alexametrics
28.9 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Kalbar Simpan Potensi Biomassa dari Limbah Sawit

PONTIANAK – Penggunaan Biomassa sebagai alternatif bahan bakar fosil kini terus digencarkan oleh berbagai pihak. Provinsi Kalimantan Barat saat ini menjadi kandidat Pilot Project untuk pengembangan biomassa energi nasional. Limbah batang sawit bakal dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam mewujudkan energi terbarukan tersebut.

“Potensi limbah batang kelapa sawit di Kalbar diperkirakan mencapai sebesar satu juta batang kelapa sawit pada tahun 2020. Potensi terbesar berada di Kabupaten Sanggau, Landak, dan Bengkayang,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Adi Yani yang mewakili Gubernur Kalbar, saat kegiatan Rakornis Pembahasan Rancangan Provinsi Kalimantan Barat sebagai Calon Pilot Project Nasional Untuk Pengembangan Biomassa Energi, Jumat (30/4).

Dia memandang, Kalbar memiliki potensi yang sangat besar dalam memanfaatkan limbah batang sawit sebagai sumber energi biomassa, berupa pelet biomassa (biopellet) yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan karena keunggulannya yaitu bersifat mudah terdegradasi dan dapat diperbaharui. 

Pasokan energi listrik di Kalbar saat ini sebagian besar masih tergantung pada pembangkit listrik tenaga disel (PLTD). Besarnya ketergantungan pada sumber energi bahan bakar minyak (BBM), mengakibatkan membengkaknya anggaran belanja negara untuk subsidi BBM. Hal ini semakin menyadarkan berbagai kalangan di tanah air bahwa ketergantungan terhadap BBM secara periahan perlu dikurangi. 

“Ini faktor pendorong pengembangan teknologi dan sekaligus tantangan untuk mencari sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Inovasi pemanfaatan limbah batang kelapa sawit merupakan salah satu solusi dan wujud nyata dari pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pemanfaatan limbah batang kelapa sawit juga secara langsung akan membantu pemerintah untuk memenuhi kekurangan pasokan listrik di desa.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Nani Hendiarti, menilai Kalbar kaya dengan berbagai sumber daya alam. Limbah perkebunan sawit, limbah industri kayu, masih dapat diolah menjadi biomassa. 

“Ini memberikan nilai tambah produk kehutanan, pengelolaan limbah yang berhasil guna dan sebagai bagian dari mencapai berbagai sasaran strategis dari pemanfaatan sumber daya lokal Kalimantan Barat berupa energi biomassa,” ungkap Nani. 

Menurutnya, Kalbar sebagai salah satu kandidat pilot project untuk pengembangan biomassa energi nasional dilakukan atas pertimbangan adanya potensi biomassa dan tantangan peningkatan rasio elektrifikasi di provinsi ini. Provinsi ini merupakan wilayah dengan hutan produksi tanaman energi terluas di Indonesia.

“Kalimantan Barat juga memiliki bahan baku yang melimpah baik dari hutan energi, limbah industri kayu sampai limbah sawit. sejatinya memberikan peluang besar bagi pengembangan sektor biomassa di wilayah ini,” katanya. 

PIhaknya terus mengawal pemanfaatan biomassa dengan penyusunan kajian dan business model keekonomian biomassa dalam pembangkitan energi. Hal itu dilakukan karena energi biomassa memiliki berbagai nilai strategis yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya lokal, pengelolaan multiusaha hutan produksi dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi. 

Baca Juga :  Astra Motor Serahkan Motor Rp550 Juta ke Konsumen Pertama

Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Djoko Winarno menyampaikan, pemanfaatan energi biomassa sejatinya tidak akan merugikan jika semua pihak mampu bekerja sama dan satu suara, dengan tujuan bagi masyarakat yang lebih sejahtera. Menurutnya, ada berbagai potensi yang dapat terus digali sebagai sumber energi biomassa. 

“Indonesia masih membutuhkan ketersediaan listrik yang lebih merata, sedangkan sumber energi yang masih terus di impor dari luar tentu mampu merugikan perekonomian,” imbuhnya.

Djoko menilai, Kalbar kaya dengan berbagai sumber daya alam yang dapat diolah menjadi biomassa sebagai energi terbarukan. “Ada limbah dari industri kayu, limbah pohon karet, yang masih dapat diolah menjadi biomassa,” tambahnya.

Menurutnya, lahan karet di Kalbar sudah ada yang berusia tua sehingga layak untuk dilakukan peremajaan. Potensi limbah pohon karet yang akan ditebang inilah yang menurutnya dapat diolah sebagai bahan untuk mengembangankan energi biomassa. Dari hasil kajiannya, kalori dari batang pohon karet yang telah dolah menjadi pelet kayu (wood pellet) hampir setara dengan batu bara.

Tak hanya batang pohon karet, energi biomassa menurutnya juga terdapat pada batang sawit. Kalbar sebagai wilayah yang memiliki perkebunan sawit yang sangat luas menurutnya sangat potensial menghasilkan pelet kayu. Terutama dari limbah batang sawit dari pohon yang sudah berusia tua. Kalbar sendiri saat ini tengah melaksanakan program peremajaan sawit untuk kebun yang sudah berusia tua dan tidak produktif.

Namun, batang sawit dinilainya memiliki kekurangan, yakni kalorinya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan batu bara. Dia menyebut, kalori pada batu bara sebesar 4200, sementara batang sawit yang diolah jadi pelet kayu hanya berkalori 2400. 

Terlepas dari hal itu, dia berharap pengembangan biomassa energi di Kalbar ini dapat segera dilakukan. Menurutnya hal yang diperlukan saat ini adalah mendorong pekebun agar segera melakukan peremajaan untuk tanaman karet atau sawit yang sudah tua, sehingga apabila nanti difungsikan pembangkit listriknya, wood pellet dapat dipasok secara konsisten. 

Wood Pellet dari limbah batang kelapa sawit yang dihasilkan oleh Untan

Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Gusti Hardiansyah menilai kalori pada batang sawit yang agak rendah dapat disiasati dengan pencampuran tanaman kaliandra. Limbah batang sawit dan kaliandra, apabila dicampurkan kalorinya bisa mecapai 3500.

Menurutnya kaliandra banyak tumbuh di wilayah Kalbar sehingga memiliki potensi yang besar menjadi sumber energi biomassa. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) milik Untan menurutnya dapat dijadikan pilot project pengembangan kaliandra sebagai sumer energi. “KHDTK Untan memiliki luas 19.661 hec Sebesar 30 persen dapat dijadikan pilot untuk kebun energi,” tuturnya.

Dia menilai, potensi biomassa dan limbah sawit berlimpah, sehingga kerja sama maupun pengembangan investasi dibidang energi baru dan terbarukan perlu didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi hijau di Kalbar. 

Tidak Dimanfaatkan

Sugianto, Warga Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang memiliki empat hektare kebun sawit yang diikutkan dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dia menceritakan, dalam proeses pembersihan lahan, permasalahan yang muncul adalah keberadaan batang pohon yang ditebang. Karena tidak tahu akan diapakan, akhirnya limbah batang sawit tersebut dibiarkan hancur di lahan peremajaan tersebut.

Baca Juga :  Peringatan Hari Tani Nasional, Mahasiswa Dukung Moratorium Sawit

“Dibiarkan saja. Memang tahannya akan jadi subur, namun efeknya akan menjadi sarang hama jika dibiarkan bersemak. Hama ini tentu sangat mengganggu,” kata Sugianto

MENJULANG : Pohon sawit tua berusia sekitar 30 tahun di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, tampak menjulang tinggi. Pohon-pohon sawit yang kurang produktif ini layak untuk diremajakan. HARYADI/PONTIANAK POST

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero menyebut, ada banyak pohon sawit tua di Kalbar yang perlu diremajakan. Pohon-pohon tua yang akan ditebang untuk diganti tanaman yang baru tersebut menyisakan masalah, yakni limbah batang sawit. Selama ini, limbah batang sawit yang telah ditebang itu justru dibiarkan membusuk.

Hero mengatakan, tahun ini target peremajaan yang diberikan pemerintah sebesar 12 ribu hektare. Perkiraannya, masih ada sekitar 80 ribu hektare lahan sawit yang perlu diremajakan. Melihat konisi ini, dirinya memandang Kalbar berpotensi menghasilkan energi biomassa yang bersumber dari limbah batang sawit tersebut.

“Satu hektare bisa didapat 120 ton batang sawit. Dan potensi besar, sebab selama ini limbah ini jarang dimanfaatkan,” tuturnya.

Dorong Percepatan EBT

Sementara itu, Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) terus mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menuju target 23 persen di 2025, yang dilakukan melalui subtitusi energi. Di masa pandemi Covid-19, di mana demand penggunaan energi turun dan ketersediaan dana untuk investasi juga terbatas, maka upaya substitusi energi untuk jangka pendek dan menengah menjadi pilihan yang tepat untuk mendorong EBT tanpa membebani PLN dan juga pemerintah dengan subsidi. 

Realisasi strategi ini diwujudkan melalui program cofiring biomassa pada PLTU batubara eksisting. Program Cofiring biomassa ini bisa menggunakan biomassa baik yang berbasis sampah, limbah maupun biomassa yang berasal dari tanaman energi. “Ke depan kita akan berupaya untuk bisa mengurangai PLTU-PLTU eksisting untuk digantikan dengan pembangkit-pembangkit yang lebih bersih,” Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna dalam keterangan tertulis, Senin, (26/4).

Direktur Bioenergi, Feby menyampaikan Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE akan terus mengawal dan terus memfasilitasi upaya-upaya penyediaan bahan baku biomassa di sisi hulu serta menjaga pada implementasinya tidak terkendala pada sisi teknis. Pada sisi teknis, saat ini telah ditetapkan SNI Pelet Biomassa untuk pembangkit listrik, dan menyusul akan ditetapkan juga SNI Bahan Bakar Jumputan Padat. 

“Pada tahun 2021, juga akan dimulai pembahasan RSNI sawdust, woodchip, dan cangkang sawit untuk pembangkit listrik,” ucapnya.

Dia melanjutkan, selain dari sisi regulasi, saat ini sedang disusun Rancangan Permen ESDM tentang Implementasi Cofiring Biomassa pada PLTU. Dalam aturan tersebut nantinya akan didefinisikan klasifikasi bahan bakar biomassa, bagaimana acuan dalam formulasi harga, pengaturan standar, pembinaan pengawasan, serta pentahapan pelaksanaan cofiring. (sti)

PONTIANAK – Penggunaan Biomassa sebagai alternatif bahan bakar fosil kini terus digencarkan oleh berbagai pihak. Provinsi Kalimantan Barat saat ini menjadi kandidat Pilot Project untuk pengembangan biomassa energi nasional. Limbah batang sawit bakal dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam mewujudkan energi terbarukan tersebut.

“Potensi limbah batang kelapa sawit di Kalbar diperkirakan mencapai sebesar satu juta batang kelapa sawit pada tahun 2020. Potensi terbesar berada di Kabupaten Sanggau, Landak, dan Bengkayang,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Adi Yani yang mewakili Gubernur Kalbar, saat kegiatan Rakornis Pembahasan Rancangan Provinsi Kalimantan Barat sebagai Calon Pilot Project Nasional Untuk Pengembangan Biomassa Energi, Jumat (30/4).

Dia memandang, Kalbar memiliki potensi yang sangat besar dalam memanfaatkan limbah batang sawit sebagai sumber energi biomassa, berupa pelet biomassa (biopellet) yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan karena keunggulannya yaitu bersifat mudah terdegradasi dan dapat diperbaharui. 

Pasokan energi listrik di Kalbar saat ini sebagian besar masih tergantung pada pembangkit listrik tenaga disel (PLTD). Besarnya ketergantungan pada sumber energi bahan bakar minyak (BBM), mengakibatkan membengkaknya anggaran belanja negara untuk subsidi BBM. Hal ini semakin menyadarkan berbagai kalangan di tanah air bahwa ketergantungan terhadap BBM secara periahan perlu dikurangi. 

“Ini faktor pendorong pengembangan teknologi dan sekaligus tantangan untuk mencari sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Inovasi pemanfaatan limbah batang kelapa sawit merupakan salah satu solusi dan wujud nyata dari pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pemanfaatan limbah batang kelapa sawit juga secara langsung akan membantu pemerintah untuk memenuhi kekurangan pasokan listrik di desa.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Nani Hendiarti, menilai Kalbar kaya dengan berbagai sumber daya alam. Limbah perkebunan sawit, limbah industri kayu, masih dapat diolah menjadi biomassa. 

“Ini memberikan nilai tambah produk kehutanan, pengelolaan limbah yang berhasil guna dan sebagai bagian dari mencapai berbagai sasaran strategis dari pemanfaatan sumber daya lokal Kalimantan Barat berupa energi biomassa,” ungkap Nani. 

Menurutnya, Kalbar sebagai salah satu kandidat pilot project untuk pengembangan biomassa energi nasional dilakukan atas pertimbangan adanya potensi biomassa dan tantangan peningkatan rasio elektrifikasi di provinsi ini. Provinsi ini merupakan wilayah dengan hutan produksi tanaman energi terluas di Indonesia.

“Kalimantan Barat juga memiliki bahan baku yang melimpah baik dari hutan energi, limbah industri kayu sampai limbah sawit. sejatinya memberikan peluang besar bagi pengembangan sektor biomassa di wilayah ini,” katanya. 

PIhaknya terus mengawal pemanfaatan biomassa dengan penyusunan kajian dan business model keekonomian biomassa dalam pembangkitan energi. Hal itu dilakukan karena energi biomassa memiliki berbagai nilai strategis yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya lokal, pengelolaan multiusaha hutan produksi dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi. 

Baca Juga :  Ekspor Sawit Capai Rekor Tertinggi

Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Djoko Winarno menyampaikan, pemanfaatan energi biomassa sejatinya tidak akan merugikan jika semua pihak mampu bekerja sama dan satu suara, dengan tujuan bagi masyarakat yang lebih sejahtera. Menurutnya, ada berbagai potensi yang dapat terus digali sebagai sumber energi biomassa. 

“Indonesia masih membutuhkan ketersediaan listrik yang lebih merata, sedangkan sumber energi yang masih terus di impor dari luar tentu mampu merugikan perekonomian,” imbuhnya.

Djoko menilai, Kalbar kaya dengan berbagai sumber daya alam yang dapat diolah menjadi biomassa sebagai energi terbarukan. “Ada limbah dari industri kayu, limbah pohon karet, yang masih dapat diolah menjadi biomassa,” tambahnya.

Menurutnya, lahan karet di Kalbar sudah ada yang berusia tua sehingga layak untuk dilakukan peremajaan. Potensi limbah pohon karet yang akan ditebang inilah yang menurutnya dapat diolah sebagai bahan untuk mengembangankan energi biomassa. Dari hasil kajiannya, kalori dari batang pohon karet yang telah dolah menjadi pelet kayu (wood pellet) hampir setara dengan batu bara.

Tak hanya batang pohon karet, energi biomassa menurutnya juga terdapat pada batang sawit. Kalbar sebagai wilayah yang memiliki perkebunan sawit yang sangat luas menurutnya sangat potensial menghasilkan pelet kayu. Terutama dari limbah batang sawit dari pohon yang sudah berusia tua. Kalbar sendiri saat ini tengah melaksanakan program peremajaan sawit untuk kebun yang sudah berusia tua dan tidak produktif.

Namun, batang sawit dinilainya memiliki kekurangan, yakni kalorinya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan batu bara. Dia menyebut, kalori pada batu bara sebesar 4200, sementara batang sawit yang diolah jadi pelet kayu hanya berkalori 2400. 

Terlepas dari hal itu, dia berharap pengembangan biomassa energi di Kalbar ini dapat segera dilakukan. Menurutnya hal yang diperlukan saat ini adalah mendorong pekebun agar segera melakukan peremajaan untuk tanaman karet atau sawit yang sudah tua, sehingga apabila nanti difungsikan pembangkit listriknya, wood pellet dapat dipasok secara konsisten. 

Wood Pellet dari limbah batang kelapa sawit yang dihasilkan oleh Untan

Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Gusti Hardiansyah menilai kalori pada batang sawit yang agak rendah dapat disiasati dengan pencampuran tanaman kaliandra. Limbah batang sawit dan kaliandra, apabila dicampurkan kalorinya bisa mecapai 3500.

Menurutnya kaliandra banyak tumbuh di wilayah Kalbar sehingga memiliki potensi yang besar menjadi sumber energi biomassa. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) milik Untan menurutnya dapat dijadikan pilot project pengembangan kaliandra sebagai sumer energi. “KHDTK Untan memiliki luas 19.661 hec Sebesar 30 persen dapat dijadikan pilot untuk kebun energi,” tuturnya.

Dia menilai, potensi biomassa dan limbah sawit berlimpah, sehingga kerja sama maupun pengembangan investasi dibidang energi baru dan terbarukan perlu didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi hijau di Kalbar. 

Tidak Dimanfaatkan

Sugianto, Warga Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang memiliki empat hektare kebun sawit yang diikutkan dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dia menceritakan, dalam proeses pembersihan lahan, permasalahan yang muncul adalah keberadaan batang pohon yang ditebang. Karena tidak tahu akan diapakan, akhirnya limbah batang sawit tersebut dibiarkan hancur di lahan peremajaan tersebut.

Baca Juga :  OJK Kalbar Sebut Porsi Kredit Produktif Mendominasi

“Dibiarkan saja. Memang tahannya akan jadi subur, namun efeknya akan menjadi sarang hama jika dibiarkan bersemak. Hama ini tentu sangat mengganggu,” kata Sugianto

MENJULANG : Pohon sawit tua berusia sekitar 30 tahun di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, tampak menjulang tinggi. Pohon-pohon sawit yang kurang produktif ini layak untuk diremajakan. HARYADI/PONTIANAK POST

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero menyebut, ada banyak pohon sawit tua di Kalbar yang perlu diremajakan. Pohon-pohon tua yang akan ditebang untuk diganti tanaman yang baru tersebut menyisakan masalah, yakni limbah batang sawit. Selama ini, limbah batang sawit yang telah ditebang itu justru dibiarkan membusuk.

Hero mengatakan, tahun ini target peremajaan yang diberikan pemerintah sebesar 12 ribu hektare. Perkiraannya, masih ada sekitar 80 ribu hektare lahan sawit yang perlu diremajakan. Melihat konisi ini, dirinya memandang Kalbar berpotensi menghasilkan energi biomassa yang bersumber dari limbah batang sawit tersebut.

“Satu hektare bisa didapat 120 ton batang sawit. Dan potensi besar, sebab selama ini limbah ini jarang dimanfaatkan,” tuturnya.

Dorong Percepatan EBT

Sementara itu, Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) terus mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menuju target 23 persen di 2025, yang dilakukan melalui subtitusi energi. Di masa pandemi Covid-19, di mana demand penggunaan energi turun dan ketersediaan dana untuk investasi juga terbatas, maka upaya substitusi energi untuk jangka pendek dan menengah menjadi pilihan yang tepat untuk mendorong EBT tanpa membebani PLN dan juga pemerintah dengan subsidi. 

Realisasi strategi ini diwujudkan melalui program cofiring biomassa pada PLTU batubara eksisting. Program Cofiring biomassa ini bisa menggunakan biomassa baik yang berbasis sampah, limbah maupun biomassa yang berasal dari tanaman energi. “Ke depan kita akan berupaya untuk bisa mengurangai PLTU-PLTU eksisting untuk digantikan dengan pembangkit-pembangkit yang lebih bersih,” Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna dalam keterangan tertulis, Senin, (26/4).

Direktur Bioenergi, Feby menyampaikan Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE akan terus mengawal dan terus memfasilitasi upaya-upaya penyediaan bahan baku biomassa di sisi hulu serta menjaga pada implementasinya tidak terkendala pada sisi teknis. Pada sisi teknis, saat ini telah ditetapkan SNI Pelet Biomassa untuk pembangkit listrik, dan menyusul akan ditetapkan juga SNI Bahan Bakar Jumputan Padat. 

“Pada tahun 2021, juga akan dimulai pembahasan RSNI sawdust, woodchip, dan cangkang sawit untuk pembangkit listrik,” ucapnya.

Dia melanjutkan, selain dari sisi regulasi, saat ini sedang disusun Rancangan Permen ESDM tentang Implementasi Cofiring Biomassa pada PLTU. Dalam aturan tersebut nantinya akan didefinisikan klasifikasi bahan bakar biomassa, bagaimana acuan dalam formulasi harga, pengaturan standar, pembinaan pengawasan, serta pentahapan pelaksanaan cofiring. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/