alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Selamat Datang 2020, Selamat Datang Tarif Baru

PONTIANAK – Suara petasan dan kembang api yang saling bersahutan pada Rabu (1/1) dini hari, menjadi penanda pergantian tahun, dari 2019 ke 2020. Pergantian tahun tentu menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri, sekaligus memberikan asa dan harapan baru.

Tidak hanya itu, nyatanya pergantian tahun juga menandai berlakunya tarif atau biaya baru bagi sejumlah hal yang berkatian dengan publik. Apa sajakah tarif baru yang berlaku pada tahun 2020 ini? Pontianak Post akan merangkumnya untuk anda.

1.Harga Rokok

Kenaikan tarif cukai rokok yang resmi diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2020, otomatis membuat harga rokok naik. Kenaikan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengerek tarif cukai hasil tembakau yang  tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 136/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Dalam peraturan tersebut, diputuskan kenaikan tarif cukai rokok rata-rata 23 persen, dan menaikkan harga jual eceran atau harga banderol dengan rata-rata sekitar 35 persen. “Tarif cukai tahun ini memang naik, tapi itu hampir rutin tiap tahun,” ungkap Kepala Seksi Penerimaan dan Pengelolaan Data Kanwil Dirjen Bea Cukai Kalbagbar, Purba Sadhi, Rabu (1/1).

Baca Juga :  Peringati May Day, BPJS Kesehatan Pontianak Beri Bantuan Kepada Pekerja

Kenaikan cukai rokok ini tidak berlaku untuk semua jenis rokok. Kenaikan cukai rokok berlaku untuk rokok sigaret keretek mesin (SKM) dengan kenaikan tarif 23,29 persen, cukai rokok sigaret putih mesin (SPM) naik 29,95 persen, dan cukai rokok sigaret keretek tangan (SKT) naik 12,84 persen. Sedangkan produk tembakau, seperti tembakau iris, rokok daun, sigaret kelembek kemenyan, dan cerutu, tidak mengalami kenaikan tarif cukai.

2.BPJS Kesehatan

Per 1 Januari 2020, iuran Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan resmi naik. Kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 24 Oktober 2019.

Seperti diketahui, kenaikan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) tersebut untuk seluruh segmen peserta BPJS. Mulai dari, Penerima Bantuan Iuran (PBI), Pekerja Penerima Upah Pemerintah (PPU-P), Pekerja Penerima Upah Badan Usaha (PPU-BU),  hingga Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau Peserta Mandiri.

Untuk peserta mandiri, biaya untuk kelas III naik dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000 per jiwa, kelas II naik dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 per jiwa, dan kelas I naik dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 per jiwa.

Baca Juga :  Berakhir di Kaltara, Roadshow Epson Sukses Jelajahi Pulau Kalimantan

3.Rumah Bersubsidi

Tahun ini harga rumah bersubsidi mengalami kenaikan menyusul, diterbitkannya Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No 353/KPTS/M 2019 Tentang Batasan Harga Rumah Sejahtera Tapak yang Diperoleh Melalui Kredit/pembiayaan Rumah Bersubsidi, pada bulan Juni lalu.

Dalam beleid tersebut, besaran harga rumah bersubsidi terbagi menjadi lima wilayah. Khusus untuk wilayah Kalimantan, harga rumah bersubsidi untuk tahun 2019 sebesar Rp153 juta, serta tahun 2020 sebesar Rp164,5 juta. Bila melihat harga baru tersebut, maka ada kenaikan sebesar Rp11,5 juta. Namun begitu, menurut Khairiana, harga tersebut merupakan harga maksimal, sehingga boleh jadi harganya lebih murah.

“Harga yang ditetapkan itu adalah harga maksimal. Biasanya nanti harga jual akan disesuaikan dengan kualitas bangunannya. Sehingga harganya bisa lebih rendah,” kata Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kalimantan Barat, Khairiana. (sti)

PONTIANAK – Suara petasan dan kembang api yang saling bersahutan pada Rabu (1/1) dini hari, menjadi penanda pergantian tahun, dari 2019 ke 2020. Pergantian tahun tentu menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri, sekaligus memberikan asa dan harapan baru.

Tidak hanya itu, nyatanya pergantian tahun juga menandai berlakunya tarif atau biaya baru bagi sejumlah hal yang berkatian dengan publik. Apa sajakah tarif baru yang berlaku pada tahun 2020 ini? Pontianak Post akan merangkumnya untuk anda.

1.Harga Rokok

Kenaikan tarif cukai rokok yang resmi diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2020, otomatis membuat harga rokok naik. Kenaikan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengerek tarif cukai hasil tembakau yang  tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 136/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Dalam peraturan tersebut, diputuskan kenaikan tarif cukai rokok rata-rata 23 persen, dan menaikkan harga jual eceran atau harga banderol dengan rata-rata sekitar 35 persen. “Tarif cukai tahun ini memang naik, tapi itu hampir rutin tiap tahun,” ungkap Kepala Seksi Penerimaan dan Pengelolaan Data Kanwil Dirjen Bea Cukai Kalbagbar, Purba Sadhi, Rabu (1/1).

Baca Juga :  Optimalkan Layanan, BPJS Kesehatan & RS Bhayangkara Gelar Sosialisasi

Kenaikan cukai rokok ini tidak berlaku untuk semua jenis rokok. Kenaikan cukai rokok berlaku untuk rokok sigaret keretek mesin (SKM) dengan kenaikan tarif 23,29 persen, cukai rokok sigaret putih mesin (SPM) naik 29,95 persen, dan cukai rokok sigaret keretek tangan (SKT) naik 12,84 persen. Sedangkan produk tembakau, seperti tembakau iris, rokok daun, sigaret kelembek kemenyan, dan cerutu, tidak mengalami kenaikan tarif cukai.

2.BPJS Kesehatan

Per 1 Januari 2020, iuran Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan resmi naik. Kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 24 Oktober 2019.

Seperti diketahui, kenaikan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) tersebut untuk seluruh segmen peserta BPJS. Mulai dari, Penerima Bantuan Iuran (PBI), Pekerja Penerima Upah Pemerintah (PPU-P), Pekerja Penerima Upah Badan Usaha (PPU-BU),  hingga Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau Peserta Mandiri.

Untuk peserta mandiri, biaya untuk kelas III naik dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000 per jiwa, kelas II naik dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 per jiwa, dan kelas I naik dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 per jiwa.

Baca Juga :  Hotel Kapuas Palace Pontianak Usung Tema ‘Back to 80's’ di Malam Pergantian Tahun

3.Rumah Bersubsidi

Tahun ini harga rumah bersubsidi mengalami kenaikan menyusul, diterbitkannya Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No 353/KPTS/M 2019 Tentang Batasan Harga Rumah Sejahtera Tapak yang Diperoleh Melalui Kredit/pembiayaan Rumah Bersubsidi, pada bulan Juni lalu.

Dalam beleid tersebut, besaran harga rumah bersubsidi terbagi menjadi lima wilayah. Khusus untuk wilayah Kalimantan, harga rumah bersubsidi untuk tahun 2019 sebesar Rp153 juta, serta tahun 2020 sebesar Rp164,5 juta. Bila melihat harga baru tersebut, maka ada kenaikan sebesar Rp11,5 juta. Namun begitu, menurut Khairiana, harga tersebut merupakan harga maksimal, sehingga boleh jadi harganya lebih murah.

“Harga yang ditetapkan itu adalah harga maksimal. Biasanya nanti harga jual akan disesuaikan dengan kualitas bangunannya. Sehingga harganya bisa lebih rendah,” kata Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kalimantan Barat, Khairiana. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/