alexametrics
30 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Pertanian Gambut Terkendala Pemasaran

PONTIANAK – Komoditas pertanian yang dikembangkan di lahan gambut menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah kendala pascapanen, yakni pemasaran produk.

“Setelah ditanam, ada masalah pada pascapanen. Produk-produk pertanian yang dihasilkan terkendala pemasaran,” ungkap Zaki Ruhyaman, peneliti muda gambut dari World Agroforestry Indonesia, saat kegiatan Ngopi Pagi Bareng Media, Rabu (7/7).

Zaki merupakan satu dari 55 peneliti muda yang terjun ke lapangan dengan didampingi para peneliti ICRAF sejak Februari, 2021. Ia dan peneliti lainnya berinteraksi dengan petani gambut serta para pegiat gambut untuk mengungkap berbagai pengetahuan, pembelajaran, dan opsi intervensi untuk pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan di 31 desa di Kabupaten Kubu Raya.

Menurutnya, dalam menghasilkan produk pertanian lahan gambut, sebagian petani sudah melakukannya dengan sangat baik. Hanya saja, kata dia, komoditas pertanian yang dihasilkan itu, tidak sedikit yang pada akhirnya sulit untuk dipasarkan. “Dalam pengamatan kami, produk yang dihasilkan itu ada yang di antar ke pasar dan ada juga yang diambil langsung di desa oleh pengepul,” tuturnya.

Baca Juga :  Nonton Ajang Bergengsi MotoGP Mandalika, Makin Hemat dan Mudah dengan BRImo

Peneliti muda lainnya, Nurhayatun Nafsiyah, mengatakan, ada beberapa komoditas pertanian yang berhasil ditanam di lahan gambut, di antaranya nanas, jengkol, jahe, dan lain sebagainya. Sejauh ini, hasil yang didapat oleh warga menurutnya cukup baik. “Mereka mampu bertahan hidup di atas lahan gambut dengan hasil pertanian yang baik,” ucapnya.

Namun dalam pengelolaannya, lanjut dia, para petani juga menghadapi kendala pada budidaya. Kendala itu, sebutnya, seperti cuaca ekstrim, hingga hujan lebat, yang menyebabkan lahan menjadi banjir.

Dia melanjutkan, beberapa desa yang mengembangkan komoditas pertanian dari lahan gambut tersebut, tidak menjual hasilnya secara langsung. Menurutnya, sejumlah kelompok tani mengolah komoditas pertanian menjadi produk jadi supaya memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. “Misalnya nanas yang oleh masyarakat diolah menjadi keripik, dodol, dan selai nanas,” tuturnya.

Baca Juga :  Payung Hukumkan Olahraga dan Pertanian

Riska Masyura, peneliti muda lainnya menambahkan, kendala dalam hal pemasaran terjadi juga karena terhambatnya memperoleh legalitas, seperti izin usaha, pendaftaran merek dagang, dan lain sebagainya. Dirinya yakin apabila sejumlah legalitas itu dipenuhi, akan lebih mudah dalam memasarkan produk-produk tersebut.

Koordinator Peat-IMPACTS Kalimantan Barat, Happy Hendrawan, mengatakan, ke depan akan dicarikan solusi untuk mengenalkan dan memasarkan produk pertanian lahan gambut agar lebih masif. Dukungan pemerintah dan pihak swasta dirasanya sangat diperlukan.

“Ke depan disusun sebuah strategi pasar, ada tim market yang disiapkan untuk mengidentifikasi komoditas apa yang ada di desa dan kita elaborasi dengan pemerintah dan perusahaan sawit ataupun karet,” tuturnya. (sti)

PONTIANAK – Komoditas pertanian yang dikembangkan di lahan gambut menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah kendala pascapanen, yakni pemasaran produk.

“Setelah ditanam, ada masalah pada pascapanen. Produk-produk pertanian yang dihasilkan terkendala pemasaran,” ungkap Zaki Ruhyaman, peneliti muda gambut dari World Agroforestry Indonesia, saat kegiatan Ngopi Pagi Bareng Media, Rabu (7/7).

Zaki merupakan satu dari 55 peneliti muda yang terjun ke lapangan dengan didampingi para peneliti ICRAF sejak Februari, 2021. Ia dan peneliti lainnya berinteraksi dengan petani gambut serta para pegiat gambut untuk mengungkap berbagai pengetahuan, pembelajaran, dan opsi intervensi untuk pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan di 31 desa di Kabupaten Kubu Raya.

Menurutnya, dalam menghasilkan produk pertanian lahan gambut, sebagian petani sudah melakukannya dengan sangat baik. Hanya saja, kata dia, komoditas pertanian yang dihasilkan itu, tidak sedikit yang pada akhirnya sulit untuk dipasarkan. “Dalam pengamatan kami, produk yang dihasilkan itu ada yang di antar ke pasar dan ada juga yang diambil langsung di desa oleh pengepul,” tuturnya.

Baca Juga :  Lahan Tidur Jadi Pertanian Terpadu 

Peneliti muda lainnya, Nurhayatun Nafsiyah, mengatakan, ada beberapa komoditas pertanian yang berhasil ditanam di lahan gambut, di antaranya nanas, jengkol, jahe, dan lain sebagainya. Sejauh ini, hasil yang didapat oleh warga menurutnya cukup baik. “Mereka mampu bertahan hidup di atas lahan gambut dengan hasil pertanian yang baik,” ucapnya.

Namun dalam pengelolaannya, lanjut dia, para petani juga menghadapi kendala pada budidaya. Kendala itu, sebutnya, seperti cuaca ekstrim, hingga hujan lebat, yang menyebabkan lahan menjadi banjir.

Dia melanjutkan, beberapa desa yang mengembangkan komoditas pertanian dari lahan gambut tersebut, tidak menjual hasilnya secara langsung. Menurutnya, sejumlah kelompok tani mengolah komoditas pertanian menjadi produk jadi supaya memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. “Misalnya nanas yang oleh masyarakat diolah menjadi keripik, dodol, dan selai nanas,” tuturnya.

Baca Juga :  Pemkab Tetapkan Induk Durian Lokal  

Riska Masyura, peneliti muda lainnya menambahkan, kendala dalam hal pemasaran terjadi juga karena terhambatnya memperoleh legalitas, seperti izin usaha, pendaftaran merek dagang, dan lain sebagainya. Dirinya yakin apabila sejumlah legalitas itu dipenuhi, akan lebih mudah dalam memasarkan produk-produk tersebut.

Koordinator Peat-IMPACTS Kalimantan Barat, Happy Hendrawan, mengatakan, ke depan akan dicarikan solusi untuk mengenalkan dan memasarkan produk pertanian lahan gambut agar lebih masif. Dukungan pemerintah dan pihak swasta dirasanya sangat diperlukan.

“Ke depan disusun sebuah strategi pasar, ada tim market yang disiapkan untuk mengidentifikasi komoditas apa yang ada di desa dan kita elaborasi dengan pemerintah dan perusahaan sawit ataupun karet,” tuturnya. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/