alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Hilal Awal Zulhijah Tak Terlihat

PONTIANAK – Kementerian Agama Kalimantan Barat memantau Rukyatul Hilal penentuan awal Zulhijah 1443 hijriah/2022 masehi di Gedung Hisab Rukyat, Jalan Karya Jaya Banteng Laut, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Rabu (29/6).

Sejumlah organisasi keagamaan ikut hadir dalam prosesi pemantauan yang dilakukan sejak siang. Petugas dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah standby sejak pukul 14.00 siang. Sejumlah alat sudah disiagakan untuk melihat kemunculan anak bulan sebagai tanda dimulainya bulan baru. Alat untuk memantau yakni teleskop semi auto sudah standby di lantai dua gedung.

Kabag TU, Kaharudin, yang mewakili Kakanwil Kemenag Kalimantan Barat mengatakan pihak terkait ikut hadir dalam proses pemantauan Rukyatul Hilal penentuan awal Zulhijah 1443 hijriah/2022.

Baca Juga :  Hilal Tak Terlihat di 101 Titik, MUI: Jadikan Perbedaan sebagai Rahmat

“Jadi bersama-sama melakukan Rukyatul Hilal,” kata Kaharudin.

Ia melanjutkan hasil pemantauan itu dilaporkan ke Kementerian Agama RI untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam sidang isbat Dzulhijjah. Kemudian akan diputuskan kapan pelaksanaan Iduladha 2022.

“Kapan tanggal 1 Zulhijjah. Artinya setelah sepuluh hari adalah Iduladha sehingga apakah terpantau atau tidak akan dilaporkan oleh tim pemantau. Apapun hasilnya akan dilaporkan untuk menjadi bahan pertimbangan,” sebut Kaharudin.

Perekayasa Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hadi Rasidi mengatakan hilal tak terlihat. Hal ini disebabkan kondisi cuaca yang mendung. “Jadi hilal tidak terlihat,” kata Hadi.

Ia menjelaskan petugas dari BRIN sudah stanby sejak pukul 14.00. Teleskop yang digunakan untuk memantau sudah mengarah ke matahari. Objek utama yang terpantau teleskop dipastikan mengarah ke matahari.

Baca Juga :  Spesies Kupu-kupu Terancam

Sementara jika mengacu hasil kesepakatan Menteri Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) kriteria terlihatnya hilal yakni 3 derajat, elongasi 6,4 derajat, dan umur bulan delapan jam. “Itu merupakan kriteria yang ditetapkan pemerintah saat ini,” pungkas Hadi. (mse)

PONTIANAK – Kementerian Agama Kalimantan Barat memantau Rukyatul Hilal penentuan awal Zulhijah 1443 hijriah/2022 masehi di Gedung Hisab Rukyat, Jalan Karya Jaya Banteng Laut, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Rabu (29/6).

Sejumlah organisasi keagamaan ikut hadir dalam prosesi pemantauan yang dilakukan sejak siang. Petugas dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah standby sejak pukul 14.00 siang. Sejumlah alat sudah disiagakan untuk melihat kemunculan anak bulan sebagai tanda dimulainya bulan baru. Alat untuk memantau yakni teleskop semi auto sudah standby di lantai dua gedung.

Kabag TU, Kaharudin, yang mewakili Kakanwil Kemenag Kalimantan Barat mengatakan pihak terkait ikut hadir dalam proses pemantauan Rukyatul Hilal penentuan awal Zulhijah 1443 hijriah/2022.

Baca Juga :  Walhi Pantau Sekat Kanal, Lima Perusahaan Dinilai Tak Serius

“Jadi bersama-sama melakukan Rukyatul Hilal,” kata Kaharudin.

Ia melanjutkan hasil pemantauan itu dilaporkan ke Kementerian Agama RI untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam sidang isbat Dzulhijjah. Kemudian akan diputuskan kapan pelaksanaan Iduladha 2022.

“Kapan tanggal 1 Zulhijjah. Artinya setelah sepuluh hari adalah Iduladha sehingga apakah terpantau atau tidak akan dilaporkan oleh tim pemantau. Apapun hasilnya akan dilaporkan untuk menjadi bahan pertimbangan,” sebut Kaharudin.

Perekayasa Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hadi Rasidi mengatakan hilal tak terlihat. Hal ini disebabkan kondisi cuaca yang mendung. “Jadi hilal tidak terlihat,” kata Hadi.

Ia menjelaskan petugas dari BRIN sudah stanby sejak pukul 14.00. Teleskop yang digunakan untuk memantau sudah mengarah ke matahari. Objek utama yang terpantau teleskop dipastikan mengarah ke matahari.

Baca Juga :  Tak Terindikasi Akibatkan Pembekuan Darah

Sementara jika mengacu hasil kesepakatan Menteri Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) kriteria terlihatnya hilal yakni 3 derajat, elongasi 6,4 derajat, dan umur bulan delapan jam. “Itu merupakan kriteria yang ditetapkan pemerintah saat ini,” pungkas Hadi. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/