30 C
Pontianak
Friday, June 9, 2023

Sumbono Ajak Mahasiswa Berinovasi EBT

PONTIANAK – Kalimatan Barat memiliki banyak sekali sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yang berpotensi untuk kelistrikan. Hal ini diungkapkan Manager PLN UPDK Kapuas UIKL Kalimantan, Ir Sumbono.

“Kalimantan Barat punya CPO, matahari yang cukup, sungai dan air terjun, biomassa, serta energi alternatif lainnya. Jadi potensi EBT ada di sini,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional 2020: “Pengembangan Teknologi Energi Baru-Terbarukan untuk Mencapai Ketahanan Energi Nasional” yang digelar oleh Teknik Elektro-Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Sabtu (14/3).

Konsumsi energi yang terus melonjak signifikan membuat PT PLN (Persero) terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan listrik. Pemerintah juga sudah menargetkan proyek 35.000 MW, dimana terdapat porse pembangkit EBT di dalamnya. “Oleh sebab itu kita terus mengejar pembangunan pembangkit listrik khususnya yang menggunakan EBT. Karena sumber energi fosil sendiri semakin langka sementara populasi terus meningkat,” ucapnya.

Baca Juga :  Gandeng BI, IAGI Dorong Percepatan Geowisata Temajuk

Hanya saja, kata dia, proyek EBT memiliki kendala dalam bidang investasinya. Tidak banyak investor yang tertarik pada bidang ini. Pasalnya biaya modal yang dikeluarkan di awal sangat tinggi. “Misalnya PLTA, itu memakan biaya untuk infrastruktur dan instalasi yang sangat besar. Walaupun energi yang kita dapatkan gratis karena dari alam,” sebut dia. “Atau tenaga surya yang saat ini teknologi baterai penyimpanannya belum mampu untuk memenuhi kebutuhan industri. Padahal sinar matahari kita berlimpah,” sambung dia.

Dia menyebut, alternatif EBT yang masuk akal di Kalbar adalah dari kelapa sawit. Menurutnya bahkan limbah sawit bisa diolah menjadi biodiesel yang menjadi bahan bakar bagi PLTD. “Kami juga sudah bekerjasama dengan Pertamina dalam menjalankan program B30, dimana bahan bakar PLTD kami sebagian menggunakan biodiesel,” kata dia.

Baca Juga :  Bertumpu Permintaan Domestik, Tak Perlu Khawatir Resesi Ekonomi Global

Namun, kata dia, bukan tidak mungkin ke depan EBT akan semakin masuk akal untuk menjadi sumber kelistrikan utama Indonesia. Syaratnya harus ada inovasi dalam bidang teknologi. Pihaknya pun membuka diri untuk bekerjasama dengan para mahasiswa FT Untan dalam rangka penelitian dan penemuan dalam bidang kelistrikan. “Kolaborasi perguruan tinggi dengan korporasi dan industri penting untuk menemukan solusi masalah ini,” sebut dia.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Ahmad Dzaki menyebut materi yang disampaikan sangat berguna untuk menambah wawasan para mahasiswa. Selain itu memotivasi mereka untuk menjadi bagian perlombaan inovasi di bidang kelistrikan. “Kita tahu ketahanan energi adalah isu penting di dunia. Sementara ada isu lain yang tak kalah penting yaitu tentang lingkungan hidup. EBT bisa menjadi solusi untuk keduanya, dan hari ini kami mendapatkan pembelajaran,” pungkas dia. (ars)

PONTIANAK – Kalimatan Barat memiliki banyak sekali sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yang berpotensi untuk kelistrikan. Hal ini diungkapkan Manager PLN UPDK Kapuas UIKL Kalimantan, Ir Sumbono.

“Kalimantan Barat punya CPO, matahari yang cukup, sungai dan air terjun, biomassa, serta energi alternatif lainnya. Jadi potensi EBT ada di sini,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional 2020: “Pengembangan Teknologi Energi Baru-Terbarukan untuk Mencapai Ketahanan Energi Nasional” yang digelar oleh Teknik Elektro-Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Sabtu (14/3).

Konsumsi energi yang terus melonjak signifikan membuat PT PLN (Persero) terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan listrik. Pemerintah juga sudah menargetkan proyek 35.000 MW, dimana terdapat porse pembangkit EBT di dalamnya. “Oleh sebab itu kita terus mengejar pembangunan pembangkit listrik khususnya yang menggunakan EBT. Karena sumber energi fosil sendiri semakin langka sementara populasi terus meningkat,” ucapnya.

Baca Juga :  Presiden Resmikan Pabrik Mobil Listrik, PLN Siap Dukung Infrastruktur

Hanya saja, kata dia, proyek EBT memiliki kendala dalam bidang investasinya. Tidak banyak investor yang tertarik pada bidang ini. Pasalnya biaya modal yang dikeluarkan di awal sangat tinggi. “Misalnya PLTA, itu memakan biaya untuk infrastruktur dan instalasi yang sangat besar. Walaupun energi yang kita dapatkan gratis karena dari alam,” sebut dia. “Atau tenaga surya yang saat ini teknologi baterai penyimpanannya belum mampu untuk memenuhi kebutuhan industri. Padahal sinar matahari kita berlimpah,” sambung dia.

Dia menyebut, alternatif EBT yang masuk akal di Kalbar adalah dari kelapa sawit. Menurutnya bahkan limbah sawit bisa diolah menjadi biodiesel yang menjadi bahan bakar bagi PLTD. “Kami juga sudah bekerjasama dengan Pertamina dalam menjalankan program B30, dimana bahan bakar PLTD kami sebagian menggunakan biodiesel,” kata dia.

Baca Juga :  PLN UP3 Pontianak Bukukan Kenaikan Pendapatan Sebesar 11,68%

Namun, kata dia, bukan tidak mungkin ke depan EBT akan semakin masuk akal untuk menjadi sumber kelistrikan utama Indonesia. Syaratnya harus ada inovasi dalam bidang teknologi. Pihaknya pun membuka diri untuk bekerjasama dengan para mahasiswa FT Untan dalam rangka penelitian dan penemuan dalam bidang kelistrikan. “Kolaborasi perguruan tinggi dengan korporasi dan industri penting untuk menemukan solusi masalah ini,” sebut dia.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Ahmad Dzaki menyebut materi yang disampaikan sangat berguna untuk menambah wawasan para mahasiswa. Selain itu memotivasi mereka untuk menjadi bagian perlombaan inovasi di bidang kelistrikan. “Kita tahu ketahanan energi adalah isu penting di dunia. Sementara ada isu lain yang tak kalah penting yaitu tentang lingkungan hidup. EBT bisa menjadi solusi untuk keduanya, dan hari ini kami mendapatkan pembelajaran,” pungkas dia. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru