alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

BSI Diharapkan Jadi Katalis Penetrasi Keuangan Syariah

PONTIANAK – Sejumlah pihak berharap lahirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) dapat menjadi katalisator dalam memperluas penetrasi industri keuangan syariah di tanah air. Kehadiran bank hasil merger tiga bank syariah BUMN itu, diyakini bisa mendorong perkonomian, khususnya pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat di daerah agar lebih mengenal dan menggunakan layanan keuangan syariah.
“Merger tiga bank syariah BUMN diharapkan dapat menjadi katalisator pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,” ungkap Kepala Otoritas Jasa keuangan (OJK) Kalbar, Moch Riezky F Purnomo, kemarin.
Seperti diketahui, Tiga bank BUMN, melakukan aksi merger, yakni BRI Syariah, Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, menjadi Bank Syariah Indonesia. Menurut Riezky, aksi tersebut akan meningkatkan daya saing dan efisiensi bank, sesuai dengan tujuan OJK yakni menciptakan perbankan yang sehat, kuat, sehingga bisa meningkatkan pelayanan dan memberikan kontribusi positif kepada perekonomian. Selain itu, dengan permodalan yang lebih kuat tentunya akan menunjang pengembangan bisnis entitas yang baru, mulai dari pembangunan infrastrukur yang lebih siap mendukung bisnis di era digital, dan sumber daya insani yang lebih kompeten.
“Dan tentu saja mendukung terciptanya bisnis yang lebih efisien sehingga siap bersaing dalam industri perbankan nasional bahkan global,” kata dia.
Dia menambahkan, jika merger telah terealisasi, maka di Kalimantan akan menjadi satu Regional Office (RO) yaitu RO VII di Banjarmasin yang membawahi tiga area, yaitu Area Pontianak dengan 19 Cabang, Area Banjarmasin 30 Cabang dan Area Balikpapan 32 Cabang. Sedangkan di Area Pontianak, Bank Syariah Indonesia akan memiliki 19 Cabang dan 1 kantor kas, sehingga diharapkan dapat menjangkau luas masyarakat di seluruh Kalimantan Barat.
Sekretaris Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalimantan Barat, Awaludin berharap BSI mampu mengaplikasi sistem perbankan syariah yang inklusif terhadap semua lapisan masyarakat, serta memberikan ruang dan porsi yang besar bagi pengembangan UMKM. “BSI harus mampu merangkul pelaku UMKM sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi secara cepat,” kata dia.
Menurutnya, selama ini kontribusi perbankan syariah masih cukup rendah, padahal memiliki potensi yang sangatlah besar mengingat penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam. Dia menyebut, kontribusi perbankan syariah selalu di bawah lima persen dan sulit untuk keluar dari angka tersebut apabila inklusi keuangan syariah masih rendah. Kata dia, apabila dukungan dari masyarakat masih minim terhadap keuangan syariah, maka kehadiran BSI tak punya pengaruh besar dan tetap sulit meningkatkan kontribusinya bagi ekonomi nasional secara signifikan.
“Tapi kalau dukungan masih minim, rasanya akan tetap berat bagi bank syariah meningkatkan porsi ekonomi,” kata dia.
Sementara itu, Akademisi Universitas Tanjungpura (Untan), Muhsin, menyambut baik merger tiga bank syariah BUMN tersebut menjadi Bank Syariah Indonesia. Menurutnya ada banyak hal positif dari penggabungan perusahaan milik negara tersebut, terutama dalam rangka mendorong industri keuangan syariah di tanah air. Salah satunya mendorong perluasan jaringan yang berdampak baik pada inklusi keuangan syariah tanah air.
“Termasuk juga menciptakan efisiensi dalam proses bisnis secara internal. Yang awalnya direktur utama tiga sekarang hanya jadi satu,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan ini.
Dari sisi aset dan modal, lanjut dia, relatif semakin kuat sehingga diharapkan masyarakat mendapatkan manfaat yang besar, terutama kepada akses pembiayan. Menurutnya, banyak pihak menaruh harapan dengan kehadiran BSI, pembiyaan lebih mudah tersalur bagi pelaku UMKM yang berdampak langsung kapada sektor rill. Selain itu, dengan pemanfaatan teknologi warisan tiga bank syariah yang merger, Bank Syariah Indonesia akan menjadi katalis pertumbuhan sektor ekonomi dan keuangan syariah.
Sisi positif lainnya, tambah dia, yakni munculnya budaya korporasi yang lebih islami dan humanis, namun tetap menjangkau semua lapisan masyarakat Indonesia, tidak hanya umat Islam. Saat ini pun, kata dia, nasabah perbankan syariah juga banyak berasal dari penganut agama lainnya. “Mudah-mudahan dengan dibangunnya bank ini, kepercayaan masyarakat akan semakin tumbuh,” pungkas dia. (sti)
Baca Juga :  BRI dan Sekolah Yayasan Hang Tuah Permudah Belajar dengan Junio Smart
PONTIANAK – Sejumlah pihak berharap lahirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) dapat menjadi katalisator dalam memperluas penetrasi industri keuangan syariah di tanah air. Kehadiran bank hasil merger tiga bank syariah BUMN itu, diyakini bisa mendorong perkonomian, khususnya pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat di daerah agar lebih mengenal dan menggunakan layanan keuangan syariah.
“Merger tiga bank syariah BUMN diharapkan dapat menjadi katalisator pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,” ungkap Kepala Otoritas Jasa keuangan (OJK) Kalbar, Moch Riezky F Purnomo, kemarin.
Seperti diketahui, Tiga bank BUMN, melakukan aksi merger, yakni BRI Syariah, Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, menjadi Bank Syariah Indonesia. Menurut Riezky, aksi tersebut akan meningkatkan daya saing dan efisiensi bank, sesuai dengan tujuan OJK yakni menciptakan perbankan yang sehat, kuat, sehingga bisa meningkatkan pelayanan dan memberikan kontribusi positif kepada perekonomian. Selain itu, dengan permodalan yang lebih kuat tentunya akan menunjang pengembangan bisnis entitas yang baru, mulai dari pembangunan infrastrukur yang lebih siap mendukung bisnis di era digital, dan sumber daya insani yang lebih kompeten.
“Dan tentu saja mendukung terciptanya bisnis yang lebih efisien sehingga siap bersaing dalam industri perbankan nasional bahkan global,” kata dia.
Dia menambahkan, jika merger telah terealisasi, maka di Kalimantan akan menjadi satu Regional Office (RO) yaitu RO VII di Banjarmasin yang membawahi tiga area, yaitu Area Pontianak dengan 19 Cabang, Area Banjarmasin 30 Cabang dan Area Balikpapan 32 Cabang. Sedangkan di Area Pontianak, Bank Syariah Indonesia akan memiliki 19 Cabang dan 1 kantor kas, sehingga diharapkan dapat menjangkau luas masyarakat di seluruh Kalimantan Barat.
Sekretaris Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalimantan Barat, Awaludin berharap BSI mampu mengaplikasi sistem perbankan syariah yang inklusif terhadap semua lapisan masyarakat, serta memberikan ruang dan porsi yang besar bagi pengembangan UMKM. “BSI harus mampu merangkul pelaku UMKM sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi secara cepat,” kata dia.
Menurutnya, selama ini kontribusi perbankan syariah masih cukup rendah, padahal memiliki potensi yang sangatlah besar mengingat penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam. Dia menyebut, kontribusi perbankan syariah selalu di bawah lima persen dan sulit untuk keluar dari angka tersebut apabila inklusi keuangan syariah masih rendah. Kata dia, apabila dukungan dari masyarakat masih minim terhadap keuangan syariah, maka kehadiran BSI tak punya pengaruh besar dan tetap sulit meningkatkan kontribusinya bagi ekonomi nasional secara signifikan.
“Tapi kalau dukungan masih minim, rasanya akan tetap berat bagi bank syariah meningkatkan porsi ekonomi,” kata dia.
Sementara itu, Akademisi Universitas Tanjungpura (Untan), Muhsin, menyambut baik merger tiga bank syariah BUMN tersebut menjadi Bank Syariah Indonesia. Menurutnya ada banyak hal positif dari penggabungan perusahaan milik negara tersebut, terutama dalam rangka mendorong industri keuangan syariah di tanah air. Salah satunya mendorong perluasan jaringan yang berdampak baik pada inklusi keuangan syariah tanah air.
“Termasuk juga menciptakan efisiensi dalam proses bisnis secara internal. Yang awalnya direktur utama tiga sekarang hanya jadi satu,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan ini.
Dari sisi aset dan modal, lanjut dia, relatif semakin kuat sehingga diharapkan masyarakat mendapatkan manfaat yang besar, terutama kepada akses pembiayan. Menurutnya, banyak pihak menaruh harapan dengan kehadiran BSI, pembiyaan lebih mudah tersalur bagi pelaku UMKM yang berdampak langsung kapada sektor rill. Selain itu, dengan pemanfaatan teknologi warisan tiga bank syariah yang merger, Bank Syariah Indonesia akan menjadi katalis pertumbuhan sektor ekonomi dan keuangan syariah.
Sisi positif lainnya, tambah dia, yakni munculnya budaya korporasi yang lebih islami dan humanis, namun tetap menjangkau semua lapisan masyarakat Indonesia, tidak hanya umat Islam. Saat ini pun, kata dia, nasabah perbankan syariah juga banyak berasal dari penganut agama lainnya. “Mudah-mudahan dengan dibangunnya bank ini, kepercayaan masyarakat akan semakin tumbuh,” pungkas dia. (sti)
Baca Juga :  Jaga Tak Melewati HET, Mendag Targetkan 30 Ribu Pengecer Migor Curah

Most Read

Artikel Terbaru

IPM Kalbar Masih Peringkat 30

Harga Hewan Kurban Melonjak

Usut Tuntas Promo Miras Holywings

/