alexametrics
31 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Gelombang PHK di Kalbar Masih Berlanjut

PONTIANAK – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Kalimantan Barat (Kalbar) diprediksi masih berlanjut hingga tahun 2021. Koordinator Wilayah (Korwil) Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Kalbar, Suherman mengatakan belum ada perubahan yang signifikan yang berdampak pada perlambatan jumlah tenaga kerja yang kena PHK.

“Hingga Januari ini belum ada perubahan yang signifikan. Dunia usaha, utamanya di sektor perdagangan dan jasa masih mengalami kesulitan, sehingga masih ada yang dirumahkan bahkan di PHK,” ungkap Suherman, Senin (8/2).

Gelombang PHK yang masih terus terjadi ini, menurutnya karena angka kasus covid-19 masih belum mampu diturunkan secara signifikan. Di berharap ada upaya yang lebih kuat dari pemerintah untuk meminimalisir persoalan ketenagakerjaan.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kalimantan Barat (Kalbar), Manto memprediksi, angka PHK terus bertambah hingga pertengahan tahun ini. “Sampai setengah tahun mendatang PHK mungkin masih memburuk. Tapi setelah itu perkiraan saya angka PHK justru akan menurun,” ungkap Manto, Senin (8/2).

Penurunan jumlah PHK mulai pertengahan tahun sesuai dengan prediksinya itu, dapat terwujud apabila upaya vaksinasi di provinsi berjalan dengan lancar, serta , kebijakan pengetatan diberlakukan terutama bagi pendatang yang masuk ke Kalbar. Kedua upaya tersebut, menurutnya apabila berjalan dengan baik maka angka penularan covid-19 menurun, sehingga aktivitas ekonomi dapat berjalan lancar.

Baca Juga :  Imbas Corona, 77 Karyawan di PHK, 564 Dirumahkan Sementara

Dia menyebut, 2020 menjadi tahun terberat bagi perekonomian, dan mengakibatkan kenaikan jumlah karyawan yang kena PHK secara signifikan. Pihkanya mendata, jumlah PHK hingga akhir Desember 2020 di Kalbar sebanyak 1.370 orang. Data ini, menurutnya belum data final, sebab masih ada empat kabupaten/kota yang belum melakukan sinkronisasi data, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, Bengkayang dan Landak.

Menurutnya kondisi ekonomi sangat berkaitan erat terhadap jumlah PHK. Pada tahun 2019, kata dia, dengan kondisi ekonomi yang normal dengan angka pertumbuhan di atas lima persen, angka PHK di Kalbar di bawah 1000 orang, dan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Namun pada tahun 2020, gelombang PHK signifikan terasa sejak bulan April.

“Masuk ke 2020, sampai bulan Maret kita masih normal. Begitu memasuki bulan April, PHK mulai terjadi akibat lesunya penerbangan, pembatasan aktivitas kafe, restoran dan hotel, serta berbagai usaha lainnya,” tutur dia.

Baca Juga :  Tiga Perusahaan PHK dan Rumahkan Karyawan, Lainnya Bakal Menyusul

Dia menyebut, PHK paling banyak terjadi pada sektor transportasi, disusul sektor perdagangan dan jasa. Sektor jasa seperti perhotelan, restoran dan kafe, menurutnya belum pulih betul meski sudah diterapkan adaptasi baru. Sebaliknya sektor perkebunan dan pertambang, dinilainya sangat sedikit terjadi PHK.

“Perkebunan dan pertambangan masih menjadi primadona, bahkan tahun ini mungkin akan banyak membuka lapangan kerja,” kata dia.

Pihaknya berharap, para pekerja yang sudah di PHK, dapat membuka usaha sendiri, salah satunya dengan memanfaatkan peluang perdagangan secara daring. Hal ini menurutnya juga dapat dilakukan oleh para pencari kerja saat ini.

Pada tahun ini, di tengah upaya pemulihan, dirinya berharap pekerja dan perusahaan untuk sama-sama menahan diri dan tidak menonjolkan ego masing-masing. Bagi perusahaan, dia berpesan untuk meminimalisir langkah merumahkan karyawan atau melakukan PHK. Sementara untuk karyawan, dirinya meminta untuk tidak memberikan tuntutan berlebih kepada perusahaan yang tengah menghadapi persoalan akibat pandemi.

“Intinya sama-sama menahan ego masing-masing,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Kalimantan Barat (Kalbar) diprediksi masih berlanjut hingga tahun 2021. Koordinator Wilayah (Korwil) Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Kalbar, Suherman mengatakan belum ada perubahan yang signifikan yang berdampak pada perlambatan jumlah tenaga kerja yang kena PHK.

“Hingga Januari ini belum ada perubahan yang signifikan. Dunia usaha, utamanya di sektor perdagangan dan jasa masih mengalami kesulitan, sehingga masih ada yang dirumahkan bahkan di PHK,” ungkap Suherman, Senin (8/2).

Gelombang PHK yang masih terus terjadi ini, menurutnya karena angka kasus covid-19 masih belum mampu diturunkan secara signifikan. Di berharap ada upaya yang lebih kuat dari pemerintah untuk meminimalisir persoalan ketenagakerjaan.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kalimantan Barat (Kalbar), Manto memprediksi, angka PHK terus bertambah hingga pertengahan tahun ini. “Sampai setengah tahun mendatang PHK mungkin masih memburuk. Tapi setelah itu perkiraan saya angka PHK justru akan menurun,” ungkap Manto, Senin (8/2).

Penurunan jumlah PHK mulai pertengahan tahun sesuai dengan prediksinya itu, dapat terwujud apabila upaya vaksinasi di provinsi berjalan dengan lancar, serta , kebijakan pengetatan diberlakukan terutama bagi pendatang yang masuk ke Kalbar. Kedua upaya tersebut, menurutnya apabila berjalan dengan baik maka angka penularan covid-19 menurun, sehingga aktivitas ekonomi dapat berjalan lancar.

Baca Juga :  Tiga Perusahaan PHK dan Rumahkan Karyawan, Lainnya Bakal Menyusul

Dia menyebut, 2020 menjadi tahun terberat bagi perekonomian, dan mengakibatkan kenaikan jumlah karyawan yang kena PHK secara signifikan. Pihkanya mendata, jumlah PHK hingga akhir Desember 2020 di Kalbar sebanyak 1.370 orang. Data ini, menurutnya belum data final, sebab masih ada empat kabupaten/kota yang belum melakukan sinkronisasi data, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, Bengkayang dan Landak.

Menurutnya kondisi ekonomi sangat berkaitan erat terhadap jumlah PHK. Pada tahun 2019, kata dia, dengan kondisi ekonomi yang normal dengan angka pertumbuhan di atas lima persen, angka PHK di Kalbar di bawah 1000 orang, dan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Namun pada tahun 2020, gelombang PHK signifikan terasa sejak bulan April.

“Masuk ke 2020, sampai bulan Maret kita masih normal. Begitu memasuki bulan April, PHK mulai terjadi akibat lesunya penerbangan, pembatasan aktivitas kafe, restoran dan hotel, serta berbagai usaha lainnya,” tutur dia.

Baca Juga :  Servis Makin Mudah, AHASS Luncurkan Tiga Paket Terbaru

Dia menyebut, PHK paling banyak terjadi pada sektor transportasi, disusul sektor perdagangan dan jasa. Sektor jasa seperti perhotelan, restoran dan kafe, menurutnya belum pulih betul meski sudah diterapkan adaptasi baru. Sebaliknya sektor perkebunan dan pertambang, dinilainya sangat sedikit terjadi PHK.

“Perkebunan dan pertambangan masih menjadi primadona, bahkan tahun ini mungkin akan banyak membuka lapangan kerja,” kata dia.

Pihaknya berharap, para pekerja yang sudah di PHK, dapat membuka usaha sendiri, salah satunya dengan memanfaatkan peluang perdagangan secara daring. Hal ini menurutnya juga dapat dilakukan oleh para pencari kerja saat ini.

Pada tahun ini, di tengah upaya pemulihan, dirinya berharap pekerja dan perusahaan untuk sama-sama menahan diri dan tidak menonjolkan ego masing-masing. Bagi perusahaan, dia berpesan untuk meminimalisir langkah merumahkan karyawan atau melakukan PHK. Sementara untuk karyawan, dirinya meminta untuk tidak memberikan tuntutan berlebih kepada perusahaan yang tengah menghadapi persoalan akibat pandemi.

“Intinya sama-sama menahan ego masing-masing,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/