau sudah di habitat asli, mereka harus melongok ke semak-semak. ”Bayangkan, jenis drosera burmanii itu ada yang ukuran daunnya 0,5−1 milimeter!” ucap Hadrian Yonata, salah seorang kawan Bimo.

Tanaman karnivora memang suka sekali dengan kondisi lembap dan basah. Jadi, para pemburu sudah memperkirakan kondisi licin. Hal itulah yang membuat pencarian tanaman karnivora terbilang berat. ”Mereka kalau musim hujan itu baru mekar-mekarnya. Kalau kita datang saat kemarau, enggak akan ketemu apa-apa,” sahut Akhmad Dany Ardavie.

Padahal, datang ke hutan, rawa, atau air terjun saat musim hujan berarti cari perkara. Maka, saat yang paling aman untuk hunting adalah musim peralihan hujan menuju kemarau.

Saat menemukan tanaman karnivora di habitatnya, mereka tak boleh asal cabut. Hal pertama yang dilakukan adalah memfoto kondisi asli tanaman dan gambaran habitat asli. Itu menjadi acuan selanjutnya untuk membuat tanaman nyaman setelah dibawa pulang. Kemudian, mereka akan mencari sumber air terdekat. Air dari danau atau sungai terdekat tersebut diukur dengan TDS meter. ”Kalau ukurannya di bawah 100 ppm, itu berarti mineralnya rendah sekali untuk tanaman,” jelas Ian, sapaan Hadrian.

Baca Juga :  Kedepankan Social Value, Beasiswa BRI Wujudkan Mimpi Anak Petani

Mencari tanaman karnivora memang tak selalu berhasil dengan membawanya pulang. Kalau kondisi asal tak bisa ditiru di rumah, mereka tak akan tega membawa pulang si tanaman dan mengabadikan lewat kamera saja. Membawanya sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan.

Membawa pulang tanaman karnivora berarti harus membuat kondisi yang nyaman bagi tanaman tersebut. Evan Yonatan Darmono termasuk yang jatuh bangun untuk menghasilkan kondisi optimal bagi tanaman karnivora miliknya. ”Antara suhu, kelembapan, kecukupan air, dan matahari. Dulu mati terus, rasanya penasaran,” ungkapnya. Tak jarang, mereka harus menambah beberapa alat di rumah. Misalnya, sprinkler dan humidifier untuk menjaga kelembapan. Evan juga harus mencari bagian rumah yang selalu terpapar sinar matahari. (jp)

Siap Merawat, Harus Menyiapkan Habitat

Tanaman karnivora punya keunikan yang menarik bagi penggemarnya. Merawatnya juga penuh tantangan. Apalagi proses pencariannya. Mereka harus menyusuri beberapa daerah yang tak biasa.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

BEBERAPA pot kecil, kantong plastik, serokan, pisau, dan gunting. Itu hanya sebagian bekal yang harus dibawa sebelum hunting tanaman karnivora. Semua peralatan tersebut dimasukkan Anugrah Bimo Prakoso ke dalam tasnya. Dia juga membawa kamera dan TDS meter. Belum lagi, kebutuhan pribadinya. Mulai snack, baju ganti, hingga jaket.

Maklum, medan pencarian tanaman karnivora memang agak unik. Lokasinya bukan lapangan luas atau hutan-hutan biasa. Medannya menantang dan bukan jaminan menemukan apa yang dicari. Misalnya, Bimo dan kawan-kawannya pernah menuju sungai di Bangkalan untuk mencari tanaman karnivora yang hidup di air. ”Kalau sudah gitu, ya berenang nyebur bareng meski akhirnya hanya nemu ikan,” ucapnya, kemudian tertawa.

Pencarian yang gagal sebenarnya tak hanya sekali dua kali dialami. Bimo juga pernah dekat sekali dengan titik impiannya. Yaitu, di balik aliran air terjun Tumpak Sewu. Konon, di balik air terjun itu banyak sekali kantong semar. ”Tapi, kondisi air terjun kan kencang sekali, jadi berhenti dan belum bisa coba ke sana lagi,” kenangnya dengan raut kecewa.

Baca Juga :  Pertanda Baik bagi Karya Klasik Penulis Indonesia dan Asia

Kawasan hutan di Lumajang dan Gunung Ijen juga pernah dikunjungi Bimo dan kawan-kawan. Jangan dikira tanaman karnivora tampak mencolok di kawasan seperti itu. Kalau sudah di habitat asli, mereka harus melongok ke semak-semak. ”Bayangkan, jenis drosera burmanii itu ada yang ukuran daunnya 0,5−1 milimeter!” ucap Hadrian Yonata, salah seorang kawan Bimo.

Tanaman karnivora memang suka sekali dengan kondisi lembap dan basah. Jadi, para pemburu sudah memperkirakan kondisi licin. Hal itulah yang membuat pencarian tanaman karnivora terbilang berat. ”Mereka kalau musim hujan itu baru mekar-mekarnya. Kalau kita datang saat kemarau, enggak akan ketemu apa-apa,” sahut Akhmad Dany Ardavie.

Padahal, datang ke hutan, rawa, atau air terjun saat musim hujan berarti cari perkara. Maka, saat yang paling aman untuk hunting adalah musim peralihan hujan menuju kemarau.

Saat menemukan tanaman karnivora di habitatnya, mereka tak boleh asal cabut. Hal pertama yang dilakukan adalah memfoto kondisi asli tanaman dan gambaran habitat asli. Itu menjadi acuan selanjutnya untuk membuat tanaman nyaman setelah dibawa pulang. Kemudian, mereka akan mencari sumber air terdekat. Air dari danau atau sungai terdekat tersebut diukur dengan TDS meter. ”Kalau ukurannya di bawah 100 ppm, itu berarti mineralnya rendah sekali untuk tanaman,” jelas Ian, sapaan Hadrian.

Baca Juga :  Pengurus DPD PDIP Kalbar Polisikan Akun Penyebar Hoaks Megawati Meninggal

Mencari tanaman karnivora memang tak selalu berhasil dengan membawanya pulang. Kalau kondisi asal tak bisa ditiru di rumah, mereka tak akan tega membawa pulang si tanaman dan mengabadikan lewat kamera saja. Membawanya sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan.

Membawa pulang tanaman karnivora berarti harus membuat kondisi yang nyaman bagi tanaman tersebut. Evan Yonatan Darmono termasuk yang jatuh bangun untuk menghasilkan kondisi optimal bagi tanaman karnivora miliknya. ”Antara suhu, kelembapan, kecukupan air, dan matahari. Dulu mati terus, rasanya penasaran,” ungkapnya. Tak jarang, mereka harus menambah beberapa alat di rumah. Misalnya, sprinkler dan humidifier untuk menjaga kelembapan. Evan juga harus mencari bagian rumah yang selalu terpapar sinar matahari. (jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/