alexametrics
31 C
Pontianak
Friday, July 1, 2022

Madu Mangrove dan Kelulut Diminati Masyarakat

Produk Lokal Kekayaan Alam Hutan Desa

Madu mangrove dan kelulut, amplang, pisang salai, kopi dan kepiting segar terpajang di Stan Sampan Kalimantan . Produk olahan ini berasal dari wilayah Bentang Pesisir Padang Tikar, dan Pesisir Dabung Tanjung Bunga, Kubu Raya. Masyarakat setempat mengelola produk ini untuk meningkatkan perekonomian. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak.

Madu mangrove dan kelulut di stan Sampan Kalimantan diminati pengunjung yang ikut serta pada kegiatan jalan sehat di halaman Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Minggu (8/12). Dua komoditi ini merupakan produk lokal hasil kekayaan alam Hutan Desa yang dikelola masyarakat.

Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah semua produk tersebut berasal dari hutan desa. Sekarang hasilnya kian melimpah. Seperti madu kelulut dikatakan Dede begitu banyak. Sama seperti madu, budidaya kepiting juga mulai dilirik pasar.  Budidaya yang sudah dilakukan masyarakat setempat sejak tahun lalu dibeberapa desa Kecamatan Padang Tikar juga menunjukkan hasil positif. Desember ini, rencananya panen raya akan dilakukan.

Apresiasi masyarakat terhadap produk olahan masyarakat desa ini, kata Dede juga disambut baik. Sejumlah produk diminati, dan dibeli. Seperti madu yang diyakini memiliki banyak khasiat.  “Dari informasi kawan-kawan yang menjaga stan Sampan Kalimantan, produk madu mangrove dan kelulut paling banyak terjual. Artinya pasar madu di Kalbar sebenarnya bagus. Hanya saja kendalanya saat ini, cuma masalah pasar,” katanya.

Baca Juga :  Penerimaan Pajak Sulit Capai Target

Saat ini, hasil madu masyarakat setempat ini, kata dia cukup berlimbah. Tentu akan semakin baik penjualannya jika dapat bersinergi dengan pemerintah. “Butuh tangan pemerintah untuk membantu mencarikan pasarnya,” ungkap Dede.

Dengan begitu, Dede meyakini skema Perhutanan Sosial dengan SK Hutan Desa dan Hutan Adat di Kalbar akan berjalan seiring. Alhasil penjualan hasil hutan bukan kayu juga berkelanjutan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat.  “Sesuai dengan visi misi Gubernur Kalbar, menjadikan Desa di Kalbar sebagai Desa Mandiri. Menjadi mandiri salah satunya bisa dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Saya berharap Gubernur Kalbar dapat membantu pasarnya,” katanya.

Madu kelulut pun menjadi daya tarik bagi Desi untuk membelinya.  Khasiat madu yang diyakininya  baik untuk kesehatan tubuh ini. “Saya memang penikmat madu. Khususnya kelulut miliki banyak khasiat. Manfaat paling nyata bisa membuat badan bugar. Selain itu, ketika batuk pilek atau demam, jika mengkonsumsi kelulut bisa sembuh. Ini sudah saya rasakan,” kata

Baca Juga :  Dorong Perempuan Terapkan Digital Marketing

Dijelaskan Desi, kemasan madu yang dijual di stan Sampan Kalimantan begitu menarik. Harganya juga tidak mahal. Rp 100 ribu. Dia juga tertarik untuk mengetahui asal usul madu ini. Menurutnya, madu ini kali pertama ia temui. “Iya dari segi warna, juga rasanya beda ya. Warna madu ini cenderung lebih pekat kehitaman. Rasanya juga beda dari madu yang biasa saya beli,” tutur dia.

Dia berharap, madu-madu ini dapat ditemukan dengan mudah di pasaran. Seperti di supermarket, minimarket dan toko-toko besar ternama. Agar semakin mengakar, butuh perhatian pemerintah buat membuka pasar mereka. “Saya mendukung usaha produk lokal masyarakat. Terutama dapat meningkatkan perekonomian. Apalagi menjadi ciri khas daerah setempat. Mestinya dapat dukungan pemerintah,” paparnya. **

Produk Lokal Kekayaan Alam Hutan Desa

Madu mangrove dan kelulut, amplang, pisang salai, kopi dan kepiting segar terpajang di Stan Sampan Kalimantan . Produk olahan ini berasal dari wilayah Bentang Pesisir Padang Tikar, dan Pesisir Dabung Tanjung Bunga, Kubu Raya. Masyarakat setempat mengelola produk ini untuk meningkatkan perekonomian. 

MARSITA RIANDINI, Pontianak.

Madu mangrove dan kelulut di stan Sampan Kalimantan diminati pengunjung yang ikut serta pada kegiatan jalan sehat di halaman Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Minggu (8/12). Dua komoditi ini merupakan produk lokal hasil kekayaan alam Hutan Desa yang dikelola masyarakat.

Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah semua produk tersebut berasal dari hutan desa. Sekarang hasilnya kian melimpah. Seperti madu kelulut dikatakan Dede begitu banyak. Sama seperti madu, budidaya kepiting juga mulai dilirik pasar.  Budidaya yang sudah dilakukan masyarakat setempat sejak tahun lalu dibeberapa desa Kecamatan Padang Tikar juga menunjukkan hasil positif. Desember ini, rencananya panen raya akan dilakukan.

Apresiasi masyarakat terhadap produk olahan masyarakat desa ini, kata Dede juga disambut baik. Sejumlah produk diminati, dan dibeli. Seperti madu yang diyakini memiliki banyak khasiat.  “Dari informasi kawan-kawan yang menjaga stan Sampan Kalimantan, produk madu mangrove dan kelulut paling banyak terjual. Artinya pasar madu di Kalbar sebenarnya bagus. Hanya saja kendalanya saat ini, cuma masalah pasar,” katanya.

Baca Juga :  ABDSI Kalbar Dorong Penyaluran KUR yang Berkualitas

Saat ini, hasil madu masyarakat setempat ini, kata dia cukup berlimbah. Tentu akan semakin baik penjualannya jika dapat bersinergi dengan pemerintah. “Butuh tangan pemerintah untuk membantu mencarikan pasarnya,” ungkap Dede.

Dengan begitu, Dede meyakini skema Perhutanan Sosial dengan SK Hutan Desa dan Hutan Adat di Kalbar akan berjalan seiring. Alhasil penjualan hasil hutan bukan kayu juga berkelanjutan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat.  “Sesuai dengan visi misi Gubernur Kalbar, menjadikan Desa di Kalbar sebagai Desa Mandiri. Menjadi mandiri salah satunya bisa dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Saya berharap Gubernur Kalbar dapat membantu pasarnya,” katanya.

Madu kelulut pun menjadi daya tarik bagi Desi untuk membelinya.  Khasiat madu yang diyakininya  baik untuk kesehatan tubuh ini. “Saya memang penikmat madu. Khususnya kelulut miliki banyak khasiat. Manfaat paling nyata bisa membuat badan bugar. Selain itu, ketika batuk pilek atau demam, jika mengkonsumsi kelulut bisa sembuh. Ini sudah saya rasakan,” kata

Baca Juga :  PLN Jamin Keandalan Pasokan Listrik

Dijelaskan Desi, kemasan madu yang dijual di stan Sampan Kalimantan begitu menarik. Harganya juga tidak mahal. Rp 100 ribu. Dia juga tertarik untuk mengetahui asal usul madu ini. Menurutnya, madu ini kali pertama ia temui. “Iya dari segi warna, juga rasanya beda ya. Warna madu ini cenderung lebih pekat kehitaman. Rasanya juga beda dari madu yang biasa saya beli,” tutur dia.

Dia berharap, madu-madu ini dapat ditemukan dengan mudah di pasaran. Seperti di supermarket, minimarket dan toko-toko besar ternama. Agar semakin mengakar, butuh perhatian pemerintah buat membuka pasar mereka. “Saya mendukung usaha produk lokal masyarakat. Terutama dapat meningkatkan perekonomian. Apalagi menjadi ciri khas daerah setempat. Mestinya dapat dukungan pemerintah,” paparnya. **

Most Read

Artikel Terbaru

/