alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Gapki Kalbar Ramal Produksi Sawit Naik

PONTIANAK – Produksi sawit Kalimantan Barat (Kalbar) diprediksi mengalami kenaikan pada tahun 2022. Selain itu, tren harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) maupun Palm Kernel Oil (PKO) juga diramal positif.

 “Tingkat produksi maupun produktivitas sawit tahun 2022 optimis dapat tumbuh kisaran angka 2,9 persen dibandingkan dengan produksi tahun lalu,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar, Purwati, Senin (17/1).

Menurutnya, prediksi tersebut mencermati sifat iklim sepanjang tahun 2021 yang ditandai dengan curah hujan yang cukup dalam proses pembungaan dan tidak terjadinya kekeringan ekstrim. Dengan iklim yang mendukung tersebut, maka apabila diikuti dengan tata kelola sawit sesuai standar teknis, mulai dari pemupukan, pengendalian gulma, penanganan panen dan pasca panen, maka kenaikan produksi tersebut diyakini akan terjadi.

Di samping itu, pihaknya juga memprediksi harga CPO maupun PKO di tahun 2022 masih akan menunjukkan tren yang positif. Hal ini mencermati kebijakan pemerintah terkait dengan program biodiesel ( B30 ) dan strategi pembatasan ekspor CPO.

Baca Juga :  Harga Sawit Diperkirakan Terus Stabil

“Hal ini akan berpengaruh positif terhadap harga CPO di pasar global setidaknya harga yang diperoleh pada tahun 2021 dapat dipertahankan,” imbuhnya.

Purwati mengatakan,  sebagai salah satu komoditas ekspor yang berperan strategis bagi perekonomian nasional maupun daerah, saat ini luas perkebunan kelapa sawit di Kalbar telah mencapai 1,9 juta Ha. Dengan lausan tersebut, produksi tahun 2021 mencapai 4,9 juta ton dengan tren harga bergerak positif sepanjang tahun 2021 dengan rata-rata harga CPO mencapai Rp 10.117,6 /kg , PKO Rp 6.523,4 /kg dan TBS rata-rata Rp 2.266,6 /kg.

Namun di sisi lain, Purwati menegaskan pentingnya pengelolaan sisi penerimaan petani yang perlu mendapat perhatian yang baik terutama dalam mengantisipasi kenaikan beberapa komponen sarana produksi, seperti pupuk, dan lain sebagainya.  Selain itu, tak kalah pentingnya adalah semua pihak yang berkepentingan atas peluang kenaikan produksi dan harga pada tahun 2022 secara bersama dapat mengawal agar investasi di perkebunan kelapa sawit ini tetap kondusif.

Baca Juga :  Produksi Sawit Berkurang, Harga Bertahan

 “Serta mampu menangkal gerakan kampanye negatif melalui isu lingkungan maupun tenaga kerja,” katanya.

 Sebagai bentuk komitmen Gapki Kalbar dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit berkelanujtan, pihaknya terus mendorong anggotanya untuk mengikuti program ISPO/RSPO. Dia mengatakan, sampai akhir 2021 tercatat dari 76 perusahaan anggota GAPKI Kalbar, 30 perusahaan telah memiliki sertifikat ISPO sedangkan 46 perusahaan anggota dalam proses penilianan oleh Lembaga sertifikasi ISPO yang ditunjuk. (sti)

PONTIANAK – Produksi sawit Kalimantan Barat (Kalbar) diprediksi mengalami kenaikan pada tahun 2022. Selain itu, tren harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) maupun Palm Kernel Oil (PKO) juga diramal positif.

 “Tingkat produksi maupun produktivitas sawit tahun 2022 optimis dapat tumbuh kisaran angka 2,9 persen dibandingkan dengan produksi tahun lalu,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar, Purwati, Senin (17/1).

Menurutnya, prediksi tersebut mencermati sifat iklim sepanjang tahun 2021 yang ditandai dengan curah hujan yang cukup dalam proses pembungaan dan tidak terjadinya kekeringan ekstrim. Dengan iklim yang mendukung tersebut, maka apabila diikuti dengan tata kelola sawit sesuai standar teknis, mulai dari pemupukan, pengendalian gulma, penanganan panen dan pasca panen, maka kenaikan produksi tersebut diyakini akan terjadi.

Di samping itu, pihaknya juga memprediksi harga CPO maupun PKO di tahun 2022 masih akan menunjukkan tren yang positif. Hal ini mencermati kebijakan pemerintah terkait dengan program biodiesel ( B30 ) dan strategi pembatasan ekspor CPO.

Baca Juga :  Buka Pojok Pajak di Pontianak Utara

“Hal ini akan berpengaruh positif terhadap harga CPO di pasar global setidaknya harga yang diperoleh pada tahun 2021 dapat dipertahankan,” imbuhnya.

Purwati mengatakan,  sebagai salah satu komoditas ekspor yang berperan strategis bagi perekonomian nasional maupun daerah, saat ini luas perkebunan kelapa sawit di Kalbar telah mencapai 1,9 juta Ha. Dengan lausan tersebut, produksi tahun 2021 mencapai 4,9 juta ton dengan tren harga bergerak positif sepanjang tahun 2021 dengan rata-rata harga CPO mencapai Rp 10.117,6 /kg , PKO Rp 6.523,4 /kg dan TBS rata-rata Rp 2.266,6 /kg.

Namun di sisi lain, Purwati menegaskan pentingnya pengelolaan sisi penerimaan petani yang perlu mendapat perhatian yang baik terutama dalam mengantisipasi kenaikan beberapa komponen sarana produksi, seperti pupuk, dan lain sebagainya.  Selain itu, tak kalah pentingnya adalah semua pihak yang berkepentingan atas peluang kenaikan produksi dan harga pada tahun 2022 secara bersama dapat mengawal agar investasi di perkebunan kelapa sawit ini tetap kondusif.

Baca Juga :  Upaya PLN Kalbar Kembangkan Desa Wisata Mangrove

 “Serta mampu menangkal gerakan kampanye negatif melalui isu lingkungan maupun tenaga kerja,” katanya.

 Sebagai bentuk komitmen Gapki Kalbar dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit berkelanujtan, pihaknya terus mendorong anggotanya untuk mengikuti program ISPO/RSPO. Dia mengatakan, sampai akhir 2021 tercatat dari 76 perusahaan anggota GAPKI Kalbar, 30 perusahaan telah memiliki sertifikat ISPO sedangkan 46 perusahaan anggota dalam proses penilianan oleh Lembaga sertifikasi ISPO yang ditunjuk. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/