alexametrics
30.6 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Pacu Pemuda Masuki Industri Kriya

PONTIANAK – Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bersama Disporapar Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kegiatan pelatihan Kriya 2019 di aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura pada 3-4 Oktober 2019. Asisten Deputi Peningkatan Kreativitas Pemuda Kemenpora RI, Djunaidi, menyebut kreativitas pemuda Kalbar tergolong tinggi. Bahkan banyak pemuda Kalbar yang berprestasi lewat karya-karya kriyanya. Menurut ekonomi kreatif itu ada 16 sektor. Kriya menjadi salah satunya. “Para pemuda di Kalimantan Barat sangat kreatif dan sangat semangat di dalam industri kreatif ini,” kata Djunaidi, di sela –sela kegiatan pelatihan Kriya 2019 di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, kemarin (3/10).

Dia menilai, minat pemuda untuk maju di industri kreatif ini sangat besar sekali. “Tetapi jangan di dalam kreatifitas saja yang di majukan tetapi juga di dalam bidang fashion ataupun di dalam bidang kuliner serta musik pun harus selalu ditingkatkan,” ujarnya mengingatkan. “Hari ini kami memberikan pelatihan kepada puluhan pemuda Kalbar dibidang kriya sehingga nantinya muncul pemuda yang kreatifitas dan terus berinovasi dibidang apa saja,” Djunaidi menjelaskan.

Baca Juga :  Antisipasi Penyebaran Covid-19 di Lokasi Wisata

Perkembangan teknologi, kata Djunaidi, harus disikapi menjadi tantangan. Untuk itu, dia mengharapkan peserta yang sudah dilatih punya keinginan untuk menghasilkan suatu karya. “Tidak harus bernilai ekonomi tapi bisa jadi bernilai budaya baru. Pelatihan ini bekerja sama dengan Disparpora setempat, agar pemerintah daerah bisa memberikan pembinaan yang lebih baik,” katanya.

Dia mengatakan, Kemenpora juga bekerja sama juga dengan lembaga-lembaga lain seperti PT Telkom membentuk pelatihan yang diberi naam DILO ( Digital Innovation Lounge) di Indonesia.
“Baru 17 Kota yang ada program DILO ini. Salah satunya berada di Jakartai yang bertempat di Menpora di mana para pemuda dilatih didalam bidang IT. Para pemuda yang direkrut adalah para siswa, mahasiswa ataupun organisasi kepemudaan,” ujar Djunaidi.

Kepala Bidang Kepemudaan Dispora Provinsi Kalimantan Barat, Yulius Jualang, menyebut Kalbar kaya akan berbagai kerajinan, baik tradisional maupun kontemporer. “Bahkan hingga di pelosok-pelosok yang hingga kini masih banyak yang belum diketahui. Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, maka para peserta puluhan dari pemuda akan lebih kreatif dan bisa mengajak para pemuda lainnya untuk lebih kreatif salah satunya bidang kriya,” ujar dia.

Baca Juga :  Disporapar Kalbar Gelar Pelatihan Kepemanduan Arung Jeram dan Mitigasi Bencana

Sementara itu, seorang peserta pelatihan dari Sanggar Kegiatan Belajar Kota Pontianak, Fahmi Kartina, menyebut pelatihan ini sangat membantu dirinya. Apalagi saat ini dia sedang menjadi pelatih di sekolah nonformal untuk anak-anak marginal. Sehingga ilmu yang didapat dari even ini, bisa disalurkan kembali kepada anak didiknya.

Saat ini dia tengah mengelola benda-benda tak terpakai menjadi produk bernilai ekonomi seperti ampas tebu, kopi, kelapa, dan kulit durian. Sisa bekas olah pakai itu menjadi bermanfaat dan bernilai ekonomis. “Misalnya kulit durian diolah atau dibuat menjadi sandal refleksi atau suvenir, dan lain sebagainya sehingga bernilai ekonomis,” ujarnya. “Kami juga menitipkan hasil kerajinan di UMKM Center Kota Pontianak, sehingga bisa menjadi oleh-oleh bagi para tamu yang berkunjung ke Pontianak,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bersama Disporapar Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kegiatan pelatihan Kriya 2019 di aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura pada 3-4 Oktober 2019. Asisten Deputi Peningkatan Kreativitas Pemuda Kemenpora RI, Djunaidi, menyebut kreativitas pemuda Kalbar tergolong tinggi. Bahkan banyak pemuda Kalbar yang berprestasi lewat karya-karya kriyanya. Menurut ekonomi kreatif itu ada 16 sektor. Kriya menjadi salah satunya. “Para pemuda di Kalimantan Barat sangat kreatif dan sangat semangat di dalam industri kreatif ini,” kata Djunaidi, di sela –sela kegiatan pelatihan Kriya 2019 di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, kemarin (3/10).

Dia menilai, minat pemuda untuk maju di industri kreatif ini sangat besar sekali. “Tetapi jangan di dalam kreatifitas saja yang di majukan tetapi juga di dalam bidang fashion ataupun di dalam bidang kuliner serta musik pun harus selalu ditingkatkan,” ujarnya mengingatkan. “Hari ini kami memberikan pelatihan kepada puluhan pemuda Kalbar dibidang kriya sehingga nantinya muncul pemuda yang kreatifitas dan terus berinovasi dibidang apa saja,” Djunaidi menjelaskan.

Baca Juga :  Setop Fasilitas Olahraga jadi Tempat Tinggal

Perkembangan teknologi, kata Djunaidi, harus disikapi menjadi tantangan. Untuk itu, dia mengharapkan peserta yang sudah dilatih punya keinginan untuk menghasilkan suatu karya. “Tidak harus bernilai ekonomi tapi bisa jadi bernilai budaya baru. Pelatihan ini bekerja sama dengan Disparpora setempat, agar pemerintah daerah bisa memberikan pembinaan yang lebih baik,” katanya.

Dia mengatakan, Kemenpora juga bekerja sama juga dengan lembaga-lembaga lain seperti PT Telkom membentuk pelatihan yang diberi naam DILO ( Digital Innovation Lounge) di Indonesia.
“Baru 17 Kota yang ada program DILO ini. Salah satunya berada di Jakartai yang bertempat di Menpora di mana para pemuda dilatih didalam bidang IT. Para pemuda yang direkrut adalah para siswa, mahasiswa ataupun organisasi kepemudaan,” ujar Djunaidi.

Kepala Bidang Kepemudaan Dispora Provinsi Kalimantan Barat, Yulius Jualang, menyebut Kalbar kaya akan berbagai kerajinan, baik tradisional maupun kontemporer. “Bahkan hingga di pelosok-pelosok yang hingga kini masih banyak yang belum diketahui. Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, maka para peserta puluhan dari pemuda akan lebih kreatif dan bisa mengajak para pemuda lainnya untuk lebih kreatif salah satunya bidang kriya,” ujar dia.

Baca Juga :  Minat Pasar Modal Meningkat, Public Expose Lampaui Target

Sementara itu, seorang peserta pelatihan dari Sanggar Kegiatan Belajar Kota Pontianak, Fahmi Kartina, menyebut pelatihan ini sangat membantu dirinya. Apalagi saat ini dia sedang menjadi pelatih di sekolah nonformal untuk anak-anak marginal. Sehingga ilmu yang didapat dari even ini, bisa disalurkan kembali kepada anak didiknya.

Saat ini dia tengah mengelola benda-benda tak terpakai menjadi produk bernilai ekonomi seperti ampas tebu, kopi, kelapa, dan kulit durian. Sisa bekas olah pakai itu menjadi bermanfaat dan bernilai ekonomis. “Misalnya kulit durian diolah atau dibuat menjadi sandal refleksi atau suvenir, dan lain sebagainya sehingga bernilai ekonomis,” ujarnya. “Kami juga menitipkan hasil kerajinan di UMKM Center Kota Pontianak, sehingga bisa menjadi oleh-oleh bagi para tamu yang berkunjung ke Pontianak,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/