alexametrics
29 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Triwulan-III Ekonomi Diprediksi Membaik

PONTIANAK – Sejumlah pihak meprediksi ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar) akan membaik dimulai pada triwulan-III, atau bulan Juli 2020. Syaratnya, kenormalan baru atau new normal dapat segera dilakukan. Pemerintah daerah juga telah merencanakan pembangunan di provinsi ini baru akan mulai efektif paling cepat di bulan Juli.

Dalam kegiatan Diseminasi Kajian Fiskal Regional, yang digelar Rabu (3/6), Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Eddy Suratman  menilai ekonomi Kalimantan Barat akan pulih jika kenormalan baru dapat segera direalisasikan. Jika dapat dilakukan pada awal triwulan-III ini, maka dia optimis, ekonomi Kalbar akan segera pulih.

“Triwulan-II saya kira masih lebih rendah (dari triwulan I), kemungkinan bisa di bawah dua persen. Tapi itu masih positif. Sementara di triwulan III dan IV, kemungkinan lebih tinggi di atas triwulan-I,” tutur dia.

Dirinya optimis, pertumbuhan ekonomi Kalbar bisa tumbuh tiga persen. Hitungannya, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kalbar, minimal dua persen saja, diperlukan investasi sekitar Rp4,2 triliun. Menurutnya, untuk memperolah investasi sebesar itu, tidaklah begitu sulit. Pasalnya, ada sejumlah proyek di provinsi ini yang masih berjalan.

Baca Juga :  Harap Mandalika Bisa Tumbuhkan Ekonomi

“Ada investasi untuk pembangunan Pelabuhan Kijing, hingga pabrik pengolahan CPO B20 dan B30 Wilmar masih berjalan. Investasi tempat lain, saya kira juga masih berjalan. Jadi untuk menuju angka Rp4,2 triliun itu saya kira masih bisa,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Agus Chusaini, yang diwakili oleh Didiet Aditya, dalam pemaparannya mengatakan kondisi perekonomian global saat ini sangat dipengaruhi pandemi covid-19.  Tak terkecuali di Kalimantan Barat. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan-I hanya 2,49 persen.

“Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kalbar untuk tahun 2020 itu, akan pada rentang 1,7-2,1 persen (yoy). Sementara untuk tingkat inflasi, masih cukup rendah, sehingga kami optimis masih dalam target 3 plus minus 1 persen,” kata dia.

Baca Juga :  Temuan Fintech Ilegal Menurun

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada beberapa hal yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Kalbar. Beberapa di antaranya adalah, relaksasi ekpor bahan mentah serta pembangunan infrastruktur.

“Pertama relaksasi ekspor bahan mentah, terutama dengan mendorong kinerja ekspor komoditas tambang terutama bauksit. Kemudian, dengan adanya komitmen pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan kijing, jalan lintas perbatasan, kawasan industri dan smelter,” kata dia.

Namun, tambah dia, terdapat beberapa risiko yang dapat menahan pertumbuhan ekonomi. Di antaranya, penyebaran virus covid-19 yang belum mereda, pertumbuhan ekonomi dunia yang direvisi ke bawah, fluktuasi harga komoditas, serta anomali cuaca dan kabut asap.

“Dari fluktuasi harga komoditas, yang dapat mempengaruhi kinerja ekspor, serta anomali cuaca dan abut asap yang dapat menahan kinerja sektor pertanian dan distribusi bahan pangan,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Sejumlah pihak meprediksi ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar) akan membaik dimulai pada triwulan-III, atau bulan Juli 2020. Syaratnya, kenormalan baru atau new normal dapat segera dilakukan. Pemerintah daerah juga telah merencanakan pembangunan di provinsi ini baru akan mulai efektif paling cepat di bulan Juli.

Dalam kegiatan Diseminasi Kajian Fiskal Regional, yang digelar Rabu (3/6), Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Eddy Suratman  menilai ekonomi Kalimantan Barat akan pulih jika kenormalan baru dapat segera direalisasikan. Jika dapat dilakukan pada awal triwulan-III ini, maka dia optimis, ekonomi Kalbar akan segera pulih.

“Triwulan-II saya kira masih lebih rendah (dari triwulan I), kemungkinan bisa di bawah dua persen. Tapi itu masih positif. Sementara di triwulan III dan IV, kemungkinan lebih tinggi di atas triwulan-I,” tutur dia.

Dirinya optimis, pertumbuhan ekonomi Kalbar bisa tumbuh tiga persen. Hitungannya, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kalbar, minimal dua persen saja, diperlukan investasi sekitar Rp4,2 triliun. Menurutnya, untuk memperolah investasi sebesar itu, tidaklah begitu sulit. Pasalnya, ada sejumlah proyek di provinsi ini yang masih berjalan.

Baca Juga :  Dapat Alokasi Rp260 Triliun, Ini Strategi BRI Capai Target KUR 2022

“Ada investasi untuk pembangunan Pelabuhan Kijing, hingga pabrik pengolahan CPO B20 dan B30 Wilmar masih berjalan. Investasi tempat lain, saya kira juga masih berjalan. Jadi untuk menuju angka Rp4,2 triliun itu saya kira masih bisa,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Agus Chusaini, yang diwakili oleh Didiet Aditya, dalam pemaparannya mengatakan kondisi perekonomian global saat ini sangat dipengaruhi pandemi covid-19.  Tak terkecuali di Kalimantan Barat. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan-I hanya 2,49 persen.

“Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kalbar untuk tahun 2020 itu, akan pada rentang 1,7-2,1 persen (yoy). Sementara untuk tingkat inflasi, masih cukup rendah, sehingga kami optimis masih dalam target 3 plus minus 1 persen,” kata dia.

Baca Juga :  Neraca Dagang Kembali Defisit, Waspadai Dampak Korona

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada beberapa hal yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Kalbar. Beberapa di antaranya adalah, relaksasi ekpor bahan mentah serta pembangunan infrastruktur.

“Pertama relaksasi ekspor bahan mentah, terutama dengan mendorong kinerja ekspor komoditas tambang terutama bauksit. Kemudian, dengan adanya komitmen pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan kijing, jalan lintas perbatasan, kawasan industri dan smelter,” kata dia.

Namun, tambah dia, terdapat beberapa risiko yang dapat menahan pertumbuhan ekonomi. Di antaranya, penyebaran virus covid-19 yang belum mereda, pertumbuhan ekonomi dunia yang direvisi ke bawah, fluktuasi harga komoditas, serta anomali cuaca dan kabut asap.

“Dari fluktuasi harga komoditas, yang dapat mempengaruhi kinerja ekspor, serta anomali cuaca dan abut asap yang dapat menahan kinerja sektor pertanian dan distribusi bahan pangan,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/