alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Pasokan Kurang Picu Kenaikan Harga Cabai

Rantai Distribusi Terlalu Panjang

PONTIANAK – Harga cabai rawit di tingkat konsumen mengalami kenaikan seiring dengan berkurangnya pasokan komoditas tersebut ke daerah ini. Kenaikan terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dengan harga yang relatif berbeda di setiap daerah. Rantai Pasok yang panjang turut membuat harga komoditas ini menanjak.

Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan (PPKH) Kalbar, Muhammad Munsif mengatakan, stok cabai rawit secara nasional sedang mengalami penurunan yang berakibat pada naiknya harga komoditas ini di sebagian daerah di tanah air. “Pastinya karena pasokan sangat kurang, akibat terbatasnya produksi cabe baik di wilayah Kalbar maupun secara nasional,” ungkap dia, kemarin.

Dinas PPKH Kalbar mencatat, rata-rata harga cabai rawit di provinsi ini sebesar Rp85.064 per kilogram, atau jauh dari harga eceran tertinggi sebesar Rp35.000 per kilogram. Dari 14 kabupaten/Kota, harga cabai rawit di Melawi tercatat paling tinggi, yaitu sebesar Rp125.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai rawit yang terendah tercatat di Kubu Raya sebesar Rp50.000 per kilogram. Menurut Munsif, saat ini jumlah daerah di tanah air yang sedang panen cabai rawit terbatas, dan produksinya juga minim.

Baca Juga :  Terdampak Korona, Ekonomi Indonesia Diprediksi Hanya Tumbuh 4,7 Persen

“Saat ini daerah yang panen sangat terbatas, di antaranya Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, namun produksinya tidak maksimal karena curah hujan tinggi,” kata dia.

Namun, lanjut dia, selain karena faktor keterbatasan pasokan, rantai pasok yang panjang turut membuat harga cabai rawit kerap mengalami gejolak. Dia menyebut, harga cabai rawit di tingkat produsen pada musim hujan cukup tinggi, yaitu sebesar Rp45-56 ribu per kilogram. Apabila dibebani dengan margin pengepul sampai dengan pengecer, maka harga akan mengalami kenaikan hingga Rp75-90 ribu per kilogram.

“Margin rantai pasok berkisar 36 sampai dengan 56 persen,” tutur dia.

Sementara itu, berdasarkan Survei Pola Distribusi Perdagangan Komoditas Strategis Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2019 yang baru dirilis awal tahun 2021 ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, diketahui bahwa distribusi perdagangan komoditas cabai merah dari produsen sampai ke konsumen di Kalbar melibatkan beberapa pelaku usaha distribusi yaitu produsen, agen, pedagang grosir, pedagang pengepul, dan pedagang eceran.

Baca Juga :  Honda CB150R Meluncur di Kalbar

“Ini mengindikasikan bahwa, margin perdagangan dan pengangkutannya membuat rantai pasok menjadi lebih panjang. Tentunya ini akan membuat biaya semakin mahal,” ungkap Kepala BPS Kalbar, Muh Wahyu Yulianto, belum lama ini.

Wahyu mengatakan, Survei Pola Distribusi itu menunjukkan bahwa persentase Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP) komoditas cabai merah di Kalbar Tahun 2019 sebesar 47,90 persen. Hal tersebut, jelas dia, berarti bahwa kenaikan harga cabai merah dari tingkat petani sampai ke konsumen akhir sebesar 47,90 persen. “Angka ini turun 10 poin dibanding MPP tahun 2018 yang sebesar 57,90,” pungkas dia.

Untuk diketahui, Survei Pola Distribusi Perdagangan beberapa komoditas pada tahun 2020 merupakan survei yang bertujuan untuk mendapatkan Pola Distribusi Perdagangan serta Margin Perdagangan dan Pengangkutan mulai dari produsen sampai dengan konsumen akhir. Semakin pendek jalur distribusi yang ditempuh maka perubahan harga di tingkat konsumen akhir semakin kecil. (sti)

Rantai Distribusi Terlalu Panjang

PONTIANAK – Harga cabai rawit di tingkat konsumen mengalami kenaikan seiring dengan berkurangnya pasokan komoditas tersebut ke daerah ini. Kenaikan terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dengan harga yang relatif berbeda di setiap daerah. Rantai Pasok yang panjang turut membuat harga komoditas ini menanjak.

Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan (PPKH) Kalbar, Muhammad Munsif mengatakan, stok cabai rawit secara nasional sedang mengalami penurunan yang berakibat pada naiknya harga komoditas ini di sebagian daerah di tanah air. “Pastinya karena pasokan sangat kurang, akibat terbatasnya produksi cabe baik di wilayah Kalbar maupun secara nasional,” ungkap dia, kemarin.

Dinas PPKH Kalbar mencatat, rata-rata harga cabai rawit di provinsi ini sebesar Rp85.064 per kilogram, atau jauh dari harga eceran tertinggi sebesar Rp35.000 per kilogram. Dari 14 kabupaten/Kota, harga cabai rawit di Melawi tercatat paling tinggi, yaitu sebesar Rp125.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai rawit yang terendah tercatat di Kubu Raya sebesar Rp50.000 per kilogram. Menurut Munsif, saat ini jumlah daerah di tanah air yang sedang panen cabai rawit terbatas, dan produksinya juga minim.

Baca Juga :  Harga Cabai di Kalbar Tembus Rp120 ribu

“Saat ini daerah yang panen sangat terbatas, di antaranya Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, namun produksinya tidak maksimal karena curah hujan tinggi,” kata dia.

Namun, lanjut dia, selain karena faktor keterbatasan pasokan, rantai pasok yang panjang turut membuat harga cabai rawit kerap mengalami gejolak. Dia menyebut, harga cabai rawit di tingkat produsen pada musim hujan cukup tinggi, yaitu sebesar Rp45-56 ribu per kilogram. Apabila dibebani dengan margin pengepul sampai dengan pengecer, maka harga akan mengalami kenaikan hingga Rp75-90 ribu per kilogram.

“Margin rantai pasok berkisar 36 sampai dengan 56 persen,” tutur dia.

Sementara itu, berdasarkan Survei Pola Distribusi Perdagangan Komoditas Strategis Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2019 yang baru dirilis awal tahun 2021 ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, diketahui bahwa distribusi perdagangan komoditas cabai merah dari produsen sampai ke konsumen di Kalbar melibatkan beberapa pelaku usaha distribusi yaitu produsen, agen, pedagang grosir, pedagang pengepul, dan pedagang eceran.

Baca Juga :  Terdampak Korona, Ekonomi Indonesia Diprediksi Hanya Tumbuh 4,7 Persen

“Ini mengindikasikan bahwa, margin perdagangan dan pengangkutannya membuat rantai pasok menjadi lebih panjang. Tentunya ini akan membuat biaya semakin mahal,” ungkap Kepala BPS Kalbar, Muh Wahyu Yulianto, belum lama ini.

Wahyu mengatakan, Survei Pola Distribusi itu menunjukkan bahwa persentase Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP) komoditas cabai merah di Kalbar Tahun 2019 sebesar 47,90 persen. Hal tersebut, jelas dia, berarti bahwa kenaikan harga cabai merah dari tingkat petani sampai ke konsumen akhir sebesar 47,90 persen. “Angka ini turun 10 poin dibanding MPP tahun 2018 yang sebesar 57,90,” pungkas dia.

Untuk diketahui, Survei Pola Distribusi Perdagangan beberapa komoditas pada tahun 2020 merupakan survei yang bertujuan untuk mendapatkan Pola Distribusi Perdagangan serta Margin Perdagangan dan Pengangkutan mulai dari produsen sampai dengan konsumen akhir. Semakin pendek jalur distribusi yang ditempuh maka perubahan harga di tingkat konsumen akhir semakin kecil. (sti)

Most Read

Tak Mau Buru-Buru Pensiun

Dua Pekan, 10,9 Ha Lahan Terbakar

Homo Deus Berpuasa?

Artikel Terbaru

/