alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Siap Terima Sanksi Bila Langgar Protokol New Normal

PONTIANAK – Industri perhotelan di Kota Pontianak bersiap untuk kembali memulai aktivitas usahanya. Aturan kenormalan baru atau new normal di sektor ini sudah disusun oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Ketua PHRI Kalbar Yuliardi Qamal mengatakan aturan protokol Covid-19 pemerintah dan panduan asosiasi wajib dijalankan.

Apabila ada anggota yang melanggar maka harus siap menerima sanksi.

“PHRI tidak akan membela. Saya siap pasang badan untuk dijalankannya aturan new normal. Kita menginginkan new normal, dan wajib menjalankan protokolnya,” ujarnya kepada Pontianak Post, Kamis (4/6).

Dia memaparkan, hotel-hotel di Pontianak sudah melakukan simulasi pelayanan berbasis protokol Covid-19. Masalah setting resepsionis, restoran, kamar, hall, hingga pantry dan lainnya pun disusun sesuai prinsip physical distancing. Semua karyawan wajib mengenakan masker selama berada di dalam hotel. “Masker hanya dibuka kalau sedang makan atau minum. Di luar itu, harus selalu pakai,” ungkap dia.

PHRI juga mewajibkan para anggotanya untuk menyiapkan fasilitas sabun cuci tangan, hand sanitizer, alat penanda batas jarak, termometer tembak, dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada area strategis di dalam hotel.

Baca Juga :  BBPOM Sita Obat Racikan Lutfi

Yuliardi menyebut new normal adalah jalan tengah antara pemutusan mata rantai Covid-19 dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Pasalnya selama pandemi ini, pembatasan aktivitas usaha perhotelan telah membuat semua hotel merumahkan karyawannya. Sebagian hotel malah benar-benar tutup. Sisanya hanya mengandalkan penjualan makanan dan minuman online yang omzetnya jauh dari biaya operasional hotel.

Pihaknya sendiri sudah mambahas hal ini dengan Pemkot Pontianak, dalam hal ini Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga. Yuliardi berharap dengan adanya new normal roda perekonomian kembali bergerak. Hotel juga diperbolehkan menggelar acara seperti pesta pernikahan, rapat besar dan lainnya. Namun dengan tetap mengedepankan protokol Covid-19 yang ketat. “Kami siap dan akan disiplin menjalankannya,” katanya.

Anggota DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar mendukung penuh rencana dibukanya aktivitas hotel, restoran, pariwisata dan warung kopi di kota ini. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini bagi beberapa sektor sudah sangat berat. “Ini sudah masuk bulan Juni, sejak Maret lalu beberapa sektor usaha mati suri. Sudah saatnya kita cara lain agar ekonomi berjalan tetapi tetap memperhatikan protokol Covid-19,” tegas dia.

Baca Juga :  Tingkatkan Daya Saing, Hotel Golden Tulip Resmi Jadi Pelanggan Premium

Dia juga meminta aturan penutupan jalan dan jam malam ditinjau kembali. Pasalnya masyarakat tetap saja keluar dan harus beraktivitas. Akhirnya terjadi penumpukan kendaraan di jalan lain dan gang kecil. “Dengan jalan padat begini maka prinsip physical distancing jadi tidak relevan,” sebut dia.

Bahkan dia meminta aktivitas hiburan seperti bioskop juga dapat dibuka. Menurutnya masyarakat butuh refreshing, dan kepenatan malah akan menimbulkan persoalan kesehatan lain. “Bioskop misalnya maksimal hanya diisi setengah dari kuota kursi. Formasi duduk penonton diberi jarak kursi kosong, diselang-seling atau zigzag,” ucapnya.

Di Pontianak sendiri, kata dia, walaupun tidak ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ekonomi sudah sangat terpukul. Bila New Normal dijalankan, maka roda ekonomi akan lebih leluasa untuk bergerak. Hanya saja, protokol kesehatan wajib dijalankan semua pihak. Agar tidak terjadi ledakan Covid-19 di Pontianak. “Kalau ini dijalankan pemerintah, kami minta seluruh sektor untuk menerapkan protokol ini. Kita tidak mau ada ledakan kasus di Pontianak,” pungkasnya. (ars)

 

PONTIANAK – Industri perhotelan di Kota Pontianak bersiap untuk kembali memulai aktivitas usahanya. Aturan kenormalan baru atau new normal di sektor ini sudah disusun oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Ketua PHRI Kalbar Yuliardi Qamal mengatakan aturan protokol Covid-19 pemerintah dan panduan asosiasi wajib dijalankan.

Apabila ada anggota yang melanggar maka harus siap menerima sanksi.

“PHRI tidak akan membela. Saya siap pasang badan untuk dijalankannya aturan new normal. Kita menginginkan new normal, dan wajib menjalankan protokolnya,” ujarnya kepada Pontianak Post, Kamis (4/6).

Dia memaparkan, hotel-hotel di Pontianak sudah melakukan simulasi pelayanan berbasis protokol Covid-19. Masalah setting resepsionis, restoran, kamar, hall, hingga pantry dan lainnya pun disusun sesuai prinsip physical distancing. Semua karyawan wajib mengenakan masker selama berada di dalam hotel. “Masker hanya dibuka kalau sedang makan atau minum. Di luar itu, harus selalu pakai,” ungkap dia.

PHRI juga mewajibkan para anggotanya untuk menyiapkan fasilitas sabun cuci tangan, hand sanitizer, alat penanda batas jarak, termometer tembak, dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada area strategis di dalam hotel.

Baca Juga :  Pulang Dari Korea dan Jepang, Lima Warga Dipantau

Yuliardi menyebut new normal adalah jalan tengah antara pemutusan mata rantai Covid-19 dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Pasalnya selama pandemi ini, pembatasan aktivitas usaha perhotelan telah membuat semua hotel merumahkan karyawannya. Sebagian hotel malah benar-benar tutup. Sisanya hanya mengandalkan penjualan makanan dan minuman online yang omzetnya jauh dari biaya operasional hotel.

Pihaknya sendiri sudah mambahas hal ini dengan Pemkot Pontianak, dalam hal ini Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga. Yuliardi berharap dengan adanya new normal roda perekonomian kembali bergerak. Hotel juga diperbolehkan menggelar acara seperti pesta pernikahan, rapat besar dan lainnya. Namun dengan tetap mengedepankan protokol Covid-19 yang ketat. “Kami siap dan akan disiplin menjalankannya,” katanya.

Anggota DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar mendukung penuh rencana dibukanya aktivitas hotel, restoran, pariwisata dan warung kopi di kota ini. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini bagi beberapa sektor sudah sangat berat. “Ini sudah masuk bulan Juni, sejak Maret lalu beberapa sektor usaha mati suri. Sudah saatnya kita cara lain agar ekonomi berjalan tetapi tetap memperhatikan protokol Covid-19,” tegas dia.

Baca Juga :  Pengusaha Siapkan Industri Migor Kemasan

Dia juga meminta aturan penutupan jalan dan jam malam ditinjau kembali. Pasalnya masyarakat tetap saja keluar dan harus beraktivitas. Akhirnya terjadi penumpukan kendaraan di jalan lain dan gang kecil. “Dengan jalan padat begini maka prinsip physical distancing jadi tidak relevan,” sebut dia.

Bahkan dia meminta aktivitas hiburan seperti bioskop juga dapat dibuka. Menurutnya masyarakat butuh refreshing, dan kepenatan malah akan menimbulkan persoalan kesehatan lain. “Bioskop misalnya maksimal hanya diisi setengah dari kuota kursi. Formasi duduk penonton diberi jarak kursi kosong, diselang-seling atau zigzag,” ucapnya.

Di Pontianak sendiri, kata dia, walaupun tidak ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ekonomi sudah sangat terpukul. Bila New Normal dijalankan, maka roda ekonomi akan lebih leluasa untuk bergerak. Hanya saja, protokol kesehatan wajib dijalankan semua pihak. Agar tidak terjadi ledakan Covid-19 di Pontianak. “Kalau ini dijalankan pemerintah, kami minta seluruh sektor untuk menerapkan protokol ini. Kita tidak mau ada ledakan kasus di Pontianak,” pungkasnya. (ars)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/