alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

37 Ribu Usaha Mikro Terima Bantuan Rp2,4 juta

PONTIANAK – Sebagian pelaku usaha mikro yang mengajukan bantuan melalui program Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) telah mendapatkan kucuran dana sebesar Rp2,4 juta. Di Kalimantan Barat, sudah lebih dari 37 ribu pelaku usaha mikro yang merasakan manfaat bantuan tersebut. Mereka memanfaatkan bantuan tersebut untuk mengoptimalkan usaha yang digeluti.

Salah satu penerima manfaat, Jubaidah (36), menuturkan bahwa dirinya memanfaatkan dana tersebut untuk membeli sebuah mesin jahit. Mesin tersebut ia gunakan untuk membuat masker yang kemudian dijual. “September kemarin uangnya ditransfer, langsung beli mesin jahit. Memang sih ini mesin jahit bekas, tapi bisa untuk buat masker,” tutur dia.

Selama pandemi, ia mengalihkan usahanya dengan memproduksi masker. Sebelumnya ia merupakan pengrajin manik-manik aksesoris dayak. Namun pandemi covid-19 membuat penjualannya menurun drastis. Pemasukannya sebagai pekerja di sebuah konveksi di Kota Pontianak, dirasa dia kurang tanpa pemasukan dari penjualan kerajinan manik-manik.

Berangkat dari hal itulah, ia melihat peluang usaha lain, yakni menjual masker. Memanfaatkan kain-kain bekas dari konveksi tempatnya bekerja, ia mulai memproduksi masker. Karena belum punya mesin jahit, ia meminta kepada pemilik konveksi untuk diizinkan memproduksi masker dari kain-kain bekas. “Jadi bahan-bahannya kita pakai dari sisa-sisa potongan kain. (diberikan) gratis, lagi pula memang sisa kain ini tidak dipakai,” kata dia.

Baca Juga :  Sediakan Dua Jenis Pembayaran Non Tunai

Kini dalam satu hari, ia mampu memproduksi sekitar 20 buah masker dengan harga Rp10 ribu per buah. Ia bersyukur dapat memanfaatkan bantuan tersebut untuk hal yang produktif dan menghasilkan.

Hingga 30 September, berdasarkan data Kantor Wilayah DJPb Kalimantan Barat, setidaknya sudah ada 37.042 pelaku usaha yang menerima bantuan melalui program BPUM, dengan total anggaran sebesar Rp88,9 miliar. Sementara itu, berdasarkan data terakhir dari Dinas Koperasi dan UKM Kalimantan Barat, per 18 September 2020, sedikitnya ada 59.045 usaha mikro yang telah diusulkan kepada Kementerian Koperasi dan UMKM.

Meski begitu, pendaftaran bantuan sebesar Rp2,4 juta bagi pelaku usaha mikro itu masih dibuka. “Masih dibuka (pendaftarannya),” ungkap Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalbar, Ansfridus J Andjioe, belum lama ini.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Kabupaten Kubu Raya, Sri Herma Susanti mengatakan, bantuan sebesar Rp2,4 juta memang tidak cukup besar. Namun jika dikelola dengan baik, kata dia, setidaknya para pelaku usaha mikro dapat memulihkan kembali usahanya yang terdampak pandemi covid-19.

Baca Juga :  The Most Valuable Banking Group In Southeast Asia, BRI Perkuat Digitalisasi

“Barangkali bantuan Rp2,4 juta ini memang tidak menutupi kerugian-kerugian yang mereka alami sebelumnya ketika pandemi. Ke depan, mungkin mereka bisa dibantu lagi, setidaknya untuk memulihkan usaha mereka,” tutur dia.

Dana tersebut disarankan dia untuk mendukung permodalan, semisal untuk menambah bahan baku produksi maupun menambah alat. Sejauh ini, menurutnya kendala yang dihadapi oleh para pelaku usaha selama pandemi covid-19 adalah promosi dan pemasaran, di samping melemahnya daya beli masyarakat pada hampir semua jenis kebutuhan.

Namun begitu, optimalisasi pemasaran harus terus dilakukan agar pangsa pasar semakin luas. Caranya, yakni dengan digitalisasi marketing. “Pelaku usaha ini bisa menghasilkan produk, tetapi tidak bisa memasarkan dengan baik produk mereka. Karena itu, bantuan-bantuan promosi untuk pihak-pihak yang mengenal teknologi agar menjadi mitra pelaku usaha, sangat diharapkan,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Sebagian pelaku usaha mikro yang mengajukan bantuan melalui program Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) telah mendapatkan kucuran dana sebesar Rp2,4 juta. Di Kalimantan Barat, sudah lebih dari 37 ribu pelaku usaha mikro yang merasakan manfaat bantuan tersebut. Mereka memanfaatkan bantuan tersebut untuk mengoptimalkan usaha yang digeluti.

Salah satu penerima manfaat, Jubaidah (36), menuturkan bahwa dirinya memanfaatkan dana tersebut untuk membeli sebuah mesin jahit. Mesin tersebut ia gunakan untuk membuat masker yang kemudian dijual. “September kemarin uangnya ditransfer, langsung beli mesin jahit. Memang sih ini mesin jahit bekas, tapi bisa untuk buat masker,” tutur dia.

Selama pandemi, ia mengalihkan usahanya dengan memproduksi masker. Sebelumnya ia merupakan pengrajin manik-manik aksesoris dayak. Namun pandemi covid-19 membuat penjualannya menurun drastis. Pemasukannya sebagai pekerja di sebuah konveksi di Kota Pontianak, dirasa dia kurang tanpa pemasukan dari penjualan kerajinan manik-manik.

Berangkat dari hal itulah, ia melihat peluang usaha lain, yakni menjual masker. Memanfaatkan kain-kain bekas dari konveksi tempatnya bekerja, ia mulai memproduksi masker. Karena belum punya mesin jahit, ia meminta kepada pemilik konveksi untuk diizinkan memproduksi masker dari kain-kain bekas. “Jadi bahan-bahannya kita pakai dari sisa-sisa potongan kain. (diberikan) gratis, lagi pula memang sisa kain ini tidak dipakai,” kata dia.

Baca Juga :  ALFI Komit Jaga Rantai Distribusi

Kini dalam satu hari, ia mampu memproduksi sekitar 20 buah masker dengan harga Rp10 ribu per buah. Ia bersyukur dapat memanfaatkan bantuan tersebut untuk hal yang produktif dan menghasilkan.

Hingga 30 September, berdasarkan data Kantor Wilayah DJPb Kalimantan Barat, setidaknya sudah ada 37.042 pelaku usaha yang menerima bantuan melalui program BPUM, dengan total anggaran sebesar Rp88,9 miliar. Sementara itu, berdasarkan data terakhir dari Dinas Koperasi dan UKM Kalimantan Barat, per 18 September 2020, sedikitnya ada 59.045 usaha mikro yang telah diusulkan kepada Kementerian Koperasi dan UMKM.

Meski begitu, pendaftaran bantuan sebesar Rp2,4 juta bagi pelaku usaha mikro itu masih dibuka. “Masih dibuka (pendaftarannya),” ungkap Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalbar, Ansfridus J Andjioe, belum lama ini.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Kabupaten Kubu Raya, Sri Herma Susanti mengatakan, bantuan sebesar Rp2,4 juta memang tidak cukup besar. Namun jika dikelola dengan baik, kata dia, setidaknya para pelaku usaha mikro dapat memulihkan kembali usahanya yang terdampak pandemi covid-19.

Baca Juga :  Sulap Bendungan Menjadi Destinasi Wisata

“Barangkali bantuan Rp2,4 juta ini memang tidak menutupi kerugian-kerugian yang mereka alami sebelumnya ketika pandemi. Ke depan, mungkin mereka bisa dibantu lagi, setidaknya untuk memulihkan usaha mereka,” tutur dia.

Dana tersebut disarankan dia untuk mendukung permodalan, semisal untuk menambah bahan baku produksi maupun menambah alat. Sejauh ini, menurutnya kendala yang dihadapi oleh para pelaku usaha selama pandemi covid-19 adalah promosi dan pemasaran, di samping melemahnya daya beli masyarakat pada hampir semua jenis kebutuhan.

Namun begitu, optimalisasi pemasaran harus terus dilakukan agar pangsa pasar semakin luas. Caranya, yakni dengan digitalisasi marketing. “Pelaku usaha ini bisa menghasilkan produk, tetapi tidak bisa memasarkan dengan baik produk mereka. Karena itu, bantuan-bantuan promosi untuk pihak-pihak yang mengenal teknologi agar menjadi mitra pelaku usaha, sangat diharapkan,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/