alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Digitalisasi Percepat Inklusi Keuangan

PONTIANAK – Percepatan inklusi keuangan dapat dilakukan melalui optimalisasi layanan digital perbankan. Terlebih pada masa pandemi Covid-19, masyarakat emakin beradaptasi dengan teknologi digital.

“56 persen konsumen Indonesia lebih memilih melakukan pembayaran non tunai,” ungkap Agus Kurniawan, Area Head Bank Mandiri Pontianak, belum lama ini.

Pada tahun 2020, lanjutnya, ada sekitar 47 persen masyarakat Asia Tenggara melakukan pembayaran secara digital, dan diperiksa naik hingga 84 persen. Hal ini lah yang menurutnya menjadi salah satu pemicu Bank Mandiri untuk terus meningkatkan pelayanan digital perbankan untuk Masyarakat.

“Bank Mandiri secara konsisten terus bertransfromasi mengembangkan produk dan layanan perbankan baik nasabah ritel maupun  wholesale sekaligus mendukung inklusi keuangan,” katanya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat, Mualana Yasin mengatakan, target inklusi keuangan nasional sebesar 90 persen, sesuai implementasi Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) dan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 4 Tahun 2021 Tentang Pelaksanaan Strategi Nasional Keuangan Inklusif.

Baca Juga :  Tips Bikin Video Berkualitas Film dengan Galaxy Note20 Series

“Untuk mencapai target Inklusi Keuangan sebesar 90 persen pada tahun 2024 diperlukan adanya strategi dalam meningkatkan literasi dan Inklusi keuangan masyarakat yang well literate dan financially inclusive yang pada akhirnya dapat mendorong pembangunan ekonomi Indonesia di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilaksanakan oleh OJK pada tahun 2019 di 34  Provinsi di Indonesia, menunjukkan bahwa indeks Inklusi keuangan adalah sebesar 76,2 persen dan indeks Literasi keuangan baru mencapai 38 persen. Menurutnya, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi global terkontraksi cukup dalam.

“Pelemahan ekonomi masih terjadi akibat pembatasan sosial yang menekan sektor jasa keuangan walaupun saat ini sudah mulai di longgarkan sehingga dapat menumbuhkan harapan baru agar kondisi perekonomian kembali pulih,” ungkapnya.

Saat ini OJK sedang menggelar Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2021. Dia mengatakan, tujuan dilaksanakannya Bulan Inklusi Keuangan 2021 adalah pertama mendukung pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diinisiasi oleh Pemerintah untuk meminimalisir dampak pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Digitalisasi Perbankan, Menuruti Hasrat Kaum Muda

“Membuka akses keuangan kepada berbagai lapisan masyarakat, mendorong pembukaan rekening kredit/pembiayaan serta penggunaan produk dan/atau layanan jasa keuangan. Selain itu juga meningkatkan pemahaman dan awareness masyarakat terhadap budaya menabung serta mempublikasikan program literasi, Inklusi Keuangan dan perlindungan konsumen.

Rangkaian kegiatan BIK 2021 dimulai dengan kegiatan webinar series Inklusi Keuangan sebanyak empat kegiatan yang terdiri dari berbagai macam tema dari industri perbankan, pasar modal, pergadaian dan financial technology. Selanjutnya, diikuti dengan kegiatan business matching bagi pelaku UMKM di Kota Pontianak, serta akan dilakukan penguatan infrastruktur TPAKD (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) berupa pengukuhan TPAKD di empat Kabupaten yakni Kabupaten Sanggau, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sekadau. (sti)

PONTIANAK – Percepatan inklusi keuangan dapat dilakukan melalui optimalisasi layanan digital perbankan. Terlebih pada masa pandemi Covid-19, masyarakat emakin beradaptasi dengan teknologi digital.

“56 persen konsumen Indonesia lebih memilih melakukan pembayaran non tunai,” ungkap Agus Kurniawan, Area Head Bank Mandiri Pontianak, belum lama ini.

Pada tahun 2020, lanjutnya, ada sekitar 47 persen masyarakat Asia Tenggara melakukan pembayaran secara digital, dan diperiksa naik hingga 84 persen. Hal ini lah yang menurutnya menjadi salah satu pemicu Bank Mandiri untuk terus meningkatkan pelayanan digital perbankan untuk Masyarakat.

“Bank Mandiri secara konsisten terus bertransfromasi mengembangkan produk dan layanan perbankan baik nasabah ritel maupun  wholesale sekaligus mendukung inklusi keuangan,” katanya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat, Mualana Yasin mengatakan, target inklusi keuangan nasional sebesar 90 persen, sesuai implementasi Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) dan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 4 Tahun 2021 Tentang Pelaksanaan Strategi Nasional Keuangan Inklusif.

Baca Juga :  Tips Bikin Video Berkualitas Film dengan Galaxy Note20 Series

“Untuk mencapai target Inklusi Keuangan sebesar 90 persen pada tahun 2024 diperlukan adanya strategi dalam meningkatkan literasi dan Inklusi keuangan masyarakat yang well literate dan financially inclusive yang pada akhirnya dapat mendorong pembangunan ekonomi Indonesia di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilaksanakan oleh OJK pada tahun 2019 di 34  Provinsi di Indonesia, menunjukkan bahwa indeks Inklusi keuangan adalah sebesar 76,2 persen dan indeks Literasi keuangan baru mencapai 38 persen. Menurutnya, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi global terkontraksi cukup dalam.

“Pelemahan ekonomi masih terjadi akibat pembatasan sosial yang menekan sektor jasa keuangan walaupun saat ini sudah mulai di longgarkan sehingga dapat menumbuhkan harapan baru agar kondisi perekonomian kembali pulih,” ungkapnya.

Saat ini OJK sedang menggelar Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2021. Dia mengatakan, tujuan dilaksanakannya Bulan Inklusi Keuangan 2021 adalah pertama mendukung pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diinisiasi oleh Pemerintah untuk meminimalisir dampak pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Wanita di Surabaya Bangun Komunitas Usaha "Kampung Kue", Omzet Puluhan Juta

“Membuka akses keuangan kepada berbagai lapisan masyarakat, mendorong pembukaan rekening kredit/pembiayaan serta penggunaan produk dan/atau layanan jasa keuangan. Selain itu juga meningkatkan pemahaman dan awareness masyarakat terhadap budaya menabung serta mempublikasikan program literasi, Inklusi Keuangan dan perlindungan konsumen.

Rangkaian kegiatan BIK 2021 dimulai dengan kegiatan webinar series Inklusi Keuangan sebanyak empat kegiatan yang terdiri dari berbagai macam tema dari industri perbankan, pasar modal, pergadaian dan financial technology. Selanjutnya, diikuti dengan kegiatan business matching bagi pelaku UMKM di Kota Pontianak, serta akan dilakukan penguatan infrastruktur TPAKD (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) berupa pengukuhan TPAKD di empat Kabupaten yakni Kabupaten Sanggau, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sekadau. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/