alexametrics
27 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Industri Sawit Kalbar Nol PHK

PONTIANAK – Di tengah pandemi Covid-19 yang telah berjalan lebih dari dua bulan, kegiatan operasional perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat masih berjalan normal. Ketua Gapki Kalbar, Prwati Munawit mengatakan, sampai saat ini tidak ada pengurangan tenaga kerja dan jam kerja, baik di kebun maupun untuk kegiatan operasional di pabrik pengolahan TBS di provinsi ini.

Sementara itu, secara nasional gambaran produksi CPO bulan April 2020 naik 12,6% dibandingkan produksi bulan Maret 2020, sedangkan konsumsi dalam negeri turun 6,6%, ekspor turun 2,8% dan harga CPO turun dari rata-rata USD 636 pada bulan Maret menjadi USD 516 per ton Cif Rotterdam pada bulan April, demikian pula nilai ekspor turun 10% dari USD 1,82 milyar menjadi USD 1,64 miliar. “Rendahnya produksi dibandingkan bulan yang sama tahun 2019 merupakan efek bawaan dari kemarau panjang tahun lalu,” ujarnya, Selasa (9/6).

Namun demikian kenaikan produksi pada April 2020 diharapkan sebagai titik awal kenaikan produksi periode 2020. Serapan pasar untuk      konsumsi dalam negeri pada bulan April dibandingkan bulan Maret turun 98 ribu ton disebabkan turunnya konsumsi biodiesel sebagai dampak melambannya mobilitas masyarakat dengan adanya kebijakan lockdown/PSBB, di sisi lain konsumsi oleokimia berbasis CPO naik 11 ribu ton dikarenakan meningkatnya pemakaian hand sanitizer dan sabun. Kenaikan pemakaian oleokimia diperkirakan masih tetap bertahan meskipun adanya pelonggaran kebijakan PSBB sepanjang protokol Covid-19 tetap diterapkan secara disiplin.

Baca Juga :  Sawit Kalbar jadi Andalan di Masa Pandemi

Gambaran ekspor sawit pada bulan April dibandingkan dengan bulan Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 77 ribu ton terdiri dari 44 ribu ton dalam bentuk refined palm oil dan 33 ribu ton dalam bentukCPO. Berdasarkan tujuan negara ekspor, penurunan yang signifikan ke negara tujuan Bangladesh;  Afrika dan Timur Tengah hal ini diperkirakan masih cukup tersedianya stock di tiga negara tersebut akibat cukup tingginya ekspor yang terjadi pada bulan Maret 2020.  Sebaliknya tujuan ekspor ke Pakistan mengalami kenaikan 100% menjadi 201 ribu ton disebabkan serapan ekspor yang sangat rendah pada bulan Maret 2020.

Ekspor tujuan China mengalami kenaikan 37% menjadi 417 ribu ton meskipun angka tersebut masih jauh lebih rendah jika dibandingkan ekspor ke China pada periode April 2019 (730 ribu ton), sedangkan ekspor keIndia dan EU menunjukan sedikit kenaikan. Tren yang positif ini diperkirakan akan berjalan terus dengan semakin meredanya pandemic Covid-19.

Baca Juga :  Cargill Gelontorkan Rp49 Miliar untuk Hutan dan Masyarakat

Sejalan dengan gambaran sawit secara nasional dan global, maka kondisiproduksi maupun harga CPO/TBS di Kalimantan Barat juga mengalami fluktuasi dimana produksi sawit pada Januari– April 2020 tercatat 694.120 ton, sedangkan harga TBS periode (I)bulan Mei Rp1.503/kg, turun dibandingkan dengan bulan Januari (sebelum wabah Covid-19 )Rp1.975/kg, walaupun jika dibandingkan pada periode Mei 2019 yaitu Rp1.239/kg harga TBS Mei periode I-2020 relatif lebih baik, demikian juga harga CPO per Mei 2019 Rp6.293/kg dibandingkan harga CPO pada bulan Mei   2020 sebesar Rp7.062/kg.

“Namun harga CPO per bulan Mei 2020 tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan harga CPO bulan Januari 2020 (sebelum wabah Covid-19) yaitu sebesar Rp9.042,31/kg. Diharapkan kebijakan new normal yang akan ditetapkan pemerintah daerah Kalbar akan diikuti mulai bergeraknya perekonomian sampai tingkat pedesaan, semakin normalnya mobilisasi angkutan hasil produksi dari kebun ke pasar domestik Maupun internasional dengan demikian harga TBS maupun CPO berpeluang untuk mancapai titik yang lebih menguntungkan,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Di tengah pandemi Covid-19 yang telah berjalan lebih dari dua bulan, kegiatan operasional perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat masih berjalan normal. Ketua Gapki Kalbar, Prwati Munawit mengatakan, sampai saat ini tidak ada pengurangan tenaga kerja dan jam kerja, baik di kebun maupun untuk kegiatan operasional di pabrik pengolahan TBS di provinsi ini.

Sementara itu, secara nasional gambaran produksi CPO bulan April 2020 naik 12,6% dibandingkan produksi bulan Maret 2020, sedangkan konsumsi dalam negeri turun 6,6%, ekspor turun 2,8% dan harga CPO turun dari rata-rata USD 636 pada bulan Maret menjadi USD 516 per ton Cif Rotterdam pada bulan April, demikian pula nilai ekspor turun 10% dari USD 1,82 milyar menjadi USD 1,64 miliar. “Rendahnya produksi dibandingkan bulan yang sama tahun 2019 merupakan efek bawaan dari kemarau panjang tahun lalu,” ujarnya, Selasa (9/6).

Namun demikian kenaikan produksi pada April 2020 diharapkan sebagai titik awal kenaikan produksi periode 2020. Serapan pasar untuk      konsumsi dalam negeri pada bulan April dibandingkan bulan Maret turun 98 ribu ton disebabkan turunnya konsumsi biodiesel sebagai dampak melambannya mobilitas masyarakat dengan adanya kebijakan lockdown/PSBB, di sisi lain konsumsi oleokimia berbasis CPO naik 11 ribu ton dikarenakan meningkatnya pemakaian hand sanitizer dan sabun. Kenaikan pemakaian oleokimia diperkirakan masih tetap bertahan meskipun adanya pelonggaran kebijakan PSBB sepanjang protokol Covid-19 tetap diterapkan secara disiplin.

Baca Juga :  Penjualan Sepeda Motor Honda di Kalbar Turun 5 Persen

Gambaran ekspor sawit pada bulan April dibandingkan dengan bulan Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 77 ribu ton terdiri dari 44 ribu ton dalam bentuk refined palm oil dan 33 ribu ton dalam bentukCPO. Berdasarkan tujuan negara ekspor, penurunan yang signifikan ke negara tujuan Bangladesh;  Afrika dan Timur Tengah hal ini diperkirakan masih cukup tersedianya stock di tiga negara tersebut akibat cukup tingginya ekspor yang terjadi pada bulan Maret 2020.  Sebaliknya tujuan ekspor ke Pakistan mengalami kenaikan 100% menjadi 201 ribu ton disebabkan serapan ekspor yang sangat rendah pada bulan Maret 2020.

Ekspor tujuan China mengalami kenaikan 37% menjadi 417 ribu ton meskipun angka tersebut masih jauh lebih rendah jika dibandingkan ekspor ke China pada periode April 2019 (730 ribu ton), sedangkan ekspor keIndia dan EU menunjukan sedikit kenaikan. Tren yang positif ini diperkirakan akan berjalan terus dengan semakin meredanya pandemic Covid-19.

Baca Juga :  Menuju Kampus Cyber, UPB Pontianak Teken Kerja Sama dengan Pontianak Post

Sejalan dengan gambaran sawit secara nasional dan global, maka kondisiproduksi maupun harga CPO/TBS di Kalimantan Barat juga mengalami fluktuasi dimana produksi sawit pada Januari– April 2020 tercatat 694.120 ton, sedangkan harga TBS periode (I)bulan Mei Rp1.503/kg, turun dibandingkan dengan bulan Januari (sebelum wabah Covid-19 )Rp1.975/kg, walaupun jika dibandingkan pada periode Mei 2019 yaitu Rp1.239/kg harga TBS Mei periode I-2020 relatif lebih baik, demikian juga harga CPO per Mei 2019 Rp6.293/kg dibandingkan harga CPO pada bulan Mei   2020 sebesar Rp7.062/kg.

“Namun harga CPO per bulan Mei 2020 tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan harga CPO bulan Januari 2020 (sebelum wabah Covid-19) yaitu sebesar Rp9.042,31/kg. Diharapkan kebijakan new normal yang akan ditetapkan pemerintah daerah Kalbar akan diikuti mulai bergeraknya perekonomian sampai tingkat pedesaan, semakin normalnya mobilisasi angkutan hasil produksi dari kebun ke pasar domestik Maupun internasional dengan demikian harga TBS maupun CPO berpeluang untuk mancapai titik yang lebih menguntungkan,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Pemberantasan Korupsi Jadi Isu Rakornas

Bupati Resmikan Mempawah Expo 2019

Jadikan Wisata Religi dan Edukasi

Napi Kendalikan Sabu

Artikel Terbaru

/