alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Sektor Tambang Stabil di Tengah Pandemi 

PONTIANAK – Pandemi Covid-19 telah menghantam sejumlah sektor usaha di Kalimantan Barat. Kendati demikian sektor pertambangan relatif satbil dibandingkan dengan bidang usaha lainnya. Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Kalbar, Sigit Nugroho menyebut hal ini lantaran permintaan komoditas ekspor tambang andalan Kalbar seperti bauksit cenderung tetap.

“Sektor tambang berbeda dengan sektor industri, jasa dan perdagangan yang sangat terdampak Covid karena adanya pembatasan sosial. Namun pengaruhnya tetap saja ada. Karena negara-negara industri sebagai importir tambang kita aktivitasnya menurun terutama di awal-awal pandemi. Tetapi untuk aktivitas tambang komoditas secara umum tidak terlalu terdampak,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Dampak pandemi juga terasa pada pertambangan non-komoditas ekspor, seperti galian batu, pasir dan tanah. Produk-produk tersebut aktivitasnya sangat tergantung dari konsumsi lokal, seperti pembangunan proyek pemerintah, swasta, dan masyarakat. Namun pada masa pandemi, kegiatan proyek pembangunan terhambat.

“Tambang untuk proyek pembangunan pemerintah memang terdampak, karena adanya pandemi. Begitu juga swasta dan masyarakat umum. Tetapi penurunannya juga tidak terlalu jauh, karena perusahaan-perusahaan tambang itu masih beroperasi. Hanya pendapatannya yang menurun sedikit,” kata dia.

Baca Juga :  Izin Tambang Capai 600 Ribu Hektare, Luas Hampir 12,5 Kali Kota Singkawang

Kegiatan pertambangan sendiri menjadi satu dari sedikit sektor lapangan usaha yang tumbuh di tengah pandemi. Bahkan pertumbuhannya cukup fantastis. Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang tahun lalu sektor pertambangan dan penggalian mampu tumbuh 21,2 persen dibandingkan tahun 2019. Hanya kalah dari jasa kesehatan dan sosial yang tumbuh 26 persen, sektor yang memang dibutuhkan saat pandemi.

Hal ini tentu saja kontradiktif dengan keadaan umum Kalbar pada tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sepanjang tahun 2020 mengalami minus 1,82 persen secara komulatif disbanding tahun lalu. Selain itu secara year on year Triwulan IV juga mengalami minus 2,22 persen. Dari sisi produksi, kontraksi terbesar didorong oleh Lapangan Usaha Penyedia Akomodasi dan Makan Minum serta Transportasi dan Pergudangan yang masing-masing terkontraksi sebesar 19,3 dan 19,1 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran kontraksi terbesar terjadi pada Komponen Pengeluaran LNPRT yang terkontraksi sebesar 1,88 persen. “Dari sisi produksi, kontraksi terbesar didorong oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan yang terkontraksi 22,58 persen. Dari sisi Pengeluaran, kontraksi terbesar dialami oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang terkontraksi sebesar 9,95 persen,” ujarnya.

Baca Juga :  Stop Korban Investasi Forex Bodong!

Ekonomi Kalimantan Barat memang terkontraksi secara tahunan. Namun kabar baiknya, secara tiga bulanan, ekonomi Kalbar pada kwartal terakhir tahun lalu tumbuh sebesar 3,64 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi didorong oleh Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang tumbuh sebesar 30,19 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yaitu sebesar 14,45 persen.

Struktur ekonomi Kalimantan Barat pada triwulan IV-2020 didominasi oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 19,95 persen, Industri Pengolahan 16,64 persen, Konstruksi 13,34 persen dan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 13,08 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yaitu sebesar 49,54 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 31,67 persen, dan Pengeluran Konsumsi Pemerintah sebesar 14,46 persen. (ars)

PONTIANAK – Pandemi Covid-19 telah menghantam sejumlah sektor usaha di Kalimantan Barat. Kendati demikian sektor pertambangan relatif satbil dibandingkan dengan bidang usaha lainnya. Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Kalbar, Sigit Nugroho menyebut hal ini lantaran permintaan komoditas ekspor tambang andalan Kalbar seperti bauksit cenderung tetap.

“Sektor tambang berbeda dengan sektor industri, jasa dan perdagangan yang sangat terdampak Covid karena adanya pembatasan sosial. Namun pengaruhnya tetap saja ada. Karena negara-negara industri sebagai importir tambang kita aktivitasnya menurun terutama di awal-awal pandemi. Tetapi untuk aktivitas tambang komoditas secara umum tidak terlalu terdampak,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Dampak pandemi juga terasa pada pertambangan non-komoditas ekspor, seperti galian batu, pasir dan tanah. Produk-produk tersebut aktivitasnya sangat tergantung dari konsumsi lokal, seperti pembangunan proyek pemerintah, swasta, dan masyarakat. Namun pada masa pandemi, kegiatan proyek pembangunan terhambat.

“Tambang untuk proyek pembangunan pemerintah memang terdampak, karena adanya pandemi. Begitu juga swasta dan masyarakat umum. Tetapi penurunannya juga tidak terlalu jauh, karena perusahaan-perusahaan tambang itu masih beroperasi. Hanya pendapatannya yang menurun sedikit,” kata dia.

Baca Juga :  Gubernur Tak Ingin Andalkan Tambang

Kegiatan pertambangan sendiri menjadi satu dari sedikit sektor lapangan usaha yang tumbuh di tengah pandemi. Bahkan pertumbuhannya cukup fantastis. Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang tahun lalu sektor pertambangan dan penggalian mampu tumbuh 21,2 persen dibandingkan tahun 2019. Hanya kalah dari jasa kesehatan dan sosial yang tumbuh 26 persen, sektor yang memang dibutuhkan saat pandemi.

Hal ini tentu saja kontradiktif dengan keadaan umum Kalbar pada tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sepanjang tahun 2020 mengalami minus 1,82 persen secara komulatif disbanding tahun lalu. Selain itu secara year on year Triwulan IV juga mengalami minus 2,22 persen. Dari sisi produksi, kontraksi terbesar didorong oleh Lapangan Usaha Penyedia Akomodasi dan Makan Minum serta Transportasi dan Pergudangan yang masing-masing terkontraksi sebesar 19,3 dan 19,1 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran kontraksi terbesar terjadi pada Komponen Pengeluaran LNPRT yang terkontraksi sebesar 1,88 persen. “Dari sisi produksi, kontraksi terbesar didorong oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan yang terkontraksi 22,58 persen. Dari sisi Pengeluaran, kontraksi terbesar dialami oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang terkontraksi sebesar 9,95 persen,” ujarnya.

Baca Juga :  Biodiesel Kerek Harga Sawit

Ekonomi Kalimantan Barat memang terkontraksi secara tahunan. Namun kabar baiknya, secara tiga bulanan, ekonomi Kalbar pada kwartal terakhir tahun lalu tumbuh sebesar 3,64 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi didorong oleh Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang tumbuh sebesar 30,19 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yaitu sebesar 14,45 persen.

Struktur ekonomi Kalimantan Barat pada triwulan IV-2020 didominasi oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 19,95 persen, Industri Pengolahan 16,64 persen, Konstruksi 13,34 persen dan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 13,08 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yaitu sebesar 49,54 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 31,67 persen, dan Pengeluran Konsumsi Pemerintah sebesar 14,46 persen. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/