alexametrics
25 C
Pontianak
Wednesday, August 17, 2022

Rp6 Miliar untuk Bangun Rumah Produksi Lada Batu Layar di Perbatasan

PONTIANAK– Rumah Produksi lada di Dusun Batu Layar, Desa Sendoyan, Kabupaten Sambas akan segera dibangn. Pusat produksi masyarakat ini akan memakan luas bangunan 20 x 80 meter di atas lahan 1.600 M². “Material sudah mulai dipasok di lokasi pembagunan setelah beberapa waktu dari pihak Pemkab Sambas dan kontraktor pelaksana melakukan peninjauan,” ujar Dedi Khansa, inisiator Lada Batu Layar.

Dia menyebut, pembagunan Rumah Produksi Lada sebagaimana amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 2021 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi pada Kawasan Perbatasan Negara. Hadirnya bangunan dengan total pagu hampir capai Rp6 miliar tersebut sebagai upaya hilirisasi produk komoditas lada untuk skala ekspor.

Hadirnya Rumah Produksi Lada tidak terlepas dari langkah sederhana namun berpondasi dengan gagasan – gagasan yang besar. Sederhana di sini dengan membuat produk hilirisasi berupa lada bubuk baik lada hitam maupun putih kemasan berbasis rumahan. Berawal dari 1 kilogram untuk uji coba tes pasar dengan dibumbu narasi dan gagasan terkait produk, akhirnya membuahkan hasil. Meski tantangan dan rasa mustahil dan lainnya hadir.

Gagasan besar di sini berkaitan pertama, menyakinkan bahwa dari sisi produk, lada memang produk untuk kebutuhan dunia. Ingat kah bahwa Indonesia dijajah tidak terlepas dari daya tarik akan kekayaan rempah – rempahnya termasuk lada.

Kedua, gagasan sudah saatnya perlu hilirisasi produk. Hilirisasi produk akan memberikan nilai tambah baik dari lapangan kerja (petani) dan harga yang didapat. Lada bulat jika diolah menjadi bubuk maka bisa memberikan nilai tambah lebih dari 250 persen. Contoh jika harga lada bulat putih Rp50 ribu/Kg maka jika diolah menjadi lada bubuk putih bisa di atas Rp250 ribu/Kg.

Baca Juga :  Peduli Masyarakat Perbatasan, PLN Salurkan Bantuan Program 'PLN Mengajar Ekspedisi Tapal Batas'

“Gagasan hilirisasi produk lada ini lah menjadikan Dusun Batu Layar menjadi perhatian pemerintah untuk dibangunnya Rumah Produksi Lada. Bermodal lada bubuk putih dan hitam yang diberi Lada Batu Layar tersebut bisa mengantarkan proyek dengan pagu hampir Rp6 miliar tersebut,” ujar Dedi bangga.

“Dalam berbagai kesempatan termasuk saat hadir di forum Pemerintah Desa Sendoyan, selaku pengagas Lada Batu Layar saya menyampaikan bahwa sebenarnya dari sisi jumlah produksi lada, Dusun Batu Layar atau Desa Sendoyan tentu masih kalah jauh produksinya dengan dengan desa tetangga yang juga daerah penghasil atau desa lainnya,” paparnya.

Kemudian, dari sisi kualitas lada dihasilkan terutama pasca panen karena faktor air, juga demikian sebab di daerah lainnya seperti di Kabupaten Bengkayang kualitas lebih putih dan baik, apalagi di sana sudah varietas sendiri. Demikian di Sanggau biji ladanya juga sangat baik.

Dari sisi akses, ke Batu Layar tentu sangat butuh energi khusus karena akses atau medannya. “Namun demian, terlepas faktor di atas, karena gagasan yang kami hadirkan berupa hilirisasi produk, dukungan Pemdes melalui Kadesnya, Juliansya dan Istri beliau melalui PKK beserta anggotanya yang hingga kini aktif, Rumah Produksi Lada dibangun di Sendoyan melalui Ipres No 1 2021 melalui APBN. Kemudian, saat itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar, Bapak Heronimus Hero (kini Kadis Pangan Kalbar) saya bawa ke Batu Layar dan itu juga berdampak singnifikan,” sambungnya.

Baca Juga :  Seed Edu Park Layani Edukasi Benih

Gagasan selalu dinarasikan melalui media sosial, pemberitaan melalui media massa dan mengikuti pameran melalui jaringan atau teman baik di kabupaten maupun provinsi, hal itu juga faktor kunci mengapa daerah kami dilirik. Kuncinya, potensi yang ada digali dan kenalkan secara luas. Dengan demikian bisa diketahui dan bisa dilirik.

Saat ini untuk Produk Lada Batu Layar sendiri, siap memasuki pasar karena setalah melewati berbagai fase terutama untuk perizinan akhirnya bisa diselesaikan satu persatu. Perizinan keamanan pangan sangat penting. Saat ini Lada Batu Layar sudah memiliki PIRT dan sertifikasi halal. Tim dari Lada Batu Layar juga sudah dan terus meningkatkan kapasitas melalui pemdampingan Pemkab Sambas serta kampus di Sambas. “Semoga hal itu berdampak luas bagi desa dan daerah,” sebut orang yang juga jurnalis LKBN Antara ini.

“Nah, terkait hadirnya Rumah Produksi Lada tugas bersama kita mengawal dan menjaganya. Kemudian ke depan memanfaatkannya. Saya yakin hadirnya Rumah Produksi Lada juga menjadi awal atau pendorong pembangunan infstruktur lainnya seperti jalan, air bersih serta aktivitas pertanian dan ekonomi. Jadi jadikan ini kebanggaan kita bersama, bukan saya tapi kita bersama. Ucapan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Kades Sendoyan dari awal hinggi kini selalu terdepan beserta tim lainnya,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK– Rumah Produksi lada di Dusun Batu Layar, Desa Sendoyan, Kabupaten Sambas akan segera dibangn. Pusat produksi masyarakat ini akan memakan luas bangunan 20 x 80 meter di atas lahan 1.600 M². “Material sudah mulai dipasok di lokasi pembagunan setelah beberapa waktu dari pihak Pemkab Sambas dan kontraktor pelaksana melakukan peninjauan,” ujar Dedi Khansa, inisiator Lada Batu Layar.

Dia menyebut, pembagunan Rumah Produksi Lada sebagaimana amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 2021 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi pada Kawasan Perbatasan Negara. Hadirnya bangunan dengan total pagu hampir capai Rp6 miliar tersebut sebagai upaya hilirisasi produk komoditas lada untuk skala ekspor.

Hadirnya Rumah Produksi Lada tidak terlepas dari langkah sederhana namun berpondasi dengan gagasan – gagasan yang besar. Sederhana di sini dengan membuat produk hilirisasi berupa lada bubuk baik lada hitam maupun putih kemasan berbasis rumahan. Berawal dari 1 kilogram untuk uji coba tes pasar dengan dibumbu narasi dan gagasan terkait produk, akhirnya membuahkan hasil. Meski tantangan dan rasa mustahil dan lainnya hadir.

Gagasan besar di sini berkaitan pertama, menyakinkan bahwa dari sisi produk, lada memang produk untuk kebutuhan dunia. Ingat kah bahwa Indonesia dijajah tidak terlepas dari daya tarik akan kekayaan rempah – rempahnya termasuk lada.

Kedua, gagasan sudah saatnya perlu hilirisasi produk. Hilirisasi produk akan memberikan nilai tambah baik dari lapangan kerja (petani) dan harga yang didapat. Lada bulat jika diolah menjadi bubuk maka bisa memberikan nilai tambah lebih dari 250 persen. Contoh jika harga lada bulat putih Rp50 ribu/Kg maka jika diolah menjadi lada bubuk putih bisa di atas Rp250 ribu/Kg.

Baca Juga :  Sektor Transportasi Kalbar Terkontraksi

“Gagasan hilirisasi produk lada ini lah menjadikan Dusun Batu Layar menjadi perhatian pemerintah untuk dibangunnya Rumah Produksi Lada. Bermodal lada bubuk putih dan hitam yang diberi Lada Batu Layar tersebut bisa mengantarkan proyek dengan pagu hampir Rp6 miliar tersebut,” ujar Dedi bangga.

“Dalam berbagai kesempatan termasuk saat hadir di forum Pemerintah Desa Sendoyan, selaku pengagas Lada Batu Layar saya menyampaikan bahwa sebenarnya dari sisi jumlah produksi lada, Dusun Batu Layar atau Desa Sendoyan tentu masih kalah jauh produksinya dengan dengan desa tetangga yang juga daerah penghasil atau desa lainnya,” paparnya.

Kemudian, dari sisi kualitas lada dihasilkan terutama pasca panen karena faktor air, juga demikian sebab di daerah lainnya seperti di Kabupaten Bengkayang kualitas lebih putih dan baik, apalagi di sana sudah varietas sendiri. Demikian di Sanggau biji ladanya juga sangat baik.

Dari sisi akses, ke Batu Layar tentu sangat butuh energi khusus karena akses atau medannya. “Namun demian, terlepas faktor di atas, karena gagasan yang kami hadirkan berupa hilirisasi produk, dukungan Pemdes melalui Kadesnya, Juliansya dan Istri beliau melalui PKK beserta anggotanya yang hingga kini aktif, Rumah Produksi Lada dibangun di Sendoyan melalui Ipres No 1 2021 melalui APBN. Kemudian, saat itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar, Bapak Heronimus Hero (kini Kadis Pangan Kalbar) saya bawa ke Batu Layar dan itu juga berdampak singnifikan,” sambungnya.

Baca Juga :  Apkasindo Kalbar : Banyak Pabrik Sawit Tutup

Gagasan selalu dinarasikan melalui media sosial, pemberitaan melalui media massa dan mengikuti pameran melalui jaringan atau teman baik di kabupaten maupun provinsi, hal itu juga faktor kunci mengapa daerah kami dilirik. Kuncinya, potensi yang ada digali dan kenalkan secara luas. Dengan demikian bisa diketahui dan bisa dilirik.

Saat ini untuk Produk Lada Batu Layar sendiri, siap memasuki pasar karena setalah melewati berbagai fase terutama untuk perizinan akhirnya bisa diselesaikan satu persatu. Perizinan keamanan pangan sangat penting. Saat ini Lada Batu Layar sudah memiliki PIRT dan sertifikasi halal. Tim dari Lada Batu Layar juga sudah dan terus meningkatkan kapasitas melalui pemdampingan Pemkab Sambas serta kampus di Sambas. “Semoga hal itu berdampak luas bagi desa dan daerah,” sebut orang yang juga jurnalis LKBN Antara ini.

“Nah, terkait hadirnya Rumah Produksi Lada tugas bersama kita mengawal dan menjaganya. Kemudian ke depan memanfaatkannya. Saya yakin hadirnya Rumah Produksi Lada juga menjadi awal atau pendorong pembangunan infstruktur lainnya seperti jalan, air bersih serta aktivitas pertanian dan ekonomi. Jadi jadikan ini kebanggaan kita bersama, bukan saya tapi kita bersama. Ucapan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Kades Sendoyan dari awal hinggi kini selalu terdepan beserta tim lainnya,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/