alexametrics
25.6 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Musim Hujan Sampai Januari 2022

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan berlangsung pada periode Desember 2021 sampai Januari 2022. Peningkatan curah hujan setiap bulan mencapai 20 sampai 50 persen. Selain dinamika meteorologis lokal, peningkatan curah hujan dipengaruhi fenomena suhu lautan Pasifik La Nina.

Data BMKG menunjukkan, indeks La Nina terus meningkat. Yakni, 0,5 pada Agustus; 0,55 pada September; dan 0,61 pada Oktober. Indeks itu menunjukkan bahwa La Nina telah melewati ambang batas normal.

Meski demikian, menurut Deputi Meteorologi BMKG Guswanto, indeks La Nina masih dikategorikan lemah. ”Kategorinya lemah sampai sedang,” jelas Guswanto kemarin.  Guswanto mengatakan, berdasar analisis perbandingan dengan kejadian La Nina 2020, curah hujan meningkat pada November–Desember–Januari, terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga NTT, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.

Baca Juga :  Investasi Rp20,6 M, PLN Terangi 2.678 Kepala Keluarga di NTT dan Perbatasan Timor Leste

BMKG memprediksi La Nina tahun ini relatif sama. Dampak yang akan ditimbulkan, antara lain, peningkatan curah hujan bulanan berkisar 20–50 persen di atas normal. Dengan peningkatan curah hujan pada periode musim hujan tersebut, perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. ”Untuk puncak musimnya pada bulan Desember–Januari,” jelas Guswanto.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, kondisi peningkatan anomali cuaca harus dipersiapkan setidaknya hingga Februari 2022. Pemerintah daerah, masyarakat, serta pihak yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air seperti sungai, danau, dan drainase harus bekerja sama mengurangi risiko bencana. Misalnya, banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung, maupun terjadinya badai tropis.

Baca Juga :  Bupati Landak Terbitkan Pedoman Resepsi Pernikahan

Berdasar data BMKG, sampai dengan November 2021 diperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Kemudian, pada akhir Desember 2021, BMKG memperkirakan 96,8 persen wilayah Indonesia memasuki musim hujan. Sementara itu, dalam sebulan terakhir, berbagai bencana hidrometeorologis dilaporkan terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Barat. (jp)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan berlangsung pada periode Desember 2021 sampai Januari 2022. Peningkatan curah hujan setiap bulan mencapai 20 sampai 50 persen. Selain dinamika meteorologis lokal, peningkatan curah hujan dipengaruhi fenomena suhu lautan Pasifik La Nina.

Data BMKG menunjukkan, indeks La Nina terus meningkat. Yakni, 0,5 pada Agustus; 0,55 pada September; dan 0,61 pada Oktober. Indeks itu menunjukkan bahwa La Nina telah melewati ambang batas normal.

Meski demikian, menurut Deputi Meteorologi BMKG Guswanto, indeks La Nina masih dikategorikan lemah. ”Kategorinya lemah sampai sedang,” jelas Guswanto kemarin.  Guswanto mengatakan, berdasar analisis perbandingan dengan kejadian La Nina 2020, curah hujan meningkat pada November–Desember–Januari, terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga NTT, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.

Baca Juga :  Penetapan BCB Berdasarkan Hikayat Istana Amantubillah

BMKG memprediksi La Nina tahun ini relatif sama. Dampak yang akan ditimbulkan, antara lain, peningkatan curah hujan bulanan berkisar 20–50 persen di atas normal. Dengan peningkatan curah hujan pada periode musim hujan tersebut, perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. ”Untuk puncak musimnya pada bulan Desember–Januari,” jelas Guswanto.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, kondisi peningkatan anomali cuaca harus dipersiapkan setidaknya hingga Februari 2022. Pemerintah daerah, masyarakat, serta pihak yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air seperti sungai, danau, dan drainase harus bekerja sama mengurangi risiko bencana. Misalnya, banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung, maupun terjadinya badai tropis.

Baca Juga :  Menyambut Lebaran di Pontianak

Berdasar data BMKG, sampai dengan November 2021 diperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Kemudian, pada akhir Desember 2021, BMKG memperkirakan 96,8 persen wilayah Indonesia memasuki musim hujan. Sementara itu, dalam sebulan terakhir, berbagai bencana hidrometeorologis dilaporkan terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Barat. (jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/