alexametrics
24 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Ketua PHRI Yuliardi Qamal jadi GM Hotel Maestro

PONTIANAK – Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Kalimantan Barat Yuliardi Qamal memperkenalkan diri menjadi general manager Hotel Maestro Pontianak yang baru. Orang yang sebelumnya dikenal sebagai pemilik dan pengelola Hotel Surya Pontianak ini menyebut akan berusaha sebaik mungkin untuk mengelola hotel bintang empat yang beralamat di Jalan Sultan Syarif Abdurrahman.

“Apalagi di tengah pandemi ini. Tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri, di mana sektor perhotelan adalah yang paling terpukul,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin (4/2).  Menariknya, dia adalah putra daerah Kalbar pertama yang menjadi top leader di hotel bintang empat. Sebelumnya putra Kalbar hanya pernah menjadi general manager di hotel bintang tiga saja. Namun dia cukup percaya diri mampu mengemban tugas itu.

“Saya punya banyak jaringan baik di Kalbar maupun nasional. Tentu itu menjadi kekuatan saya. Selain itu saya juga memegang prinsip manajemen untuk memperlakukan anak buah sebagai keluarga. Kita tegas, tapi juga harus akrab dan kenal satu sama lain,” sebut dia.

Soal Hotel Surya, dia menyebut hotel tersebut adalah milik keluarga besarnya. Namun saat ini dia tidak lagi terjun langsung mengelolanya. Manajemennya diserahkan kepada adiknya. Begitu juga dengan Hotel Khatulistiwa di Singkawang. “Tentu harus profesional untuk memberikan waktu sepenuhnya di Maestro. Saya tidak lagi mengelola Hotel Surya, yang mengurus adik,” imbuhnya.

Baca Juga :  Industri Kreatif Perlu Usaha Kolaboratif

Berbagai perubahan dijalankan Yuliardi di tempat barunya. Misalnya dia menghadirkan menu sotong pangkong di Pavillion Rooftop Cafe. Menu jajanan khas Pontianak yang selalu mewarnai pinggir jalan di kala bulan Ramadan ini kini naik kelas. “Mungkin ini pertama kali hotel bintang empat menghadirkan menu sotong pangkong. Tidak untuk bulan puasa saja, tetapi ini kami sajikan secara reguler setiap hari mulai bulan ini,” sebut dia.

Yuliardi ingin mengotimalkan Pavillion Rooftop Cafe yang berada di lantai lima. Tidak hanya untuk tamu yang menginap, melainkan juga konsumen dari masyarakat umum. Pasalnya kafe tersebut memiliki desain yang kekinian dengan gazebo-gazebo unik. Dari sana, tamu bisa memandang seantero kota. Sekadar menikmati sunset atau melihat gemerlapnya Pontianak di malam hari.

“Tidak hanya menjual pemandangan saja, kami ingin para pengunjung juga mendapatkan sajian terbaik dan ada kekhasannya. Selain sotong pangkong, kami terus mengupdate menu-menu makanan dan minuman terbaru. Apalagi yang sedang booming atau viral di masyarakat. Selain itu kami ada pertunjukkan live music pada akhir pekan,” jelas dia.

Baca Juga :  Dorong Pertumbuhan Investasi, PLN Siapkan Interkoneksi Sistem Kelistrikan Kalbar-Kalteng

Perihal protokol kesehatan, Yuliardi menyebut pihaknya sangat ketat dalam menjalankannya. Misalnya sebelum masuk hotel para tamu wajib untuk memeriksa suhu tubuhnya di termometer yang terpasang di dinding luar hotel. Bila suhu tubuhnya di atas 37 derajat celcius, maka tidak boleh masuk. Setiap tamu juga wajib mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer. “Kami juga telah menata semua tempat duduk sesuai protokol. Artinya harus ada jarak. Kita ingin agar hotel tidak menjadi sarana penyebaran Covid-19,” paparnya.

Diakui dia, saat ini adalah periode kelam bagi perhotelan. Namun hal tersebut tidak membuatnya pesimis menatap tahun ini. “Awal tahun ini pemerintah sudah mulai menjalankan vaksinasi. Semoga bisa lancar dan pandemi berakhir. Kami sendiri tetap mematuhi segala arahan pemerintah. Semoga roda perekonomian dapat berputar dengan normal kembali,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Kalimantan Barat Yuliardi Qamal memperkenalkan diri menjadi general manager Hotel Maestro Pontianak yang baru. Orang yang sebelumnya dikenal sebagai pemilik dan pengelola Hotel Surya Pontianak ini menyebut akan berusaha sebaik mungkin untuk mengelola hotel bintang empat yang beralamat di Jalan Sultan Syarif Abdurrahman.

“Apalagi di tengah pandemi ini. Tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri, di mana sektor perhotelan adalah yang paling terpukul,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin (4/2).  Menariknya, dia adalah putra daerah Kalbar pertama yang menjadi top leader di hotel bintang empat. Sebelumnya putra Kalbar hanya pernah menjadi general manager di hotel bintang tiga saja. Namun dia cukup percaya diri mampu mengemban tugas itu.

“Saya punya banyak jaringan baik di Kalbar maupun nasional. Tentu itu menjadi kekuatan saya. Selain itu saya juga memegang prinsip manajemen untuk memperlakukan anak buah sebagai keluarga. Kita tegas, tapi juga harus akrab dan kenal satu sama lain,” sebut dia.

Soal Hotel Surya, dia menyebut hotel tersebut adalah milik keluarga besarnya. Namun saat ini dia tidak lagi terjun langsung mengelolanya. Manajemennya diserahkan kepada adiknya. Begitu juga dengan Hotel Khatulistiwa di Singkawang. “Tentu harus profesional untuk memberikan waktu sepenuhnya di Maestro. Saya tidak lagi mengelola Hotel Surya, yang mengurus adik,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dorong Pertumbuhan Investasi, PLN Siapkan Interkoneksi Sistem Kelistrikan Kalbar-Kalteng

Berbagai perubahan dijalankan Yuliardi di tempat barunya. Misalnya dia menghadirkan menu sotong pangkong di Pavillion Rooftop Cafe. Menu jajanan khas Pontianak yang selalu mewarnai pinggir jalan di kala bulan Ramadan ini kini naik kelas. “Mungkin ini pertama kali hotel bintang empat menghadirkan menu sotong pangkong. Tidak untuk bulan puasa saja, tetapi ini kami sajikan secara reguler setiap hari mulai bulan ini,” sebut dia.

Yuliardi ingin mengotimalkan Pavillion Rooftop Cafe yang berada di lantai lima. Tidak hanya untuk tamu yang menginap, melainkan juga konsumen dari masyarakat umum. Pasalnya kafe tersebut memiliki desain yang kekinian dengan gazebo-gazebo unik. Dari sana, tamu bisa memandang seantero kota. Sekadar menikmati sunset atau melihat gemerlapnya Pontianak di malam hari.

“Tidak hanya menjual pemandangan saja, kami ingin para pengunjung juga mendapatkan sajian terbaik dan ada kekhasannya. Selain sotong pangkong, kami terus mengupdate menu-menu makanan dan minuman terbaru. Apalagi yang sedang booming atau viral di masyarakat. Selain itu kami ada pertunjukkan live music pada akhir pekan,” jelas dia.

Baca Juga :  Kunjungi Potensi Wisata Landak, Disporapar Kalbar Gelar Fam Trip Tour 2019

Perihal protokol kesehatan, Yuliardi menyebut pihaknya sangat ketat dalam menjalankannya. Misalnya sebelum masuk hotel para tamu wajib untuk memeriksa suhu tubuhnya di termometer yang terpasang di dinding luar hotel. Bila suhu tubuhnya di atas 37 derajat celcius, maka tidak boleh masuk. Setiap tamu juga wajib mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer. “Kami juga telah menata semua tempat duduk sesuai protokol. Artinya harus ada jarak. Kita ingin agar hotel tidak menjadi sarana penyebaran Covid-19,” paparnya.

Diakui dia, saat ini adalah periode kelam bagi perhotelan. Namun hal tersebut tidak membuatnya pesimis menatap tahun ini. “Awal tahun ini pemerintah sudah mulai menjalankan vaksinasi. Semoga bisa lancar dan pandemi berakhir. Kami sendiri tetap mematuhi segala arahan pemerintah. Semoga roda perekonomian dapat berputar dengan normal kembali,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/