alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Cuma Sembilan Turis Asing Datang

PONTIANAK – Akhir tahun sejatinya menjadi momen untuk mendulang pendapatan dari sektor pariwisata. Tetapi apa dinyana, pandemi membuat realitas menjadi terbalik. Sepanjang Desember 2020 hanya ada sembilan turis asing yang datang ke provinsi ini.

Angka itu berbanding jauh dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Pada Desember 2019, total wisatawan mancanegara yang berlibur ke Kalbar mencapai 7.997 orang. Bahkan dibanding bulan November 2020, wisman yang ke Kalbar turun jauh.

“Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Kalimantan Barat Desember 2020 mencapai 9 kunjungan atau turun 59,09 persen dibandingkan kunjungan wisman November 2020, sebesar 22 kunjungan,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalbar, Moh Wahyu Yulianto dalam konferensi pers, Senin (1/2) kemarin.

Wisman yang datang pun adalah sebagian besar berasal dari negara tetangga, Sarawak, Malaysia dan statusnya adalah warga Indonesia penduduk luar negeri (Penlu). Semuanya berkunjung lewat pintu perbatasan. Sebanyak 5 orang lewat Entikong (Sanggau) dan 4 orang via Aruk (Sambas). Sedangkan Bandara Supadio Pontianak menyumbang nol wisman.

Kendati demikian, mobilitas antara orang dalam lingkup domestik pada akhir tahun tetap tinggi. Terutama pada momen libur Natal dan Tahun Baru. Penumpang angkutan udara dalam negeri yang datang pada Desember 2020 sebanyak 70.257 orang, naik 20,03 persen dibanding November 2020. “Sedangkan jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang berangkat pada Desember 2020 sebanyak 79.301 orang, naik 28,74 persen dibanding November 2020,” kata Wahyu.

Baca Juga :  Transaksi Lewat Kode QR Cegah Paparan Covid-19

Adapun Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Kalimantan Barat Desember 2020 sebesar 38,39 persen, turun 3,64 poin dibandingkan November 2020 sebesar 42,03 persen. Rata-rata lama menginap tamu Hotel Bintang di Kalimantan Barat pada Desember 2020,selama 1,45 hari, naik 0,11 hari dibandingkan November 2020, selama 1,34 hari.

TES PCR Memberatkan

Kewajiban tes PCR bagi penumpang pesawat yang datang ke provinsi ini dinilai berpengaruh terhadap dunia pariwisata. Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Kalbar, Nugroho Henray Ekasaputra mengatakan aturan ini sangat berdampak pada menurunnya angka kunjungan ke Kalbar. Selain itu juga merugikan konsumen dan para pelaku usaha yang tergantung pada aktivitas transportasi udara.  Keluhan ini lantaran biaya untuk tes swab PCR jauh lebih mahal dari harga tiket pesawat itu sendiri. Dia berharap, kendati memang harus menggunakan surat keterangan tes PCR, biayanya bisa diturunkan.

“Aturan ini sangat memberatkan penumpang dan berdampak pada dunia pariwisata dan sektor bisnis lainnya. Hendaknya pemerintah bisa mensubsidi seluruh atau sebagian biaya tes tersebut. Harga untuk tes PCR itu bisa hampir satu juta rupiah. Sedangkan harga tiket Jakarta-Pontianak Rp400-500 ribu saja saat ini. Artinya harga PCR itu dua kali lipat harga tiket pesawat. Karena tidak semua penumpang itu orang yang kaya,” saran dia.

Baca Juga :  Kejagung Bentuk Tim Khusus Tangani Kasus Jiwasraya

Asita dan para agen travel anggotanya turut merasakan dampak aturan ini. Sejak diberlakukan pada akhir tahun lalu, aturan ini telah membuat sejumlah paket wisata yang sudah dipesan wisatawan dari luar Kalbar dibatalkan. “Untuk kebijakan adanya tes PCR dulu ke Kalbar itu tentu kewenangan pemerintah. Namun kita dari sisi pelaku usaha perjalanan tentu merasakan dampaknya yakni sudah ada pembatalan wisatawan yang akan ke Kalbar,” ujarnya.

Sementara soal, pembatalan event wisata Cap Go Meh tahun ini yang membuat para pelaku pariwisata semakin mengerutkan dahit. Henray menyebut larangan terkait festival CGM membuat banyak pemesanan travel dan hotel batal.

“Jumlahnya mungkin ada ratusan wisatawan dan sudah booking hotel juga di Singkawang. Itu hanya yang lewat anggota Asita. Banyak juga wisatawan yang beli tiket sendiri, tidak lewat paket wisata Asita,” katanya.

Namun dia memaklumi langkah yang dijalankan pemerintah. Pihaknya siap menaati apa yang diatur tersebut. “Kami tidak menyalahkan Gubernur dan pemerintah. Tetapi keadaan pandemi ini yang membuat semuanya berantakkan. Mau bagaimana lagi. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir dan kita bisa hidup seperti sediakala.,” ujarnya. (ars)

PONTIANAK – Akhir tahun sejatinya menjadi momen untuk mendulang pendapatan dari sektor pariwisata. Tetapi apa dinyana, pandemi membuat realitas menjadi terbalik. Sepanjang Desember 2020 hanya ada sembilan turis asing yang datang ke provinsi ini.

Angka itu berbanding jauh dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Pada Desember 2019, total wisatawan mancanegara yang berlibur ke Kalbar mencapai 7.997 orang. Bahkan dibanding bulan November 2020, wisman yang ke Kalbar turun jauh.

“Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Kalimantan Barat Desember 2020 mencapai 9 kunjungan atau turun 59,09 persen dibandingkan kunjungan wisman November 2020, sebesar 22 kunjungan,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalbar, Moh Wahyu Yulianto dalam konferensi pers, Senin (1/2) kemarin.

Wisman yang datang pun adalah sebagian besar berasal dari negara tetangga, Sarawak, Malaysia dan statusnya adalah warga Indonesia penduduk luar negeri (Penlu). Semuanya berkunjung lewat pintu perbatasan. Sebanyak 5 orang lewat Entikong (Sanggau) dan 4 orang via Aruk (Sambas). Sedangkan Bandara Supadio Pontianak menyumbang nol wisman.

Kendati demikian, mobilitas antara orang dalam lingkup domestik pada akhir tahun tetap tinggi. Terutama pada momen libur Natal dan Tahun Baru. Penumpang angkutan udara dalam negeri yang datang pada Desember 2020 sebanyak 70.257 orang, naik 20,03 persen dibanding November 2020. “Sedangkan jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang berangkat pada Desember 2020 sebanyak 79.301 orang, naik 28,74 persen dibanding November 2020,” kata Wahyu.

Baca Juga :  Konsumsi Daging Sapi di Kalbar Diprediksi Stagnan

Adapun Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Kalimantan Barat Desember 2020 sebesar 38,39 persen, turun 3,64 poin dibandingkan November 2020 sebesar 42,03 persen. Rata-rata lama menginap tamu Hotel Bintang di Kalimantan Barat pada Desember 2020,selama 1,45 hari, naik 0,11 hari dibandingkan November 2020, selama 1,34 hari.

TES PCR Memberatkan

Kewajiban tes PCR bagi penumpang pesawat yang datang ke provinsi ini dinilai berpengaruh terhadap dunia pariwisata. Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Kalbar, Nugroho Henray Ekasaputra mengatakan aturan ini sangat berdampak pada menurunnya angka kunjungan ke Kalbar. Selain itu juga merugikan konsumen dan para pelaku usaha yang tergantung pada aktivitas transportasi udara.  Keluhan ini lantaran biaya untuk tes swab PCR jauh lebih mahal dari harga tiket pesawat itu sendiri. Dia berharap, kendati memang harus menggunakan surat keterangan tes PCR, biayanya bisa diturunkan.

“Aturan ini sangat memberatkan penumpang dan berdampak pada dunia pariwisata dan sektor bisnis lainnya. Hendaknya pemerintah bisa mensubsidi seluruh atau sebagian biaya tes tersebut. Harga untuk tes PCR itu bisa hampir satu juta rupiah. Sedangkan harga tiket Jakarta-Pontianak Rp400-500 ribu saja saat ini. Artinya harga PCR itu dua kali lipat harga tiket pesawat. Karena tidak semua penumpang itu orang yang kaya,” saran dia.

Baca Juga :  Gapki Kalbar Komitmen Cegah Karhutla

Asita dan para agen travel anggotanya turut merasakan dampak aturan ini. Sejak diberlakukan pada akhir tahun lalu, aturan ini telah membuat sejumlah paket wisata yang sudah dipesan wisatawan dari luar Kalbar dibatalkan. “Untuk kebijakan adanya tes PCR dulu ke Kalbar itu tentu kewenangan pemerintah. Namun kita dari sisi pelaku usaha perjalanan tentu merasakan dampaknya yakni sudah ada pembatalan wisatawan yang akan ke Kalbar,” ujarnya.

Sementara soal, pembatalan event wisata Cap Go Meh tahun ini yang membuat para pelaku pariwisata semakin mengerutkan dahit. Henray menyebut larangan terkait festival CGM membuat banyak pemesanan travel dan hotel batal.

“Jumlahnya mungkin ada ratusan wisatawan dan sudah booking hotel juga di Singkawang. Itu hanya yang lewat anggota Asita. Banyak juga wisatawan yang beli tiket sendiri, tidak lewat paket wisata Asita,” katanya.

Namun dia memaklumi langkah yang dijalankan pemerintah. Pihaknya siap menaati apa yang diatur tersebut. “Kami tidak menyalahkan Gubernur dan pemerintah. Tetapi keadaan pandemi ini yang membuat semuanya berantakkan. Mau bagaimana lagi. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir dan kita bisa hidup seperti sediakala.,” ujarnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/