alexametrics
23.4 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Temuan Fintech Ilegal Menurun

PONTIANAK – Satgas Waspada Investasi (SWI) kembali menemukan ratusan entitas fintech lending dan investasi ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat. Pengawasan yang dilakukan sejak Desember sampai awal Januari 2021 ini, SWI menemukan 133 platform fintech peer to peer lending ilegal dan 14 kegiatan usaha tanpa izin. Namun jumlah ini turun dibandingkan dengan pengawasan yang dilakukan sebelumnya.

“Dari upaya pencegahan dan patroli siber yang terus menerus kami lakukan, angka temuan fintech lending dan penawaran investasi ilegal ini menurun dibanding sebelumnya,” ungkap Ketua SWI, Tongam Lumban Tobing.

Meski begitu, menurutnya, kewaspadaan masyarakat harus terus dijaga agar tidak menjadi korban dari fintech lending ilegal dan penawaran investasi yang tidak berizin tersebut. Dia menilai, sosialisasi mengenai bahaya fintech lending ilegal dan investasi ilegal ini harus terus disampaikan ke masyarakat melalui berbagai alat komunikasi seperti media massa dan sosial media yang bisa mencapai masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air, mengingat penawaran fintech lending ilegal dan investasi ilegal ini masih akan muncul di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga :  BRI Kerja Sama Implementasi Aplikasi PSIAP bersama Dirjen Pajak Kemenkeu RI

“Penting untuk selalu diingatkan ke masyarakat bahwa sebelum memanfaatkan fintech lending dan mencoba berinvestasi harus pahami 2L, yaitu Legal atau perusahaan itu harus punya izin dari otoritasnya dan Logis, yaitu penawaran keuntungan yang ditawarkan sesuai dengan keuntungan yang wajar,” tegas dia.

Untuk itu, dia meminta masyarakat diminta untuk menanyakan langsung kepada OJK bila ingin memanfaatkan layanan fintech lending atau mengikuti ingin berinvestasi. Selain itu, dirinya juga mengimbau, apabila ada kegiatan fintech lending dan investasi yang berpotensi merugikan masyarakat dapat dilaporkan ke otoritas berwenang.

Dikatakan Tongam, pihak SWI akan terus melakukan patroli siber rutin yang frekuensinya akan terus ditingkatkan sejalan dengan masih banyaknya temuan fintech lending dan penawaran investasi ilegal melalui berbagai saluran teknologi komunikasi di masyarakat. Dari temuan tersebut, Satgas selanjutnya mengirimkan informasi kepada Bareskrim Polri untuk dilakukan tindakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku dan meminta Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk memblokir website dan aplikasi telepon seluler dari entitas-entitas tersebut.

Baca Juga :  Program Diskon Tambah Daya Listrik “Super Wow” Tembus 50 Ribu Pelanggan

“Sejak tahun 2018 sampai Januari 2021 ini Satgas sudah menutup sebanyak 3.056 fintech lending ilegal,” tutur dia.

Sementara dari 14 entitas investasi ilegal yang ditindak pada awal tahun ini di antaranya melakukan kegiatan, sebut dia, di antaranya adalah perdagangan berjangka komoditi (PBK) tanpa izin, cryptocurrency tanpa izin, koperasi tanpa izin, penjualan langsung tanpa izin; dan kegiatan lainnya. (sti)

PONTIANAK – Satgas Waspada Investasi (SWI) kembali menemukan ratusan entitas fintech lending dan investasi ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat. Pengawasan yang dilakukan sejak Desember sampai awal Januari 2021 ini, SWI menemukan 133 platform fintech peer to peer lending ilegal dan 14 kegiatan usaha tanpa izin. Namun jumlah ini turun dibandingkan dengan pengawasan yang dilakukan sebelumnya.

“Dari upaya pencegahan dan patroli siber yang terus menerus kami lakukan, angka temuan fintech lending dan penawaran investasi ilegal ini menurun dibanding sebelumnya,” ungkap Ketua SWI, Tongam Lumban Tobing.

Meski begitu, menurutnya, kewaspadaan masyarakat harus terus dijaga agar tidak menjadi korban dari fintech lending ilegal dan penawaran investasi yang tidak berizin tersebut. Dia menilai, sosialisasi mengenai bahaya fintech lending ilegal dan investasi ilegal ini harus terus disampaikan ke masyarakat melalui berbagai alat komunikasi seperti media massa dan sosial media yang bisa mencapai masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air, mengingat penawaran fintech lending ilegal dan investasi ilegal ini masih akan muncul di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga :  Kendaraan Listrik Wuling Pertama di Indonesia, Air ev Produksi di Cikarang

“Penting untuk selalu diingatkan ke masyarakat bahwa sebelum memanfaatkan fintech lending dan mencoba berinvestasi harus pahami 2L, yaitu Legal atau perusahaan itu harus punya izin dari otoritasnya dan Logis, yaitu penawaran keuntungan yang ditawarkan sesuai dengan keuntungan yang wajar,” tegas dia.

Untuk itu, dia meminta masyarakat diminta untuk menanyakan langsung kepada OJK bila ingin memanfaatkan layanan fintech lending atau mengikuti ingin berinvestasi. Selain itu, dirinya juga mengimbau, apabila ada kegiatan fintech lending dan investasi yang berpotensi merugikan masyarakat dapat dilaporkan ke otoritas berwenang.

Dikatakan Tongam, pihak SWI akan terus melakukan patroli siber rutin yang frekuensinya akan terus ditingkatkan sejalan dengan masih banyaknya temuan fintech lending dan penawaran investasi ilegal melalui berbagai saluran teknologi komunikasi di masyarakat. Dari temuan tersebut, Satgas selanjutnya mengirimkan informasi kepada Bareskrim Polri untuk dilakukan tindakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku dan meminta Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk memblokir website dan aplikasi telepon seluler dari entitas-entitas tersebut.

Baca Juga :  Selamat Datang 2020, Selamat Datang Tarif Baru

“Sejak tahun 2018 sampai Januari 2021 ini Satgas sudah menutup sebanyak 3.056 fintech lending ilegal,” tutur dia.

Sementara dari 14 entitas investasi ilegal yang ditindak pada awal tahun ini di antaranya melakukan kegiatan, sebut dia, di antaranya adalah perdagangan berjangka komoditi (PBK) tanpa izin, cryptocurrency tanpa izin, koperasi tanpa izin, penjualan langsung tanpa izin; dan kegiatan lainnya. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/