alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, July 4, 2022

Tarif Pesawat Sebabkan Kalbar Deflasi Maret 2020

PONTIANAK – Setelah mencatatkan inflasi sejak awal tahun 2020, kini Kalimantan Barat (Kalbar) pada Maret 2020, mengalami deflasi. Angka deflasi Kalbar berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, sebesar 0,14 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 105,22. Tarif angkutan udara penyumbang deflasi terbesar.

Kepala BPS Kalbar, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan deflasi terjadi di tiga kota IHK yang ada di Kalimantan Barat. “Deflasi di Pontianak sebesar 0,13 persen dengan IHK sebesar 105,27, Singkawang sebesar 0,18 persen dengan IHK sebesar 102,46, dan Sintang sebesar 0,15 persen dengan IHK sebesar 109,56,” papar dia, kemarin.

Menurutnya, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan dan penurunan harga. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Maret 2020, antara lain, tarif angkutan udara, sawi hijau, kacang panjang, cabai rawit, bayam, jeruk, dan bawang putih. Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain, gula pasir, kangkung, ikan tongkol, cabai merah kering, ikan kembung, dan rokok kretek filter.

Baca Juga :  BUMN di Kalbar sumbang 1.000 rapid test

“Sehingga tingkat inflasi tahun kalender Maret 2020 sebesar 1,31 persen,” sebut dia.

Tarif angkutan udara menjadi komoditas yang paling tinggi tingkat penurunan harganya. BPS mencatat, ada lima kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, di mana  kelompok transportasi mencatatkan penurunan yang paling tinggi yakni, sebesar 0,46 persen.

Penurunan ini diperkirakan karena sepinya penerbangan setelah tersengat sentimen negatif wabah covid-19. Masyarakat cenderung untuk tidak berpergian ke luar daerah, serta  adanya sejumlah negara yang malakukan karantina wilayah atau lockdown. Hal ini diungkapkan oleh Anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Kalimantan Barat, Budi Agustian. Dia mengatakan, wabah covid-19 memberikan dampak negatif yang luar biasa terhadap jasa penjualan tiket dan perjalanan wisata. Hal ini imbas dari keengganan masyarakat bepergian, baik ke luar negeri maupun dalam negeri.

Baca Juga :  Rekomendasi Daily Driver di Bawah Rp2 Juta dari Samsung

“Semuanya menahan diri untuk tidak melaksanakan perjalanan. Termasuk tour-tour, baik  keluar negeri maupun dari luar masuk ke Kalimantan Barat, khususnya ke Pontinak sudah tidak ada, sebagaimana larangan dari pemerintah,” kata dia. (sti)

PONTIANAK – Setelah mencatatkan inflasi sejak awal tahun 2020, kini Kalimantan Barat (Kalbar) pada Maret 2020, mengalami deflasi. Angka deflasi Kalbar berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, sebesar 0,14 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 105,22. Tarif angkutan udara penyumbang deflasi terbesar.

Kepala BPS Kalbar, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan deflasi terjadi di tiga kota IHK yang ada di Kalimantan Barat. “Deflasi di Pontianak sebesar 0,13 persen dengan IHK sebesar 105,27, Singkawang sebesar 0,18 persen dengan IHK sebesar 102,46, dan Sintang sebesar 0,15 persen dengan IHK sebesar 109,56,” papar dia, kemarin.

Menurutnya, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan dan penurunan harga. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Maret 2020, antara lain, tarif angkutan udara, sawi hijau, kacang panjang, cabai rawit, bayam, jeruk, dan bawang putih. Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain, gula pasir, kangkung, ikan tongkol, cabai merah kering, ikan kembung, dan rokok kretek filter.

Baca Juga :  Intip Interior Lapang Hyundai Stargazer

“Sehingga tingkat inflasi tahun kalender Maret 2020 sebesar 1,31 persen,” sebut dia.

Tarif angkutan udara menjadi komoditas yang paling tinggi tingkat penurunan harganya. BPS mencatat, ada lima kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, di mana  kelompok transportasi mencatatkan penurunan yang paling tinggi yakni, sebesar 0,46 persen.

Penurunan ini diperkirakan karena sepinya penerbangan setelah tersengat sentimen negatif wabah covid-19. Masyarakat cenderung untuk tidak berpergian ke luar daerah, serta  adanya sejumlah negara yang malakukan karantina wilayah atau lockdown. Hal ini diungkapkan oleh Anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Kalimantan Barat, Budi Agustian. Dia mengatakan, wabah covid-19 memberikan dampak negatif yang luar biasa terhadap jasa penjualan tiket dan perjalanan wisata. Hal ini imbas dari keengganan masyarakat bepergian, baik ke luar negeri maupun dalam negeri.

Baca Juga :  Penurunan Indeks Tiga Kelompok ini Sebabkan Kalbar Deflasi

“Semuanya menahan diri untuk tidak melaksanakan perjalanan. Termasuk tour-tour, baik  keluar negeri maupun dari luar masuk ke Kalimantan Barat, khususnya ke Pontinak sudah tidak ada, sebagaimana larangan dari pemerintah,” kata dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/